Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Belajar memasak


__ADS_3

"Sudah selesai!" ucapan Wilson berhasil membuat Maira tersadar dari lamunannya, sedari tadi gadis itu tidak mendengarkan ataupun memperhatikan penjelasan dari pria tampan itu tapi malah sibuk mengagumi wajahnya.


"Ahhh sudah ya, padahal masih kurang!"


Maira malah tersenyum dengan sedikit gelagapan karena tiba-tiba Wilson menatapnya. Di tatap saja sudah membuat jantungnya tidak karuhan apalagi kalau sampai jadi pacarnya.


Wilson mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh gadis cantik di sampingnya itu,


"Apanya yang kurang?"


"Bukan apa-apa, masih kurang lama aja!"


Sepertinya Wilson tidak terlalu memperhatikan ucapan Maira, ia hanya langsung melihat ke dinding. Mengamati jarum jam yang sudah menunjuk ke angka tiga, kalau di hitung dari keluarnya, Tisya sudah dua jam dan belum kembali.


"Aku harus mencari Tisya!" ucap Wilson sambil bergegas berdiri.


"Jangan khawatir, tadi pas kamu ke kamar mandi, Tisya telpon. Maaf ya aku angkat!"


"Dia bicara apa?"


"Katanya di rumah mama, mungkin pulangnya sorean, kamu di suruh makan siang sendiri! Jadi kamu belum makan siang?"


"Belum, tapi aku akan segera makan siang, kalau kamu ada acara, kamu boleh pergi sekarang!"


"Kamu kok ngusir sih!" Maira menunjukkan wajah kecewanya.


"Bukan ngusir, nggak enak aja kalau kamu lama-lama di sini, apalagi cuma berdua!"


"Kita kan nggak ngapa-ngapain juga di sini, lagian kamu sama Tisya juga cuma berdua kan di sini, nggak pa pa!"


Krukkkkk kuuukkkkkk


Perut Wilson berbunyi, ia lupa jika belum makan.


"Tuh kan kamu lapar, ya udah gini aja deh sebagai ganti karena kamu udah bantu aku, aku akan masakin buat kamu!"


Tanpa menunggu persetujuan Wilson, Maira pun segera menuju ke dapur, saat menyadari jika Wilson tidak mengikutinya. Ia pun berhenti di ambang pintu dapur.


"Ayo wil ...!"


Wilson yang masih berdiri di tempatnya segera menyusul Maira.


"Bentar biar aku periksa lemari pendingin kamu, ada apa saja!"


Maira begitu cekatan membuka lemari pendingin Wilson, ia mengeluarkan apa saja yang bisa di masak. Maira jauh lebih mandiri dari pada Tisya, ia terbiasa hidup jauh dengan keluarga, di luar negri ia juga masak sendiri. Walaupun dekat dengan ibu kandungnya, tapi Maira tetap memilih untuk tinggal sendiri.


Menurutnya hidup sendiri itu lebih bebas, ia bisa pulang kapan saja tanpa di tanya ini itu, bebas bergaul dengan siapa saja.


Saat ini pun, Maira memilih tinggal di apartemen ketimbang tinggal bersama papa nya.

__ADS_1


Mereka hanya akan bertemu saat di kantor, itu pun tidak setiap hari. Setelah peristiwa itu, Maira seperti sengaja menjaga jarak dari papa nya, ia terlalu kecewa dengan papanya.


Wilson pun memilih untuk duduk dan mengamati Maira yang sedang memasak, ia merasa kagum dengan gadis di depannya. Walaupun putri orang kaya tapi wanita di depannya itu terlihat sangat mandiri dan tidak manja.


Seandainya Tisya bisa seperti Maira, kami tidak perlu bertengkar setiap hari gara-gara hal kecil ....


Di sadari atau tidak, meskipun bersama Maira tapi pikiran Wilson masih pada gadis manja dan tidak bisa melakukan apapun dengan benar itu.


"Kamu suka pedas atau tidak?" tanya Maira saat ingin memasukkan cabai yang sudah di potong kecil-kecil.


"Suka!"


"Baguslah, aku juga suka tapi dokter melarang ku untuk makan pedas, tapi aku suka mencuri-curi kesempatan untuk memakannya!" ucap Maira sambil memasukkan potongan cabai yang ada di atas talenan dan dengan tangan lincahnya mulai mengosengnya bersama bumbu lain nya dan juga sayur, bakso, sosis dan potongan ayam. Maira membuat cap cay dengan rasa pedas.


