
"Nak, jalannya jangan cepat-cepat!" tuan Seno terlihat begitu khawatir melihat putrinya yang berjalan cepat dengan gaun panjang yang ia kenakan.
"Iya pa!" walaupun mengatakan iya, tapi tetap saja Zea ingin segera sampai di kamar, melepas gaun yang dipakainya dan menggantinya dengan daster. Ia tidak sabar untuk segera sampai di kamarnya dan menganti bajunya.
Ia juga tidak sabar ingin segera menghubungi Rangga, perasannya masih tidak enak. Ia berharap apa yang ia dengar tidaklah benar.
Setelah mengganti bajunya, Zea segera duduk di atas tempat tidur sambil menselonjorkan kakinya. Seperti biasa saat malam hari walaupun begitu larut bibi akan menyempatkan datang ke kamar Zea untuk memijiti kakinya,
"Bagaimana acaranya, nona?"
Tiba-tiba bibi sudah berdiri di depannya saja membuat Zea terkejut di buatnya, Zea sampai melihat ke arah jam dinding dan sekarang sudah jam setengah satu malam.
"Ya ampun bibi, kenapa bibi masih belum tidur?"
Bibi pun segera ikut duduk di atas tempat tidur Zea, ia menarik kaki zea dan membawanya ke pangkuannya.
"Mana bisa bibi tidur, kalau nona Zea belum tidur!"
"Aku tidak pa pa bi!" Zea berusaha untuk menyingkirkan kakinya dari pangkuan bibi tapi bibi kembali mengambilnya, ia benar-benar seperti ibu sendiri bagi Zea.
"Bibi pernah hamil nona, bagaimana rasa kaki kita di malam hari, jadi sekarang ijinkan bibi untuk memijitnya sampai nona Zea tertidur!" bibi tahu bagaimana rasanya jika saat hamil tidak di temani oleh suami, di saat ia harus di manja oleh sang suami tapi nyatanya suaminya masih belum mengingat keberadaan istrinya.
"Tapi aku belum bisa tidur, bi! Aku masih harus menghubungi Rangga!"
"Tidak masalah, aku akan menunggu sampai nona Zea tidur!" jika Zea keras kepala maka bibi lebih keras kepala.
"Tapi ini bahkan bukan larut lagi bi, ini sudah lebih dari tengah malam. Bibi pasti sangat capek!"
"Siapa bilang? Di sini aku hanya memerintah saja!" memang benar, pekerjaan bibi di rumah baru Zea ini hanya mengatur pekerjaan pelayan lainnya dan memastikan semua kebutuhan Zea terpenuhi sedangkan untuk kebutuhan tuan Seno, ada pelayan sendiri yang khusus mengurus keperluan tuan Seno selain ajudan pribadinya.
Zea ikut tersenyum mendengar ucapan bibi,
"Baiklah kalau bibi memaksa! Tapi boleh minta tolong lagi bi?"
"Hmmm, tentu!"
"Aku lupa hpku masih tertinggal di tas!"
"Baiklah, sebentar saya ambilkan nona!"
Bibi pun segera berdiri dan mengambil ponsel Zea yang masih di dalam tas di atas nakas dan menyerahkannya pada Zea.
"Terimakasih ya Bi!"
"Jangan terlalu sungkan nona!"
Zea pun kemudian mencari kontak nomor milik Rangga, ia menuliskan sebuah pesan untuknya.
//Ga, aku sudah sampai rumah, sekarang Bibi sedang memijat kakiku seperti biasa//
Zea segara mengirimkan pesan itu. Tapi tidak seperti biasa, bahkan Rangga sama sekali tidak membaca pesannya hingga beberapa menit. Padahal jika dilihat Rangga baru saja on line.
"Kenapa nona?" tanya bibi saat melihat wajah kecewa Zea.
"Rangga kok nggak balas pesan aku ya bi?, dia bahkan nggak membacanya!"
"Mungkin masih di jalan, nona. Jadi jangan khawatir!" bibi berusaha menghibur Zea walaupun dia yakin dengan hal itu.
