Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Reoni SMA


__ADS_3

“Fe…., tadi ibu dapat ini di depan rumah, sepertinya ini untukmu!” ucap ibu Felic


sambil menyiapkan bekal untuk ayahnya. Ayahnya seorang satpam komplek perumahan


elit. Ia tidak akan sempat pulang untuk makan siang, hari ini ayahnya mendapatkan sift jaga siang.


Felic sedang berdiri di atas tangga, ia sudah bersiap untuk bekerja. Felic melihat ayah dan ibunya sedang berada di meja makan.


“Apa bu?” Tanya Felic, ia sudah menenteng tasnya hendak berangkat kerja. Ia dengan


penampilan yang apa adanya itu, celana panjang dan kaos.


“Nggak tahu, kayaknya undangan!” ucap ibu Felic sambil menunjukkan sebuah undangan.


"Undangan pernikahan lagi ya Bu?" tanya Felic malas, ia paling kesal setiap kali mendapat undangan pernikahan, pasti ujung-ujungnya selalu sama, pertanyaannya kapan nikah? kapan nyusul? itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling di hindari oleh Felic dari pada membuat moodnya ancur.


"Bukan deh kayaknya!"


Felic pun memilih menuruni tangga, ia ikut duduk bersama ayahnya. Tidak biasanya ia


sarapan di rumah, biasanya ia lebih suka makan nasi pecel milik bu Tumi yang


berada di pinggir jalan dan membungkusnya di bawa ke tempat kerjanya. Tapi


karena undangan itu ia jadi ikut duduk bersama ayah dan ibunya di meja makan.


Ia begitu malas setiap kali berada di meja makan, pasti topiknya akan sama. Felic


membuka undangan itu dan membacanya.


“Reoni!?" baca Felic pada kertas itu.


Rasanya malas mengikuti reoni seperti itu, ia teringat reoni tahun lalu. ia bahkan


menjadi bahan gossip seluruh temannya, hanya dia yang tidak membawa


pasangannya. Sebelum acara di mulai ia memilih untuk pulang lebih dulu karena nggak suka dengan komentar-komentar teman-temannya.


Kalau cowok sih mending, nggak akan ada yang ngomongin, tapi entah


kenapa jika itu seorang wanita yang tidak menikah-menikah akan jadi bahan


gossip di manapun tempatnya.


“Reoni …?” ibu Felic tersenyum senang.


“Itu bagus …, kamu harus ikut! Kamu bisa dapat jodoh nanti di sana, kan teman-teman SMA kamu yang cowok banyak yang belum


nikah, dekati salah satu dari mereka …”


“Males ah bu …!” jawab Felic dengan nada malas-malasan. Ia benar-benar tidak tertarik dengan acara reoni itu, selain harus ngeluarin uang, dia juga bakalan jadi bulan-bulanan.


Felic tahu pasti akan seperti itu jadinya. Ia memilih bangun dari duduknya dan segera


meninggalkan meja makan. Ia tidak jadi sarapan di rumah, ia memasukkan undangan


itu ke dalam tas kainnya. Meninggalkan ibunya yang terus mengomel tidak jelas

__ADS_1


karena Felic selalu saja menghindar setiap kali berbicara soal menikah.


"Fe ....., ibu belum selesai bicara ya ......!" teriak ibu Felic. Tapi tetap saja Felic tak menghentikan langkahnya.


“Sudah lah buk, jangan terlalu keras sama Fe …, nanti dia malah kabur, kita yang


repot! Biarlah ...., dia sudah dewasa juga ...., kalau sudah waktu ketemu jodohnya, anak itu juga akan nikah!”


"Tapi kapan yah, anak kamu itu cueknya minta ampun!"


"Sabar ....., ayah jamin nggak akan lama lagi!"


“Mau gimana lagi yah …., ibu malu setiap hari jadi omongan tetangga!”


“Sudah jangan di pikirkan, ayah berangkat dulu!”


Sebenarnya Felic masih mendengarkan pembicaraan orang tuanya dari luar, ia hanya bisa menghela nafas. Sebenarnya kasihan melihat ibunya selalu jadi bahan gossip seluruh


tetangga, tapi mau bagaimana lagi ia belum berminat untuk menikah, masih banyak


yang ingin ia raih. Termasuk cita-citanya untuk menjadi penulis tentunya. Ia takut jika menikah makan cita-citanya akan menguap begitu saja karena ia terlalu sibuk dengan urusan rumah tangganya.


