
Setelah memastikan jika Frans yakin dengan keputusannya, Felic pun sekarang jadi lebih
tenang. Malam ini setidaknya ia bisa tidur dengan sedikit lebih tenang, ia
tidak mau lagi memikirkan jika di bawah tidak bisa tidur karena sibuk mengurus
pernikahan dadakannya.
Hari ini felic di larang masuk kerja lagi karena ibunya sudah berencana mendatangkan baju
pengantin untuknya. Ibunya tidak mau jika sampai penjahitnya datang dan Felic
tidak ada. Tapi Felic malah senang setidaknya hari ini ia bisa beristirahat
sejenak dari rutinitasnya sehari-hari.
“Fe…, ayah kamu sedang menemui pak Ustad jadi kamu jaga di depan, biar sewaktu-waktu ada tamu, kamu langsung tahu!” perintah ibunya, ibunya juga terlihat begitu sibuk. Banyak orang berlalu lalang di rumahnya menata dekorasi.
“Harus ya bu …, Felic kan mau istirahat!”
“Kamu tuh ya kebiasaan kalau di suruh orang tua bawaannya nolak terus, jangan
protes…, kerjakan apa yang ibu suruh!”
“Iya iya …, ibuku yang cantik …!”
Felic pun tidak ma uterus berdebat dengan ibunya, ia segera mengambil ponselnya dan
di bawanya ke depan. Ia duduk di teras rumah sambil bermain game yang ada di
ponselnya.
Belum sampai setengah jam, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Felic langsung berdiri dari duduknya, ia masih ingat itu mobil siapa. Itu mobil om Beni, teman
ayahnya. Papanya Abi.
“Selamat pagi nak!” sapa om Beni, kali ini ia datang sendiri tidak bersama istrinya,
tante Moi.
“Selamat pagi om …, sendirian saja. Tante tidak ikut?” Tanya Felic setelah mencium
punggung tangan pria paruh baya itu.
"Tidak nak, tante kamu sedang ada urusan lain katanya, jadi mungkin lain kali akan ke sini!"
Om Beni tampak mengamati rumah yang memang terlihat sedikit sibuk dan banyak orang yang lalu lalang di sana.
“Silahkan masuk om …!” Felic mempersilahkan om Beni untuk masuk, tapi sepertinya om Beni mempertimbangkannya karena di dalam terlalu banyak orang dan tempat yang paling tidak ada orang hanya teras.
"Biar om di sini saja, sepertinya sangat sibuk di dalam!"
"Ya sudah silahkan duduk om!"
Felic meminta om Beni duduk di bangku depan yang hanya ada dua bangku. Om Beni pun menuruti permintaan Felic, ia duduk di sana.
“Ayahmu ada?” tanya om Beni setelah benar-benar duduk.
“Kata Ibu, ayah keluar sebentar tadi, om!” ucap Felic dan hendak menyusul om Beni duduk di bangku kosong sebelahnya.
Belum sampai Felic duduk, tiba-tiba sebuah motor besar ikut parkir di depan rumahnya,
setelah membuka helmnya, Felic baru lah tahu siapa pria itu, itu adalah dokter
Frans.
"Frans!!!" pekik Felic panik sambil menatap om Beni, sebenarnya hatinya senang karena tanpa menjelaskan pada om Beni pasti Frans akan menjelaskan, tapi dari sisi. om Beni, ia tidak bisa membayangkan terlukanya hati om Beni kala lamarannya ia tolak mau bagaimanapun om Beni adalah sahabat dan teman lama ayahnya. Kalaupun tidak ada masalah ini, pastilah Felic sangat menghormati keberadaan. Beni.
“Selamat pagi!” sapa dokter Frans dengan senyum yang menampakkan gigi gingsulnya, senyumnya selalu saja lebar bak tidak ada beban di pundaknya saja.
“Frans! Kenapa ke sini?” Tanya Felic sambil menarik tangan dokter Frans menjauh dari om Beni, ia tidak menyangka Frans akan datang bersamaan dengan om Beni.
“Ngapain sih lo? Gue cuma mau ngatar ini!” Frasn membawa gaun pernikahan untuk felic, membuat pria paruh baya di samping Felic terkejut. Om Beni langsung berdiri dari duduknya, walaupun mereka berbicara membelakangi om Beni tapi gaun itu terlalu besar untuk di sembunyikan.
“Gaun pengantin?” Beni terkejut.
Felic menoleh ke arah om Beni begitupun dengan dokter Frans, ia tidak menyangka om Beni akan mengetahuinya secepat ini.
“kamu siapanya felic?” tanya om Beni dengan mata menyala seperti sedang menahan amarah.
