Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pertemuan dengan Zea


__ADS_3

Agra mengajak istri dan sahabatnya itu melewati beberapa anak yang sedang asik


bermain dan sebagian dari mereka ada yang pulang sekolah. Ada beberapa dari


mereka sudah SMA.


“Aku merasa seperti kembali masuk di dunia masa lalu tau nggak!” ucap dokter Frans


heran, “Ingat nggak Gra …, di situ lo dulu sering banget menyendiri!” ucap


dokter Frans sambil menunjuk bangun yang sama, bangku itu terbuat dari kayu


dengan warna yang sama persis. Mungkin saja bahan bangku itu sudah berubah,


tapi replika bangku itu di buat dengan ukuran dan bentu yang sama persis.


“Iya …, saat itu gue sengaja menghukum diri sendiri, gue pikir gara-gara gue ayah


dan abang gue ninggalin gue!”


“Kasihan sekali kalau gue ingat lo saat itu!” ucap dokter frans sambil menepuk punggung


agra.


Puuukkk


Agra memukul kepala dokter Frans begitu keras, “Jadi lo temenan sama gue Cuma gara-gara kasihan?”


“Sakit tahu …, mungkin saja begitu. Lo kan tahu sendiri gue punya banyak teman dulu!”


“dasar lo …, gue tendang sampek kutub utara baru tahu rasa lo !”


Mereka terus saja bercanda sepanjang berjalan, mengingat masa-masa itu saat mereka masih bersama-sama. Hingga langkah mereka melambat saat dari arah berlawanan


mereka melihat seseorang yang dulu cukup dekat dengan dokter Frans.


Walaupun sudah lima belas tahun tidak bertemu, walaupun sudah sangat berubah tapi dokter Frans masih bisa mengenali siapa wanita itu. Dia semakin cantik dengan wajah


yang lebih matang. Mata dokter Frans tak beralih dari wanita itu begitu pun hal


yang sama terjadi pada wanita itu.


“Zea …!” sapa Ara saat mereka sudah begitu dekat.


“Ara …!”


Ara segera memeluk wanita dengan paras lembut nan cantik itu. Tapi arah tatapan


wanita itu tetap berada pada satu tempat. Pria yang berada di samping Agra,


dokter Frans.


“bagaimana kabarmu?” tanya Ara setelah mereka melepaskan pelukannya.


“aku baik, Sagara dan Sanaya?” tanya Zea saat tidak ada mereka diantara Agra dan


Ara.


“Mereka tidak ikut, ibu memberikan pelajaran tambahan karena lusa ada ujian masuk SD!”


“Jadi mereka sekolah di sekolah umum?”


“Mungkin, tapi tetap ibu yang menentukannya!”


“Aku yakin nyonya Ratih tahu yang terbaik untuk mereka!”


“Semoga saja!”

__ADS_1


Zea kembali menatap pria dengan rambut panjang itu, ia tidak tahu harus memulainya


bagaimana, yang ia tahu saat ini ia begitu merindukan pria itu.


***


Agra dan Ara sengaja meninggalkan mereka berdua, mungkin memang ada yang harus


mereka bicarakan tanpa mereka berdua.


Saat ini dokter Frans dan Zea sudah duduk di salah satu ayunan yang ada di taman


belakang panti, ayunan yang juga sama yang selalu menjadi tempat mereka


menghabiskan waktu dulu, tempat yang membuat mereka semakin dekat.


“Bagaimana kabarmu?” tanya dokter Frans tanpa menatap wanita yang namanya selalu ia sebut dalam doanya itu, wanita yang hatinya sudah berlabuh di hatinya hingga


bertahun-tahun.


“Seperti yang kamu lihat, aku baik!” jawab Zea begitu saja tanpa ada kelanjutannya.


Mereka kembali terdiam, angin semilir sore sesekali menerpa wajah mereka, dokter Frans


sesekali mengayunkan kakinya agar ayunannya bisa bergerak ke dapan kebelakang,


meniggalkan ayunan Zea yang masih terdiam di tempatnya. Riuh suara anak-anak


yang sedang bermain tidak mengurangi kesunyian di antara mereka.


