
Hari-hari Zea sebagai putri dari seorang pengusaha kaya mulai ia lalui, ia memanfaatkan semua fasilitas yang di berikan oleh pak Seno untuk melindunginya.
Zea yang saat ini bukan lagi Zea yang mudah untuk di tindas seperti waktu itu.
Ia bahkan kemana-mana dengan pengawalan ketat, tuan Seno juga sudah tinggal di rumah Zea. Ia memanfaatkan waktunya dengan baik agar bisa bersama dengan putrinya, melihat pertumbuhan putri dan cucu yang masih dalam kandungan sang putri.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya sama papa!"
"Pasti pa, terimakasih untuk semuanya! Tapi sungguh ini lebih dari cukup!"
"Dan lagi, mulai hari ini papa akan tinggal di sini sama kamu!"
Mendengar hal itu, Zea langsung tersenyum lebar, "Beneran pa?"
Tuan Seno menganggukkan kepalanya dengan mantap,
"Zea seneng banget, akhirnya ada papa juga!"
Tuan Seno memeluk putrinya dengan begitu erat, ia benar-benar ingin merasakan kedekatan itu. Rasanya ia bisa melihat kembali wanita yang begitu ia cintai dalam diri putrinya dan tidak ingin siapapun berani untuk menyakitinya.
"Bagaimana persiapannya untuk besok?" tanyanya lagi setelah melepas pelukannya pada sang putri,
"Besok? Persiapan apa ya pa?"
"Iya, besok jadwal kamu ketemu sama Rangga!"
"Benarkah pa?" lagi-lagi Zea di buat bahagia, dengan hanya membayangkan bisa bertemu setiap hari dengan Rangga membuatnya begitu bahagia.
"Hmmm!"
Ia benar-benar tidak sabar menunggu besok pagi, kerja samanya dengan Rangga sudah sangat ia tunggu.
"Zea pasti akan melakukan yang terbaik untuk papa!"
"Papa tahu itu!"
...***...
Pagi ini tampak Rangga sudah siap di depan ruangan Div, ia tengah menunggu pria itu selesai berbicara dengan sekretaris Revan.
"Masuklah!" perintah sekretaris Revan saat pria dengan kaca mata itu keluar ,
"Apa ada yang penting?"
"Sangat, ini mengenai proyek yang belum kamu selesaikan!"
"Tapi bukankah itu akan segera selesai?" Rangga terlihat khawatir karena memang sudah satu Minggu ini mereka Tidka pernah membahas masalah proyek itu. Seharusnya proyek itu sudah selesai dalam dua bulan lalu, tapi karena Rangga kecelakaan proyek itu harus di hentikan sementara.
"Masuklah, bos ingin bicara sendiri padamu!"
"Baiklah, aku mengerti!"
Walaupun dengan wajah was-was, Rangga pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Divta tengah duduk dengan sebuah berkas di tangannya,
"Kamu tahu apa alasan kamu saya panggil ke sini?"
"Tidak pak!"
"Lihat berkas ini!" Divta melemparkan berkas itu hingga mendarat di meja yang berada tepat di depan Rangga. Rangga pun perlahan mengambilnya, walaupun ia tahu berkas itu seharusnya dia yang menangani tapi dalam dua bulan ini ia mengalami hilang ingatan jadi ia akan memulainya dari awal lagi untuk mempelajarinya.
"Maafkan saya pak, ini seharusnya tugas saya!"
"Baguslah kalau kamu mengerti!"
__ADS_1
"Saya akan melanjutkannya!"
"Bagus, saya sudah mempertaruhkan diri saya dalam proyek ini, jadi lakukan dengan sebaik mungkin. Kalau memungkinkan kalian untuk lembur, lakukanlah!"
"Siapa partner saya sekarang pak?"
"Dari perusahaan tuan Seno, kamu sekarang segera ke tempat tuan Seno dan lakukan meeting dengannya!"
"Bukankah yang lalu, kita gagal karena_!" Rangga tahu proyek itu pernah gagal karena ulah Miska. Tapi ia tidak tahu ulah Miska yang seperti apa yang membuatnya gagal.
"Pihak perusahaan tuan Seno sudah mengganti dengan orang lain, jadi manfaatkan dengan baik kesempatan yang ada, jika perlu kamu jadi tutornya agar proyek ini berjalan dengan baik!"
"Mengerti pak!" kemampuan Rangga sudah tidak bisa di remehkan lagi, meskipun ia kehilangan sebagian ingatannya tapi tetap saja ia bisa bekerja dengan maksimal.
"Kalian akan bertemu jam sebelas, kalau memungkinkan kalian bisa bekerja di satu tempat hingga proyek ini selesai, jangan mengerjakan pekerjaan lain sebelum proyek ini selesai!"
