Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (134. Zea menginap)


__ADS_3

Zea benar-benar di sambut baik di rumah itu, mama Rangga bahkan memasakkan makanan untuk mereka bertiga, menceritakan banyak hal tentang Rangga. Mereka benar-benar seperti sepasang menantu dan mertua yang ideal.


Mau tidak percaya, tapi ini benar-benar terjadi dalam hidupnya. Mertua yang dulu begitu membencinya, bahkan hampir membunuh cucunya sendiri tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat.


Aku tidak tahu apa yang merubahnya, tapi untuk saat ini aku Benar-benar bersyukur dengan semua perubahan ini, bahagia ini seakan seperti mimpi, mimpi yang tidak akan pernah aku bayangkan sebelumnya. Jika ini benar mimpi, Tuhan aku mohon jangan bangunkan aku ....


Sesekali terdengar canda tawa diantara mereka. Pak Beni yang terlihat dingin dan galak nyatanya begitu suka melontarkan candaan, bahkan Zea sampai memegangi perutnya yang kaku karena terlalu banyak tertawa.


Zea juga sudah meminta bodyguard nya untuk meninggalkan di rumah itu. Ia sengaja malam ini ingin menginap di rumah itu, di rumah yang dulu pernah menjadi tempat persembunyian ternyamannya. Ibu mertuanya memaksanya untuk menginap barang satu lama.


Kini Zea bahkan memakai baju mertuanya, karena memang dia tidak punya baju ganti.


Karena terlalu asik bercanda, hingga mereka tidak menyadari kedatangan seseorang,


"Rangga pulang!" suara Rangga menghentikan percakapan mereka di depan tv, semua mata langsung tertuju pada pria yang baru datang itu. Bahkan percakapan mereka benar-benar terhenti, mereka bahkan lupa dengan apa yang baru saja mereka tertawakan.


Sepertinya Zea lupa kalau masih ada Rangga. Ia tidak menyadari kalau saat ini Rangga juga tinggal bersama kedua orang tuanya, ia pikir Rangga tinggal di apartemen.


Ahhh iya, kenapa aku bisa memutuskan untuk menginap di sini?


Zea bahkan menyesali keputusannya. Bukannya tidak mau tinggal dalam satu rumah dengan Rangga, tapi ia memikirkan bagaimana jika Rangga sampai curiga dengannya, kenapa bisa seakrab itu dengan mamanya.


Yang Zea tahu, Rangga masih belum ingat apapun tentangnya. Ia khawatir hal itu akan memicu hal yang membuat Rangga kambuh.


Dan benar saja, Rangga begitu terkejut mendapati Zea di sana. Ia bukan terkejut karena Zea bisa sedekat itu dengan papa dan mamanya, tapi sebenarnya ia terkejut karena Zea mengetahui keadaannya saat ini. Ia tidak pernah menceritakan pada Zea tentang kesusahannya hari ini.


"Kamu?" karena tidak percaya, Rangga sampai melihat lagi ke arah luar tapi ia tidak menemukan mobil Zea dan bodyguard nya di sana.


Dia benar-benar Zea ...


"Mama yang minta zea buat menginap di sini, kamu nggak pa pa kan Ga? Soalnya mama kesepian kalau hanya ada papa sama kamu saja di rumah ini." tanya mamanya melihat kebingungan putranya sekalian ia memberikan alasannya.


"Nggak pa pa , tapi apa tuan Seno_!" ucapan Rangga terputus saat Zea akhirnya ikut bicara.


"Papa sudah ngijinin, tapi maaf ya Ga. Aku nggak bicara dulu sama kamu!" Zea benar-benar khawatir jika sampai Rangga melarangnya menginap atau Rangga akan kambuh.


"Tidak masalah! Sungguh!" ucap Rangga begitu melihat wajah khawatir dari Zea.


"Kamu jangan khawatir Ga, nanti biar Zea tidur sama mama!" ucap mamanya lagi, dia sekarang begitu membela Zea, sikapnya benar-benar sudah berubah.


Lagi pula juga tidak akan ada yang mengrebek mereka di kampung itu. Semua juga sudah tahu bagaimana status Rangga dan Zea.


Tapi karena suasananya sekarang masih berbeda, Rangga juga tidak mungkin meminta Zea untuk tidur di kamarnya saja, walaupun ia juga sangat ingin.