“Perkenalkan nama saya Frans Aditya. Saya calon suami Felic!” ucap dokter Frans
memperkenalkan diri. Ia menyalami tangan pak Beni.
“Calon suami?” kali ini om Beni menatap Felic. Untung saja ayah felic datang di waktu
yang tepat. Ayah Felic menghampiri mereka.
“Ben…, baru datang. Ayo masuk dulu. Biar aku yang akan menjelaskan semuanya. Nak
Frans juga ikut!”
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah, mereka duduk di sofa. Orang-orang yang sedang sibuk di ruang tamu menyingkir secara otomatis.
__ADS_1
Felic baru saja kembali dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas teh hangat. Mereka masih saling diam, ayah felic membenarkan duduknya.
Felic tahu bagaimana bingungnya
berada di posisi ayahnya saat ini, di satu sisi ada putrinya dengan calon suaminya dan di sisi lain ada sahabatnya yang hampir menjadi calon besan, ia pun ikut duduk di samping ayahnya dan memegang tangan ayahnya mencoba memberikan kekuatan agar ayahnya bisa mengatakan semuanya.
"Maafkan kami Ben .....!" ucap ayah dengan menunduk dan kemudian melanjutkan kata-katanya,
“Beni…., perkenalkan anak muda ini adalah Frans. Dia adalah pilihan Felic!” ucap
ayah Felic.
“Jadi benar apa yang di katakannya tadi jika dia calon suami putrimu?”
“Iya…, maafkan kami …, kami tidak bisa memaksakan kehendak kami pada putri kami
karena kehidupan pernikahan yang akan menjalaninya adalah putri kami!”
Om Beni terdiam, ia mencoba menguasai keadaan, sebelumnya ia juga pernah bilang jika akan menyerahkan semua keputusan pada Felic, dan sekarang Felic sudah mengambil keputusannya.
“Nak…, jadi kau benar-benar tidak ingin menikah dengan putra om?" tanya om Beni pada Felic.
"Maafkan Felic om, Felic tidak bisa!" jawab Felic dengan penuh kepastian.
"Dia sangat mencintaimu! Seandainya saja kalian bertemu, kamu pasti akan bisa melihat betapa cintanya dia padamu, betapa besar ia mencintaimu!” ucap om Beni pada Felic lagi, ia masih berharap banyak pada Felic bahwa Felic akan menerima lamaran putranya.
“Maaf om …, tapi Felic tidak bisa! Felic mencintai orang lain!”
Dari pembicaraan itu, kini dokter Frans tahu arah pembicaraannya. Ia berada dalam
situasi yang tidak baik, pria paruh baya itu adalah ayah dari saingannya, ayah
dari pria yang katanya akan melamar Felic.
“tapi nak …., kau benar-benar tidak ingin menemui putra om sekali saja, barulah
memutuskan untuk menolak atau menerimanya!” ucap om Beni lagi berharap Felic akan menyetujui sarannya untuk bertemu sekali saja dengan putranya.
"Felic sudah yakin dengan keputusan Felic, om!"
"Nak ......!" om Beni terus membujuk Felic, melihat hal itu dokter Frans segera bertindak.
“Maaf paman …, tapi Felic mencintai saya. Kami akan menikah besok!” ucap dokter Frans mencoba menyelamatkan Felic dari bujukan pria paruh baya itu.
“Besok?” paman Beni sepertinya begitu terkejut. Ia tidak menyangka secepat itu pelaksanaannya.
“Maafkan kami Ben, semoga keputusan kami ini tidak akan menjadi penghalang hubungan kita nantinya!" ucap ayah Felic saat melihat wajah kecewa yang begitu dalam dari sahabatnya itu.
“Sebenarnya saya sangat kecewa, tapi sebelum ke sini untuk meminta putrimu kami pernah
akan mencoba untuk baik-baik saja. Mungkin kita memang tidak di takdirkan berbesanan!”
“terimakasih atas pengertianmu …, saya harap besok kalian sekeluarga bersedia hadir di
pernikahan putri kami!”
“Insyaallah…, kami akan datang!”
Akhirnya kerumitan itu bisa terselesaikan dengan baik. Paman Beni segera meninggalkan
rumah Felic, sedangkan dokter Frans menunggu hingga Felic mencoba baju
pengantin itu dan memastikan baju itu pas di badan felic, ia sengaja tidak
mengajak desainernya agar tidak terjadi kehebohan.
"Frans tapi tadi ibu aktanya sudah mengundang penjahit baju untuk baju pengantinku!" ucap Felic, karena ia teringat dengan tugasnya tadi untuk menyambut penjahit baju.
