Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (104. Tidak ada tempat lagi)


__ADS_3

Zea menatap ke arah dinding kaca yang cukup lebar, bibirnya tersenyum melihat betapa cerahnya langit siang ini, baru saja tiga langkah dari tempatnya seseorang kembali memanggilnya,


"Zee!" ia tahu suara siapa itu, rasanya begitu malas untuk menanggapi tapi mau bagaimana lagi ia juga sudah tidak ada tempat untuk bersembunyi.


Zea memutar tubuhnya, dan pria itu tengah berjalan menghampirinya dengan langkah pastinya,


"Hai Zee, saya benar-benar kagum dengan perubahan kamu saat ini. Kamu terlihat luar biasa!"


Zea tersenyum tipis, ia tidak mau memberi harapan pada pria ini. Setelah mengetahui riwayatnya selama ini membuatnya sedikit ilfeel, "Terimakasih!"


"Bisa kan kita bicara sebentar?"


"Silahkan!"


"Bagaimana kalau kita cari tempat sekalian buat makan siang?"


"Maaf, saya rasa saya tidak punya banyak waktu."


"Baiklah, aku tahu kamu sibuk sekarang, bagaimana kalau kita duduk di sana saja?" Kali ini Rizal menunjuk pada sofa yang ada di ruang tunggu tamu, tepat berada di samping dinding kaca yang tadi ingin sekali Zea datangi.


"Baiklah!"


Kini mereka pun duduk di sofa yang terpisah, seorang cleaning servis tengah mengambilkan dua minuman dingin untuk mereka,


"Zee, sebenarnya saya mau minta maaf tentang kejadian di rumah sakit itu, aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan cinta kamu, sungguh."


"Sudah saya maafkan!"


"Tapi sikapmu masih begitu dingin padaku, ayolah Zee, kita bisa berteman lagi kan?"


"Maaf mas Rizal, hubungan kita hanya sebatas kerabat jauh karena mas Rizal sepupu Rangga, itu saja. Saya harap mas Rizal bisa mengerti!"


"Tapi kamu tahu kan Rangga bangaimana, dalam dua Minggu lagi mereka akan menikah. Kenapa kamu masih mengharapkannya?"


"Itu bukan kemauan Rangga, dan saya yakin tidak sampai dua Minggu Rangga akan mengingat semuanya!"


"Jika tidak?"


"Jika tidak, saya bahkan akan memilih tidak bersama mas Rizal."


"Ayolah Zee, aku salah satu pemegang saham di perusahaan papa kamu, suaraku bahkan bisa mempengaruhi posisi kamu di sini, baiklah tapi aku tidak memaksamu menjawab saat ini juga, kamu bisa pertimbangkan ini nanti. Dan aku harap kamu akan memilih keputusan yang tepat. Kamu masih menyimpan nomor telpon ku kan?"


Zea tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya atau bahkan memberi tanggapan pada ucapan pria itu,


"Baiklah, sampai jumpa nanti. Aku pergi dulu, jaga dirimu!"


Akhirnya Rizal pun memilih berlalu meninggalkan Zea.

__ADS_1


Zea beralih menatap ke hamparan langit yang luas yang terlihat dari dinding kaca itu,


Hehhhhh ....


Helaan nafas berat membuat Zea menyadari bahwa ini tidak akan mudah, ia masih harus menghadapi banyak hal setelah ini.


Zea benar-benar bersyukur karena dulu Rangga memperingatkannya tentang pria yang baru saja pergi, ia benar-benar tidak bisa memikirkan bagaimana nasibnya jika sampai ia menerima Rizal dan bukan Rangga. Walaupun hidupnya sekarang juga tidak mudah tapi setidaknya ia tahu jika Rangga adalah pria yang mempunyai cinta yang tulus.


Di ruang kerja tuan Seno, suasana di ruangan itu begitu hening dengan dua orang yang hanya saling diam tidak berniat untuk memulai pembicaraan.


Hingga setelah lima menit saling diam, akhirnya baru nyonya Widya memulainya,


"Pa, bisa kan kita hentikan semua ini?"


"Maksud kamu?"


"Lupakan tentang Zea, anggap anak papa cuma Miska!"


