
Setelah selesai makan, Miska mengajak Rangga untuk jalan-jalan di dalam mall, mencari beberapa barang yang mungkin dia suka,
"Apa kamu ingin membeli kemeja atau apa gitu?" Miska tidak pernah melepaskan tangan Rangga, ia terus saja melingkarkan tangannya di lengan Rangga membuat Rangga semakin risih saja.
"Bisa tidak kita jalannya biasa saja, saya nggak nyaman seperti ini!"
"Kamu tuh terlalu kaku, jangan begitu!" Miska malah bicara sambil mendekatkan bibirnya di daun telinga Rangga, "Kamu butuh pemanasan Ga!"
"Jangan macam-macam Miska, saya tidak suka!"
"Baiklah, kita bisa lakukan apa saja yang kamu suka untuk kali ini, tapi lain kali kamu nggak akan bisa nolak apapun yang aku berikan!"
"Terserah kamu!" kali ini Rangga benar-benar mulai kesal.
"Bagaimana kalau kamu pilihkan baju untuk aku aja?" Miska tidak menunggu persetujuan dari Rangga, ia segera menarik tangan Rangga dan menuju ke tempat baju perempuan.
Tapi belum sampai mereka masuk, tiba-tiba Rangga melihat Zea sedang bersembunyi di balik rak bahan makanan yang ada di toko sebelah.
Rangga jadi penasaran, apa yang membuat Zea sampai bersembunyi seperti itu.
"Miska, sepertinya aku ada acara dadakan, kamu belanja sendiri nggak pa pa kan?"
"Kok gitu sih!?"
"Ini beneran dadakan, baru saja atasanku kirim pesan, saya harus ke kantor sekarang!"
"Trus aku pulangnya gimana?" Rangga sudah berlari membuat Miska berteriak.
"Naik taksi aja, nanti uangnya aku transfer!" Rangga hanya melambaikan tangannya yang memegang ponsel tanpa berniat untuk menoleh kembali ke belakang.
Miska hanya bisa mendengus kesal, ia tidak berniat lagi untuk berbelanja, ia memilih pulang karena kesal dengan Rangga. Tidak lupa ia juga mengadukan hal itu pada mama Rangga.
Rangga segera masuk ke toko perlengkapan kebutuhan rumah tangga, ia tidak langsung mendekati Zea. Ia ingin tahu siapa sebenarnya yang telah membuat Zea bersembunyi seperti pencuri seperti itu.
Hingga matanya menangkap dua sosok yang ia sangat kenal, itu adalah dokter Frans dan istrinya yang tidak lain adalah cinta pertamanya.
Rangga menatap bergantian pada Zea dan mereka berdua.
"Kenapa Zea ketakutan seperti itu?" gumam Rangga.
Saat sepasang suami istri yang sedang berbahagia karena baru saja mendapatkan putra pertamanya, Rangga pun segera menghampiri mereka.
"Hai Fe, hai dokter Frans!"
__ADS_1
"Rangga!" seperti biasa, si dokter posesif itu langsung menyembunyikan istrinya di balik tubuhnya.
"Kamu ngapain di sini?" Felic seakan tidak peduli dengan cemburu suaminya, ia tetap menyapa ramah pada Rangga.
"Oh ini, tadi aku mau beli beberapa keperluan rumah!" jawaban Rangga langsung mendapat tatapan aneh dari Felic karena Felic tahu kalau Rangga belum menikah, "Mama tadi yang nyuruh, soalnya mama lagi sibuk!"
"Ohhh, baik banget ya kamu! Salam ya buat budhe!" ucapan Felic langsung mendapat tatapan tidak suka dari sang suami.
"Sebaiknya kita cari toko lain saja!" dokter Frans langsung menarik tangan Felic meninggalkan Rangga begitu saja.
"Kami pergi dulu ya!" Felic masih sempat melambaikan tangannya hingga akhirnya benar-benar keluar dari toko itu.
Setelah memastikan Felic dan suaminya keluar dari toko, Rangga pun segera menghampiri Zea yang masih bersembunyi di tempatnya.
