
Felic pun mengambil berkas di tasnya dan menyerahkannya pada bu Narti.
"ini bu yang Felic maksud!” ucap Felic sambil menyerahkan berkas itu, bu Narti pun mengambilnya.
Bu Narti mengamati berkas itu, ia cukup familiar dengan berkas itu.
Bu Narti dengan perlahan mulai membuka map itu, ia meraih kaca matanya yang ada di atas nakas dengan tangan gemetarnya karena terlalu renta.
Dengan perlahan ia membuka lembaran-lembaran itu, mendekatkan dan menjauhkan beberapa kali mencari posisi yang paling tepat untuk membaca agar tulisannya terlihat semua.
Ia mulai mengerutkan keningnya saat membaca satu persatu huruf di kertas yang terlihat sudah usam itu.
“Bu Narti masih ingat dengan Frans?"
"Frans?" tanyanya balik, jelas ia masih ingat bagaimana baiknya anak yang bernama Frans itu. Bahkan anak itu tidak pernah menangis walaupun sangat terluka. Selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh, menciptakan suasana hangat di sana.
"Iya bu, namanya Frans Aditya!" ucap Felic kembali menjelaskan nama lengkapnya.
"Dia anak yang baik, tidak pernah mengeluh walaupun saya tahu dia terluka, ia suka jahil sama kami dan teman-temannya, aku sagat merindukannya, bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih ingat denganku?"
"Dia suami saya! Dia baik-baik saja bu ...!” ucap Felic, ia melihat mata wanita tua itu terus saja berair. Felic pun duduk disamping wanita tua itu mengusap air matanya dan memegang tangannya.
"Ada apa dengan Frans, kenapa kamu mencariku, apa terjadi sesuatu sama Frans?!” tanyanya dengan begitu khawatir.
“Tidak ada apa-apa bu…!"
"Lalu?"
"Tolong ceritakan pada saya, bagaimana Frans bisa masuk ke panti asuhan padahal ibu tahu jika Frans masih punya keluarga!” ucap Felic.
Bu Narti menatap wajah istrinya dari anak asuhnya itu, ia ingin tahu apa maksudnya mencari tahu masa lalu suaminya itu. Ini informasi yang cukup mendalam dan tidak boleh sembarang orang mengetahuinya.
"Aku mohon bu, ini demi Frans ...., demi keluarga kami, aku ingin tahu seperti apa ibu kandungnya!" ucap Felic memohon agar wanita yang pernah merawat suaminya itu mau bercerita.
“Saat itu ibunya Frans datang dengan membawa Frans kecil, usianya masih dua tahun. Dia mengatakan jika tidak bisa menghidupi Frans seorang diri. Kami pun akhirnya menampung Frans!
Tapi beberapa bulan kemudian, seorang pria muda datang dan mengaku jika dia ayahnya,
awalnya kami tidak percaya, tapi setelah melihat kartu-kartu identitas dan surat nikah nya, kami baru percaya. Pemuda itu mengambil Frans dari panti! Kami senang karena akhirnya Frans kembali pada keluarganya, aku tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga itu karena
Satu tahun kemudian, pemuda itu datang kembali bersama dengan sang ibu, mereka membawa Frans ke panti asuhan, mungkin hubungan ayah dan ibu Frans kembali membaik, mereka mengatakan pada saya untuk menjaga putranya sampai ada orang yang akan mengambilnya nanti. Katanya saat ini hidupnya dalam bahaya, nyonya nya akan
mengambilnya nanti.
Setiap minggu pemuda itu selalu datang tapi sangat jarang datang dengan sang ibu, setiap kali saya menanyakan ibunya, pemuda itu bilang jika ibunya masih ada urusan.
Ayah Frans selalu menjenguk Frans, mereka bermain bersama. Hingga suatu ketika pemuda itu tidak datang kembali, Frans terus menunggunya, tapi dia tidak juga kembali. Lalu kemudian kami mendengar kabar jika pemuda itu tewas dalam
percobaan pembunuhan bersama bosnya di dalam mobil.
Awalnya kami tidak memberitahunya, kami berusaha menghubungi ibunya dan ingin agar ibunya menghiburnya. Saat itu ibunya malah mengatakan jika dia akan menikah lagi dan tidak bisa menjaga Frans!”