Ada banyak hal yang mungkin ingin sekali mereka tanyakan, tapi karena terlalu


banyak hingga membuat mereka bingung untuk memulai dari yang mana.


“Kata Agra, kamu sekarang sudah jadi dokter yang hebat, kamu juga sudah punya rumah


sakit sendiri. Selamat ya…, kamu bisa meraih cita-citamu!”


dan meninggalkannya tanpa kabar karena ada keluarga baru yang mengambilnya. Itu


saat SMA, Zea di datangi oleh sepasang suami istri yang mendapat amanah dari


mendiang orang tua Zea untuk menjaga Zea.


Teringat jelas saat itu bagaimana dokter Frans remaja mengejar mobil yang membawa Zea


pergi, di tengah hujan lebat itu bahkan mobil itu tidak mau berhenti hanya


sekedar mengucapkan selamat tinggal. Bahkan mereka memindahkan sekolah zea


juga, beberapa kali dokter Frans remaja mencari alamat Zea yang baru tapi gadis


itu seakan hilang tanpa jejak.


Hingga akhirnya nyonya Ratih membawa dokter Frans remaja menempuh pendidikan yang sama dengan Agra.


“Mereka baik!” jawab Zea, lagi-lagi begitu singkat. Seperti ada sebuah luka yang sengaja


ia tutupi dari dokter frans.


“Bagaimana bisa kembali ke sini?”


Zea berdiri meninggalkan ayunannya, ia memilih berdiri menatap jauh ke gerombolan


anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak itulah yang selalu mengingatkannya


pada masa kecil yang indah itu, membuatnya selalu merasa ada kehadiran dokter

__ADS_1


Frans di antara anak-anak itu.


“Aku mencarimu!”


Deg


Mendengarkan pengakuan Zea, membuat jantung dokter Frans seakan berhenti berdetak sejenak, ada palu yang seperti menghantam jantungnya.


“Saat aku menyelesaikan pendidikan ku, aku segera mencari pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan tetap aku kembali ke panti. Aku berharap saat itu bisa segera bertemu denganmu.


Tapi bu panti mengatakan jika kamu sudah meninggalkan tempat ini lima tahun lalu,


persis setelah aku pergi,


"Maafkan aku Frans …, saat itu bukannya aku tidak memikirkan mu, tapi ada mimpi yang


indah yang mungkin bisa aku raih jika aku keluar dari panti!”


Dokter Frans pun melakukan hal yang sama, ia berdiri berjejer dengan Zea, menatap


anak-anak itu.


“Masa kecil itu adalah masa yang begitu indah, iya kan?”


Mungkin saja seandainya ia bisa bertemu dengan gadis di sampingnya itu lebih cepat


saja, ia mungkin tidak akan memutuskan keputusan konyol itu. Tapi sekarang


semuanya sudah berubah, semuanya sudah berubah. Ia bukan Frans yang dulu,


walaupun hatinya mungkin masih milik gadis di sampingnya tapi hidupnya bukan


hanya tentang dia dan perasaannya, ada wanita yang sedang menunggunya di rumah


saat ini.


“Iya …, kamu benar! Masih ingat nggak dulu kita sering sekali bersembunyi di gudang


itu saat kita melakukan kesalahan!’


“Iya …, dan kamu akan ikut di hukum gara-gara aku!”


Mereka kembali tertawa bersama saat mengingat masa-masa saat mereka bersama.


“Aku merindukan saat-saat itu, Frans!”


Dokter Frans seketika menoleh ada Zea, mata mereka kembali bertemu. Ia masih bisa


melihat tatapan yang sama seperti dulu untuknya, semuanya belum berubah dari


gadis itu, tapi dirinya kini sudah berubah.


Dokter Frans segera mengalihkan tatapannya, ia tidak mau semakin lama menatap wanita


itu akan semakin berat ia untuk melepaskannya, ia takut penyesalannya akan


semakin besar.


"Masa kanak-kanak adalah yang terindah dari semua musim kehidupan."


“Dan kamu adalah bagian terindah itu, Frans! Selamanya di hatiku!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️


__ADS_2