"Apa iya ya, ya udah aku tunggu sebentar lagi."
__ADS_1
Tapi hingga setengah jam, bahkan Zea sampai tertidur di buatnya, pesan itu tetap tidak di balas. Zea sampai benar-benar mengantuk karena menunggu balasan pesan itu. Tapi kemudian ia kembali terjaga saat mengingat pesannya belum di balas,
"Bi, aku ketiduran. Apa pesanku sudah di balas?" Zea kembali mengambil ponselnya yang bahkan terlepas dari tangannya.
"Belum, lebih baik nona tidur aja dulu. Besok pagi nona bisa menelponnya!" bibi mencoba memberi solusi, ia benar-benar tidak tega melihat bagaimana Zea mencemaskan Rangga. Tapi Zea benar-benar tidak ingin bercerita padanya tentang kecemasan itu.
"Nggak ah bi, lebih baik aku telpon sekarang!"
Akhirnya Zea pun melakukan panggilan terhadap Rangga, meskipun telpon itu masuk tapi tetap tidak di angkat oleh Rangga. Zea melakukannya hingga beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama.
"Tetap nggak di angkat bi!" Zea menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan seberapa banyak ia melakukan panggilan.
"Mungkin tuan Rangga sudah tidur jadi tidak mendengar telpon nona!"
"Tidak mungkin, walaupun dia kehilangan ingatannya tapi dia tidak pernah mengabaikan pesanku!" Zea masih tidak ingin percaya, karena memang ini bukan kebiasaan Rangga.
"Nona jangan terlalu khawatir, apa perlu bibi meminta tuan besar untuk mencari tahu?"
Mendengar usul dari bibi, ia jadi benar-benar berniat melakukannya,
"Di mana papa bi?" bagaimana bisa ia melupakan papanya, papanya mungkin akan tahu solusinya.
"Tadi sepertinya tuan besar masih di ruang kerja!" selama Zea tertidur, bibi sempat meninggalkan Zea untuk mengambilkan air putih untuk Zea. Agar saat terbangun di tengah malam, Zea tidak perlu ke dapur untuk mengambil air minum.
Zea dengan cepat turun dari tempat tidur membuat bibi segera mencegahnya,
"Nona mau ke mana?" bibi menahan tangan Zea agar tidur turun dari tempat tidur.
"Aku harus menemui papa bi!"
"Tapi ini sudah sangat malam!"
"Tapi aku belum bisa tenang bi, sebelum tahu kalau Rangga baik-baik saja!"
"Baiklah, biar bibi antar. Tapi tidak usah buru-buru, ingat kandungan nona!"
"Iya bi!"
Mereka pun akhirnya menuju ke ruangan tuan Seno, beruntung tuan Seno belum beranjak dari tempatnya, sepertinya ia tengah mengerjakan sesuatu,
"Pa!"
"Sayang, kamu belum tidur?" tuan Seno segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Zea, "Ada apa? Apa ada masalah?"
"Ini tentang Rangga!"
"Ada apa dengan Rangga?"
Zea pun segera menunjukkan ponselnya pada sang papa. Wajah tuan Seno berubah serius saat ini. Ia pun segera memanggil ajudannya untuk mengawasi keberadaan Rangga saat itu juga.
...***...
Di tempat lain, akhirnya Rangga sampai juga di apartemen. Setelah memutuskan pertunangannya dengan Miska, ini untuk pertama kalinya ia datang kembali ke apartemennya.
"Dia benar-benar merepotkan, tapi ia tidak boleh celaka sebelum mendapatkan balasannya!" gumam Rangga setelah memarkirkan motornya.
Tadi ia mendapat telpon dari Rizal, sepupunya itu mengatakan jika Miska tengah berniat untuk melakukan bunuh diri.
Ia tidak heran jika Rizal berhubungan dengan Miska, dari hasil rekaman cctv itu terlihat semuanya.