Ia segera mengayuh sepeda nya saat mendengar ayahnya keluar, ia tidak mau ayahnya melihat kesedihannya. Ayahnya adalah ayah yang pengertian, ia tidak pernah


memaksakan kehendaknya untuk Felic. Semua terserah Felic.


Tempat kerja Felic tidak terlalu jauh dari rumahnya hanya butuh waktu setengah jam


untuk mengayuh sepeda mininya. Jalanan masih sepi setiap kali ia berangkat


kerja. Ia seorang office girl di sebuah bank swasta, ia mendapatkan pekerjaan


sana.


Pendidikannya yang hanya mencapai SMA membuatnya kesulitan mencari pekerjaan. Mendapatkan pekerjaan sebagai office girl aja sudah sangat untung. Ia punya cita-cita


menjadi seorang penulis, tapi lagi-lagi keterbatasan yang membuatnya tak bisa


berkembang, ia hanya bisa menulis online saja.


“Fe…, tumben siangan!” sapa sesama teman satu pangkat dengan Felic sama-sama cleaning service.


“Iya bang …., tadi ada urusan sedikit! Ya udah bang saya siap siap dulu!” jawab Felic dengan senyumnya yang terasa ringan ia angkat dari bibirnya walaupun rasanya tubuhnya kelu di terpa kerasnya kehidupan.


Ia punya rekan kerja namanya bang Ilham, usianya sebenarnya tak jauh beda sama


Felic. Tapi dia sudah punya istri dan dua anak. Felic memulai kesibukannya,


menyapu, mengelap kaca, mengepel dan membuang sampah adalah rutinitasnya setiap


hari, semuanya harus bersih saat bank mulai buka.


Felic meregangkan otot-ototnya saat yang teras kaku, ia membuka nasi pecelnya yang


tadi sempat ia beli di warung bu Tumi. Perutnya sudah sangat lapar pengen di


isi. Ia memakan nasi pecel itu di sudut pentry.

__ADS_1


“Dorrr…!” seseorang mengagetkannya dari belakang.


“huk huk huk ….!” Felic tersedak , ia segera mengambil minumannya dan meminumnya.


“Maaf …, maaf …, gue nggak sengaja!”


“Ada apa sih Sya?”


Ersya adalah teman yang telah merekomendasikan Felic bekerja jadi office girl, dia cukup beruntung bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, dia juga


teman satu SMA Felic.


“Besok ikut Reoni ya ….!”


“Nggak ah Sya …, males!”


“Kenapa? Padahal gue pengen banget datang, suamiku lagi tugas di luar kota, gue nggak mungkin datang sendiri, temani gue ya …, gini deh gaunnya nanti gue yang beliin deh!”


Sebenarnya Felic begitu malas untuk datang di acara reoni itu, tapi melihat Ersya memohon


seperti itu membuatnya tidak tega. Apalagi Ersya adalah sahabat baiknya, dia


juga sangat berjasa dalam hidupnya.


“Baiklah …, gue akan ikut!”


“Yes …, makasih ya …., ya udah gue kerja dulu. Nanti sepulang kerja kita ke mall,


gue yang belanjain!”


Felic hanya bisa mengangguk. Ia tidak mungkin menolak permintaan Ersya. Lagian kali


ini Ersya tidak dengan suaminya jadi, dia akan punya teman nanti. Ia tidak


bingung mencari teman ngobrol seperti tahun lalu.


Sore ini setelah pulang kerja, Ersya mengajak Felic ke mall. Ia membelikan gaun dan


sepatu untuk Felic. Harganya memang tidak mahal tapi akan terasa mahal jika ia


membeli dengan uangnya sendiri, gaun dan sepatu itu harganya setengah gajinya


sebulan. Cukup mahal untuk Felic.


Ia kan berpikir ribuan kali untuk membeli gaun semahal itu, tapi Ersya tetap


memaksanya walaupun felic menolak. Ia tidak bisa mengganti uang itu.


Sekeras apapun kita menolaknya …, jika kita di takdirkan untuknya, maka banyak jalan


yang akan membuatnya bertemu …


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2