
Dokter Frans pun segera mengajak turun Felic, Felic terlihat begitu bingung dengan apa yang di lakukan suaminya. Sejak kapan suaminya itu punya sanak saudara di kampung karena yang ia tahu selama ini suaminya hanya tinggal di panti asuhan.
"Ini rumah siapa Frans?" tanya Felic sambil mengamati rumah yang di dominasi dengan cat warna kuning dan hijau muda itu.
"Kok nggak ada yang menyambut kita Frans?" tanya Felic lagi.
"Kalau gitu biar aku buka dulu nanti aku yang akan menyambut kedatangan istri cantikku ini!" ucap dokter Frans.
"Jangan aneh-aneh deh Frans, jangan sembarangan masuk rumah orang!" Felic menahan tangan suaminya itu agar tidak berbuat macam-macam.
"Tapi aku punya ini nya Fe!" ucap dokter Frans sambil menunjukkan seperangkat kunci di tangannya.
"Frans ...., itu kunci apa? Kok banyak banget?"
"Kunci rumah ini Fe, bentar kalau nggak percaya biar aku bukain!" ucap dokter Frans dan Felic pun melepaskan tangan dokter Frans.
Dokter Frans segera berjalan mendekati pintu dan segera memasukkan kunci ke lubang kunci yang ada di pintu dan dalam waktu singkat pintu pun terbuka.
"Assalamualaikum ....!" ucap dokter Frans sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.
"Ayo Fe ...., masuklah ....!" walaupun masih bingung tapi Felic pun juga ikut masuk ke dalam rumah itu.
"Ini rumah siapa Frans? kamu jangan aneh-aneh deh ....!"
"Ini rumah kita Fe!" ucap dokter Frans sambil meregangkan tangannya memperkenalkan rumah itu.
"Maksudnya?" tanya Felic lagi.
"Masih ingat nggak tentang keinginan kamu beberapa waktu lalu, saat itu kamu bilang mau tinggal di rumah sederhana dengan kehidupan yang sederhana juga dengan keluarga kecil kita!"
Felic pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya.
"Frans ....., jadi ini ....?" tanya Felic yang masih tidak percaya.
"Iya Fe ...., gimana kamu suka nggak?" tanya dokter Frans.
"Suka banget ...., aku suka ....!"
"Syukurlah ....!"
"Aku jadi nggak sabar pengen keliling-keliling lihat lihat rumah ini dan juga para tetangganya!" Felic terlihat begitu senang dengan apa yang di berikan oleh suaminya itu.
"Kita akan jalan-jalan tapi bukan sekarang, besok! Sekarang kamu harus istirahat!"
"Yahhhh ....!"
"Kan masih ada waktu Fe, sekarang juga keadaannya sudah gelap!" ucap dokter Frans.
"Biar saya buatkan air hangat nyonya!" ucap bi Molly.
"Terimakasih bi!" ucap dokter Frans dan bi Molly pun segera menuju ke dapur untuk membuatkan air hangat. Di tempat itu tidak bisa menyediakan air hangat hanya dengan sekali tekan tombol, mungkin nanti dokter Frans akan memikirkannya tapi untuk sementara hanya bisa memanaskan air dari kompor saja.
__ADS_1
"Ya sudah kita ke kamar ya, kamu pasti sangat capek!" ucap dokter Frans dan mengajak Felic ke sebuah kamar yang terlihat seperti kamar utama, hanya ada empat kamar di rumah itu, kamar dengan ukuran tiga kali tiga meter, cukup sempit jika di bandingkan dengan rumah mereka di kota.
Di sana juga hanya ada dua kamar mandi, satu di kamar utama dan satu lagi di samping dapur.
"Duduklah ....!" ucap dokter Frans sambil meminta Felic untuk duduk di atas tempat tidur, di kamar itu juga tidak ada sofa, karena kamar hanya cukup untuk tempat tidur, lemari dan meja kecil.
"Capek ya ....? Biar aku pijitin sambil nunggu bi molly selesai dengan airnya ya!" ucap dokter Frans lagi.
"Nggak pa pa Frans ....!" ucap Felic menahan tangan suaminya itu.
"Sejak kapan menyiapkan semua ini? Apa ini bi Molly juga tahu?" tanya Felic lagi saat suaminya itu ikut duduk di sampingnya.
"Iya ....., bi Molly juga minta kalau kita pindah ke sini, dia akan ikut bersama kita, kamu tidak keberatan kan?" tanya dokter Frans.
