
Rangga masih di buat bingung dengan kehadiran Zea, meskipun tidak mengenalnya tapi ia ikut bahagia melihat apa yang terjadi pada zea.
Begitupun dengan Zea, sepanjang acara Zea benar-benar tidak pernah beralih dari menatap Rangga. Ia berharap Rangga akan segera mengenalinya.
Sampai kapan Rangga, sampai kapan? rasanya begitu lelah menyadari kenyataan bahwa di hari yang seharusnya membahagiakan ini bahkan orang yang paling ia harapkan memberi selamat padanya tidak mengingatnya.
Atas perintah mamanya, Rangga pun akhirnya duduk bersama Miska untuk menghiburnya.
Walaupun semua orang mengira aku bahagia, sebenarnya hatiku begitu sakit Ga, bisa tidak jika aku minta jangan lagi dekat dengannya? Zea hanya bisa menatap dengan tatapan sendu pada apa yang di lakukan Rangga. Apalagi saat ini Miska tengah menyandarkan kepalanya di bahu Rangga membuat hatinya semakin sakit.
"Yang sabar ya ze, semua pasti akan terlalui dengan baik." Ersya ternyata sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan tapi dia kini telah mengusap punggung Zea berharap bisa mengurangi rasa kesalnya dan sakitnya.
"Aku tidak tahu akan sesakit ini melihat Rangga seperti itu!"
"Miska pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari ini, percaya deh. Asal kamu tetap yakin!"
"Hmmm!"
"Bagus!"
Pesta pun berakhir, satu persatu tamu mulai meninggalkan tempat pesta.
"Selamat ya tuan Seno atas bertemunya dengan sang putri, semoga hubungan kalian menjadi baik!" pak beni memberi selamat sambil berpamitan untuk pulang, berbeda dengan pak beni, istrinyaa lebih terlihat cuek.
Tuan Seno pun tersenyum dan menepuk bahu pak beni, "Saya sungguh berterimakasih atas apa yang pak beni lakukan pada putri saya selama ini, anda benar-benar ayah mertua yang baik!"
"Itu tidak seberapa tuan, Zea memang pantas untuk mendapatkannya!"
"Tetap saja, saya harus mengucapkan terimakasih ini. Jika suatu saat pak beni membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya!"
"Pasti, kalau begitu saya dan istri pamit dulu tuan!"
"Biar sopir saya yang mengantar kalian!"
"Tidak perlu, Rangga yang akan mengantar kami!"
"Baguslah, semoga rangga segera baik, iya kan Bu Beni?" tuan Seno akhirnya menatap ke arah istri pak beni.
"Ahhh iya!"
Akhirnya mereka benar-benar berpamitan dengan mama Rangga yang merasa tidak enak dengan tuan Seno tapi tetap saja ia tidak bisa terima jika Zea yang akhirnya jadi Putri kandung tuan seno.
"Aku pulang dulu, aku harus mengantar papa sama Mama!" ucap Rangga yang hendak meninggalkan miska.
"Aku tinggal dulu nggak pa pa ya, aku harus mencari mama!"
"Baik, tidak pa pa. Aku pergi!"
Rangga pun segera berdiri meninggalkan Zea, ia harus mengantar kedua orang tuanya. Ini sebenarnya kesempatan bagus baginya bisa lepas dari miska. Ia ingin malam ini tidur di tempat orang tuanya.
Miska yang merasa semua tamu sudah meninggalkan tempat pesta dan tinggal beberapa orang saja segera menghampiri Zea yang tengah mengantar Ersya yang berpamitan untuk pulang,
__ADS_1
"Hei, penipu!" teriak Miska hingga membuat Zea dan Ersya menoleh pada mereka. Sedangkan saat ini Divta sudah berada di depan untuk mengambil mobilnya.
"Apa tidak salah?" Zea menatap remeh pada Miska dan tersenyum tipis, "Siapa yang penipu di sini? Aku atau kamu, seseorang yang demi mendapatkan cinta seorang laki-laki yang sudah beristri rela menipunya dan pura-pura menjadi tunangannya, bukankah itu yang di namanya penipuan?"
"Jaga mulutmu itu!" Miska benar-benar geram dengan apa yang baru di katakan oleh Zea. Ia tidak menyangka gadis lemah itu sekarang sudah begitu kuat dan berani membalas ucapannya. Tangannya sudah terayun dan hampir saja menampar pipi Zea hingga Zea memiringkan wajahnya dan menutupnya dengan tangan tapi beruntung tuan Seno datang tepat waktu dan berhasil menahan tangannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Miska!" tuan Seno mencengkeram erat lengan Miska hingga memerah bahkan otot-otot yang berada di leher dan beberapa di wajahnya tampak keluar dengan wajah yang memerah dengan sorot mata yang menyala merah seakan siap menyambar siapapun yang membuatnya marah.
Tuan Seno kali ini begitu marah dengan apa yang di lakukan oleh Miska,
"Pa sakit!" keluh Miska tapi tuan Seno tidak mengindahkannya. "Zea bukan wanita yang baik pa, papa pasti sudah di tipu oleh wanita murahan ini, asal papa tahu wajahnya saja terlihat polos tapi hatinya sangat busuk!"
"Hentikan omong kosong tidak berguna ini, papa di sini masih menganggapmu karena kamu anak yang sudah papa besarkan, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat sesuka hati kamu!"
"Tapi pa, Miska berkata yang sejujurnya, dia pasti sudah mengguna-guna papa hingga berbuat demikian!"
"Tidak ada yang seperti itu! Dengarkan saya baik-baik, jika satu inci saja kamu berani menyakiti Zea, papa tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari daftar nama keluarga."
"Tapi pa_!"