"Baik pak, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi!"
Rangga segera berpamitan karena sekarang sudah jam sepuluh, satu jam lagi ia harus bertemu dengan partner barunya.
"Kamu mau kemana Ga?" langkah Rangga yang cepat kembali di hentikan oleh sekretaris Revan.
"Mau ke perusahaan nya tuan Seno?"
"Ohhh, semangat ya!" tampak wajah sekretaris Revan secerah matahari pagi sambil mengangkat tangannya memberi semangat membuat Rangga mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"Pokoknya semangat!? Cepat pergi saja, tuan putri sedang menunggu!"
Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya dan meninggalkan sekertaris Revan yang masih tetap dengan senyum sumringahnya seakan baru saja mendapat lotre,
"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Rangga sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Tapi ia tidak mau ambil pusing karena ia sudah sangat terburu-buru.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Seno, apa beliau di ruangannya?" tanyanya pada petugas resepsionis.
"Dengan tuan_?
"Rangga!"
"Baik, sebentar, saya akan menghubungi tuan Seno terlebih dulu!"
Terlihat resepsionis mulai melakukan panggilan pada tuan Seno, Rangga tetap berdiri di balik meja resepsionis dengan ujung jari yang ia ketuk-ketukak di atasnya, rasanya satu detik saja begitu berguna saat ini. Ini sudah hampir jam sebelas, dan karirnya di tentukan dengan proyek ini.
Akhirnya petugas resepsionis mengakhir panggilannya,
"Tuan Seno di ruangannya, anda sudah di tunggu. Mari saya antar!"
Rangga pun akhirnya mengikuti langkah petugas resepsionis yang sudah berjalan di depannya.
Hingga mereka sampai di depan sebuah pintu besar yang berbahan kayu dengan warna cat putih tampak elegan.
"Silahkan!" ucapnya dengan tangan yang sudah membuka pintu. Saat tangga masuk beberapa langkah, terdengar pintu di belakangnya tertutup dari luar.
Rangga menatap pada pria yang tengah berjalan menyambutnya, dia kenal siapa pria itu,
"Selamat datang, Rangga!" sambutnya dengan begitu ramah, ini adalah sambutan paling ramah selama ia mengenal tuan Seno.
Kenapa hari ini semuanya terlihat aneh?
Bahkan tuan Seno pun memperlakukan dengan istimewa, "Terimakasih tuan Seno, kedatangan saya ke sini untuk menemui partner baru saya_!"
"Saya tahu, saya yang akan mengantarkan ke ruangannya!"
__ADS_1
"Anda tidak perlu repot-repot, biar saya saja yang_!"
"Jangan sungkan, mari!" tuan Seno bahkan begitu ramah mengajaknya menuju ke ruangan karyawannya.
"Baiklah!"
Mereka pun berjalan menyusuri lorong,
"Jika nanti kalian butuh tempat kusus untuk menyelesaikan proyek ini, kalian bisa memilih tempat di manapun yang kalian sukai!"
"Sepertinya tidak perlu seperti itu tuan, karena mungkin kami akan lebih banyak di lapangan dan akan kembali mengerjakan berkas pada sore hari!"
"Baguslah!"
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah ruangan, tuan Seno segera mengetuk pintu itu dan membukanya.
"Masuklah, saya akan meninggalkan kalian berdua, kalau butuh sesuatu bisa hubungi saya atau ajudan saya!"
"Baik tuan!"
Tuan Seno pun segera meninggalkan tempat itu tanpa berniat untuk ikut masuk bersama Rangga.
Setelah memastikan tuan Seno tidak terlihat lagi, Rangga pun akhirnya masuk ke ruangan dengan pintu yang sudah di buka sebagian itu,
"Permisi_!" ucapan Rangga terhenti saat melihat siapa yang tengah berdiri di depannya kini, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, "Kamu? Maksudnya nona Zea?"
Zea pun tersenyum dan mempersilahkan Rangga untuk duduk,
"Silahkan!"
Setelah Rangga duduk, ia baru kembali mempertanyaan hal ini,
"Jadi nona Zea partner saya?"
"Iya, apa ada masalah?"
"Sebenarnya, ini pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga, dan nona_!"
"Panggil saja saya Zea, dan saya akan memanggil anda Rangga. Bukankah begini lebih enak?"
"Baiklah, kamu sedang hamil. Ini perkejaan yang sulit, kita akan sering ke lapangan!"
"Saya percaya sama kamu!"
"Maksudnya?"
"Kita akan jadi partner yang baik nanti, kamu adalah partner terbaikku!"
"Bagaimana kamu bisa seyakin ini?"
"Nanti kamu juga tahu, Ga!"
Melihat sebegitu yakinnya Zea, Rangga pun akhirnya bisa menepis keraguan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1