"Mau sampai kapan ngumpetnya? Orangnya udah pergi, cepetan keluar!"
Zea begitu terkejut karena ada Rangga juga, dan saat Zea keluar dari persembunyiannya, benar saja ia sudah tidak menemukan dokter Frans dan istrinya.
Zea segera mengusap dadanya lega, tampak ia juga menghela nafas lega.
"Kamu hutang cerita ya sama aku!" mendengar ucapan Rangga, Zea mendongakkan kepalanya dan mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Tentang kenapa kamu bersembunyi setiap kali bertemu dengan orang-orang itu!?"
"Kamu harus mau, kalau kamu nggak mau aku bisa tanya langsung sama mereka!" ancam Rangga membuat Zea menghentikan langkahnya.
"Jangan macam-macam ya!" Zea mengacungkan jari telunjukkan pada Rangga dengan tatapan kesal.
"Nggak macam-macam, aku cuma mau tahu aja alasannya apa! Lagi pula tidak akan memberatkan hidup kamu kan!"
"Jangan maksa deh!"
"Sini biar aku bawakan keranjangnya, tapi tetap aku tidak akan pergi sebelum kamu mau cerita!"
"TERSERAH!"
Zea pun membiarkan keranjang belanjanya di bawa Rangga, ia memilih sibuk memilih barang belanjaan yang harus ia ambil.
"Dikit amet belanjanya? Memang kamu tidak punya rencana untuk mengundang aku makan malam?"
Zea lagi-lagi menghela nafas kesal dan menatap Rangga, "Ada ya orang nggak tahu malu seperti kamu!"
"Aku nggak tahu malu tuh ada tempatnya! Lagi pula aku sudah bosan jadi pendiam, karena diam itu membuat aku menyesal sampai sekarang!"
__ADS_1
"Kok kamu jadi curhat sih?!"
"Pengen mengemukakan pendapat aku aja sih!"
Rangga terus mengikuti Zea hingga mereka keluar dari pusat perbelanjaan.
"Kenapa masih ngikutin aku sih?"
"Kan aku tadi sudah bilang, kalau kamu belum cerita, aku tetap akan ikuti kamu!"
"Aku mau pulang!"
"Ya udah aku antar kamu pulang!"
"Jangan macam-macam ya, tuh ponselmu sedari tadi berdering!" memang ponsel Rangga sedari tadi berdering dan Rangga tahu itu dari siapa. Itu dari mamanya, Miska pasti sudah mengadu pada sang mama. Ia tidak menyangka ternyata gadis seperti Miska juga suka sekali mengadu.
"Aku mau naik bis aja! Mana belanjaan ku!?" Zea ingin mengambil belanjaannya tapi ternyata tidak bisa.
"Kamu ikut aku, aku akan mengantarmu pulang!" Rangga malah menarik tangan Zea dan membawanya ke parkiran. Ia meletakkan barang belanjaan Zea di depan, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menepuk jok belakangnya agar Zea mau naik.
"Ayo cepetan naik!"
"Suka banget maksa!" gadis lembut itu tidak mampu menolak lagi, ia benar-benar harus menuruti apa yang di minta Rangga.
Rangga yang sekarang memang benar bukan Rangga yang dulu, dulu Rangga terlalu diam dan tidak bisa menentukan hidupnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, usianya yang semakin matang mungkin telah membuatkan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang penuh perdebatan, Zea dan Rangga sampai juga di kontrakan Zea. Walaupun sendiri, Zea memilih tinggal di kontrakan dari pada di kos-kosan. Di kontrakan ia memiliki keleluasaan untuk melakukan segala sesuatu tanpa harus berbagi dengan penghuni lainnya.
"Sudah sampai kan sekarang, jadi bawa sini belanjaanku dan kamu pulanglah!"
"Siapa bilang aku akan pulang? Aku akan makan malam di sini! Di mini market depan nggak ada yang buatin mie insta buat aku soalnya!"
"Kenapa sih kamu tambah bikin rumit aja!" keluh Zea tapi dia tidak mampu menolak, ia membiarkan Rangga ikut masuk.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1