Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Luka yang kau buat


__ADS_3

Setelah Tisya meninggalkannya rumah, Wilson pun segera mengambil ponselnya yang ia tinggal di dalam kamar.


Alat penyadap itu sudah otomatis ia sambungkan ke ponselnya, ia juga menggunakan aerophone untuk mendengarkan segala pembicaraan Tisya dengan tuan Bactiar.


"Astagfirullah ...., dia berisik sekali!" keluh Wilson saat mendengarkan ocehan Tisya di dalam angkot.


"Sudah di kasih saku banyak, masih juga naik angkot, lama-lama dia jadi mirip kakaknya!" gumam Wilson lagi.


"Astagfirullah ...., kenapa aku jadi membicarakan tuan dokter sih ...!" Walaupun jauh tetap saja pria itu seperti bayangan baginya. Apapun yang di kerjakan olehnya seperti sudah langsung bisa di tebak olehnya.


Wilson kadang tidak habis pikir dengan arah pemikiran tuan dokternya itu. Walaupun banyak uang tapi setiap kali bepergian jarang menggunakan alat transportasi khusus, atau VVIP, ia lebih suka menggunakan pesawat ekonomi, atau angkutan umum seperti bus, ojek, kereta api bahkan untuk ke rumah sakit, dokter Frans lebih suka jalan kaki, atau menukarkan mobilnya dengan motor milik satpam rumah sakit untuk beberapa hari.


"Lama sekali sih dia sampainya!" gerutu Wilson saat Tisya masih berada di perjalanan.


...***...


Tisya memilih menggunakan angkutan umum karena melihat uang warna merah itu sayang untuk di berikan begitu saja pada sopir taksi, kalau ia memberikannya pada sopir angkot setidaknya nanti dompetnya masih ada isinya warna merah.


Akhirnya angkot berhenti juga di depan perusahaan Bactiar group.


Tisya segera memberikan uang kepada kenek angkot.


"Terimakasih ya bang!"


Setelah Tisya turun, angkot pun kembali berjalan. Tisya masih harus menyeberang jalan untuk sampai di sana.


Ia berdiri di samping rambu zebra cross menunggu sampai lampu untuk jalan menyala hijau dan lampu untuk kendaraan menyala merah.


Hanya ada dia sendiri yang berdiri di sana, hingga cukup lama untuk menunggu lampu itu menyala hijau.


Setelah cukup lama, akhirnya beberapa orang berdiri di belakangnya, tepat saat lampu. mulai menyala hijau, mobil-mobil yang melintas mulai memperlambat lajunya.


Tisya berjalan di atas zebra cross itu bersama orang-orang lainnya, langkahnya kembali terhenti di tengah, di pemisah jalan yang berlawanan itu. Ia kembali menunggu, tapi tidak lama lampu kembali menyala hijau.


Dengan cepat Tisya berjalan dan menuju ke depan gedung perusahaan itu. Ingatannya tentang gedung itu kembali terngiang di kepalanya.


Hehhhhh ....


Tisya menghela nafasnya panjang, ia tidak mau terpaku pada masa lalu, ia akan meyakinkan pada dirinya jika ia bisa dengan keputusannya sendiri.


"Ahhhh kenapa jadi grogi kayak gini sih ....!" gumam Tisya sebelum masuk ke kantor itu.


"Aku harus ke toilet!"


Tisya pun terlebih dulu ke kamar mandi, ia berdiri di depan cermin besar yang ada di depan toilet, menatap wajahnya. Memastikan tidak ada yang aneh dengan penampilannya.


"Aku sudah rapi kan, cantik juga aku ...!" ucap nya mengagumi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ahhhh kenapa aku bisa se nervous ini sih ....!?" gumamnya lagi, ia kembali menambal riasannya.


Beberapa kali menghela nafasnya, mengatur nafasnya agar tidak terlihat kalau dia sedang gugup.


"Apa aku perlu mempraktekannya dulu? Aaahhhh iya kayaknya!"


Tisya pun berdiri tegak menatap cermin.


"Bagaimana Tisya, apa kamu sudah menentukan keputusanmu?" ucap Tisya menirukan suara tuan Bactiar.


Hem hem hem


Tisya menormalkan kembali suaranya.


"Saya sudah menentukannya pa, saya tidak bersedia menerimanya!"


"Kenapa? Apa ini semua kurang?"


"Tidak ...., karena aku sudah nyaman hidup susah!" ucap Tisya tapi ia kembali memikirkan kata-kata nya,


"Tapi memang papa percaya kalau aku sudah nyaman hidup susah, memang siapa yang suka hidup susah, ada ada aja kamu Tisya!"