“jadi ayah Frans meninggal saat Frans masih kecil?”
__ADS_1
“Iya …, bersama ayah Agra, ayah Agra adalah bosnya ayah Frans! Nyonya itu bukan datang untuk mengambil Frans tapi menitipkan putranya pada kami juga hingga mereka dewasa, barulah nyonya itu mengambilnya dan setelah itu aku tidak tahu bagaimana kabar mereka!”
"Terimakasih bu atas informasinya, ini sangat membantu!"
"Sama-sama!"
Setelah mendapatkan informasi dari bu Narti, Felic pun segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruangan suaminya.
Sepanjang perjalanan, ia sibuk bergumam sendiri.
"Apa karena tuan Bactiar hingga nyonya Tania rela ninggalin Frans?"
"Lalu ...., waktu Frans masih kecil kenapa ibunya bilang dia tidak sanggup menghidupi Frans sendiri, lalu di mana ayah Frans waktu itu!"
"Kenapa semakin pelik begini sih masalahnya saat sudah mulai berbuka semuanya?"
"Ini informasinya belum lengkap kan!"
Tanpa terasa Felic sudah pergi cukup lama, tidak teras sudah dua jam meninggalkan ruangan suaminya.
Saat masuk ke ruangan itu, ia sudah melihat suaminya itu berdiri menatap keluar jendela, Felic pun tanpa mengeluarkan suara segera menghampiri suaminya itu dan memeluknya dari belakang.
“Frans …!” ucap Felic sambil memeluk suaminya itu.
Betapa menderitanya kamu dulu, aku janji setelah ini tidak akan ada lagi luka yang akan kamu alami ...., aku janji ....
Felic yang tiba-tiba memeluknya, membuat dokter Frans tersenyum. Ia mengusap tangan Felic dan juga rambutnya.
“Ada apa? Kamu dari mana saja?” tanya dokter Frans.
"Kau membuatku takut ....!" ucap Frans sambil menarik tubuh Felic hingga mereka saling berhadapan.
Cup
Dokter Frans mengecup kening Felic dan kembali memeluknya.
"Apa pekerjaan sudah selesai?" tanya Felic kemudian.
"Sudah ...., kamu perginya terlalu lama ...!"
"Maaf ..., tadi aku sedikit tersesat!"
"Mau ke rumah ayah ...? Aku sudah lama tidak ke sana!"
Bagaimana kalau nanti Frans tanya tentang kedatanganku ke sana ...., batin Felic.
"Jangan Frans!"
"Kenapa?"
"Aku mau jalan-jalan saja sambil cari makanan, gimana?"
"Baiklah ...., apapun yang kau inginkan!"
__ADS_1
Akhirnya mereka pun meninggalkan rumah sakit dan memutuskan untuk jalan-jalan.
...***...
Di tempat lain, di dalam rumah itu, nyonya Tania terus saja melihat ponselnya. Ia menunggu seseorang menghubunginya.
"Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku jadi khawatir!" gumamnya sambil terus mondar-mandir di tempatnya.
"Seharusnya dia sudah menghubungiku kan?!"
Putrinya seperti menyadari jika saat ini sang ibu sedang memikirkan sesuatu. Ia segera datang dan memeluk mamanya.
"Mama ...., ada apa?"
"Sayang ...., aku nggak pa pa! Kamu sudah pulang?" tanya nyonya Tania.
"Sudah dari tadi ma, mama aja nggak sadar!"
"Papa kamu?"
"Apa papa nggak bilang sama mama kalau papa mau menemui kak Meira?"
"Nggak!"
"Papa mau ke Amerika selama beberapa hari ma ...!"
"Papa keterlaluan, kenapa dia sampai tidak memberitahu mama sih ....!"
"Mungkin papa lupa, nanti juga menghubungi mama!"
"Memang papamu bilang mau ngapain di sana?"
"Nggak bilang, mungkin kangen sama kak Maira!"
Hehhhhh ....
Dia pasti ingin menemui mantan istrinya .....
"Mama tidak pa pa kan?"
"Enggak sayang, sudah sana mandi lalu kita makan malam!"
"Baik ma ....!"
......"Hidup bukanlah masalah memegang kartu yang bagus, tetapi terkadang, memainkan kartu yang buruk dengan baik." - Jack London......
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