Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Surat cinta


__ADS_3

“terserah aku dong, yang baca aku!”


Felic pun bersiap-siap untuk membuka surat itu, ia membuka perekatnya yang berbetuk


hati berwarna merah tua, dan segera mengambil kertas yang di lipat begitu rapi


di dalamnya. Aroma harum keluar dari kertas itu, sepertinya pria itu sudah menyemprotkan parfumnya ke kertas itu, aromanya sama dengan pria yang duduk di sampingnya.


Rasanya ingin sekali mengendus surat itu agar rindu pada tubuh pria di sampingnya ikut


menguap bersama aroma yang masuk ke dalam hidungnya.


Felic membuka lipatan pertama dan berlanjut ke lipatan ke dua, ketiga, ke empat


hingga kertas itu terbuka sempurna.


"Hahhh ....., tulisannya jelek banget, gimana aku bacanya!?" gerutu Felic.


"Ahhhh ...., kamu ya! Nggak hargai banget usahaku, aku buatnya sudah bercucuran keringat! Jangan ngeluh!" ucap dokter Frans yang merasa kesal, ia sudah deg degan setengah mati, wanita yang menjadi istrinya bukannya mengomentari isi dari tulisannya tapi malah mengomentari bentuk tulisannya.


"Mau bagaimana lagi, tulisanmu ancur banget! Dulu nggak pernah belajar nulis latin ya di SD?"


"Iya emang, aku selalu dapat nilai empat dalam pelajaran bahasa Indonesia, puaaaaaas!!!!!! Gitu banget ngomongnya!"


"Baiklah ...., walaupun sulit! aku baca!" Ucap Felic, ia kembali memperhatikan tulisan itu, butuh seni tersendiri untuk bisa membaca surat itu.


Dear my Wife


Ini untuk istriku ya yang aku


nikahi tanpa cinta…, aku menikah denganmu karena sebuah komitmen yang kita


bangun sendiri agar tidak saling merugikan.


Tapi tahukah kamu istriku, semakin


kesini aku ngerasa berbeda. Aku dan kamu melupakan komitmen itu, kita saling


merindu dan saling mencari saat tidak melihat.


Jadi setelah itu aku putuskan kalau


kita memang harus mengubah sesuatu ….


Felic menghentikan membacanya dan menatap suaminya itu, "Kok dear nya ada dua sih? Jadi benar kan aku bukan istri yang kamu cintai!" keluh Felic.


"Kalau belum selesai bacanya jangan protes dong! Kau benar-benar ingin membunuhku saja!" ucap Dokter Frans, karena saat ini, saat mendengar kata demi kata yang Felic baca, jantungnya ikut berdetak kencang, serasa ingin lepas dari tempatnya. Takut jika ada yang salah.


"Ya udah deh aku lanjut baca, tapi awas aja kalau isinya mengecewakanku!" ucap Felic lagi dan kembali fokus pada kertas yang ada di tangannya.


Dear Felicia Daryl


Aku Frans Aditya, bukanlah pria


yang bisa berlaku romantis, maaf ya kalau surat ini terkesan seperti surat pajak atau surat kontrak. Butuh berlembar-lembar untuk bisa merangkai kata-kata ini …, karena sebelumnya aku nggak pernah belajar ilmu sastra atau mendalami pelajaran bahasa Indonesia…!


Bukan pelajar matematika atau fisika yang nilai ku jelek saat sekolah, tapi  nilai bahasa Indonesia ku. Maaf kalau aku curhat, aku Cuma pengen kamu maklum aja kalau surat ini tidak seperti yang kamu bayangkan …


Di sini aku menulis surat ini bukan


sebagai suamimu tapi aku menulis surat ini sebagai seorang pria yang mengagumi


seorang wanita,


hay ....., kenalkan namaku Frans. Maukah kau berkencan denganku?


Maksudnya maukah kau jadi pacarku?


Aku tunggu jawabannya ya ….


                                                           Salam rindu


                                        From your husband


^^^                                                                                    Aku jatuh cinta padamu^^^


^^^                                                                                Felicia Daryl^^^


Rasanya pengen tertawa sekaligus terharu dengan surat yang di tulis oleh dokter Frans.


Memang surat itu tidak romantik, tapi pasti butuh perjuangan sekali untuk bisa


merangkai kata sebanyak itu bagi seorang Frans yang bukan orang yang romantis.

__ADS_1


Dan dugaan Felic benar, semalaman dokter Frans sampai tidak tidur karena menulis


surat itu, ia menghabiskan berlembar-lembar untuk menulis satu kalimat saja hingga


menemukan kata yang tepat, walaupun tidak tepa-tepat banget. Tapi cukup untuk


mewakili semua perasaannya.


Melihat Felic yang hanya diam, membuat dokter Frans begitu penasaran dengan jawaban


yang akan di berikan padanya.


“Bagaimana?” tanya dokter Frans sambil menaikan kedua alisnya.


“Bagaimana apanya?” tanya Felic pura-pura tidak mengerti.


“jawabanmu?”


“Butuh banget ya jawaban dariku?”


“Iya…, iya lah ....., gimana sih kamu!?"


"Kenapa?"


