
Siang ini Tisya benar-benar melakukan apa yang di perintahkan papanya, ia tidak punya pilihan lain selain menurut saja sama papanya.
"Aku anter ya sayang!" Rizal menawarkan diri, ia sudah siap mengejar tunangannya itu.
"Nggak usah mas, kalau kamu yang nganter jelas nggak akan jadi nanti!"
"Baiklah ...., tapi kamu hati-hati ya ...., aku dukung dari sini!"
"Iya tentu!"
Tisya pun segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan gedung.
Mobilnya melaju meninggalkan gedung itu bersama Tisya. Tisya terus saja menatap map itu.
"Kalau aku gagal, papa bakal marah nggak ya?" gumamnya.
Baginya papa adalah cinta pertamanya, ia sangat menyayangi papa nya.
"Mama gimana ya?"
"Nona ...., kita sudah sampai!" seorang sopir memperingatkannya, Tisya sampai tidak sadar jika sudah berhenti di depan rumah sakit besar itu, jantungnya semakin deg degan saja.
"Baiklah ....!" ucap Tisya, ia pun segera keluar dari dalam mobil
hehhhh .....
Tisya mengatur nafasnya agar tidak terlihat kalau dia sedang gugup.
ia segera berjalan dan masuk ke gedung bertingkat dengan bor besar di depannya bertuliskan FrAd Medika, siapa yang tidak tahu rumah sakit itu? Bahkan rumah sakit itu cukup terkenal di luar negeri karena fasilitas nya yang lengkap dan juga pelayanannya yang sangat bagus.
Tisya menemui resepsionis yang sedang berjaga.
"Selamat siang mbak ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis itu saat Tisya sudah berada di depan meja resepsionis.
“Bisa beritahu ruangan dokter Frans Aditya?” tanya Tisya dengan wajah angkuhnya.
"Apa anda sudah punya janji?” tanya resepsionis itu.
"Apa kamu tidak mengenaliku? Saya putri pemilik Bactiar group, katakan saya mau bertemu dengan dokter Frans!"
"Maaf mbak, tapi di sini harus membuat janji dulu, jika anda ingin mendaftar sebagai pasien beliau, anda bisa mendaftar dulu di sini dan tunggu antrian!" ucap resepsionis dengan masih sangat sopan.
Memang di rumah sakit ini tidak ada perbedaan antara anak pejabat dan anak petani, semua di sama ratakan, tidak ada perlakuan istimewa.
Hehhhhhh ....
Lagi-lagi Tisya menghela nafas kesal. Ia tidak pernah di buat menunggu selama ini.
“Tidak, saya bukan mau berobat, maksud saya, saya adalah utusan dari Bactiar Group, ini penting!” ucap Tisya dengan tanpa emosi. Terlihat sekali jika wanita dengan baju semi resminya itu pun sedang berusaha keras untuk menahan emosinya.
“Baiklah ...., sebentar ya mbak, saya tanyakan pada dokter Frans dulu! Silahkan anda tunggu dulu di sana!” ucap resepsionis sambil menunjuk bangku tunggu bersama orang-orang lainnya.
Tisya pun sedikit menjauh, tapi dia tidak mau duduk bersama orang-orang lainnya yang sedang mengantri, ia lebih memilih untuk berdiri saja.
"Ihhhh lama banget sih ....!" gerutu Tisya saat sudah menunggu selama lima belas menit dan resepsionis itu tidak segera memanggilnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Tisya saat menghampiri kembali meja resepsionis.
"Maaf mbak, tapi dokter Frans nya sedang menangani pasien, silahkan anda tunggu sebentar lagi!"
"Jadi maksudnya dokter Frans bersedia bertemu?"
"Masih belum tahu mbak, silahkan mbak duduk lagi saja!"
Blagu banget sih nih orang ...., Tisya benar-benar kesal, ia kembali ke tempatnya bersender pada dinding.
Sebenarnya walaupun harus menunggu lama, ruang tunggu itu cukup nyaman dengan ruang yang di lengkapi AC dan beberapa akuarium yang menempel di dinding, suara gemericik air juga beberapa tanaman yang menghiasi, jadi tidak akan merasa bosan.
“Baiklah..., aku akan menunggunya lima belas menit lagi, jika tidak ada panggilan aku akan kembali pulang!” gumam Tisya.
"Mbak Tisya ...!" resepsionis itu memanggilnya di menit ke sepuluh, Tisya pun dengan cepat menghampirinya.
"Bagaimana?" tanya Tisya dengan cepat.
“Anda di perbolehkan bertemu! Mari saya antar ke ruangan beliau!” ucap Resepsionis itu lalu berjalan meninggalkan mejanya dan menghampiri Tisya.