"Memang kamu sakit apa?"


"Bukan apa-apa, aku hanya sedikit luka lambung, dulu parah tapi setelah melakukan banyak pengobatan, sekarang sudah lebih baik! Jadi jarang kambuh, kalau makannya nggak teratur suka kambuh!"


Setelah setengah jam akhirnya makanan buatan Maira jadi juga.


...****...


Di tempat lain, gadis manja itu juga melakukan hal yang sama. Dia memang juga sangat lincah memegang centong sayur, tapi lincah dan berhasil menghancurkan dapur mamanya.


"Sekarang gimana ma rasanya?" ucapnya sambil mengacungkan centong sayur pada mamanya, meminta mamanya untuk mencicipi masakan perdananya.


Nyonya Tania yang cuka geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya itu segera mendekatkan bibirnya, mencicipi sedikit hasil masakan putrinya.


Wajah Tisya berubah kecewa, "Jadi cuma lumayan ya ma?"


"Lumayan enak sayang untuk pemula sepertimu!"


"Beneran ma?"


"Iya!"


Tisya begitu senang, ia tidak langsung memakan makanannya.


"Ma, Tisya nggak jadi makan di sini ya, aku mau bawa pulang masakan Tisya dan memakannya bersama Wilson!"


"Tadi katanya belum makan sayang!"


"Nggak pa pa, Wilson pasti juga belum makan!"


"Ya udah kamu kamu masukin ke rantang aja ya!"


"Siap mama!"


Tisya pun begitu semangat untuk memasukkan semua masakannya ke dalam rantang, dan menyisakan sedikit untuk mamanya.

__ADS_1


"Tisya pulang dulu ya ma!"


"Kamu mau jalan kaki?" tanya nyonya Tania yang sudah melihat putrinya itu begitu semangat untuk membawa pulang masakannya, bukan masakan yang bagaimana, hanya sebuah oseng kangkung bercampur udang.


"Nggak ma, Tisya lari!" teriak Tisya sambil terus meninggalkan rumah mamanya.


Dan benar saja, Tisya berlari agar cepat sampai di rumah, ia hanya butuh waktu tujuh menit untuk sampai di rumah.


Ceklek


"Aku pulang!" ucap Tisya, langkahnya terhenti saat melihat Wilson dan Maira berada di meja makan lengkap dengan makanan yang sudah tersaji di meja.


Mereka sudah makan berdua.


"Tisya, sini duduk! Tadi kakak masak loh ..., ayo cicipi!" ucap Maira sambil menggeser kursi kosong di depan mereka.


Tau gini aku nggak perlu repot-repot masak, kucing ini sudah ada yang masakin, kenapa aku bisa lupa kalau kak Maira jago masak, dia pasti lebih suka masakan kak Maira ...


"Duduklah ..., masakan Maira sangat enak ternyata!" ucap Wilson yang terlihat begitu menikmati masakan Maira.


Tisya pun dengan senyum masamnya mendekati mereka.


"Kamu bawa apa?" tanya Maira.


Tisya sampai lupa dengan rantang yang ada di tangannya,


"Ahhh ini ...!" Tisya menjeda ucapannya sambil mengangkat rantang di tangannya. Kemudian ia melanjutkan ucapannya kembali.


"Ini makanan dari mama, tadi mama yang masak, mama bilang kasihan kalau Wilson nggak makan! Padahal tadi aku udah bilang mau habiskan sendiri, tapi sama mama nggak boleh, dia maksa banget suruh bawain Wilson! Karena Wilson udah makan, jadi aku simpen aja di lemari pendingin ya!"


Tisya pun segera berlalu menuju ke lemari pendingin dan melepaskan rantang itu dari tentengannya dan memasukkan satu per satu rantang itu ke dalam lemari pendingin.


"Kamu sudah makan?" tanya Wilson lagi saat melihat Tisya tidak juga duduk bersamanya, padahal ia tahu jika Tisya paling semangat jika di ajak makan.


"Udah tadi di rumah mama, ya udah kalian lanjutkan aja ya, aku ke kamar dulu, gerah banget mau mandi!"


Tanpa menunggu jawaban dari Wilson ataupun Maira, Tisya pun segera masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya itu dengan pelang.


Spesial Visual Maira



Bersambung


...Hati ini aneh, hati ini bisa berubah kapan saja, tapi saat aku mencoba mencaritahu tentang isi hatiku, aku semakin sadar jika bukan dia yang aku mau, tapi kamu...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2