__ADS_1
Kedatangannya di apartemen disambut oleh Rizal dengan wajah cemasnya,
"Untung kamu datang lebih cepat!"
"Ada bang Rizal, kenapa harus menghubungi saya?" protes Rangga, ia benar-benar tidak suka di repotkan oleh urusan Miska maupun Rizal.
"Ini apartemen kamu, sebenarnya Miska melarangku menghubungimu tapi apa boleh buat, aku tidak punya wewenang di sini!"
"Kalau Miska masih bisa melarangmu, itu artinya dia masih waras kan?"
Mereka terus bicara sambil berjalan cepat menuju ke apartemen Rangga yang di tempati oleh Miska.
"Memang apa masalahnya?" tanya Rangga lagi, ia tidak mungkin tiba-tiba bicara tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Dia sepertinya sedang benar-benar terpuruk!" ucap Rizal dengan wajah yang kembali meyakinkan.
Akhirnya mereka sampai juga di dalam apartemen dan benar sama, Miska terlihat menyedihkan dengan begitu banyak botol minuman di depannya. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang berniat untuk bunuh diri.
Miska tersenyum begitu melihat kedatangan Rangga,
"Rangga!"
Miska pun segera berdiri dan berlari memeluk Rangga, bau minuman benar-benar menyeruak dari mulut Miska hingga membuat Rangga menjauhkan hidungnya dari jangkauan Miska. Ia benar-benar tidak menyukai bau itu, walaupun ia sesekali minum tapi ia tidak suka jika dalam keadaan normal.
"Abang bilang dia mau bunuh diri?" protes Rangga lagi, Rangga benar-benar tidak habis pikir, ternyata bukannya bunuh diri, Miska sedang menikmati minumannya. Jika tahu dari awal, ia tidak mungkin repot-repot datang ke apartemen, seharian ini tenaganya sudah cukup terkuras untuk menyiapkan acara peresmian tapi di malam hari ia masih harus mengurusi orang-orang yang tidak berguna di depannya.
"Kalau di biarkan terus-menerus, bukankah dia juga akan bunuh diri juga!" kilah Rizal. Ia sengaja memakai alasan bunuh diri karena ia tahu Rangga tidak mungkin bisa menolak jika mengatakan hal itu.
"Rangga, tolong aku. Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Mamaku, dia di kantor polisi sedangkan kamu, kenapa kamu memilih meninggalkanku?" rancau Miska, ia tampak benar-benar seperti orang yang mabuk.
"Sadar Miska, duduklah!" Rangga menuntun Miska untuk duduk di sofa, tapi wanita itu masih terus bergelayut manja di lengan dan tubuhnya membuat Rangga benar-benar risih.
"Kamu jangan pergi, bantu aku Rangga, bantu aku!"
Rangga malah terlihat bingung. Ia benar-benar tidak tahu cara mengatasi wanita yang tengah kalap seperti ini.
"Aku ambilkan minum dulu!" ucap Rizal lalu meninggalkan Rangga dan Miska. Ia menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
Tidak berapa lama ia kembali dengan membawa segelas air putih,
"Minumlah. Kamu pasti haus karena aku memberi kabar yang berlebihan tadi!"
Sebenarnya ingin menolak, tapi saat ini tenggorokannya benar-benar kering.
"Itu tahu!" keluh Rangga. Ia benar-benar merasa di bohongi. Seharusnya ia bisa pulang cepat tapi gara-gara telpon dari Rizal membuatnya harus mampir dulu ke apartemen.
"Ya aku kan khawatir. Minumlah, setelah ini bantu aku menenangkannya, baru kamu boleh pulang!"
Karena memang tangan begitu haus, ia pun segara meneguk air putih itu. Sekilas tidak ada yang mencurigakan tapi sesaat setelah meminum air itu, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang.
Dan dalam hitungan menit saja Rangga sudah tidak sadarkan diri.
"Ga, Rangga! Rangga sayang!" Miska terus memanggil nama Rangga, memastikan jika pria itu benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...