"Ya udah, aku mandi dulu!" Rangga pun akhirnya membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, ia dengan cepat menghampiri zea lagi.


"Zea mana ma?" tanyanya pada sang mama begitu tidak melihat Zea bersama papa dan mamanya.


"Itu, dia katanya gerah di dalam, mau ngadem dulu di depan!"


Ia tidak sabar ingin segera mengobrol dengan Zea lagi. Ia pun segera menyusul Zea yang duduk di depan.


Selagi mama dan papanya nonton tv, kini Zea dan Rangga memilih duduk di teras, Zea terlihat pantas memakai daster milik mamanya karena memang Zea juga tidak membawa baju ganti.


"Di dalam panas ya?" tanya Rangga setelah duduk di samping Zea. "Maaf, lain kali jika tahu kamu menginap di sini aku akan membelikan AC!"


Zea tersenyum, sebenarnya tidak perlu melakukan itu. Ia sengaja duduk di depan ingin berbicara berdua saja dengan dirinya, "Tidak perlu, di sini sangat nyaman. Aku hanya ingin menikmati pemandangan kampung di malam hari ."


"Syukurlah, aku sudah khawatir tadi!"

__ADS_1


Zea menatap motor Rangga yang terparkir di depan rumah, ia teringat dengan rumah dan toko yang di jual jadi ia juga berpikir mungkin saj mobil rangga juga sama nasibnya.


"Jadi kamu jual mobil juga?"


"Hmmm! Maaf ya aku tidak jujur sama kamu!" dan ternyata dugaannya benar. Mobil itu sudah di jual oleh rangga. Seandainya saja ia tidak takut melukai harga diri Rangga, ia ingin sekali membantu Rangga. Papanya pasti juga dengan senang hati membantu Rangga. Tapi semuanya tidak semudah itu karena Rangga bukan pria yang seperti itu, dia pasti akan lebih suka jika semuanya berasal dari hasil kerja kerasnya sendiri.


"Tidak pa pa, hanya saja bukannya sayang?" Setidaknya Zea tahu bagaimana perjuangan Rangga mendapatkan mobil itu. Rangga dulu pernah bercerita padanya. Tentang bagaimana ia menabung untuk membeli mobil sendiri tanpa bantuan orang tuanya dengan menabung sebagian gajinya begitupun dengan motor besarnya dan sekarang ia hanya punya motor second yang harganya bahkan tidak lebih dari sepuluh juta.


"Kata papa, lebih sayang dengan kehidupanku!" tatapan Rangga melayang ke depan menatap ke arah jalanan yang sudah terlihat sepi, hanya ada beberapa motor yang melintas dan itu bisa di hitung dengan jati. Tidak seperti di kota besar yang bahkan tidak ada senggangnya motor melintas meskipun di gang-gang kecil.


Apa mungkin pertunangan itu batal karena hal ini? Rangga menjual semuanya agar tidak terikat hutang dengan nyonya Widya hingga ia bisa membatalkan pertunangannya dengan Miska...


Zea berusaha menyimpulkan sendiri dari semua yang terjadi. Tapi kemudian Zea tersadar akan suatu hal, Kalau Rangga yang memutusakan pertunangan itu dengan suka rela, apa mungkin _


"Ga!?"


"Hmmm."


"Apa kamu sudah mengingat sesuatu?"


"Maksudnya?" Rangga segera mengalihkan perhatian. Ia belum ingin melibatkan Zea dalam hal apapun saat ini, untuk itu ia memilih bungkam.


"Ya mengingat sesuatu yang terjadi dua tahun ini!"


"Aku berharap akan segera ingat!"


Maaf Zea, bukannya ingin menyembunyikan semuanya. Tapi aku tidak ingin membahayakan kalian dalam hal ini ....


Rangga jadi teringat dengan rekaman cctv itu, tapi ia tidak mungkin meninggalkan Zea untuk melihat rekaman cctv itu. Sungguh hal yang langka saat malam hari ia bahkan bisa melihat wajah Zea.


"Oh iya, urusan kamu tadi sudah selesai?" tanya Zea lagi begitu ingat dengan urusan Rangga yang begitu penting hingga memilih meninggalkannya.


"Sudah, tinggal sedikit saja!" Rangga memilih menemani Zea dari pada melihat hasil rekaman itu.


