Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Membuatnya cemburu


__ADS_3

“Fe…!” setelah menemukan keberadaan Felic, Ersya langsung berlari mendekati


sahabatnya itu. Felic yang sedang memainkan ponselnya terkejut ketika melihat


kedatangan Ersya dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah kedatangan


Rangga di sana bersama ersya.


Tapi Ersya bukannya menghampiri sahabatnya itu malah tertarik dengan ruangan itu, ia memilih berkeliling dulu, Rangga pun


segera mendekat.


“Rangga!”


gumam Felic, ia segera meletakkan ponselnya begitu saja. Matanya langsung


tertuju pada pria itu. Jantungnya bergetar hebat, ingin sekali memeluknya tapi


takut dosa.


“Fe…, bagaimana keadaanmu?” tanya Rangga ketika sudah berada di dekat Felic. Felic segera membetulkan posisi duduknya.


“Sudah lebih baik!" Felic mencoba untuk biasa saja, ia tidak mau membuat hubungan meeka menjadi kesalahpahaman yang berlarut.


"Syukurlah, aku begitu khawatir!" Rangga begitu khawatir, ia memegang tangan Felic tapi segera Felic lepas. Mau bagaimanapun ia sudah punya suami, rasanya tidak akan pantas, walaupun hatinya ingin.


Ada raut kecewa di wajah Rangga, Felic segera mengalihkannya. "Bagaimana kalian bisa di sini?”


Rangga tersenyum, “Ersya memberitahuku kalau kamu sakit! kenapa bisa sakit?” Rangga kembali menampakkan perhatiannya.


“Aku tidak pa pa, hanya saja ada sedikit luka di lambungku!”


“Kenapa kau suka sekali melakukan itu? Jika kamu marah atau kesal jangan suka


melampiaskan dengan memakan makanan yang pedas!” Rangga kembali teringat dulu ketika masih SMA, setiap kali gadis itu marah atau terluka, ia pasti akan memakan


makanan pedas dan Rangga lah yang dengan sigap membawanya ke klinik tanpa


memberitahu orang tuanya.


Rangga begitu tahu kalau felic tidak bisa makan makanan pedas. Tapi perhatian itu membuat Felic tidak nyaman.


“Ga …, ini bukan urusanmu!” ucap Felic tapi kali ini tidak dengan nada tingginya,


perutnya masih terlalu sakit untuk berteriak.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu, aku masih begitu mencintaimu!"


"Tapi aku nggak Ga!"


Rangga menghembuskan nafas yang yang begitu dalam, ia tidak menyukai ucapan Felic.


“Kau selalu memenuhi pikiran ku, sampai kapanpun!”


“Hehhhhh …, menyerah lah …, semua tidak akan ada gunanya!”


🌺🌺🌺🌺


Dokter Frans yang telah selesai dengan operasinya, ia meregangkan otot-ototnya di


ruang kerjanya.


“Apa yang sedang di lakukan Felic ya?” gumam dokter Frans saat mengingat istrinya yang sedang berada di rumah sakit itu juga.


Dokter Frans penasaran, ia memutuskan untuk mencari tahu dari asistennya, jika tidak salah satu jam yang lalu ia mengijinkan sahabat Felic untuk menemuinya.


Dokter Frans pun mengambil gagang telponnya, dan memanggil asistennya.


“Ada yang bisa saya bantu dok?’ tanya dokter Sifa setelah di ijinkan masuk ke dalam


ruangan dokter Frans.


Dokter Frans meminta dokter Sifa untuk untuk duduk, “Apa sahabat istri saya sudah datang?”


“Sudah dok, sudah setengah jam yang lalu?”


Pasti Felic senang temannya datang .....


“Apa sahabatnya sendiri?”


“Tidak dok, dia bersama seorang pria!”


Dokter Frans begitu terkejut, “Pria?”


“Iya …, namanya Rangga kalau tidak salah dok!”


“Rangga …? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” dokter Frans pun segera beranjak dari


duduknya, melepaskan jas kebesarannya.


Dengan cepat dokter Frans meninggalkan


ruangannya membuat dokter Sifa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lakukan dokter Frans.


Dokter Frans segera berlari menuju ke ruangan

__ADS_1


Felic, langkahnya terhenti tepat di depan ruangan itu, ia mengatur nafasnya dan


memasang senyum menawannya.


Dengan langkah pasti, dokter Frans masuk ke dalam ruangan itu. Kedatangannya langsung


disadari oleh Felic dan Rangga.


“Hgrremmm


…, Selamat sore …!” sapa dokter Frans dengan senyumnya, Ersya yang sibuk


berkeliling pun segera mendekat melihat pesona dokter Frans.


