
Setelah orang tua Felic meninggalkan rumah mereka, dokter Frans segera melepaskan tautan tangan mereka membuat Felic tercengang. Ia kira semua akan kembali baik setelah kehadiran kedua orang tuanya, tapi ternyata salah. Suaminya itu kembali dingin padanya.
Dokter Frans sebenarnya ada pekerjaan yang begitu penting. Ia punya janji dengan seseorang. Harusnya mereka janjian di jam kaman siang, tapi karena ada mertuanya ia harus menunda janjinya.
"Hallo ....!" ucap dokter Frans sambil meletakkan ponselnya di daun telinganya. Ia menelpon seseorang.
Felic terus mengikuti suaminya. Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan suaminya itu.
"Bagaimana?" tanyanya lagi sambil terus menempelkan ponselnya di daun telinganya.
"Baiklah ..., kita bertemu sekarang! saya on the way ke situ!"
Dokter Frans menutup sambungan telponnya dan segera menyambar jaket hitamnya dan segera memakainya.
“Frans …, mau ke mana?” tanya Felic yang sedari tadi terus mengikutinya tanpa berani bertanya.
“aku ada urusan!” ucap dokter Frans sambil pergi meninggalkan Felic begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal atau bye.
Felic hanya bisa terdiam. Ia berfikir jika hari ini suaminya itu tidak akan kemana-mana jadi mereka bisa menghabiskan waktu pekannya bersama-sama.
Setelah dokter Frans pergi, Felic bingung harus melakukan apa.
Felic pun akhirnya menghabiskan waktu akhir pekannya hanya dengan menonton televisi, walaupun ia tidak menyukai acaranya, tetap saja ia menontonnya hanya untuk mengusir kejenuhannya.
...***...
Dokter Frans sampai di tempat tujuannya. Ia menemui dokter yang menjadi bagian pemeriksaan BP POM untuk beberapa produk kecantikan.
"Hai Frans ...., sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, duduklah ....!"
"Terimakasih!"
Dokter Frans pun duduk, ia menemui teman seangkatannya saat kuliah dulu. Mereka sama-sama menjadi dokter yang sukses. Namanya dokter Caterina.
"Ada apa hingga membuat dokter sekelas dokter Frans ini mau menemui saya?" tanya dokter Caterina.
"Ini ....!" ucap dokter Frans sambil menyodorkan sebuah berkas ke depan dokter Caterina.
"Ini apa?"
"Saya mau, kamu bantu saya buat periksa berkas itu dan melakukan lab ulang pada beberapa produk itu!"
"Ada apa ini?"
"Sebenarnya ada masalah pribadi dengan pemiliknya, saya hanya ingin memberi pelajaran saja pada mereka!"
"Apa tidak akan keterlaluan? Arau ini gara-gara kejadian beberapa hari yang lalu?"
"Iya ...., kurang lebih seperti itu!"
"Saya turut berduka cita yang atas kegugurannya janin istri kamu, aku melihatnya di berita!"
"Terimakasih!"
"Baiklah ...., kita bisa lakukan sekarang jika kamu tidak keberatan!"
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik!"
"Tapi saya butuh bantuan kamu ya, kita harus pergi ke beberapa toko dan langsung ke lab, bagaimana?"
"Baiklah ...., ayo ....!"
Dokter Frans dan dokter Caterina pun pergi ke berbagai toko kosmetik dari tempat-tempat yang berbeda kemudian mereka langsung menuju ke lab untuk melakukan pengujian.
...***...
Felic masih dengan kegiatannya nonton televisi karena tidak ada yang bisa ia lakukan lainnya. Bahkan jika ia mau menulis pun rasanya tidak sanggup karena moodnya akhir-akhir ini begitu buruk.
Hingga akhirnya ia tertidur di depan televisi.
"Kasihan sekali nyonya ...!" ucap bi Molly yang sedari tadi hanya menemani nyonya-nya itu. Ia bahkan tidak berani mematikan televisi nya, takut jika nyonyanya akan terbangun.
Karena urusannya kali ini begitu rumit, dokter Frans terpaksa harus pulang begitu larut akhir-akhir ini.
Dokter Frans sedikit terkejut karena yang menyambutnya bi Molly. Selama ini walaupun ia bersikap dingin, tapi ia sebenarnya senang jika istrinya yang menyambutnya saat pulang.
Tapi kali ini tidak seperti biasanya karena bi Molly yang menyambutnya.
Padahal biasanya walaupun sudah malam, Felic yang akan menyambutnya.
“Selamat malam, tuan!” sapa bi Molly. Dokter Frans mengedarkan pandangannya, berharap menemukan yang ia cari tanpa bertanya.
Dan sepertinya bi Molly mengerti apa yang di maksud tuannya tanpa perlu bertanya.
“Nyonya tertidur di depan televisi, tuan! Kasihan sekali nyonya, tuan!"
