Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (13. Pesta peresmian 3)


__ADS_3

"Apa kau mau minum?" Rizal sudah membawakan segelas minuman untuk Zea.


Zea yang melihat minuman itu, ia segera menggelengkan kepalanya,


"Maaf, aku tidak minum!"


"Baiklah, aku akan mengambilkan yang lainnya!"


"Tidak perlu, nanti aku akan ambil sendiri!"


"Baiklah, jangan sungkan! Kalau butuh sesuatu katakan saja!"


Zea hanya menganggukkan kepalanya, tapi matanya benar-benar tidak beralih dari pria yang sudah mengisi hatinya beberapa hari lalu. Walaupun dia tidak yakin ini cinta, tapi sebuah sumpah suci telah mengikat hatinya hingga membuatnya begitu sakit saat melihat pemandangan itu.


Apa memang takdirku seperti ini ...


Tanpa terasa air mata jatuh di sudut matanya dan dengan cepat ia menghapusnya sebelum orang lain melihatnya.


Setelah sambutan yang di berikan oleh Rizal selaku pemilik restauran. Acara pun di lanjut dengan ramah tamah dan dansa.


"Ga, kita dansa yuk!" Miska menarik tangan Rangga agar mau berdiri dari duduknya.


"Nggak males, dansa sendiri sana!" Rangga sudah meneguk beberapa gelas minuman yang di sediakan, terlihat sekali sekarang matanya sedang memerah. Ia mendorong Miska agar menjauh.


"Masak kamu nggak mau menghargai pemilik acara sih, lihat dia aja lagi ngajak ceweknya buat dansa Lo, masak sih kamu nggak mau!"


Rangga seketika terpancing ucapannya, terlihat dari tatapan Rangga, Rizal sedang menarik tangan Zea memaksanya untuk ikut berdansa dengan tepuk tangan dari para tamu yang hadir.


"Ayo, ayo, ayo!" sorak Sorai itu meminta Zea untuk menuruti permintaan Rizal.


Rangga yang melihat itu benar-benar terbakar cemburu, ia pun langsung berdiri dan menarik tangan Miska, mengajaknya ke tengah lantai dansa.


Mereka berdansa dengan mesranya seperti benar-benar pasangan yang di mabuk cinta. Tapi dalam bayangan Rangga wanita yang sedang di ajaknya berdansa adalah Zea. Mungkin karena dia terlalu mabuk.

__ADS_1


Zea yang melihat hal itu pun tidak bisa membiarkan semuanya, ia pun menuruti permintaan Rizal. Mereka masuk ke lantai dansa, Rizal sengaja membuat agar posisi mereka begitu dekat dengan posisi Rangga.


Sesekali mata Zea mengawasi pria yang begitu dekat dengannya, tapi dalam dekapan wanita lain. Zea hanya bisa pasrah, walaupun hatinya sangat hancur saat ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa, mereka sedang berada di tempat yang ramai.


Andai saja saat ini dia berada di tempat sepi, ia ingin sekali menarik tangan pria itu dan meminta penjelasan.


"Aughhhhh ....!"


Pekikan suara Zea membuat Rizal dan rangga pun ikut berhenti berdansa.


"Ada apa Ze? Apa yang sakit?" Rizal dengan cepat melihat kaki Zea, ia berjongkok di depan Zea.


"Kakiku terkilir!" sepatu hak tinggi yang ia kenakan cukup mengurangi ruang geraknya dan lagi rasa kesal, sakitnya saat melihat bagaimana Rangga menyentuh dengan mesra wanita yang tengah berdansa dengannya membuat penglihatannya sedikit kabur karena air mata yang sengaja ia tahan sekuat tenaga agar tidak sampai jatuh.


Rangga ingin sekali melihatnya memastikan kalau Zea tidak pa pa, tapi Rizal lebih dulu mengangkat tubuh Zea dan membawanya ke kursi tempatnya duduk tadi. Tapi mata Rangga tetap saja tidak mau lepas dari memperhatikan Zea dan Rizal, hingga hal itu membuat Miska mencurigai sesuatu.


