
Felic sedang menikmati air putihnya sambil terus memperhatikan sahabatnya itu.
"Ihhhh ....., Ersya nih ya kurang pedes deh ngomongnya!" ucap Felic begitu emosi sambil meremas gelasnya.
"Nyonya ...., tolong jaga emosi!" ucap Wilson memperingatkan, ia tetap berdiri di samping Felic.
"Ahhh iya .....!"
Uhhhhh
Hhaaahhhhh
Uuuuuhhhhh
Hahhhhhhh
Felic beberapa kali menarik dan mengeluarkan nafas panjang, ia harus bisa mengatur emosinya.
Memang semenjak hamil, emosinya semakin labil saja, apalagi jika tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Ambilkan aku minum lagi ...!" perintah Felic.
"Baik nyonya!"
Ini sudah gelas yang ke tiga selama ia duduk di kursi itu, dan dengan air yang sama, masih tidak ada warnanya.
"Yahhhh inj mahhh, Ersya sudah benar-benar mati kutu nih, kita ke sana Wil!"
"Baik nyonya!"
Felic yang melihat ersya tersudut ia sudah hampir saja berdiri dan melabrak mereka.
"Ehhhh bentar bentar ....!"
"Ada apa nyonya?" tanya Wilson heran saat tiba-tiba Felic menghentikan langkahnya.
"Kamu lihat dia? Aku pernah lihat dia di mana ya?" tanya Felic sambil berpikir, ia seperti mengenal pria yang sedang berjalan mendekat pada Ersya.
"Itu tuan Divta, nyonya!"
"Divta?"
"Kakak nya tuan Agra, sahabatnya tuan dokter!"
"Ahhhh iya ....!"
Ia benar-benar menghentikan langkahnya saat Divta tiba-tiba saja datang dan memeluk Ersya, meninggalkan ciuman di kening Ersya.
“Wahhhh ...., wahhhhh ....., ini kayaknya bakal seru, Wil! Kita lihat dari sini saja!"
"Baik nyonya!"
Felic tersenyum dan memilih untuk kembali di tempatnya dan menyaksikan semuanya dari
kejauhan.
"Tapi sejak kapan Ersya kenal sama pak Divta, dia kok nggak cerita sih ....!" Felic berusaha menerka-nerka.
Divta yang meninggalkan tuan Bactiar segera menghampiri di mana Rangga dan Ersya, ia menerobos begitu saja di antara Tisya dan Rizal, membuat semua orang menoleh padanya.
"Rangga ...., terimakasih ya sudah menjaga calon istriku!" ucap Divta sambil menepuk bahu Rangga.
"Pak Divta?!" tampak jika Rangga begitu terkejut, calon istri ....
“Hai sayang …, maaf ya sudah membuatmu menunggu lama!" ucap Divta sambil memeluk dan meninggalkan kecupan di kening Ersya.
Ersya yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam. Ia benar-benar tidak tahu tentang kedatangan Divta.
Apa ini bagian rencana Felic?
Ersya pun menoleh pada sahabatnya itu dan ia melihat sahabatnya itu tetap duduk dengan begitu tenang.
Mungkin iya .....
Semua orang menatap Divta dan Ersya, terutama tentunya Tisya. Ia mengenal siapa pria yang sedang melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ersya itu. Dia adalah pria yang pernah membuatnya jatuh hati sebelum berlabuh ke Rizal.
Bukan cuma tampan tapi pria itu sangat mapan, perusahaannya bertebaran di mana-mana, asetnya begitu banyak. Melebihi kekayaan ayahnya, bahkan kekayaan ayahnya tidak ada setengah dari milik Divta pribadi.
Bukankah dia ...., dia pria yang semalam ....., Ersya baru mengingat orang yang sedang memeluknya saat ini.
Apa itu berarti Felic juga kenal dengan pria ini ....., Divta .....
Ersya hanya bisa berusaha terus tersenyum, Rangga pun mengedipkan mata pada Ersya seolah meminta penjelasan. Rangga sudah sedikit menjauh karena merasa sungkan dengan atasannya itu.
Orang tua Rangga tidak kalah bingung, mereka tidak mengenal pria di depannya ini.
"Siapa dia, Bi?" tanya mamanya Rangga.