"Sebelumnya kita sudah memulainya dengan urutan yang salah. Maka dari itu


sekarang aku mau hubungan kita di mulai dengan urutan yang benar!”


“Berarti kita harus berteman dulu!”


“jangan dong , itu kelamaan…! Mau ya jadi pacar aku?”


“Emang gitu ya cara seorang pria nembak wanita! Nggak sopan banget!”


Dokter Frans pun segera berdiri dari duduknya dan berpindah ke depan Felic, ia segera


berjongkok di sana dan memegang tangan Felic.


“Felicia Daryl, maukah kau berkencan denganku? Maukah kau jadi pacarku? Kita akan


melewati fase-fase pacaran seperti anak muda lainnya, jalan, makan es krim,


nonton, pergi ke taman hiburan!”


“Iya …, tanpa siapapun! Hanya ada aku dan kamu!”


“Baiklah …, aku setuju, tapi ini masih masa percobaan ya! Tidak ada bobok bareng apalagi


tinggal satu rumah! Aku pulang ke rumah aku dan kamu pulang ke rumah kamu!”


“Emang gitu ya caranya berkencan?”


Ahhh nyesal gue, tetap aja nggak bisa tinggal satu rumah .....


"Kenapa? Berubah pikiran?"


"Ya nggak lah ....!"


“Ya udah, kalau gitu, kita kencan!"


"Kencan! Jadi mulai dari mana kita kencannya?"


"Hehhhh ....., katanya banyak cewek yang suka sama kamu tapi caranya berkencan saja nggak tahu …!”


"Ya deh ngaku, aku nggak pernah kencan! Puaaaas!!!!! Kita beneran nggak bisa kita tinggalnya satu rumah aja?”


“Nggak bisa! Kamu masih dalam masa percobaan ya! Kalau lulus kita lanjut kalau nggak …!”


“Kalau enggak?”


“Nggak tahu deh …!”


“Baiklah …, aku pasti lulus!”


Kini dokter Frans sudah mendorong kursi roda Felic, mereka berjalan-jalan layaknya


anak muda yangs edang kencan.


“Jadi sekarang kita udah jadian dong?” tanya dokter Frans lagi memastikan. Ia terus tersenyum, ia tidak menyangka akan mengalami pase pacaran.


“Iya …!”


“beneran?”

__ADS_1


“Iya …!”


“Jadi gini ya rasanya berkencan! Aneh ya?”


“Memang dulu sama Zea tidak kencan? Kamu yang aneh!”


“Nggak tahu, dulu lupa!”


Bukannya ia lupa, tapi ia akan melupakan yang sudah lalu dan membuka lembaran barunya


dengan Felic, wanita yang sudah merebut hatinya, wanita yang menyembuhkan lupa


dan juga memberi warna di hidupnya yang hanya ada hitam dan putih.


Karena aku mencintaimu Felicia


Daryl, aku ingin menjadi satu-satunya. Mungkin itu akan terdengar begitu egois


bahkan setelah tangisan dan pertengkaran ini aku masih memilih mu, karena aku


cinta. Aku ingin membangun bangunan yang indah di hatimu, kini aku tidak akan


menyesali karena jatuh cinta karena setiap rangkaian aksara telah membuatku jatuh


dan lebih dari sekedar cinta.


Walaupun tidak begitu romantis, tapi setidaknya sekarang Felic sudah bisa merasakan betapa berusahanya pria yang sedang mendorong kursi rodanya itu untuk bisa seperti yang ia mau.


Frans Aditya, dulu aku melihatmu


begitu sempurna menyayangiku, dan walaupun kita tidak lagi sempurna tapi aku


semakin mencintaimu. Kau tidak pernah bisa menjelaskan cintamu kepadaku, tapi


gerak-gerik mu sudah terlampau besar menggambarkan cintamu. Bukannya aku tidak


bersyukur karena itu, tapi biarkan cinta yang baru tumbuh ini mengakar setelah


perdebatan.


Rasanya menyenangkan bisa jalan berdua saja seperti ini, dengan segala candaan dokter


frans, cueknya Felic membuat hubungan mereka semakin hangat saja.


“Kamu tahu nggak apa kesamaan kamu sama soal ujian?”


“Apa?”


“Sama-sama butuh di perjuangin karena menyangkut masa depan!”


“gombal banget sih!”


***


Ersya sudah sampai lebih dulu di rumah felic karena dokter Frans sengaja menyuruh


Ersya untuk pulang lebih dulu.


“Sya …, kamu sendiri? Mana Felic?” tanya ibu Felic.


“Ada deh, tan! Jangan khawatir dia sama orang yang tepat!”


“Maksudnya?”


“Nanti tante juga tahu sendiri, aku masuk kamar Felic dulu ya, Tan!”


Ersya pun segera berlari ke atas dan masuk ke kamar felic, ia merebahkan tubuhnya.


“Beruntung sekali Felic, punya suami yang benar-benar sayang sama dia!”


Saat tangannya ia menyusupkan di antara ranjang dan bantal, tiba-tiba saja tangannya


menemukan sesuatu. Ersya pun mengambilnya.


“Undangan?”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2