Tapi tetap saja Zea merasa tidak punya hak untuk menanyakan tentang urusan yang telah membuat Rangga pergi.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Besok pagi kita berangkat bersama!"


Sebenarnya masih ingin berlama-lama berdua seperti ini. Walaupun hanya ngobrol berdua, tetapi setidaknya ini mampu mengobati rasa rindu mereka satu sama lain.


"Iya, ya udah aku masuk dulu ya!" akhirnya walaupun berat, Zea pun berdiri dari duduknya, "Selamat malam!" ucapnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan Rangga.


"Selamat malam, semoga mimpi indah!"


"Kamu juga!"


Akhirnya Zea benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar tidur dengan ibu mertuanya malam ini di kamar tamu.


...***...


Hari ini hari yang sibuk karena Rangga dan Zea harus mempersiapkan untuk acara nanti malam.


Tapi Rangga benar-benar tidak membiarkan Zea melakukan pekerjaan apapun, ia hanya meminta Zea untuk memantau semuanya.


"Kamu cukup duduk diam dan beri perintah jika ada yang kurang!" ucap Rangga.


"Tapi mana mungkin!"


"Semuanya mungkin, jadi tetaplah di sini dan beri instruksi terbaikmu!"


"Baiklah, sekarang aku bisa apa!" akhirnya Zea hanya bisa menyerah dengan keputusan Rangga. Ia duduk dan sesekali memberi instruksi pada tangga atau orang-orang dekor jika ada yang kurang pas untuknya.

__ADS_1


"Kamu lapar?" tanya Rangga saat meluangkan waktunya untuk mendekati Zea di sela kesibukannya.


Zea tersenyum melihat perhatian yang di berikan oleh Rangga, baginya itu begitu istimewa, "Enggak Ga, dari tadi aku hanya duduk bagaimana bisa aku lapar!"


"Ya udah, katakan jika kamu butuh sesuatu!"


"Pasti, jangan khawatir!"


Rangga pun akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan hal itu berlangsung hampir setiap jam, ia selalu menanyakan keadaan Zea, apakah lapar, apakah haus, apakah capek, atau butuh sesuatu.


"Hahhhhh, akhirnya!" setelah seharian akhirnya Rangga bisa duduk santai di samping Zea.


"Minumlah!" Zea menyodorkan minuman yang tadi di berikan oleh Rangga untuknya. "kamu pasti haus!"


Rangga tersenyum, minuman itu tinggal setengahnya. Pasti Zea sudah meminumnya, tapi hal itu yang membuat minuman itu menjadi begitu istimewa, Rangga segera mengambil dan meneguknya,


"Ini lebih segar!"


"Benarkah? Tapi rasanya tadi seperti air putih biasa!" Zea memandangi botol minum itu dan tidak ada yang aneh.


"Cobalah!" Rangga kembali menyerahkan botol itu dan Zea meneguknya dengan bibirnya.


"Bagaimana?"


Zea tersenyum saat melihat bibir Rangga menempel di bibir botol itu, ia tahu maksud Rangga sekarang,


"Iya, rasanya lebih enak!"


Mereka pun akhirnya menghabiskan waktu singkatnya bersama.


"Aku akan mengantarmu pulang!"


"Aku bisa pulang sama sopir!"


"Baiklah, nanti sampai ketemu di acara peresmian!"


"Pasti!"


Akhirnya Zea pun berpisah dengan Rangga. Beberapa jam lagi mereka akan menghadiri peresmian dan untuk itu ia belum menyiapkan baju yang akan di pakainya untuk nanti malam.


"Kita ke butik dulu ya pak!"


"Baik nona!"


Zea memilih butik yang dekat dengan rumahnya, setelah memilih sebuah gaun yang akan ia kenakan untuk nanti malam. Zea melihat sebuah food court yang tidak jauh dari butik itu, bahkan untuk ke sama ia hanya perlu jalan kaki beberapa langkah saja. Ia melihat pisang coklat yang di jual di sana,


Ahhh aku ingin itu ....


"Pak, aku ke sana dulu ya. Bapak ke mobil dulu nggak pa pa. Zea cuma sebentar!"


"Baik nona!"


Akhirnya Zea pun memasuki tempat itu sendiri. Ia memilih beberapa varian rasa pisang olahan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2