Ceklek


Seseorang keluar dari dalam toilet membuat Tisya terkejut dan segera menoleh pada orang itu. Ia mengira jika tidak ada siapapun tadi di dalam.


Maira pun memilih untuk menuju samping Tisya membuat Tisya mengikuti arah Maira, Maira mencuci tangannya dan merapikan rambutnya sebentar.


"Kak Maira kenapa tidak bilang sih kalau di dalam?" tanya Tisya.


"Memang kamu tanya kalau aku di dalam? Enggak kan?" tanya Maira.


"Tapi tadi seprtinya__!" ucap Tisya menggantung.


"Sepertinya apa? Tidak mendengar ada orang di dalam? Memang kalau di dalam toilet itu harus teriak-teriak kayak kamu ya!"


"Ya bukan gitu kak!"


"Kamu tadi ngomong sendiri?" tanya Maira saat tidak mendapati siapapun kecuali Tisya.


"Iya ....!"


"Kamu sudah mulai nggak waras ya? Ngapain ke sini?"


"Mau ketemu sama papa!"


"Ohhhh ...., tentang perjanjian itu ya? Memang perjanjian apa?" tanya Maira.

__ADS_1


Kalau aku katakan sebenarnya, memang kak Maira bakal bela aku, nggak deh ...., jangan deh nanti malah tambah runyam urusannya ...., batin Tisya.


"Bukan apa-apa, cuma soal pekerjaan! Ya udah aku temui papa dulu ya kak!"


Tisya pun segera menyambar tasnya yang ada di depan cermin besar itu dan meninggalkan Maira sendiri.


"Aku jadi penasaran ...., sebenarnya perjanjian apa sih?!" gumam Maira. Ia pun segera keluar dari toilet dan mengejar Tisya, ia ingin tahu apa yang akan di bicarakan Tisya pada papanya.


Tisya sudah berdiri di depan pintu lift, menunggu hingga pintu lift itu terbuka.


Tidak berapa lama pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari lift itu dan berpapasan dengan Tisya, sebagian mereka ada yang mengenali Tisya sebagai putri pemilik perusahaan itu, mereka memberi salam pada Tisya.


Tapi sebagian yang termakan gosip panas, hanya menatap Tisya sewot. Bahkan ada yang menggunjing nya.


Kini gosip miring tentangnya begitu merugikan Tisya, tentang pemalsuan identitas, tentang batalnya pertunangan, tentang hamil duluan dan yang terbaru adalah gosip kalau Tisya diam-diam di kabarkan menikah karena hamil duluan.


Benar-benar gosip yang mengada-ada ...., orang kerempeng gini mana ada yang hamil ....., batin Tisya.


Tisya pun tidak mau ambil pusing, ia pun segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol yang akan menuju ke ruang tuan Bactiar.


Belum sampai di ruangan yang di tuju, pintu lift sudah terbuka, seseorang berdiri di depan lift segera ikut masuk, seperti ia juga ke lantai yang di tuju oleh Tisya.


Tisya terpaku di tempatnya, begitupun dengan pria itu, sepertinya pria itu tidak menyadari jika yang di dalam adalah Tisya.


"Tisya__!" pekik pria itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu,


"Seperti yang mas lihat, aku baik-baik saja meskipun tanpa mas Rizal!" ucap Tisya ketus, hatinya masih terlalu sakit dengan penghianatan yang di lakukan oleh pria yang sedang berdiri di sampingnya itu.


"Tisya ...., aku sangat menyesal dengan semua yang terjadi, kamu masih terlalu muda untuk tahu tentang cinta, aku kira perasaanku padamu adalah cinta, tapi aku salah ...., maafkan aku ....! Perasaanku padamu ternyata cuma sebuah luapan rasa kesepian ku!" ucap Rizal


Tisya hanya tersenyum hambar penuh luka,


"Mudah sekali mengatakan hal itu setelah apa yang kamu lakukan pada ku, itu Jahat ...!"


Akhirnya pintu lift pun kembali terbuka, Tisya pun segera keluar dari dalam lift. Ia tidak mau melihat lagi pria itu, lukanya terlanjur besar dengan pria itu.


Bersambung


...Hati itu seperti kaca, jika sudah pecah mungkin kamu bisa menyatukannya kembali tapi kamu tidak akan pernah sanggup menjadikannya utuh seperti sedia kala...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2