Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Mencari Felic


__ADS_3

Siang ini seperti biasa, Rangga datang ke tempat kerja Felic untuk mengajaknya makan


siang. Seperti biasa ia akan menunggu Felic tepat di depan gedung itu, saat jam


istirahat pasti Felic akan keluar hanya sekedar mencari minum atau sebungkus


roti untuk mengganjal perutnya tapi cukup lama ia menunggu hingga jam istirahat usai pun Felic tak juga keluar.


Hari ke dua pun Rangga melakukan hal yang sama, tapi hasilnya tetap sama. Felic tak


juga muncul. Rangga pun akhirnya memutuskan menunggu Felic hingga waktu pulang hingga Rangga pun tertidur di dalam mobilnya.


Sebuah ketukan di kaca mobilnya membangunkan tidur pria itu, seorang perempuan sudah berdiri di samping mobil dengan mata yang mengintip ke dalam mobil. Rangga  yang terbangun segera membuka kaca mobil.


“Sya…!”


“Lo Ga? Gue kira orang mati di mobil, ngapain di sini?”


“Gue nungguin Felic, apa Felicnya sudah pulang?”


“Sampek lebaran monyet juga lo nggak bakal nemuin Felic di sini!”


“Kenapa?”


“Felic di rawat di rumah sakit!”


“Di rumah sakit? Dia kenapa?”


“Mana gue tahu, nih gue baru mau nengikin!”


“Gue ikut ya! Gue anter!”


“Kebetulan banget lo nawarin, suami gue nggak jadi jemput karena ada meeting dadakan!”


Rangga pun akhirnya pergi bersama Ersya menjenguk Felic ke rumah sakit. Sebenarnya


teman-teman satu divisi sama Felic juga berencana untuk menjenguk tapi karena


masih dalam suasana pandemi seperti ini, jadi mereka hanya menitipkan bingkisan


pada Ersya.


 Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit


FrAd Medika, Ersya langsung bertanya pada resepsionis.


“Maaf sus, ruang perawatan atas nama Felicia Daryl di mana ya?”


“Tunggu sebentar ya mbak!” suster itu tampak mengecek data, matanya terfokus pada satu


nama istimewa, suster itu malah menatap Ersya bingung.


“Sebentar ya mbak, saya tanyakan dulu pada dokter Frans apa nona Felic bisa di kunjungi!”


“Aku tahu itu suaminya, jadi suami Felic juga bekerja di sini ya?” tanya Ersya


dengan sumringah, setidaknya dia yakin sekarang jika suami sahabatnya itu


benar-benar dokter karena suster itu juga mengenal yang namanya dokter Frans di


rumah sakit sebesar ini.


Suster itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum dengan ramah. “Silahkan duduk dulu

__ADS_1


mbak!”


“Begini saja terimakasih sus!” Rangga sedari tadi diam mengamati gedung rumah sakit


yang terkesan megah itu, tapi di sekelilingnya terlihat bagaimana para karyawannya memperlakukan semua pasien dan pengunjung dnegan sangat ramah, mulai dari tukang parkir pun mereka menyambut tamunya dengan sangat ramah.


Kebetulan di saat bersamaan dengan kedatangan mereka, seseorang dengan pakaian lusuhnya sedang membopong putrinya yang sedang sakit, baru saja memasuki gerbang rumah sakit pak satpam sudah membatu bapak itu masuk dan memanggilkan suster lengkap


dengan tempat tidur rumah sakitnya, mereka menangani anak itu dengan begitu


cepat tanpa memilih siapa yang datang.


“Apa memang setiap hari seperti itu pelayanan di rumah sakit ini?’ tanya Rangga


terpesona.


“Iya mas, semua karyawan di wajibkan mematuhi undang-undang sebagai pelayanan


masyarakat mengedepankan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi!”


Rangga hanya mengangguk mendengarkan penjelasan suster yang satunya selama menunggu suster yang tadi menelpon dokter Frans. Tak berapa lama suster itu kembali


dengan wajah sumringah.


“Mbak, mas …, kalian di ijinkan masuk! Mari saya antar!”


“Terimakasih, tapi cukup tunjukkan saja di mana tempatnya!”


“Di ruang perawatan VVIP ekslusif nomor 1 lantai 8! Anda bisa langsung lurus di


sana ada pintu lift!”


“Terimakasih atas informasinya!”


Rangga segera menekan angka delapan dan pintu langsung terbuka. Ersya kembali


heran karena lift itu sepi sedangkan lift yang satunya berjejal.


“Kenapa mereka tidak naik lift ini saja?” tanya Ersya pada Rangga saat mereka sudah


memasuki lift.


“Kamu lihat saja, ini tombolnya Cuma angka satu dan delapan, jadi lift ini tidak


menuju ke ruangan lainnya!”


“Jadi maksud lo, ini lift khusus gitu?”


“ya…, mungkin saja. Di daftar tadi aku lihat di lantai delapan hanya ada beberapa


ruangan, salah satunya ruang dokter …!”


“dokter siapa?”


“Dokter Frans!”


“Jadi menurut lo, dokter Frans suami Felic punya ruang praktek khusus?’ tanya Ersya


berbinar.


“Bisa jadi!’ Rangga menanggapinya dengan wajah dingin, tampak sekali ada rasa cemburu


di sana.

__ADS_1


“Waaah…, luar biasa. Pantes saja mas kawinnya lima ratus juta! Apa jangan-jangan


dokter Frans itu orang yang super duper kaya?”


"Lima ratus juta?" Rangga tertarik dengan ucapan Ersya. Dari mana uang lima ratus juta ...? Jika dia punya uang sebanyak itu kenapa pakek motor bukan mobil?


"Iya ....., Felic beruntung sekali deh pokoknya, dapat mas kawin lima ratus juta, belum lagi nanti pasti bakan di kasih rumah mewah tuh!"


Kali ini Rangga tidak mau lagi menanggapi ocehan ersya yang selalu memuji suami


Felic, dia masih belum terima jika Felic menjadi istri dari orang lain.


Pintu lift pun terbuka, mata Ersya langsung di manjakan dengan interior gedung  yang luar biasa indahnya, bukan seperti rumah


sakit tapi lebih mirip dengan hotel bintang lima.


“ayo sya!” ajak Rangga yang sudah lebih dulu keluar dari lift sedangkan Ersya masih


tercengang di tempatnya.


“Iya!”


Erya mengabadikan moment itu dengan berfoto selvi. Hingga puluhan foto berhasil ia


ambil.


“mana ya Ngga ruangannya Felic?”


“sepertinya di ujung itu, kita tanya perawat!”


Rangga pun mempercepat langkahnya tidak lagi mempedulikan Ersya yang masih asik dengan imajinasinya sendiri.


“apa benar itu ruangan Felic?”


“Iya, apa anda temannya nona Felic?”


“Iya.…, kami temannya!”


“Baiklah silahkan masuk!” perawat itu membukakan pintu itu. Rangga dan Ersya segera masuk, mereka di buat tercengang karena ternyata ada istana di dalam rumah


sakit.


“Fe …!” setelah menemukan keberadaan Felic, Ersya langsung berlari mendekati


sahabatnya itu. Felic yang sedang memainkan ponselnya terkejut ketika melihat


kedatangan Ersya dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah kedatangan


Rangga di sana bersama ersya.


“Rangga!”


gumam Felic, ia segera meletakkan ponselnya begitu saja.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️

__ADS_1


__ADS_2