
Di Desa bersama dokter Frans dan Felic.
"Jangan deket-deket ...., jorok ihhh!" ucap dokter Frans sambil mendorong kepala istrinya menjauh.
Ha ha ha ha .....
Felic tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat reaksi suaminya itu. Jelas jelas setiap pagi dan siang hampir setiap hari dia keramas, bisa bisanya bilang dia jorok.
"Kenapa malah tertawa?" tanya dokter Frans bingung, ia sampai harus menghentikan mobilnya.
"Percaya banget aku ngomong gitu! Setiap hari kamu kelonin mana ada nggak keramas, dosa tahu ...!"
"Trus itu lengket lengket apa?"
"Tadi tuh pas di sekolah, ibu guru ipa nggasih aku ini!" ucap Felic sambil menunjukkan dua daun lidah buaya yang masih utuh.
"Lidah buaya?"
"Iya ...., tadi bu guru kasih tahu cara nya dengan mempraktekkan langsung ke rambut aku, biar tambah banyak rambutnya!" ucap Felic sambil mengusap rambutnya yang memang terasa lepek dengan sedikit lengket.
"Rambut sudah sebanyak itu masih kurang aja!" gumam dokter Frans sambil mulai menjalankan kembali mobilnya.
"Kayaknya rambut kamu juga perlu sayang di kasih ini!" ucap Felic sambil mulai mengusapkan lidah buaya itu ke rambut suaminya.
"Jangan aneh-aneh ya, aku nggak mau!"
"Tapi aku mau!" ucap Felic sambil menunjukkan wajah penuh harap,
Dia memang suka sekali memerasku ...., keterlaluan ....
"Plisssss. ...!" ucap Felic lagi.
"Please ...., bukan plisss!?" protes dokter Frans,
"Nggak pa pa yang penting boleh!" Felic pun kembali mengusapkan lidah buaya itu ke rambut dokter Frans hingga habis dua daun sekaligus. Dokter Frans hanya bisa pasrah dari pada nanti malam tidak dapat jatah.
Akhirnya mobil mereka pun sampai juga di depan rumah meraka, tampak bi Molly dan paman Richard sudah menunggu mereka di depan, mereka sudah pergi terlalu lama.
"Selamat sore bi ....!" sapa dokter Frans dan Felic.
"Tuan ....!" ucap bi Molly saat dokter Frans dan Felic hendak berlalu.
"Iya? Ada apa bi?" tanya dokter Frans.
"Ada apa dengan rambut tuan?" tanya bi Molly yang melihat rambut dokter Frans yang persis seperti orang yang baru saja keramas dengan lendir putih putih di beberapa helai rambutnya.
Hehhhhh.....
Dokter Frans mendengus kesal dan berlalu begitu saja meninggalkan Felic.
Ha ha ha ha ....
Felic kembali tertawa, ia benar-benar merasa gemas dengan suaminya itu.
"Ada apa nyonya?" tanya bi Molly lagi.
"Tidak pa pa bi, hanya lidah buaya! Felic lapar bi, bibi masak apa hari ini?" tanya Felic sambil mengusap perutnya yang besar itu.
"Kita masuk nyonya, biar saya siapkan makanannya!"
__ADS_1
Bi Molly pun segera mengikuti Felic masuk dan memintanya untuk duduk di kursi yang ada di meja makan.
...****...
Di Jakarta di waktu yang sama di taman kota
Wilson pun segera keluar dari mobil dan meninggalkan Tisya. Tisya pun dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, memastikan mobil terkunci dan menyusul Wilson yang sudah berjalan lebih dulu menyusuri food stalls yang berjejer di area taman kota.
Di sana ada kedai cilok, bakso, mie ayam, soto ayam, tahu gejrot, dan masih banyak lagi.
Tisya segera berlari mensejajarkan langkahnya dengan langkah Wilson.
"Kamu mau makan apa?" tanya Wilson saat Tisya sudah berada di sampingnya.
"Ee...., apa ya?" tanya Tisya balik.
"Mau yang bikin kenyang atau yang kenyang nya sementara?" tanya Wilson lagi.
"Hahhh ....? Memang ada ya makanan yang seperti itu?" tanya Tisya.
"Ya kalau kita makan nasi, setidaknya kita bisa kenyang sampai nanti malam tapi kalau kita tidak makan nasi paling hanya bertahan sampau nanti jam empat sore!"
"Oooooo ....!?" ucap Tisya sambil beberapa kali menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang di katakan oleh Wilson.
"Jangan oo aja ...., sekarang katakan mau makan apa?"
"Terserah kamu aja deh!" ucap Tisya sambil tersenyum menatap Wilson.