"Emang ya lo sama nyokap lo sama aja, gue yang datang di bilang penjahit!"
"Maksud lo?"
"Gue tadi yang hubungi nyokap lo, kalau gue bakal datang dengan membawa gaun pengantin lo!"
"Emang nyokap gue the best deh pokoknya kalau soal ngatain orang!"
"Cocok jadi ibu lo!"
Ayah Felic pun meninggalkan mereka berdua
setelah felic selesai mencoba gaunnya. Felic kembali menghampiri dokter Frans
dan duduk di teras agar tidak ada yang
mendengar pembicaraan mereka.
“gimana pas kan gaunnya, calon istri-ku?” Tanya dokter Frans dengan menekankan kata
calon istriku dengan senyum jailnya.
“bangga baget mau nikah! Seneng ya?” jawab felic ketus.
“jutek amet jadi cewek …, untung gue mau nikah nih sama lo, kalau nggak bisa-bisa lo
__ADS_1
di nikahin sama cowok klimis bertompel baru tahu rasa lo!”
“Iya …, iya …, terimakasih calon suamiku!” ucap felic dengan senyum yang di
paksakan. Dengan menekankan kata calon suamiku.
“Persiapkan dirimu untuk besok …., jangan bersikap seolah-olah gue ya yang udah maksa lo buat nikah, ini kesepakatan kita berdua, ok! Jadi tersenyumlah sayang …!”
“sayang …, sayang …, pala lo peyang …., gue udah pusing ya, nggak usah nambah-nambah
pusing aja!”
“Manis dikit napa sama calon suami! Nggak perlu drama nangis-nangis kayak di nikahi sama brondong kaya!”
"Gue mah seneng kalau di nikahi sama brondong kaya, kalau ini mah bukan brondong kaya, aki-aki labil!"
"Enak aja gue di bilang aki-aki labil!"
Mereka pun tertawa dengan celotehan mereka masing-masing melupakan sejenak masalah meraka.
"Senyum kayak gitu terus, lo cantik!" ucap dokter Frans saat tawa mereka terhenti membuat Felic menjadi salah tingkah di buatnya.
“males …!” ucap Felic kemudian dengan rona merah di pipinya.
“terserah lo lah …, gue pulang. Ingat besok gue ke sini jam Sembilan!”
“Iya …, bawel …!”
Dari seberang jalan terlihat ibu-ibu yang kembali ngrumpi melihat Felic bersama
dokter Frans. Berita pernikahan Felic sudah terdengar di lingkungannya,
lagi-lagi para penggosip sudah menggosipkan macam-macam.
“Itu ya calon suaminya Felic!”
“Iya itu …, tampan ya …!”
“Iya katanya seorang dokter loh, tapi aku kok nggak percaya ya!”
“Iya …, aku juga! Felic kan hanya office girl mana mungkin menikah dengan dokter!”
‘Iya…., denger-denger Felic hamil duluan makannya buru-buru nikah!”
“Jangan-jangan felic itu kalau di luar kelakuannya minus ….!”
“Masak sih?”
“Ya siapa yang tahu, anak-anak jaman sekarang kan sukanya sepereti itu, kalau di
rumah terlihat alim kalau di luaran minus!”
Dokter Frans menyadari arah tatapan Felic, ia melihat kesedihan di wajah Felic walaupun
selalu menutupinya dengan senyum cerianya. Dokter Frans menakup kedua pipi
Felic, tentu hal itu membuat Felic terkejut dengan reflek ia memundurkan
tubuhnya dan menatap tajam pada dokter Frans.
“Apaan sih?!” ucap felic kesal.
“Sudah jangan di pikirin omongan orang, lo yang paling tahu siapa diri lo. Biarkan
orang lain menilai, tapi jangan biarkan mereka mempropokasi hidup lo!”
Felic tercengang mendengar ucapan dokter Frans, ia tidak percaya pria selengean
seperti dokter Frans bisa bicara sedalam itu padanya. Felic pun mengerutkan
keningnya tak percaya, ia menganggakt tangannya dan menempelkan punggung
tangannya di kening dokter Frans.
“Nggak panas …, lo ngigo ya tadi ngomong kayak gitu!”
“Sudah gue bilang, lo belum mengenal gue. Nanti saat lo sudah mengenal gue lo akan
tahu gimana gue dan siapa gue!”
“Misterius banget jadi orang!”
“Tapi jujur gue suka sama sikap lo …, lo wanita yang kuat! Maaf kalau ucapan gue
terlalu blak blakan …, jujur gue nggak suka sesuatu yang rumit! Gue pulang,
sampai jumpa besok dengan status yang baru!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️❤️