“Sore dokter …!” Ersya dengan senyum senang segera menyambut sapaan dokter Frans.


Dokter Frans pun menghampiri Felic dan mendaratkan ciumannya di kening Felic


membuat Felic tercengang di buatnya sedangkan Rangga dengan wajah dinginnya begitu cemburu.


“Frans!”


ucap felic tak percaya. Ia hendak protes tapi Dokter Frans segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Felic, membuat Felic terpaku.


“Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya dokter Frans dengan di buat sangat manis.


“Gue…, maksudku aku …, baik!” jawab Felic dengan begitu gugup, entah apa yang sudah


membuatnya gugup, senyum manis dan perlakuan Frans padanya atau karena ada


Rangga di antara mereka, Felic pun beralih menatap Rangga dari situ ia bisa


melihat luka di mata Rangga.


"Aku merindukanmu sayang!" ucap dokter Frans lagi dengan mendaratkan kembali ciumannya di pipi Felic, seketika membuat pipi itu bersemu merah jambu. Felic merasakan wajahnya begitu panas saat ini.


Dokter Frans beralih menatap Rangga yang berada tidak jauh dari mereka, “Lama tidak bertemu, tuan Rangga. Bagaimana kabar anda?” sapa dokter Frans dengan nada formalnya.


“Saya baik!”


“tapi saya rasa akan lebih baik jika anda tidak terlalu dekat dengan istri saya


karena istri saya adalah tanggung jawab saya!”


Mendengar ucapan dari dokter Frans yang terkesan begitu tidak menyukai kedatangannya.


Rangga pun ikut berdiri dan menatap penuh permusuhan dengan dokter Frans.


“Dokter, atau siapapun kamu. Sebelumnya saya tidak mengenal anda tapi saya begitu


berarti anda berhak atas apapun terhadap felic!”


Melihat dua pria yang kembali akan melakukan perdebatan sengit, membuat Felic kesal.


“kalian apa-apan sih!”


“Fe …, kalau begitu aku pamit dulu ya, sepertinya tidak akan nyaman jika ada dia,


semoga cepat sembuh!” ucap Rangga sambil menggenggam tangan Felic. Ersya yang


sebenarnya belum puas di tempat itu hanya bisa bingung, mau bagaimanapun ia


harus ikut dengan Rangga kalau mau pulangnya tidak jalan kaki.


“Fe …, gue ikutan Rangga ya, semoga cepat sembuh!”


Felic hanya bisa tersenyum hambar, Frans datang mengacaukan semuanya.


Ersya mengejar Rangga yang berjalan dengan langkah lebarnya pastinya dnegan membawa


kekesalan.


“Ga…, ga …, tunggu!” dengan kesulitan Ersya mengejar Rangga, akhirnya Rangga


berhenti juga di depan pintu lift, Ersya berdiri di samping Rangga.


“ga …, lo ini apa-apaan sih pakek cabut aja, gue kan masih pengen ngobrol sama


Felic!” karena Rangga terlanjur kesal, Rangga sama sekali tidak menimpali


ocehan dari ersya, sepanjang jalan Ersya terus saja mengoceh.


🌺🌺🌺


Felic begitu kesal, setelah Rangga dan Ersya meninggalkan ruangannya Felic menatap


dokter Frans dengan sangat kesal.


“Hehhh …., jangan tatap gue kayak gitu!” ucap dokter Frans lalu ia duduk di tepi tempat


tidur Felic yang sangat lebar itu. Felic memilih memunggungi dokter Frans.


“Jangan kesal sama gue, gue nggak salah ya. Nggak baik wanita yang sudah punya suami


dekat dengan pria lain!”

__ADS_1


Memang kita suami istri yang


seperti kebanyakan apa! Gue nggak pernah protes sama kehidupan lo … batin


felic menjawab ucapan dokter frans.


“Kalau lo mau, lo boleh cari tahu tentang semua kehidupan gue! Termasuk semua


teman-teman gue!”


Nggak tertarik banget ….


“ya udah deh, gue minta maaf …, tapi bukan karena gue salah ya, karena gue nggak


mau ribut sama lo. Ntar kalau orang tua lo liat kita diem-dieman kayak gini lo


mau mereka terluka, nggak kan?”


Mendengar dokter Frans menyebut-nyebut orang tuanya, felic pun jadi luluh. Ia memilih


membalik badannya. Dokter Frans tahu kelemahan wanita itu adalah orang tuanya.


‘Sudah selesai marahnya?” tanya dokter Frans dengan senyum yang sengaja ia


sembunyikan.


“Iya…, tapi gue nggak suka ya kalau lo kayak gitu lagi sama Rangga. Mau bagaimanapun


gue …!”


“Gue tahu …, lo masih cinta kan sama dia!”


