
Kenapa baru sekarang?
Pertanyaan yang pertama kali muncul membuat dadanya semakin sesak. Saat ia sudah tidak butuh lagi kehadiran kedua orang tuanya dalam hidup yang terbiasa sendiri ini.
"Dari enam anak, tinggal anda yang belum kami tanyai!" ajudan pak Seno segera memberi jawaban atas pertanyaan Zea.
"Saya punya ini!" pak Seno mengeluarkan sebuah foto dari balik jas hitamnya dan menyodorkan ke depan Zea. Zea segera mengambil foto itu, sebuah foto sosok bayi bersama dengan seorang wanita cantik yang baru saja melahirkan. Wanita itu tampak tersenyum memeluk bayi nya.
"Apa kamu mengenal bayi itu? Atau kamu memiliki foto masa kecil kamu?"
Zea segara menggeser kembali foto itu hingga mendekat di depan pak Seno.
"Wanita yang mengendong bayi itu tamannya Sintya. Dia adalah ibu dari anak itu. Tolong di lihat kembali, atau kamu bisa mengambil fotonya!"
Anha yang melihat Zea ragu untuk mengambilnya, ia segera menggeser foto itu ke arhnya,
"Biar aku saja yang memfotonya, nanti aku kirim ke nomor kamu!"
Anha segera memfoto foto itu beberapa kali dan mengirimkan pada Zea,
"Sudah aku kirim, coba lihat!"
Zea menatap Anha, ia tidak merasa mendengar dering pesan sama sekali dari tas kecilnya.
"Ada apa?" tanya Anha.
"Sepertinya aku meninggalkan ponselku!"
"Kebiasaan!"
Anha pun mengembalikan foto itu pada pak Seno.
"Nanti biar Zea memikirkan kembali pak, soalnya saya merasa tidak asing dengan penutup kepala itu!"
Anha melirik kembali pada Zea,
"Apa?" Zea bertanya tanpa mengeluarkan suara.
"Itu!" Anha melirik pada foto yang sudah di genggaman pak Seno kembali.
"Aku tidak tahu!" ucap Zea lagi tanpa suara hanya bibirnya yang bergerak.
"Kalau nona Zea bersedia, kami akan melakukan pencocokan DNA pada anda. Beberapa sudah setuju untuk melakukannya, tinggal anda saja yang belum!"
"Lalu hasilnya?"
"Hasil akan keluar dua Minggu lagi!"
"Apa untungnya saya jika hasil saya dengan bapak ini cocok?" Zea hanya ingin tahu tujuan mereka mencari putri yang jelas sudah hilang tiga puluh tahun itu.
"Pak Seno adalah pemilik perusahaan Mtex group. Dan putri pak Seno yang hilang ini adalah satu-satunya pewaris yang sah di Mtex group!"
"Memang anda tidak punya anak lagi? Jika ada apa mereka setuju? Maksud saya istri dan anak baru anda?" Zea merasa kedua orang di depannya hanya memanfaatkannya saja untuk suatu hal,, dia pun memberi pertanyaan yang mungkin akan membuat kedua pria itu menyerah untuk mengintrogasi dirinya.
__ADS_1
"Pertama, saya hanya memiliki satu putri yang bukan putri kandung saya. Masalah istri saya, kami sudah memisahkan harta kami menjadi dua bagian. Lima puluh persen untuk anak kandung sayang dan lima puluh persen untuk anak istri saya. Dan jika_!"
"Dan jika ternyata anak kandung anda tidak ketemu maka semua harta akan di wariskan pada anak istri anda, saya benar kan?" Zea langsung memotong ucapan pak Seno.
"Sebagiannya saja yang benar , karena jika tidak dapat di temukan makan hanya tujuh puluh persennya saja yang menjadi bagian dari istri dan anaknya dan tiga puluh persennya akan di sumbangkan!"
"Jika anak anda ketemu, bukankan itu berarti anda menempatkan anak anda pada zona yang berbahaya?"
"Maksudnya?"
"Bukan tidak mungkin mereka akan berusaha untuk membuat anak Anda tidak bisa di ketemukan!"