“Oh iya …, kenalkan saya Divta, Pradivta Anugra Putra. Saya atasan di kantor Rangga!" ucap Divta.
"Tapi...., kenapa Ersya bisa datang sama Rangga?" tanya Rizal yang masih begitu bingung, ia tidak menyangka jika mantan istrinya itu dekat dengan seorang pria yang jelas-jelas lebih segala-galanya dari dirinya dengan secepat itu.
"Anda Rizal ....?" tanya Divta.
"Iya ....!"
"Ohhhh ...., jadi ini mantan suami kamu sayang ....?" tanya Divta sambil mengusap dagu Ersya membuat Ersya menajamkan matanya kesal.
"Tadi sengaja meminta Rangga untuk menemani calon istri saya lebih dulu karena saya ada pekerjaan!, Iya kan Rangga?”
Rangga yang mendapatkan pertanyaan itu hanya bisa mengangguk.
"Jadi benar Bi, dia atasanmu?" tanya mama nya Rangga yang masih tidak percaya, sekaligus ia merasa menyesal karena telah menghina calon istri bos putranya.
Perjuangan untuk bisa sampai di posisi Rangga saat ini tentu tidak mudah, ia tidak mau gara-gara ucapannya putranya akan kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
"Iya ma ...., pak Divta kenalkan ini orang tua saya pak!" ucap Rangga agar tidak bertambah runyam urusannya.
"Salam kenal, tuan ...., nyonya ....!" ucap Divta sambil menatap kedua orang tua Rangga.
"Maafkan kami ya tuan Divta, jika tadi kami bicara yang kurang sopan dengan calon istri tuan Divta! Kami benar-benar menyesal, iya kan pa?" ucap mama Rangga. Ia benar-benar penjilat yang hebat.
"Apakah terjadi masalah sayang?” tanya Divta pada Ersya sambil kembali meninggalkan kecupan
di kening Ersya.
Dan perlakuan itu membuat semua pencari berita segera membidikkan kameranya, jika kemarin mereka melihat Divta pulang dnegan seorang
perempuan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas sang perempuannya.
Hal itu membuat Tisya begitu kesal, ia hanya bisa mendengus dan meninggalkan kerumunan itu begitu saja. Rizal yang melihat Tisya meninggalkannya pun segera menyusulnya.
Pria ini memang tidak pernah terlihat dengan seorang wanita setelah peristiwa itu, membuat para pencari berita berlomba-lomba untuk mendapatkan berita sebanyak-banyaknya.
“Tolong beritahu kami pak, siapa wanita yang bersama anda ini?” tanya salah satu pencari berita sambil sibuk mengabadikan moment itu.
"Iya pak ...., tolong segera kasih tahu kamu kapan berita gembiranya?"
"Apa benar nona ini calon istri anda pak?
"Apa putri anda tahu tentang hubungan kalian?"
"Dimana kalian pertama kali bertemu?"
"Nona ini dari perusahaan mana tua kalau boleh tahu?"
Begitu banyak pertanyaan di lontarkan pada mereka. Ersya hanya sibuk menyembunyikan wajahnya di balik tas kecilnya.
“Tunggu saja berita bahagianya, jadi bersabarlah. Biarkan kami menikmati pesta ini dengan tenang, iya kan sayang!” Ucap Divta, saat para pemburu berita itu terus menghadang langkah mereka.
Saat beberapa dari mereka henda mendekati Divta. Para pengawalnya sudah bersiap untuk menghadang mereka.
Divta pun memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi dari tempat itu, ia segera menarik tangan Ersya ke ruangan khusus tamu VVIP dengan tempat yang lebih private.
Ersya segera menghempaskan tangan Divta saat mereka sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan wartawan.
“Kamu …!” teriak Ersya sambil menunjuk wajah Divta, tapi dengan cepat Divta menarik tangan itu dan mendekatkan bibirnya pada pipi Ersya. Jika orang melihat mereka pasti mengeri jika Divta sedang mencium pipi Ersya.
“diam dan nikmati saja permainanku!” bisik Divta.
"Duduklah sayang ....!" ucap Divta sambil menggeser kursi yang tepat di belakang Ersya hingga membuat tubuhnya condong ke tubuh Divta.