"Yeee ...., jika jawabannya seperti, kenapa juga pakek ribet tanya!?" gerutu Wilson.
"Siapa juga yang suruh tanya!"
Ucapan Tisya berhasil membuat Wilson menghentikan langkahnya dan menatap Tisya kesal, Rasa nya pengen mencakar wajahnya aja gue ...
"Bagaimana?" tanya Tisya lagi saat melihat Wilson hanya diam.
"Sudah jangan banyak tanya!" ucap Wilson dan ia pun segera menarik tangan Tisya menuju ke salah satu kedai yang menjual soto ayam.
Wilson segera mendekati penjual soto ayam itu.
"Mang, soto ayamnya dua ya!" ucap Wilson sambil mengacungkan dua jarinya.
"Iya mas ..., di tunggu ya! Minumnya apa ya?"
"Teh anget aja!"
"Siap!"
Setelah selesai dengan pemesanannya, Wilson pun kembali menghampiri Tisya yang masih berdiri.
"Kenapa masih berdiri aja?" tanya Wilson.
"Kam nungguin kamu!"
"Nggak perlu di tunggu, aku juga datang sendiri!" ucap Wilson lalu duduk di bangku yang memang cuma ada dua, kebetulan kedai itu terlihat sudah sepi, mungkin karena hari libur jadi karyawan kantor juga tidak ada yang datang ke sana.
Tidak berapa lama mereka duduk, pesanan sudah datang. Tisya benar-benar lapar, ia menikmati makanan itu, jarang sekali dulu ia menikmati makanan lokal kalau tidak di acara-acara resmi.
"Katanya orang kaya, tapi makannya kayak orang kesurupan!" ucap Wilson saat melihat Tisya begitu lahapnya.
__ADS_1
"Ini enak banget Wil, beneran ....! Tapi aku juga lapar, tau sendiri kan aku dari pagi cuma makan roti, itupun jatah orang-orang di rumah sakit tadi!"
"Kan masih mending kamu ...., aku malah belum makan apapun!"
"Bohong banget, tadi kan udah kaman di mall sama kak Maira!"
"Siapa juga yang makan!"
"Hahhh?!" Tisya benar-benar terkejut dengan jawaban Wilson sampai dia harus menaruh sendoknya.
Flashback on
Satu jam yang lalu, di salah satu foodcoart yang ada di salah satu pusat perbelanjaan.
"Kamu mau pesen apa Wil?" tanya Maira.
"Aku minum aja!"
"Kenapa nggak makan?"
"Sebenarnya tadi kami sudah makan!"
"Maksudnya kamu sama Tisya?" tanya Maira dan Wilson pun mengangguk. Ia tahu jika Tisya juga belum makan dari pagi, ia tidak mungkin makan sendiri di tempat ini tanpa Tisya. Rasanya aneh saja, walaupun belum sampai di meja, tiba-tiba saja perutnya terasa kenyang.
"Kalian cuma sebatas art dan majikan kan? Nggak ada hubungan lain?" tanya Maira.
"Ya nggak lah ....!"
"Syukurlah ..., oh iya aku sampai lupa, sebenarnya papa berpesan buat nyariin Tisya, pas aku ke rumah mereka ternyata mereka sudah pindah tahunya tinggal di rumah kamu!"
"Pesan apa? Maksudnya biar nanti aku sampaikan sama Tisya!"
"Nggak tahu sih, yang pasti papa menunggunya di kantor, soal surat perjanjian gitu!"
"Perjanjian? Maksudnya papa kamu nggak bilang perjanjiannya tentang apa?"
"Nggak tahu juga, aku sudah terlanjur kesal sama Tisya dan mama Tania soalnya! Mereka berdua itu egois!"
"Egois gimana ya?"
"Mereka itu tega banget ninggalin papa di saat perusahaan papa terpuruk, apalagi kebohongan yang di lakukan mama Tania, itu tidak bisa di maafin tau nggak!"
Jadi tuan Bactiar sengaja membolak-balik kan fakta ....., batin Wilson.
"Ahhhh maaf ya mai ..., aku harus duluan soalnya ada meeting penting hari ini!"
"Tapi Wil, ini kan akhir. pekan, lagian minuman mu belum datang!"
"Nggak pa pa, btw makasih atas traktirannya, sampai jumpa lagi, Bye ...!" ucap Wilson sambil meninggalkan Maira sendiri.
Flashback off
Bersambung
...Nggak usah di cari, kalau jodoh pasti ketemu. Jangan khawatir jika pun belum dapat, mungkin orang lain sedang menjaganya untukmu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5259
Happy Reading 🥰🥰🥰