Pak Seno malah tersenyum mendengarkan argumen dari Zea, ia kembali melihat riwayat pendidikan Zea. Hanya lulusan SMA, tapi bisa berargumen begitu banyak dengannya.
Aku merasa lebih tertarik padanya!
"Bagaimana, apa kamu setuju untuk tes DNA?"
"Tapi bapak belum memberi jawaban yang memuaskan buat saya!"
"Saya memiliki banyak anak buah yang bisa menjaga anak saya dua puluh empat jam!"
"Tapi maaf, saya benar bel tertarik untuk melakukan tes DNA itu!"
"Maaf nona, jika anda bersedia sekarang, tuan Seno akan memberi imbalan dua puluh juta terkait anda putrinya atau bukan, asal anda bersedia saja. Seluruh biaya juga sudah di tanggung tuan Seno!"
"Maaf, tapi sungguh saya belum bersedia. Mungkin nanti jika saya berubah pikiran, saya akan menghubungi kalian!"
"Baiklah, kalau nona sudah setuju, kami akan segera mempersiapkan semuanya. Kalau begitu kami permisi dulu, selamat siang!"
Mereka kembali duduk saat dia pria itu sudah jauh dari mereka,
"Wahhhh wahhhh wahhhh, Zea sekarang benar-benar hebat. Aku nggak nyangka kamu bisa sekeren itu dalam berdebat!"
Zea segera meneguk kembali minumannya yang tinggal setengah, lehernya benar-benar kering sekarang,
"Abis mau gimana lagi, aku nggak suka!"
Anha pun melakukan hal yang sama, ia juga meneguk minuman dinginnya. Zea kemudian tersadar sesuatu dan kembali menatap Anha.
"Kamu juga sudah melakukan tes DNA?"
Anha segera menganggukkan kepalanya,
"Lumayan Zea, uang segitu! Dua puluh juta. Kau perlu kerja lima bulan baru dapat segitu. Ini cuma di ambil darahnya sedikit sudah dapat dua puluh juta!"
"Yakin, mereka bukan pembohong?"
"Yakin lah, uangnya langsung di transfer!" Anha segera menunjukkan bukti transfer dari ponselnya.
"Lihat, benar kan?"
Zea langsung membacanya dan menghitung jumlah nol yang tertera,
__ADS_1
"Serius ini bukan dua ratus ribu?"
"Hitung yang bener, berapa nol nya!?" keluh Anha.
"Iya, nolnya ada tujuh!"
"Sudah di bilangin nggak percaya!"
Zea kemudian tersadar sesuatu, "Sekarang jam berapa?"
"Jam setengah empat!"
"Mati aku!" Zea menumpuk jidatnya dengan keras.
"Ada apa?"
"aku janjinya cuma satu jam, ini sudah satu setengah jam. Aku pergi dulu ya, makasih traktirannya, sering-sering aja!"
Zea langsung berlari meninggalkan Anha.
"Bukan aku juga yang traktir, tuan kaya tadi yang traktir!" gumamnya setelah Zea pergi.
Saat sampai di apartemen, bibi sudah sampai dulu hingga membuat Zea tidak curiga.
"Maaf bi, aku hanya terlambat setengah jam!"
"Setengah jam bukan waktu yang 'hanya' loh buk!"
"Ya maaf, aku akan cuma nggak keinget gara-gara keasikan ngobrol!"
"Bapak menelpon ibuk berkali-kali tadi!"
"Benarkah? Trus bibi ngomong apa?"
"Ya ibuk pergi, maksa!"
"Kok jujur banget sih bi!" Zea segera berlalu menuju ke kamar tapi baru sampai di depan pintu, bibi kembali bicara membuat langkah Zea terhenti.
"Hp nya di samping tv, buk!"
"Isssttttt!"
Zea berbalik dan mencari ponselnya dan benar saja tergelatak di sana. Ia segera menghubungi suaminya.
"Hallo Ga!" ucap Zea ragu dan segar menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Masih ingat juga telpon suami!?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...