Segala perlakuan Divta tidak lepas dari pengawasan beberapa mata, salah satunya mata Rizal, ia seperti terbakar cemburu dengan perlakuan Divta pada mantan istrinya itu.
Setelah kursi itu di geser, Divta segera mendekatkan kembali wajahnya pada Ersya hingga Ersya terjerembak di kursi itu. Setelah Ersya duduk Divta pun menggeser kursinya sendiri sedikit dekat ke Ersya dan duduk di sana.
Ersya masih diam dan menatap begitu kesal pada Divta.
"Bersikaplah manis padaku!" ucap Divta sambil meneguk minuman yang ada di depannya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Felic?" tanya Ersya memastikan lagi saat melihat pria di depannya tetap saja duduk dengan tenang. Seperti tidak terjadi apapun antara meraka.
Kali ini Divta mengerutkan keningnya, ia tidak ingat dengan nama Felic, ia memang baru bertemu dengan Felic sekali saja di acara makan malam itu, mana dia ingat, "Felic ....?"
"Iya ...., Felic ...! Felic sahabatku?" Ersya masih tidak percaya dengan ekspresi Divta yang sepertinya tidak mengenal Felic.
"Mana aku tahu siapa Felic!" ucap Divta dengan santainya, ia memang seperti pernah mendengar nama itu tapi ia lupa di mana.
"Kalau nggak kenal, lalu kenapa mengaku jadi calon suamiku?" ucap Ersya sambil memegangi kepalanya yang rasanya mau pecah, "Kalau bukan bagian dari rencana Felic, lalu dari mana kamu tahu kalau aku butuh pasangan?"
"Nggak usah bingung kayak gitu, semalam aku mendengar semuanya!" ucap Divta dengan tenangnya sambil menyilangkan kakinya.
"Semalam ...?!" Ersya segera menutup dadanya saat ingat dengan keadaannya tadi pagi yang hanya mengenakan kaos tipisnya tanpa kemeja.
"Jangan khawatir, saya tidak melakukan apa-apa!"
"Mana aku percaya?! Aku mabuk semalam!"
"Kamu muntah di baju saya dan mengenai bajumu! Dari pada masuk angin ya aku lepas!"
"Atau mau kita lanjutkan sekarang, sekalian menguatkan pada mereka kalau kita memang punya hubungan?!" ucap Divta dengan senyum mencurigakan, ia kembali mendekat kan wajahnya pada Ersya. Mengungkung sisi kanan dan kiri Ersya dengan tangannya.
"Kamu ....!"
"Diam dan kita lanjut kan permainan!" bisik Divta, begitu dekat dengan wajah Ersya membuat Ersya seakan seperti tersetrum beberapa volt tegangan listrik.
"Mereka masih memperhatikan kita!" bisik Divta lagi, membuat Ersya menoleh ke arah mata Divta dan benar Rizal dan Tisya masih memperhatikan mereka.
"Sayang ...., aku benar-benar merindukan mu!" ucap Divta dengan sedikit keras agar mereka mendengarnya.
"Aku juga sayang ...., aku hampir mati tadi! Untung kamu datang di waktu yang tepat sayang ....!"
Tisya benar-benar kesal, ia tidak tahu apa yang istimewa dengan Ersya. Ia yang lebih segala-galanya kenapa bisa kalah dengan wanita sekelas Ersya.
"Aku ke kamar mandi dulu!" ucap Tisya kesal dan meninggalkan Rizal sendiri.
Rizal yang hanya sendiri pun akhirnya memilih pergi dan bergabung dengan yang lainnya.
Ha ha ha ....
Divta dan Ersya tertawa bersama-sama saat berhasil mengusir hama pengganggu itu.
"Ini benar-benar luar biasa ...., aku menang banyak hari ini!"
"Semua itu berkat bantuan saya!"
"Iya terimakasih deh ...., besok kita tidak usah ketemu lagi! Jadi terimakasih nya aku dobel aja deh!"
"Siapa bilang!" ucap Divta sambil menatap Ersya.
"Kenapa?"
__ADS_1
“Mungkin setelah ini kita akan sering bertemu, dan ingatlah bantuan saya ini sebagai hutang!”
