
Ersya pun segera mematikan sambungan telponnya tepat saat mobil yang ia tumpangi sampai di depan rumah Rangga.
Ia sudah menyiapkan oleh-oleh untuk orang tau Rangga. Jika sampai lupa ia tahu seberapa pedasnya mulut mamanya Rangga. Pernah di kira menjadi calon istri Rangga saja sudah cukup membuatnya tahu bagaimana sifat mamanya Rangga.
Ersya segera menata nafasnya sebelum berperang.
"Saya tidak akan lama! Jadi cukup tunggu di sini saja!"
"Baik nyonya!"
"Oh iya, kalau pak Div menelpon. Katakan saja kalau saya sedang berkunjung ke rumah teman!"
"Baik nyonya!"
Ersya tahu pasti anak buah suaminya sudah melaporkan keberadaannya sekarang. Cukup sulit untuk bermain kucing-kucingan dengan sang suami.
Ersya pun segera mengambil bingkisan dan keluar dari mobil setelah sopir membantu membukakan pintu.
Kedatangannya langsung di sambut oleh asisten rumah tangga Rangga.
"Ya Allah, ini bukannya mbak Ersya? Temannya mas Rangga?"
"Iya bi, apa Rangga nya ada di rumah?"
"Mas Rangga ya mbak?!"
"Iya!"
"Mas Rangga sudah satu Minggu ini tidak pulang!"
"Kemana bi?"
Bibi itu tampak bingung, ia mengamati sekitar dan memastikan jika tidak ada yang mendengar percapanan mereka.
Setalah memastikan tidak ada yang akan mendengar percakapan mereka, bibi itu pun mendekatkan diri ke arah Ersya.
Melihat apa yang di lakukan bibi itu, terlihat sopir sekaligus bodyguard yang tetap menunggu di luar mobil hendak mendekati mereka tapi Ersya segera memberi isyarat agar tetap diam di tempatnya.
"Kata beberapa pembantu di sebelah, mas Rangga sudah nikah dan tinggal di rumah istrinya!" bisik bibi itu.
Tapi belum sampai Ersya menanyakan tentang siapa istri Rangga, tiba-tiba dari dalam mama Rangga memanggil.
"Siapa tamunya bi?" teriak sang mama dari dalam.
"Ini buk, ada temennya mas Rangga!"
"Kenapa nggak di suruh masuk? Suruh masuk!"
"Iya buk!"
Akhirnya Ersya baru mendapatkan informasi setengahnya saja. Ia pun masuk bersama asisten rumah tangga Rangga.
"Mau minum apa mbak?"
"Nggak usah repot-repot, bi!"
Terlihat dari arah dalam , mama Rangga mulai mendekat.
"Ehhh Ersya, ya?" seperti biasa mama Rangga selalu menatap dengan tatapan yang mengintimidasi. "Ada apa ke sini? Nggak biasanya?"
__ADS_1
"Bukan hal yang penting Tante, tadi hanya kebetulan lewat jadi sekalian mampir, soalnya Rangga sudah dua hari nggak masuk!"
"Ohhh!" tatapan mama Rangga langsung tertuju pada bingkisan yang ada di sebelah Ersya.
"Ohhh iya, ini tadi sedikit oleh-oleh buat om sama Tante!"
"BI tolong terima dan langsung taruh di dapur saja!" ucap mama Rangga tanpa berniat untuk melihatnya.
"Baik Bu!"
"Oh iya, sekalian buatkan minuman!"
Setalah bibi pergi, tatapan mama Rangga kembali tertuju pada Ersya.
"Sekarang terlihat lebih Segeran ya, enak ya di nikahi orang kaya! Nggak perlu cari duit ini itu, nggak perlu kerja, tinggal abisin uang suami. Pantas Rizal kamu tinggalin, ternyata mau dapat yang lebih kaya!"
Pengen banget nih sobek mulut pedasnya, tapi sabar Ersya ...., sabar ...., gue harus cari informasi dari nenek lampir ini ....
Walaupun kesal tapi tetap saja Ersya menahannya agar tidak sampai mengeluarkan jurusnya.
"Iya Tante, lagi pula sekarang saya punya anak jadi jauh lebih makmur lagi!"