"Ancaman papa tidak pernah main-main!" ucapan tuan Seno benar-benar membuat Miska ketakutan.
Ia pun segera meninggalkan Zea begitu saja dan melanjutkan untuk mencari mamanya,
"Kamu tidak pa pa?" tanya tuan Seno pada Zea.
Zea pun segera menggelengkan kepalanya, "Tidak pa, Zea baik-baik saja!"
"Ma, mama nggak pa pa kan?" Miska segera memeluk mamanya yang begitu berantakan.
"Papa kamu tega, Miska. Papa kamu tega!"
"Aku tahu ma!"
Miska membantu mamanya untuk bangkit dan mengajaknya duduk di sofa, tuan Seno tidak lagi masuk ke dalam ruangan itu saat tahu istrinya di sana.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya ma?"
"Sekarang saja kamu baru tanya sama mama, dari kemarin-kemarin mama sudah mengatakan semuanya padamu, hati-hati, hati-hati, papa kamu pasti sudah punya rencana besar, sekarang mau apa lagi." nyonya Widya bergantian menyalahkan putrinya yang di rasa tidak peka. Ia benar-benar kesal dengan putrinya itu.
"Maafkan Miska ma, jangan salahkan Miska terus. Miska kan nggak_!"
"Terus saja urusi Rangga mu itu, kalau kamu tetap mau kalah dengan wanita itu, urusi saja dia!"
"Tapi ma, Miska jadi punya cara untuk memanfaatkan Rangga ma, bisa jadi Rangga menjadi senjata yang ampuh."
"Maksud kamu?"
"Rangga itu segalanya bagi Zea, ia pasti bisa meninggalkan semuanya demi Rangga!"
"Terserah kamu, pokoknya mama nggak mau tahu kamu harus melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan wanita itu dari kehidupan papa kamu, mama sudah melakukan banyak hal untuk itu." nyonya Widya segera bangkit dan berlalu meninggalkan Miska yang masih terduduk di tempatnya.
__ADS_1
Di dalam mobil, ini untuk pertama kalinya Rangga mengantar kedua orang tuanya setelah kehilangan ingatannya.
Terlihat Rangga masih diam, ia benar-benar tidak bisa melupakan Zea. Rasanya apapun yang Zea lakukan di depannya selalu membekas dalam pikirannya.
"Ga!?" suara papa Beni menyadarkan dari lamunan.
"Hmm, iya pa, ada apa?" Rangga menoleh sebentar pada pria yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana menurutmu Zea?"
"Maksud papa?"
"Ya apa yang menurutmu membuat Zea istimewa?"
"Kenapa papa menanyakan hal itu pada Rangga?" Rangga khawatir jika papanya sampai tahu apa yang sedang ia rasakan pada Zea sedangkan saat ini ia sudah memiliki Miska yang sebentar lagi menjadi istrinya. "Zea sudah punya suami, tidak pantas sepertinya jika saya menilai istri orang!"
"Menurut papa, Zea adalah istri yang begitu ideal terlepas dari apa yang ia dapatkan saat ini. Bahkan dalam kesederhanaannya dia mampu membawa diri, lembut dan sopan sama orang tua."
Melihat papanya begitu mengagumi sosok Zea, Rangga tersenyum. Berbeda dengan wanita yang tengah duduk di belakang, ia benar-benar tidak menyukai apa yang dikatakan oleh suaminya. "Jangan dengarkan papa kamu, dia itu sudah dibutakan oleh wanita itu."
"Mama yang sudah di buatkan oleh Miska, seharusnya mama itu sadar mana yang baru kali dan mana yang batu permata jangan sampai nanti mama menyesal dan semuanya sudah terlambat!" pak Beni begitu kesal dengan istrinya itu, ia berusaha untuk menyadarkan istrinya bahwa semua pemikirannya itu salah.
"Sudah cukup , ma, pa. Kenapa jadi kalian yang ribut? Lagi pula apa hubungannya dengan nona Zea, dia sudah mendapatkan kebahagiaannya, jadi jangan di usik lagi, lebih baik kita kasih selamat!"
Ucapan Rangga berhasil membuat kedua orang tuanya diam hingga mereka sampai di rumah.
"Kamu menginap di sini kan Ga?" pertanyaan papanya membuat Rangga senang, selama ini Miska selalu mengatakan jika kedua orang tuanya tidak bisa membiarkan Rangga tinggal karena harus menemani Miska.
"Jadi boleh pa?"
"Kenapa bisa kamu bertanya seperti itu, ada ada saja!"
"Baiklah, Rangga tinggal!"
Melihat Rangga yang begitu gembira membuat papanya heran, Rangga sudah berlari ke kamarnya seperti baru saja mendapatkan mainan ke sukanya hal itu membuat pak Beni dan istrinya saling menatap,
"Lihat betapa bahagianya di kembali ke rumah, wanita itu selalu mengatakan jika Rangga sibuk hingga tidak punya waktu untuk pulang. Menurutmu apa itu sebuah kebenaran?" tanya pak Beni sambil menatap kesal pada istrinya dan ikut berlaku meninggalkannya.
"Apa benar yang papa katakan? Lalu kenapa Miska sampai berbuat seperti itu? Kami orang tuanya, kami yang membesarkannya." gumam istri pak Beni setelah menemui banyak sekali keganjalan dalam kehidupan Miska.
"Apa mungkin dia mau memisahkan kami sebagai orang tua dan anak?" mau tidak percaya dengan semua yang di katakan oleh suaminya, tapi kenyataannya semuanya perlahan membuka matanya dan itu sebuah kebenaran yang coba ia ingkari dengan segala pemikirannya sendiri hingga membutakan rasa sayangnya pada sang putra.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1