Akhirnya Miska mencoba mengalihkan perhatian Rangga dengan kembali memeluknya, "Ga, kenapa berhenti? Ayo lanjut!" ucapnya dengan di buat mesra hal itu malah semakin membuat Rangga muak.


"Dansa saja sendiri!" Rangga malah mendorong tubuh Miska dan mengibaskan tangan wanita itu dan ia memilih kembali duduk sambil terus menatap ke arah Zea, ia begitu kesal saat Rizal beberapa kali memegang kaki jenjang Zea.


Hingga akhirnya mata mereka saling bertemu untuk ke sekian kalinya, Zea bisa melihat tatapan kebencian di mata Rangga saat menatapnya hal itu membuatnya merasa tidak nyaman,


"Mas Rizal, sudah cukup! Kakiku tidak pa pa!" ia dengan kasar mengibaskan tangan Rizal hingga membuat pria itu terkejut dan berdiri hal itu membuat Zea tidak enak hati.


"Maaf mas, aku tidak bermaksud kasar tadi!" Zea pun segera berdiri, meskipun kakinya masih terasa sakit, "Aku mau pulang saja!"


"Aku antar ya!"


"Enggak!"


"Ini sudah malam, biar aku antar saja ya!" Rizal terus mengejar Zea yang berjalan dengan kaki yang sedikit pincang.


"Enggak mas, Zea pulang sendiri!"

__ADS_1


"Tidak, kakimu sedang sakit! Aku akan mengantarmu!" tepat saat Rizal akan memaksa Zea, seorang pria yang sepertinya MC acara itu menghampiri Rizal.


"Pak Rizal, acara inti potong pita sudah mau di mulai!"


Rizal menatap Zea dan Zea pun menggelengkan kepalanya,


"Aku akan pulang sendiri, mas Rizal lanjutkan acaranya saja!"


Rizal sepertinya menyerah, ia memang harus mengikuti acara inti yang sudah di tunggu sekian lama, memiliki restoran miliknya sendiri sudah menjadi cita-cita nya semejak dulu. Bahkan di balik memacari Tisya saat itu ada rencana untuk membangun kerja sama dengan papa tiri Tisya, tapi saat tahu kenyataannya bahwa Tisya di keluarkan dari anggota keluarga Bactiar, Rizal dengan entengnya memutuskan pertunangan mereka.


Bahkan demi hal itu, ia rela kehilangan Ersya, wanita yang sangat ia cintai.


...***...


Zea berjalan menyusuri trotoar, ia menenteng sepatunya, memilih berjalan dengan telanjang kaki.


Air matanya tertumpah di kegelapan malam, hanya lampu jalan dan sorot kendaraan yang lalu lalang tak mampu menunjukkan betapa hancurnya hati seorang Zea saat melihat sang suami memilih pergi dengan wanita lain.


"Apa aku memang tidak berhak bahagia, Tuhan! Apa salahku? Kenapa orang tau ku membuangku bahkan sekarang saat aku merasa mulai mempunyai keluarga, dia memperlakukanku seperti ini, apa salahku?" bahkan saat ini kaki Zea tidak mempu menopang tubuhnya, ia menjatuhkan tubuhnya di trotoar. Hawa dingin menyapu tubuhnya yang terbuka, tapi tidak ia hiraukan.


Ia merasa dunia sangat tidak adil, kebahagiaan seakan hanya fatamorgana, semu tak abadi. Semuanya hilang bersama angin yang berlalu bersama daun yang jatuh tersapu olehnya. Lenyap tanpa jejak, hanya sebuah hayalan untuk bisa menjadi bahagia.


"Bangunlah!" rasa hangat tiba-tiba menutup kedua bahunya yang terbuka, perlahan Zea menyapu air mata yang menutupi pandangannya, sebuah jas menggantung menutupi tubuhnya dan seorang pria berdiri tepat di depannya.


Zea mendongakkan kepalanya, kembali mengusap air matanya agar tatapannya lebih jelas lagi. Namun ia kembali tidak percaya, beberapa kali mengusap air matanya memastikan apa yang ia lihat itu benar.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2