"Kasihan sekali si Rizal, padahal kurang baik apa dia sama kamu! Tapi setelah ketahuan dia mandul tiba-tiba kamu tinggal begitu saja!"
"Ya begitulah Tante, bagaimana lagi! Aku kayaknya sudah bosan sama dia!" Ersya sengaja membuat mama Rangga tidak bisa merendahkan dia lagi dengan mengatakan hal yang menurut wanita di depannya begitu rendah.
Bibi kembali dengan membawa minuman dingin untuk Ersya,
"Silahkan di minum, mbak!"
"Terimakasih, bi!"
Bibi itu kembali pergi meninggalkan Ersya dan mama Rangga.
Hehhhh ...., masih saja dia....., Ersya segera meredam amarahnya dengan meminum minuman dingin yang di berikan oleh bibi.
Beruntung papa Rangga datang tepat waktu,
"Ehhhh ada tamu ternyata, terlihat dari luar ada mobil bagus, ternyata ada_!"
"Ersya om!"
"Oh iya Ersya!"
Papa Rangga pun segera ikut duduk, bergabung dengan mereka.
"Lama tidak bertemu, setalah kamu dan Rizal sudah_!"
"Iya om, lagi sibuk ngurus baby!"
Papa Rangga lebih ramah menyambut Ersya di banding mamanya. Bahkan percakapan mereka sedikit bermutu di banding dengan yang tadi, sekarang giliran mamanya Rangga yang diam.
"Tante ....!"
Tiba-tiba dari arah luar ada seorang wanita berpenampilan modis yang masuk. Tapi segera terdiam di tempatnya saat melihat Ersya.
Mama Rangga segera berdiri dan menyambut tamunya dengan hangat,
"Miska ...., Tante sudah nunggu dari tadi!" Ia segera memeluk tamunya itu.
__ADS_1
"Iya, tadi ada urusan sebentar!" tatapan Miska tetap terarah pada Ersya, ia tidak mengenal siapa Ersya. Memahami arah tatapan Miska, mama Rangga pun segera mengajak Miska untuk masuk.
"Kita bicaranya di dalam saja ya, di sini nggak enak ada orang asing!"
"Iya Tan!"
Samar-samar Ersya masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Itu tadi siapa Tante?"
"Bukan orang yang penting!"
Kini di ruang tamu itu tinggal Ersya dan papa Rangga.
"Dia siapa om? Istrinya Rangga?"
"Bukan, tapi awalnya calon istrinya Rangga!"
"Kalau awalnya berarti sekarang bukan ya om?"
"Ya begitulah!"
"Maaf om kalau Ersya lancang, apa benar gosip yang mengatakan kalau Rangga sudah menikah?"
"Haahhh, kamu tahu dari mana?" tampak papa Rangga sedikit terkejut.
"Tidak penting saya tahu dari mana om, tapi saya sahabat Rangga, saya juga ingin tahu siapa istri Rangga! itu kalau om mengijinkan!"
Papa Rangga terdiam cukup lama, mungkin sedang menimbang-nimbang antara ingin mengatakan atau tidak.
Tapi melihat tatapan tulus dari Ersya, ia pun yakin jika Ersya tidak mungkin berniat jahat apalagi Rangga dan Ersya sudah kenal sejak masih duduk di bangku SMP.
"Dia kerja di minimarket yang ada di depan!"
Setalah mendapat informasi tentang istri Rangga, Ersya pun segera berpamitan. Ia sudah janji tidak akan malam, lagi pula meninggalkan baby nya terlalu lama juga membuatnya tidak begitu nyaman.
Ersya pun segera meminta sopirnya untuk mengantar ke minimarket yang ada di depan. Ia melihat dari luar, penjaga minimarket itu seorang pria.
Kok pria sih ...., apa papa Rangga sengaja menipuku?
Ersya pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mini market, mengambil beberapa belanjaan, beberapa snack dan segera membawanya ke kasir.
"Sendiri aja mas?" tanya Ersya saat pria itu sedang sibuk menghitung belanjaan.
"Iya mbak!"
"Memang karyawan di sini hanya mas ya?"
"Enggak, ada cewek! Tapi dia sedang sakit!"
"Kalau boleh tahu siapa ya mas namanya?"
Pria itu segera menatap curiga pada Ersya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...