“Hutang …, ah gila …! Aku bahkan tidak punya uang hanya untuk menyewa satu bodyguard
milikmu itu dan kau punya banyak! Astaga …, bagaimana bisa aku membayarnya!” ucap Ersya. Ia hanya seorang karyawan bank swasta, gajinya satu bulan jelas tidak akan cukup untuk membayar satu bodyguard saja.
kenapa orang yang sudah banyak uang kayak dia masih pengen uang orang kecil ....., sial banget gue ....
“jangan cerewet …, Saya tidak butuh uangmu!”
Ersya mengerutkan keningnya, jika bukan uang, “lalu …?"
“Setelah ini, kau tidak akan bisa berkeliaran bebas lagi karena semua media masa sudah melihat wajahmu!”
"Wajahku ....?"
"Iya ...., besok semua media masa pasti akan di penuhi dengan wajahmu, termasuk berita-berita bisnis di televisi!"
“Hahh …, kegilaan macam apa lagi ini …!” Ia sempat melupakan paparazi yang beberapa waktu lalu sudah menangkap wajahnya.
Orang seperti apa yang sebenarnya berhadapan denganku ini ...., apa dia seorang pangeran? Putra presiden? Kenapa beritanya sangat di buru wartawan ....?
“Ini bukan kegilaan, jadi nikmati saja!” ucap Divta dengan masih santainya.
Di tempat lain, Tisya begitu kesal dan meminum minuman yang di sediakan dengan begitu rakus.
"Sayang ....., kenapa wajahnya di tekuk begitu udah mau tunangan?" tanya mamanya yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya, entah sejak kapan wanita cantik itu memperhatikan putrinya itu.
"Maam ....!"
"Kenapa sayang ...?" tanya nyonya Tania sambil mengusap kepala putrinya.
"Aku kesel banget ma!"
"Kesel kenapa?"
"Mama ingat mantan istrinya mas Rizal?"
"Iya ...., kenapa dengannya? Apa dia buat gara-gara lagi?"
"Dia permaluin aku sama mas Rizal mas, dan mama tahu apa yang paling parah?"
"Apa?"
"Mama ingat sama Divta kan, CEO finityGroup! Dia ngaku calon suaminya Ersya ma ....! Coba mama lihat Tisya, kurang apa coba? Tisya aja sama sekali nggak di lirik sama dia ma, tapi Ersya. Kenapa harus wanita itu sih ma, kesel banget aku ma!"
"Sabar sayang ...., kamu cantik sayang! Sangat cantik! Jadi berbahagialah ...., Rizal juga luar biasa, kamu cinta kan sama dia?"
"Cinta ma!"
"Ya sudah ...., nggak usah kesel sayang!"
****
Di Rumah Divta
Divia begitu kecewa karena daddy nya tidak bisa pulang cepat padahal ini adalah akhir pekan. Biasanya Daddy nya itu akan menghabiskan waktu berdua dengan nya.
"Kita tidur ya non!" ucap pengasuhnya.
"Nggak mau, Iyya mau nunggu Daddy!"
"Tapi sudah malam non, tuan kan sudah bilang kalau akan pulang terlambat, non!"
"Nggak mau ...., Iyya mau nonton tivi aja ....!"
Akhirnya pengasuhnya hanya bisa pasrah, ia memutarkan tivi untuk Divia. Karena sudah malam, jadi tidak ada acara anak-anak.
Divia mengganti-ganti chanelnya beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada yang bagus.
"Daddy ....!" teriak Divia saat melihat daddy nya masuk tivi.
"cus ...., itu daddy ...!"
"Iya non, itu tuan!"
Divia mengikuti berita itu dan begitu tertarik dengan wanita yang ada di samping daddy nya.
"Apa itu calon mom nya Iyya?"
"Mungkin non ....!"
Divia segera berdiri dan meloncat-loncat di atas sofa dengan begitu senang,
"Ye ye ye ...., Iyya punya mom ...., ye ye ye ....!"
"Iyya mau telpon dad!"
"Jangan dulu non, nanti tuan masih sibuk loh non!"
"Iya ya ...., nanti aja deh ...!"
Divia begitu senang saat mendengar berita tentang Divta yang memperkenalkan calon istri di media, walaupun ia tidak begitu faham tapi ia tahu dengan maksud kata-kata calon istri.
...Jangan jadi hujan untuk orang yang sedang berteduh, karena jelas dia tidak mengharapkan mu untuk turun~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1