"Mana mungkin aku keberatan Frans, nanti kalau kamu tinggal-tinggal ke rumah sakit kan aku jadi punya teman di rumah!"
Felic pun kembali terdiam, ia jadi ingat dengan pekerjaan suaminya.
"Rumah sakit, bagaimana dengan pekerjaanmu di sana nanti?" tanya Felic.
"Itulah kenapa aku mau Tisya lebih bertanggung jawab dan memiliki pribadi yang baik, aku harus mengajarinya dulu karena nanti aku tidak akan bisa setiap hari ke kota, mungkin hanya satu kali dalam satu minggu atau mungkin lebih jarang dari itu!
Nanti aku akan butuh banyak waktu untuk menempanya sampai aku yakin Tisya pantas untuk mengelolanya.
Dan saat itu tiba kita sudah bisa pindah ke sini!"
"Jadi bukan sekarang pindahnya?" tanya Felic lagi.
"Kenapa?"
"Karena rumah sakit di sini tidak secanggih rumah sakit di kota, aku tidak mau terjadi sesuatu sama kalian!"
"Yahhhh berarti masih lama dong!"
"Tidak lama sampai Tisya benar-benar siap, kamu nggak pa pa kan akali pengelolaan rumah sakit nanti aku serahkan sama Tisya?"
"Asalkan kamu yakin jika Tisya mampu dan amanah, aku sih nggak masalah Frans! Lalu di sini kamu mau kerja apa?" tanya Felic lagi.
"Nanti aku akan memiliki beberapa ladang, tapi walaupun aku tidak bekerja, uangku juga tidak akan habis Fe, aku masih punya rumah sakit besar!"
"Mulai datang nih sombongnya!"
"Aku mau bersantai nanti di sini Fe, dan bekerja dari rumah dan akan menjadi dokter setiap satu minggu sekali, bukankah itu cukup jenius pemikirannya!?"
"Jadi kamu berencana punya ladang di sini?" tanya Felic penasaran.
"Iya dong, kalau kita mau berperan sebagai petani dan penduduk desa harus terjun langsung lah ...!"
Tok tok tok
Tiba-tiba suara pintu di ketuk menghentikan percakapan mereka.
__ADS_1
"Nyonya ...., air hangatnya sudah siap!" suara bi Molly dari balik pintu kamar mereka.
"Baik bi ....!" jawab Felic.
Ya udah gih kamu mandi dulu!" ucap dokter Frans sambil berdiri lebih dulu memberi jalan untuk istrinya itu.
Felic pun turun, ia mengambil handuk yang ada di dalam lemari, handuk itu masih terlihat baru.
Sebelum keluar dari dalam kamar, Felic pun kembali menoleh pada suaminya itu.
"Oh iya Frans!"
"Apa lagi?"
"Nanti kalau kita benar-benar jadi tinggal di sini jangan membuat yang aneh-aneh yang bisa bikin tetangga bingung ya!"
"Seperti?" tanya dokter Frans bingung.
"Nggak ada pelayan, nggak ada fasilitas yang sama seperti di kota, alat elektronik nya hanya boleh mesin cuci, lemari es dan televisi!"
"Komputer? Laptop?"
"Iya kalau itu boleh!"
"Pembersih lantai?"
"Enggak!"
"AC?"
"Nggak! Kipas angin boleh!"
Akhirnya perdebatan itu pun berakhir, Felic pun segera meninggalkan kamar dan suaminya menuju ke kamar mandi yang ada di samping dapur.
Dokter Frans masih duduk di atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya.
"Kayaknya salah nih keputusan buat tinggal di kampung, bagaimana nanti kalau Fe kesusahan mengerjakan pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga!" gumam dokter Frans yang terlihat bingung dengan keputusannya sendiri.
Ia tahu istrinya lebih keras kepala di bandingkan dirinya, tapi nanti saat melihat istrinya mengepel lantai, mencuci baju atau hal-hal lainnya, rasanya tidak akan sanggup.
"Baiklah ...., mungkin saat nanti kamu harus jadi suami yang siaga Frans ...!" ucapnya untuk dirinya sendiri sambil mengangkat lengannya memperlihatkan lengannya yang berotot.
Bersambung
...Nikmati saja peranmu, jadi apapun itu. Tapi jangan lupa satu hal, semuanya butuh hati dan ketulusan untuk melakukannya dan hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha besarmu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