"Seharian ini ia hanya sibuk
menonton tv, tuan! Ia pasti sangat bosan, walaupun acaranya tidak bagus nyonya tetap menontonnya hingga nyonya tertidur di sana!” ucap Bi Molly sambil menunjuk Felic yang sedang meringkuk di sofa yang ada di depan televisi.
Dokter Frans pun berjalan mendekati istrinya itu, Felic tertidur begitu pulas sambil memeluk bantal. Ia terus menatap istrinya itu.
“Bibi tidurlah …, biar Felic bersamaku!”
“Baik tuan!” ucap bi Molly dan segera meninggalkan tuannya itu.
Setelah bi Molly pergi, dokter Frans menghampiri felic yang tertidur pulas meringkuk di sofa. Ia pun meletakkan jaketnya di sofa kecil yang ada di sebelahnya. Ia menatap wajah
istrinya, tampak sekali wajahnya begitu pucat, tidak ada polesan apapun di sana, bahkan tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
“apa dia tidak merawat tubuhnya dengan baik?”
"Dia pasti sangat menderita, aku juga sebenarnya sangat menderita jika harus seperti ini, tapi rasanya masih belum bisa melupakan semuanya, maafkan aku!" ucap dokter Frans sambil terus menatap wajah istrinya itu tanpa berani menyentuhnya.
Setelah puas menatap wajah istrinya, Dokter Frans pun segera mengangkat tubuh Felic, membopongnya dan membawanya ke kamar.
Ia terus menatap wajah istrinya yang begitu tenang dalam tidurnya itu. Hingga ia tidak sadar jika sudah hampir sampai di kamarnya.
Felic yang merasakan tubuhnya melayang ke udara segera membuka matanya. Ternyata ia sudah berada dalam gendongan suaminya.
“Frans …!” ucap Felic pelan.
__ADS_1
“hemmm!” jawab dokter Frans dan kembali melanjutkan langkahnya.
Felic tersenyum setidaknya sekarang ia tahu jika suaminya itu masih sangat mencintainya. Tidak perlu bicara, ia sudah tahu jika itu nyata. Ia tidak sedang bermimpi.
Felic pun mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu dan senyum pun tidak pernah pudar dari bibirnya.
“Frans …, aku merindukanmu!”
Dokter Frans menatapnya dan kembali fokus ke dapan. Ia tidak menjawab ucapan istrinya, ia juga sangat merindukan istrinya itu tapi masih begitu sulit mengatakannya.
Akhirnya meraka sampai di dalam kamar, dokter Frans menidurkannya di tempat tidur.
“Tidurlah …!” ucap dokter Frans, lalu beranjak hendak pergi tapi Felic
kembali menahan tangannya saat dokter Frans yang hendak meninggalkannya.
“Frans aku merindukanmu …!” ucap Felic lagi, dokter Frans tahu apa maksud ucapan istrinya. Sepetinya memang sudah habis masa nifas Felic.
“Fe …, aku capek, aku mau mandi dulu, jadi tidurlah ....!” ucap dokter Frans yang masih saja berusaha menghindar.
Felic segera melingkarkan lengannya ke pinggang suaminya itu, ia mulai menangis.
“Frans …, jangan seperti ini …, aku merindukanmu! Maafkan aku, aku memang salah tapi jangan terus hukum aku seperti ini, aku nggak kuat Frans, mengertilah ....., aku juga terluka Frans …!” ucap Felic sambil sesenggukan menahan tangis.
“Tidurlah …!” ucap dokter Frans sambil berusaha melepaskan tangan Felic, tapi Felic malah semakin mengeratkan nya.
“enggak ..!” ucap Felic begitu memaksa.
Dokter Frans pun akhirnya menyerah, ia duduk di samping Felic dan memintanya untuk kembali tidur.
Felic terus memegang tangan suaminya itu.
"Mendekatlah ....!" pinta Felic lagi, "Aku mohon ....!" kali ini dengan wajah memelas.
Hal itu membuat dokter Frans tidak tega, ia pun akhirnya menemani Felic tidur, ia tidur di samping Felic walaupun tetap tidak mau bicara.
Cup
Felic tiba-tiba mencium bibir dokter Frans, tapi dokter Frans tetap saja diam tanpa memberi reaksi apapun.
“Frans …, aku merindukanmu!” ucap Felic lagi saat suaminya itu tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Aku sedang tidak ingin, tidurlah …, sudah malam!” ucap dokter Frans lagi, ia memilih merebahkan tubuhnya di samping Felic.
...Aku rindu, tapi aku tidak mendatangimu. Aku ingin bicara tapi aku tidak mengatakan apapun padamu. Aku hanya sedang berusaha agar tidak menyakitimu, karena mungkin jika aku bicara aku akan mengatakan hal yang berbeda dengan yang ada di hatiku~ dr. Frans...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1