Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
cemburu


__ADS_3

Dokter Frans hanya terus mondar-mandir memikirkan sikapnya yang kadang memang sangat keterlaluan.


Ia kembali melihat surat itu, tanpa pikir panjang ia segera menyobek kertas-kertas itu menjadi potongan kertas-kertas kecil tak berbetuk. Ia tidak akan pernah melakukan itu.


"Aku mencintai istriku, tidak akan pernah ku biarkan hal itu terjadi!"


Dokter Frans segera menyambar jaketnya dan keluar dari ruangannya.


"dokter Sifa ...., hari ini saya pulang lebih awal! Suruh telpon jika ada yang mencariku!" ucapnya pada dokter Sifa.


"Baik dokter!"


Dokter Frans segera menuju ke mobilnya yang sudah siap di depan pintu keluar rumah sakit.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit, ia benar-benar sudah tidak sabar sampai di rumah dan memeluk istrinya itu. Sudah cukup baginya untuk bersikap egois.


"Oh iya ...., kira-kira apa yang biasa di sukai wanita?" tanya dokter Frans pada sopirnya.


"Tuan dokter bertanya pada saya?"


"Ya memang siapa lagi di sini selain saya sama kamu!?"


"He ...., maaf tuan dokter! saya kira tuan dokter bicara di telpon!"


"Ya sudah sekarang beri tahu saya apa yang di sukai wanita!"


"Menurut saya tuan ....!" ucap sopir itu.


"Eh tunggu dulu, kamu sudah menikah kan?"


"Sudah tuan!"


"Sudah berapa lama?"


"Sudah sepuluh tahun tuan, anak saya empat!"


"Sepuluh tahun anak empat, gimana produksinya itu?" ucap dokter Frans sambil garuk-garuk kepalanya.


"He he he ...., saya itu tipe suami yang lengket sama istri tuan, kalau di rumah mainannya cuma sama istri, jadi gampang sekali hamil istri saya!"


"Vulgar sekali ngomongnya ...., ya sudah saya percaya, sekarang beritahu saya , kalau istri kamu marah, biasanya kamu bawakan apa?"


"Saya bawakan bunga, coklat, trus makanan, cincin ....!"


"Tulis daftarnya dan kita cari semua yang di butuhkan!"


"Semuanya tuan?"


"Iya ....!"


Akhirnya dokter Frans pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota. Ia meminta sopirnya untuk menyebutkan semuanya dan menulisnya. Ia membeli semua yang terdapat dalam daftar itu.


"Ini sudah semua?" tanya dokter Frans memastikan, saat semua pelayan toko memasukkan barang-barang belanjaannya.


"Sudah tuan!"


Mobil yang tadi begitu longgar kini terlihat semakin sesak saja dengan barang-barang itu.


Dokter Frans segera pulang, ia benar-benar tidak sabar memberi surprise pada istrinya.


Sesampai di rumah, ia segera meminta semua pelayan untuk membawa masuk barang-barang itu. Tidak ada penyambutan dari Felic.


“Felic sudah pulang bi?" tanyanya pada bi Molly.


“belum tuan, akhir-kahir ini nyonya pulangnya sering malam!” ucap bi Molly.

__ADS_1


Ahhh ...., aku bahkan tidak tahu itu ...., batin dokter Frans.


“Baiklah …, siapkan malam malam! Aku mau mandi dulu!” ucapnya sambil berlalu menuju ke kamarnya.


Dokter Frans segera mandi bersiap dengan begitu tampan. Ia menatap kamar itu, menumpuk semua hadiah yang telah ia siapkan di atas meja, kecuali makanan. Makanan langsung di letakkan di meja makan.


Sudah pukul tujuh malam, karena Felic tidak juga pulang, dokter Frans pun berinisiatif untuk menunggunya di ruang makan.


Dua jam berlalu, tapi Felic belum juga kembali, sudah jam sembilan malam.


"Bi ...., apa biasanya Felic juga pulang selarut ini?" tanya dokter Frans.


"Tidak tuan, biasanya jam tujuh juga sudah pulang!"


"Apa yang dia kerjakan sampai selarut ini, apa begitu sibuknya hingga bekerja selarut ini!?" gerutu dokter Frans.


Ia pun menunggu satu jam lagi, sudah jam sepuluh malam. Ia benar-benar kesal karena istrinya tidak juga pulang. Ia berencana menghubunginya ponselnya ia tinggal di atas.


“Bi …, simpan saja makanannya!” icap dokter Frans sambil meninggalkan meja makan.


“Tuan tidak jadi makan malam?” tanya bi Molly, ia melihat tuannya sedari tadi tidak menyantap apapun juga. Pasti sangat lapar.


“Tidak usah, simpan saja! Mungkin dia sudah makan di luar!”


Dokter Frans pun segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, ia mencari ponselnya yang ternyata masih di dalam tas kecilnya itu.


Saat hendak menghubungi Felic tiba-tiba ia mendengar suara motor yang masuk ke halaman rumahnya.


Dokter Frans mengurungkan niatnya untuk menelpon Felic, ia pun segera mengintip dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Felic turun dari motor, istrinya itu di antar pulang oleh seorang pria, yang jelas-jelas terlihat tidak seperti ojek online.


“Siapa pria itu! bukankan itu pria yang berada di tepat percetakan itu, beraninya dia mengantar istri aku!” ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


"Senyum-senyum seperti itu lagi, Felic juga kenapa pegang-pegang tangannya segala!"


Rahang dokter Frans sudah mengeras, rasanya ingin sekali berlari keluar dan menonjok pria itu.


“Terimakasih ya mas!” ucap Felic sambil tersenyum, tanpa sengaja tangannya yang mengembalikan helm memegang tangan Langit, "Eh maaf mas kepegang!"