“Bukan begitu! Tapi gue nggak suka aja!"


"Jangan harap ya bisa dekat lagi sama dia kalau ada gue!"


"Siapa juga yang mau dekat, gue hanya nggak suka kalian terus ribut aja!"


"Memangnya apa salahnya kalau gue ngajak ribut saingan gue!"


"Dasar keras kepala!" Felic memilih mengalah, ia merebahkan tubuhnya memunggungi dokter Frans.


Melihat Felic memilih diam, dokter Frans pun mendekatinya dari belakang, ia mendekatkan wajahnya di atas pipi Felic sehingga hembusan nafasnya mampu menyapu bulu halus yang ada di pipi Felic.


Felic yang bisa merasakan hembusan nafas dokter Frans semakin memejamkan matanya, jantungnya berdetak kencang.


Apa-apaan ini , apa yang mau dia lakukan?


Dan nafas itu semakin terasa begitu dekat, membuat Felic semakin merapatkan matanya. Ia tidak mampu bergerak sama sekali bibirnya bahkan kelu untuk bicara.


Dokter Frans tersenyum melihat wajah tegang Felic, "Buka matamu atau aku akan memakanmu sekarang!" bisik dokter Frans. dengan cepat Felic membuka matanya.


"Frans apa yang akan kau lakukan?" tanya Felic tanpa berani merubah posisinya.


"Tidak ada, gue cuma mau melakukan apa yang seharusnya gue lakukan sejak kemarin!"


"Frans jangan macam-macam ya ....!"


"Nggak, gue hanya butuh satu macam saja!"


Merasakan wajah dokter Frans semakin mendekat saja membuat Felic segera berbalik, tapi sayangnya, punggungnya menyenggol tangan dokter Frans yang menjadi penyanggah tubuhnya, membuat dokter Frans kehilangan keseimbangannya, hingga membuat tubuhnya mendarat sempurna di atas tubuh Felic, bibirnya lolos mendarat di atas bibir Felic.


Mereka terdiam di posisi itu dengan mata yang saling bertemu tanpa mengalihkan bibirnya. Dokter Frans bisa merasakan bibir hangat itu untuk kedua kalinya.


Ceklek


tiba-tiba pintu terbuka tanpa di sadari oleh mereka. Dokter Sifa muncul dari balik pintu itu, dokter Sifa segera menutup kembali pintu itu saat menyadari apa yang terjadi di dalam.


"Astaghfirullah .... , bodoh sekali aku, jelas-jelas dokter Frans sedang bersama istrinya, beraninya aku masuk tanpa mengetuk!" dokter Sifa mengutuki kebodohannya sendiri.


Dokter Sifa pun segera meninggalkan ruangan itu, ia memilih kembali ke tempat. Sebenarnya kedatangannya karena ada telpon untuk dokter Frans dari Rendi untuk melakukan janji pemeriksaan.


NB : Baik di baca setelah berbuka puasa 🙏🙏🙏 (Tahan sampai nanti buka puasa ya baca yang bawah)


Dokter Frans yang merasa tidak ada penolakan dari Felic, ia melanjutkan ketidaksengajaan itu , ia mulai menyesap bibir itu, ********** dengan lembut.


Felic hanya bisa diam, ia terpaku. Sebenarnya hatinya belum siap melakukan itu, tapi entah kenapa tubuhnya berkhianat, tubuhnya tidak mampu menolak.


Ciuman itu semakin panas, dokter Frans menggigit bibir bawah dokter Frans hingga membuat bibir Felic terbuka, dokter Frans dengan leluasa mengabsen setiap inci mulut Felic, nafas Felic semakin tidak beraturan.


Dokter Frans menarik tangan Felic, mengalungkan di lehernya. Ciuman itu berlangsung begitu panas, hingga ia hampir lupa jika sedang berada di rumah sakit. Ia melupakan tangan Felic yang masih terhubung dengan slang infus.


Augh .....


Pekikan kesakitan Felic membuat dokter Frans tersadar, ia segera menjauhkan bibirnya dari bibir Felic. Ia melihat ada darah di tangan Felic karena jarum yang ada di punggung tangan Felic.


"Astaga ...., maafkan aku, aku melukaimu!" ucap dokter Frans begitu khawatir, dokter Frans segera turun dari empat tidur dan melepas selang infus itu, membersihkan darah yang merembes dari punggung tangan Felic.


"Di lepas dulu saja ya, nanti kalau sudah tidak bengkak biar aku pasang lagi!" Felic hanya mengangguk dengan ucapan dokter Frans, ia masih begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan, mereka hampir melakukan hal itu, hal yang sewajarnya suami istri lakukan setelah menikah.


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰😘❤️


__ADS_2