Mereka pun menuju ke ruangan dokter Frans.
__ADS_1
"Silahkan adan tunggu sebentar!" ucap resepsionis itu lalu mengetuk pintu.
Resepsionis itu masuk meninggalkan Tisya di luar dan tidak berapa lama kembali keluar untuk menghampiri Tisya.
"Anda di perbolehkan masuk!"
"Kan sudah aku bilang!" gerutu Tisya dan dengan cepat masuk ke dalam ruangan itu meninggalkan wanita itu di luar.
Tisya tersenyum saat melihat dokter Frans sedang sibuk dengan pekerjaan di mejanya, ada beberapa foto ronsen di sana milik beberapa pasiennya.
"Selamat siang dokter Frans Aditya!” sapa Tisya dengan senyum termanisnya.
“Siang!" jawab dokter Frans tanpa beralih dari pekerjaannya.
"Kok gitu sih sambutannya, dingin banget!" ucap Tisya.
Dokter Frans pun akhirnya menatap wanita yang memiliki hubungan rumit dengan nya itu.
"Ada perlu apa anda ke sini? Apa utusan dari tuan Bactiar?"
"Itu salah satunya!" ucap Tisya, ia pun duduk di depan meja kerja dokter Frans.
" Kalau soal tuntutan saya, saya tidak akan menariknya!”
"Jangan seperti itu dong, ayo lah ...., ini hanya hal kecil. Okey deh saya mau minta maaf dengan kejadian di pesta itu! Aku benar-benar tidak sengaja! Itu kejadiannya juga sangat cepat, istri kamu juga salah dalam hal ini ...., jadi jangan hanya menghukum keluarga saya ...!"
"Kenapa baru sekarang minta maafnya, apa memang orang tua kamu tidak pernah mengajarimu tentang cara minta maaf yang baik?”
Salah lagi ngomongnya ...., Tisya
pun mendekat pada dokter Frans dan mulai merayunya. Ia duduk di pangkuan dokter Frans.
“Aku benar-benar menyesal …, maafkan aku …! Aku bisa minta maaf dengan begini!" ucap Tisya dengan berbisik di telinga dokter Frans.
“bangun…! Bagun dari pangkuan saya atau saya akan mengusir anda dengan tidak hormat!” ucap dokter Frans dengan wajah yang sudah begitu kesal.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?!" goda Tisya,
Dengan reflek dokter Frans pun berdiri membuat Tisya hampir terjatuh, tapi entah dorongan apa yang membuat dokter Frans tidak tega membiarkan wanita itu terjatuh tangannya dengan reflek menariknya kembali hingga membuat mata mereka saling bertemu.
“Ayo bangun, kenapa malah menatap saya seperti itu?” tanya dokter Frans menyadarkan Tisya agar segera bangun.
Tisya pun segera bangun. Dokter Frans pun memutar-mutar tangannya yang terasa kebas karena menopang tubuh Tisya.
Tisya segera merapikan. kembali penampilannya dan kembali berjalan mengitari meja dan duduk di bangku yang ada di depan meja kerja dokter Frans.
"Dokter ...., saya mau menawarkan ini padamu!" ucap Tisya sambil menyodorkan map yang sedari tadi ia bawa.
Dokter Frans mun mengambil dan membacanya, selama membaca berkas itu ia tahu jika wanita di depannya terus saja menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Berhenti menatap saya!" ucap dokter Frans sambil terus membaca berkas iyu walaupun sebenarnya ia juga sedang tidak fokus.
“Tidak bukan apa apa…, saya hanya berusaha untuk mengagumi dokter saja ...!” ucap Tisya dengan entengnya
“Dasar anak kecil, kembalilah pada bapak mu dan katakan jika saya tidak akan pernah mengubah keputusan saya untuk menarik tuntutan itu!” ucap dokter Frans sambil mengembalikan berkas itu, sebuah berkas yang berisi beberapa tawaran yang cukup menarik jika dokter Frans bersedia menarik tuntutannya.
“baiklah …, kalau begitu bisakah kita saling mengenal?” ucap Tisya dengan senyumnya, sekarang bukan karena paksaan memang ia ingin mengenal sosok yang ternyata saudaranya itu.
“Maaf tapi saya sama sekali tidka tertarik, jadi pergilah ...!”
“Ayolah …!” Tisya begitu memaksa sampai ia mendekatkan tubuhnya ke meja sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
“saya tidak tertarik! Jadi pergilah dari sini!”
"Bagaimana kalau saya tahu tentang hubungan dokter dengan mama saya, apa masih tidak tertarik?" ucap Tisya. Hal ini berhasil membuat dokter Frans terdiam. Ia kembali teringat waktu itu di kafe, mereka berpapasan, mungkin Tisya mendengarnya.