"Di pegang terus-terusan juga mau ...!"


"Maunya ....!" ucap Felic sambil memukul bahu Langit.


“Sama-sama, rumah kamu besar!”


“Sama-sama apanya? Bukan rumah aku, rumah suamiku!”


"Sama-sama terimakasihnya! bo'ongan kelewatan, sampai jumpa besok!” ucap Langit sambil mengaitkan kembali helm yang baru saja di pakai oleh Felic, ia pun segera memutar motornya dan meninggalkan rumah itu.


Felic melambaikan tangannya.Menunggu hingga motor itu menghilang dari balik pagar tinggi itu, “Bohong yang mana?!”


Felic pun tidak mau berpikir banyak lagi, ia sudah sangat capek hari ini, ia ingin segera masuk ke dalam rumah dan istirahat.


Langkahnya terhenti di ujung tangga saat melihat bi Molly masih sibuk di dapur, ia pun memilih menghampiri bi Molly. Sudah sangat malam tapi bi Molly masih sibuk di sana.


“Bi…, belum tidur?” tanya Felic, ia pun mengambil segelas air putih dan meneguknya.


“Belum nyonya!” ucap bi Molly.


"Kenapa makanannya banyak, kan sudah saya bilang bi, kalau saya mau makan malam saya bisa buat mie instan saja nggak usah masak, kalau kayak gini kan jadi sayang bi!"


"Tapi ini tadi perintah tuan, nyonya!"


“Tuan? maksudnya Frans, memang Frans sudah pulang?”


“Sudah  nyonya!”

__ADS_1


“Sudah …?” tanya Felic sambil mengerutkan keningnya, tidak biasanya suaminya itu pulang kurang dari tengah malam dan sekarang masih jam sepuluh.


“Iya nyonya …, tuan sudah pulang sejak sore! Bahkan tuan nungguin nyonya buat makan malam, hampir dua jam tuan duduk di meja makan buat nungguin nyonya!”


"Benarkah?” ia benar-benar tidak percaya jika suaminya itu menunggunya. Demi apapun hatinya tiba-tiba menghangat, bibirnya tiba-tiba melengkung sempurna.


“benar nyonya!”


Felic pun segera meletakkan kembali gelasnya dan berlari menuju ke kamarnya.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, ia berhenti di depan pintu, ia melihat suaminya itu sedang berdiri depan jendela kamarnya. Felic tersenyum, bahkan dadanya sampai terlihat jika sedang naik turun.


“Frans …!” ucapnya dengan senyumannya.


Belum sampai Felic menghampiri suaminya itu, tapi suaminya itu lebih dulu menghampirinya.


"Frans ...., kata bibi, kau menungguku?" tanya Felic saat suaminya itu sudah begitu dekat di depannya, hanya berjarak lima centi di depannya.


Dokter Frans tiba-tiba mengunci tubuh Felic dan mendorongnya hingga membentur pintu membuat Felic ketakutan.


“Frans …, kamu kenapa?” tanya Felic dengan begitu gugup.


“kenapa?!" ucap dokter Frans mengulang ucapan Felic, ia benar-benar sudah terbakar cemburu saat ini, ia membayangkan tangan istrinya melingkar di pinggang pria itu, rok selutut nya tersingkap dan pria itu mengusap paha istrinya.


“Soal makan malam itu, aku minta maaf!” ucap Felic yang mengira jika suaminya marah gara-gara ia terlambat makan malam.


Cup


Tiba-tiba dokter Frans mencium Felic dengan begitu rakus, bahkan begitu kasar seperti bukan suaminya.


“Frans …., apaan sih, kamu menyakitiku!” ucap Felic saat berhasil lepas dari bibir suaminya.


“Ini kan yang kamu inginkan, kamu merindukan sentuhan laki-laki …, iya kan? Aku akan memberikannya, tapi jangan minta laki-laki lain!”


Dokter Frans kembali ******* bibir Felic, mencumbunya dengan begitu kasar, bahkan tangannya sudah bermain di dada Felic.


“Frans hentikan!” teriak Felic, "Ucapan mu begitu menyakitiku!" ucap Felic di sela isakannya.


“kenapa? Masih enak permainan laki-laki itu tadi? Hah … sudah berapa lama kalian berhubungan hah …, bagaimana dia menyentuhmu? Begini …? Atau begini, begini?”


Dokter Frans meremas buah dada Felic dengan begitu kasar, menciumi wajah dada dan bagian tubuh Felic lainnya.


“Atau begini?”


Dokter Frans kembali memainkan tangannya di bagian intim Felic. menyingkap dress selututnya. Hingga dress Felic berantakan.


“Atau yang mana? Hah …?” ucap dokter Frans lagi, ia benar-benar di kuasai kemarahan. Rasanya tidak rela melihat istrinya bersama laki-laki lain, "Aku akan menghapus semuanya!"


Dokter Frans sudah meninggalkan jejak di setiap jengkal tubuh Felic. Hingga hanya ada dirinya di sana.


Plakssss


Felic menampar pipi suaminya itu dengan begitu keras, hingga membuat dokter Frans sedikit memundurkan tubuhnya. Felic menangis, ia menutup bagian dadanya yang sudah terbuka, bahkan dressnya sudah tidak berbentuk.


“Frans …, kamu keterlaluan! Kau benar-benar melukai perasaanku!”


Felic segera mendorong tubuh dokter Frans yang terpaku dan berlari menuju ke kamar mandi.


...Kadang cemburu bisa lebih ganas dari kemarahan harimau, lebih tajam dari tajamnya belati, lebih sakit dari yang peluru~DTIS...


BERSAMBUNG


jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2