
Hari ini di rumah dokter Frans terlihat begitu ramai. Begitu banyak tamu berdatangan setelah satu minggu bayinya lahir.
Rumah itu juga sudah di dekorasi begitu indah. Keluarga juga sudah berkumpul, nyonya Ratih begitu bersemangat menyambut tamu. Ia juga baru bisa dekat dengan nyonya Tania di acara ini, sebelumnya mereka tidak pernah dekat.
Felic bersama dengan baby sudah bersiap di bantu bi Molly dan ibunya.
"Cucu nenek benar-benar tampan dengan baju ini!" ucap Ibu Felic sambil terus menimang cucunya itu. Lisa juga sudah ada di sana bersama suaminya, mereka memilih berbaur dengan tamu-tamu yang lain.
"Sayang ...., ayo! Semua tamu sudah menunggu!" ucap dokter Frans yang tiba-tiba muncul dari luar.
"Iya sebentar!"
Fe pun menggantikan posisi menggendong baby boy. "Ayo sayang kita ketemu sama unty dan uncle!"
"Ibu belakangan saja, kalian turun dulu ya!"
Akhirnya Felic bersama dokter Frans turun, kehadiran mereka langsung di sambut dua sahabatnya beserta istri-istrinya.
"Siapa nih namanya?" tanya Agra yang sudah tidak sabar menunggu sahabatnya itu memberi nama pada anak pertamanya.
"Tunggu lah, kita nunggu pak kyai dulu sambil potong rambut!" ucap dokter Frans yang sedang menggendong putranya itu.
"Nahhh itu pak Kyai nya!" ucap Rendi sambil menunjuk ke pintu masuk. Seorang dengan baju koko warna coklat tuan dan peci putihnya, sarung yang melingkar di pinggangnya menjadi ciri khas juga sorban yang menggantung di lehernya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" jawab semua tamu yang hadir.
"Selamat datang pak Kyai!" sambut dokter Frans.
Acara hari ini adalah aqiqah sekaligus pemberian nama pada baby boy. Selain mengundang para kerabat, dokter Frans dan Felic juga mengundang beberapa anak yatim yang ada di panti asuhan terdekat.
Karena semua kursi di singkirkan dan menggelar tikar, semua tamu pun lesehan.
"Siapa nama bayi nya?" tanya pak Kyai sebelum memulai acaranya.
__ADS_1
"Zoe Zhafran Farendra!" ucap dokter Frans.
Pak Kyai pun mulai memulai membacakan doa untuk Zoe. Memotong sedikit rambut baby Zoe.
Div dan Ersya datang sedikit terlambat karena ia masih harus menjemput Iyya dari sekolah.
Kedatangan Div langsung di sambut dokter Frans dan kedua sahabatnya sedangkan Ersya memilih bergabung dengan para wanita.
"Maaf ya Fe, gue terlambat!"
"Iya nggak pa pa, kan bu bos sekarang sedang sibuk!"
"Jangan gitu ahh!"
Ersya mengedarkan pandangannya, ia seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Tisya nggak di sini!"
"Kenapa?"
"Salam ya, semoga mereka sehat semua!"
"Pasti aku sampaikan!"
Banyak sekali lika-liku kehidupan, kadang sedih, senang dan kecewa. Tidak yang perlu di sesali sesuatu yang sakit itu, karena sesuatu yang sakit bisa menjadi imun untuk menumbuhkan kekuatan di masa yang akan datang.
Acara berakhir dengan begitu sukses, satu per satu tamu mulai meninggalkan rumah itu.
Kini tinggal nyonya Tania yang masih tinggal di sana sebelum kembali menemani Tisya di rumah sakit.
Tiba-tiba bi Molly menghampiri mereka,
"Nyonya ada tamu!" ucapnya.
"Memang tadi masih ada yang belum datang ya ma?" tanya dokter Frans pada nyonya Tania.
__ADS_1
"Kan kamu yang tahu tamu mana yang belum datang!"
"Sepertinya sudah!"
"Ya sudah di temui dulu, biar Fe istirahat saja sama baby Zoe!"
"Nggak pa pa ma! Biar baby Zoe sama bibi aja sebentar!"
Felic menyerahkan baby Zoe pada bi Molly dan mereka pun menemui tamu yang masih tertinggal itu.
Seorang pria tua sedang berdiri membelakangi mereka dengan tongkat kayu di tangannya.
"Ayah!" ucap nyonya Tania.
Pria itu pun berbalik, dokter Frans dan Felic hanya saling menatap, mereka tidak pernah bertemu dengan pria yang di panggil ayah oleh nyonya Tania itu.
Mereka pun akhirnya duduk di sofa yang ada di ruang tamu, pria tua itu duduk sendiri di sofa besar itu, Felic dan dokter Frans duduk berdampingan sedangkan nyonya Tania duduk di sofa kecil yang lebih dekat dengan pria tua itu.
"Saya atas nama pribadi minta maaf!"
"Ayah ....., Tania kecewa sama ayah! Karena ayah Tisya hampir menjadi korban!"
"Saya tidak tahu jika akibatnya akan seperti itu, saya hanya ingin meminta pengakuan kalian, kakek kesepian! Saya memang salah, tapi jangan biarkan di masa tua saya, saya kesepian!
Saya juga ingin hidup dengan putri, cucu dan cicit saya!"
"Bagaimana Frans?" nyonya Tania malah bertanya pada putranya itu. Karena di sini Frans lah yang paling tersakiti, karena ulah kakeknya ia harus terpisah dari ibunya, karena ulah kakeknya ayahnya jadi tidak bisa benar-benar bersatu dengan mamanya.
"Frans ikhlas ma, biarlah semua yang lalu dan kita bisa memulai dengan yang baru yang lebih baik. Kalau masalah Gerry, biarkan dia jadi urusan polisi!"
...Sekian...
Terimakasih atas dukungan selama ini dengan kisah ini, jika ada pelajaran yang bisa di ambil maka ambil yang baik-baik nya ya
Untuk kisah Tisya dan Wilson selanjutnya, nanti insyaallah aku buatin extra nya ya
__ADS_1