Tuan Seno tersenyum mendengarkan hal itu, ia benar-benar baru sadar jika wanita yang telah ia nikahi selama ini adalah wanita yang begitu egois. Seakan semua sia-sia apa yang telah ia korbankan selama ini, memberi status pada Miska sebagai putri sahnya, menyanyanginya seperti putri kandungnya sendiri dan yang ia minta saat ini menerima Zea seperti ia menerima Miska dan wanita egois itu memilih untuk tidak melakukan hal itu.


"Kamu bermimpi terlalu besar, Widya! Cintamu pada putrimu telah membutakan semuanya, seharusnya kamu bisa menerima Zea sebagaimana saya menerima Miska tapi kamu tidak melakukannya, dan mungkin kamu melakukan banyak hal agar kami tidak pernah bertemu. Jadi siapa yang sebenarnya memulai perang saat ini?"


"Seno, keluarga kita sudah sangat bahagia Jang biarkan rusak hanya gara-gara anak itu!"


"Bahagia, bahagia yang mana yang telah kamu ceritakan? Bahagia di depan kamera? Itu bukan kebahagian, itu adalah kepura-puraan! Aku masih banyak urusan, jika kamu masih mau tetap di sini, terserah!"


"Dan lagi, mulai hari ini aku tidak akan pulang ke rumah, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa ke kantor atau menghubungiku!" dengan sekuat tenaga pria itu menutup pintu hingga menimbulkan suara keras membuat wanita yang tengah berdiri di dalam ruangan itu terkejut di buatnya.


Akhirnya pria itu benar-benar meninggalkan ruangan itu, meninggalkan wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya, wanita itu tampak mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah menahan amarah,


Ia segera berdiri dan menatap pintu yang sudah tertutup kembali, memukulkan kepalan tangannya pada meja yang kosong di belakangnya,


"Ini kesalahanku, kenapa aku tidak membereskan semuanya dulu dan memastikan tidak ada akar yang akan menggerogotinya lagi!" gumamnya dengan nafas yang bahkan terdengar memburu. Ada sebuah penyesalan atas apa yang ia lakukan di masa lalu, tapi bukan karena ia menyesal berbuat jahat tapi menyesal tidak melakukan kejahatan yang lebih pada waktu itu.


...***...


Miska menunggu sang mama di rumahnya, ia benar-benar tidak sabar untuk mengetahui hasil rapat.


Mendengar suara mobil mamanya, Miska dengan cepat berlari menghampirinya dan menyambut kedatangan sang mama,


"Bagaimana ma?"


Melihat ekspresi wajah sang mama, Miska langsung bisa menebak apa yang terjadi sebenarnya,


"Jadi mereka yang menang?"


Nyonya Widya segera menjatuhkan tubuhnya di sofa, memijat keningnya yang terasa berat.

__ADS_1


Miska ikut duduk dan mengambilkan segelas air putih untuk sang mama, "Minum dulu ma!"


Nyonya Widya meneguk air putih itu hingga tidak bersisa lagi, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja dengan begitu asal.


"Kita harus mulai bergerak sekarang!"


"Maksud mama?" Miska yang belum tahu apa rencana sang mama tampak masih menerka-nerka.


"Mulai besok kamu juga harus ke kantor!"


"Juga, maksudnya? Maksud mama siapa yang pergi ke kantor?"


"Anak kesayangan papa kamu itu sengaja di masukkan ke perusahaan!"


"Maksudnya Zea?" Miska begitu terkejut dengan apa yang di katakan oleh mamanya.


"Hmmm, buat dia gagal untuk menyelesaikan misi yang sudah di rencanakan oleh papa kamu!"


"Misi apa maksud mama?"


"Papa kamu kasih proyek yang sempat kamu jalankan dan kamu gagal waktu itu."


"Maksudnya proyek yang sama Rangga?"


"Isssstttt, Kenapa dalam otakmu hanya Rangga saja?" nyonya Widya benar-benar kesal dengan pemikiran Miska saat ini, di saat genting seperti ini bahkan anak gadisnya itu masih memikirkan laki-laki yang jelas tidak memberi manfaat pada mereka, "Sekarang bukan saatnya memikirkan dia, pikirkan bagaimana cara menyingkirkan anak itu."


"Memang benar ma, proyek itu sama Rangga!"


"Jadi?"


"Sepertinya papa sengaja mau deketin Zea sama Rangga lagi!"


"Kalau begitu lakukan rencana B, desak Rangga agar secepatnya menikah denganmu, kalau perlu tidak usah menunggu hingga dua Minggu!"


"Baiklah, Miska mengerti ma."


"Bagus!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2