"Bagaimana? Bukankah akan menjadi berita yang menghebohkan jika hal itu di ketahui oleh publik, 'dokter sekaligus pemilih FrAd Medika ternyata memiliki hubungan terselubung dengan istri pengusaha kaya, Bactiar Group' apa masih tidak tertarik?" ancam Tania.
Dia sama liciknya dengan ibunya ...., dokter Frans tidak bisa mengabaikan hal ini, jika sampai ini mencuat ke publik bukan cuma namanya tapi nama besar finityGroup pasti juga ikut terbawa.
"Apa mau mu?" tanya dokter Frans kemudian.
"Saya tidak meminta semuanya, setidaknya sisakan beberapa persen saja dari tuntutan itu dan saya janji tidak akan menyebarkan berita ini!"
Tapi jika berita itu tersebar, bukan cuma nama finityGroup yang terkena tapi Bactiar group juga tercoreng kan ...., dokter Frans kembali tersenyum.
"Kenapa malah tersenyum?"
__ADS_1
"Kamu ini masih anak kecil, tidak pantas berlaku licik, coba bayangkan saja jika berita itu tersebar bukan hanya saya tapi perusahaan orang tuamu juga ikut tercoreng, mengerti ....? Jadi pergilah sebelum saya kehilangan kesabaran!"
Tisya yang merasa gagal pun begitu kesal, ia segera berdiri dari duduknya dan menyambar kembali map itu kemudian keluar dari ruangan dokter Frans.
Saat sampai di depan ruang an dokter Frans ia berpapasan dengan Felic.
“kamu…! nona Tisya yang terhormat ngapain ke sini?” tanya Felic.
Tapi Tisya berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan nya. Wajahnya begitu kesal.
Felic pun tidak mau ambil pusing, ia segera masuk ke ruangan suaminya itu.
“Frans …!” sapa Felic.
Melihat istrinya datang, dokter Frans segera mengubah ekspresi kesalnya, ia kembali tersenyum dan segera menghampiri dan memeluk istrinya itu begitu erat, menciumnya di pipi dan bibirnya.
“Aku merindukanmu …!” ucap dokter Frans, ia merasa bersalah karena beberapa menit yang lalu ia sempat berpikir macam-macam saat melihat mata Tisya.
Ada yang berhasil membuatnya tertarik, untungnya logikanya masih berfungsi dengan baik, mungkin karena ada sebagian darah mereka yang sama.
“Frans…! Kenapa hari ini kamu masih banget?” tanya Felic.
“duduklah …!”
Dokter Frans mengajak felic duduk di sofa. Dokter Frans sengaja
memangku Felic dan melingkarkan lengannya di pinggang Felic menyusupkan kepalanya di perut Felic.
“Frans …, Ada apa?" tanya Felic heran dengan suaminya itu.
"Tidak pa pa, aku hanya sedang merindukanmu saja!" ucap dokter Frans sambil terus menyusupkan kepalanya ke perut rata Felic.
"Tapi Frans, lepasin dulu!” ucap Felic.
“Ada apa?” tanya dokter Frans sambil mendongakkan kepalanya mencoba menggapai wajah istrinya.
“kenapa Tisya ke sini? Apa dia tahu kalau kamu saudaranya?” tanya Felic.
“Aku bukan saudaranya!” ucap dokter Frans tidak suka dengan panggilan itu.
“Frans…., tapi dia kan saudara seibu dengan mu, jangan terlalu keras sama dia!”
“Fe …!” dokter Frans tidak suka istrinya itu membahas tentang Tisya.
“Baiklah ini serius…, lalu kenapa dia ke sini?” tanya Felic lagi.
“Seperti yang aku duga, soal kasus itu, dia datang di suruh sama bapaknya!” ucap dokter Frans.
Felic kira itu hanya masih wacana, arau rencana saja jika mereka menyerang lebih dulu tapi ternyata suaminya itu benar-benar melakukannya.
“kamu benar-benar melakukannya?” tanya Felic tidak percaya, ia hanya masih menghormati nyonya Tania sebagai ibu dari suaminya.
“Iya …!”
"Tapi kan Frans ...., ada nyonya Tania di sana, dia ibu kamu!"
"Dia bukan ibuku, jadi jangan memintaku untuk mengakuinya!"
“jahat banget …!”
“Ini lebih jahat!” ucap dokter Frans.
Dokter Frans segera menyerang felic, mencumbunya di atas sofa itu.
...Hati itu lebih mirip seperti cermin, sekali di patahkan sebaik apapun kita menyatukan tetap tidak akan bisa kembali seperti semula.~DTIS...
Selamat berakhir pekan❤️❤️❤️
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1