Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
kedatangan orang tua Felic


__ADS_3

  Felic harus di rawat di rumah


sakit dalam beberapa hari hingga keadaannya stabil, tapi yang paling berat untuknya adalah sikap dokter Frans yang dingin terhadapnya.


Bahkan dokter Frans masih belum mau bicara dengannya. Sepetinya pria itu begitu marah padanya hingga memilih mendiamkannya.


"Suster ...., apa dokter Frans ada di ruangannya?"


"Iya bu, apa perlu saya panggilkan?"


"Tidak usah sus, terimakasih!"


Setiap hari yang selalu memeriksanya hanya dokter Sifa dan beberapa perawat.


Setiap hari Bi Molly selalu datang untuk merawatnya. Ini sudah empat hari tapi tetap saja suaminya tidak mau bicara dengannya.


“Makan yang banyak nyonya, biar cepat sehat!” ucap bi Molly sambil menyuapkan makanan ke mulut Felic tapi tetap saja Felic menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak mau memakan makanannya.


"Jangan seperti ini nyonya, anda butuh makan!" ucap bi Molly.


“Apa bibi juga membenciku, seperti Frans?” tanya Felic tiba-tiba dengan air mata yang kembali akan jatuh.


“kenapa nyonya berbicara seperti itu?” tanya bi Molly.


“Karena aku sudah membuat celaka anak aku bi, pewarisnya Frans! Bibi sangat mengharapkan anak ini hadir kan bi, tapi aku merusak semuanya! Aku bukan ibu yang baik kan bi?”


‘Tidak nyonya, jangan berkata seperti itu, ini semua takdir, saya tahu tuan juga tidak marah pada nyonya! Ia hanya butuh waktu untuk melupakan semua ini ..., jadi bersabarlah nyonya!”


“Tidak bi …, dia marah padaku! Dia mendiamkan ku!”


"Dia hanya sedang terluka, nyonya! Dia tidak tahu bagaimana cara menangis atau memeluk, ia sudah terbiasa sendiri, ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan lukanya, dia akan kembali baik nanti jika lukanya sembuh!”


“Jika tidak sembuh?”


“Pasti akan sembuh, buat dia sembuh nyonya dan untuk itu nyonya harus sehat dulu!”


Bi Molly pun kembali menyuapkan makanannya ke mulut Felic tapi tetap saja Felic menggelengkan kepalanya, menutup rapat bibirnya. Rasanya sangat tidak ingin makan.


“sayang …!” tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu, ternyata orang tua Felic, Felic tersenyum bahagia.


“ayah …, ibu …!” ucap Felic sambil merentangkan tangannya.


“fe …!” ibunya segera memeluk Felic dan menciumnya.


“bagaimana kabar kamu sayang, apa sudah lebih baik …?” tanya ibunya sambil mengusap pipi putri sulungnya itu.


"Felic sudah lebih baik bu, maafkan Felic ibu!"


"Kenapa kamu minta maaf sayang?"


“Karena Fe salah ibu, maaf …, Felic kurang hati-hati! Felic yang salah!” air mata Felic kembali keluar, entah setiap kali mengingat bagaimana ia kehilangan bayinya, air matanya seakan secara otomatis keluar tanpa di minta.


Ayah Dul pun ikut mendekat, ia mengusap punggung putrinya yang sedang begitu terluka itu.


“Nggak nak …, ini semua sudah takdir, mungkin memang Allah belum mentakdirkan dia bersama kalian, pasti nanti ada waktu yang lebih baik!” ucap ayah Dul.


“terimakasih ayah!” ucap Felic sambil mengusap air matanya.


"Sudah jangan menangis lagi, masak ayah dan ibu datang kamu malah nangis!"

__ADS_1


Setelah beberapa saat , ayah Dul baru menyadari jika menantunya tidak berada di sana.


"Di mana Frans?” tanya ayah Dul.


“Dia sedang sibuk yah, ada banyak pasien akhir-akhir ini!” ucap Felic berusaha menutup-nutupi semuanya. Ia tidak mau mengatakan kalau suaminya itu sedang marah padanya.


Bi Molly tersenyum pada nyonya-nya itu dan mengusap tangannya.


“Kamu juga harus maklum dengan kesibukan suami kamu! Jangan suka ngeluh!"


"Iya ya ....!"


"Bu ...., nyonya dari pagi belum makan, dia tetap saja nggak mau makan!" ucap bi Molly mengadukan pada orang tua Felic.


"Benarkah? Ya udah makan sama ibu seperti waktu kamu kecil!"


Ibu Felic segera mengambil piring yang sedari tadi di pegang oleh bi Molly dan menyuapkannya pada Felic.


Akhirnya Felic mau memakannya walaupun tidak banyak.


Sampai orang tua Felic pulang pun dokter Frans tidak juga menemui mertuanya.


“Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya bi Molly sebelum meninggalkannya karena sudah sore, sudah waktunya dia kembali ke rumah.


“Tidak bi ....!" ucap Felic, "Pulanglah nggak pa pa bi!"


"Maaf ya nyonya karena nggak bisa menemani nyonya di sini!"


"Iya nggak pa pa bi, oh iya bi, apa bibi kenal dengan Tisya?" tanya Felic saat mengingat tentang Tisya.


Bi Molly menatap Felic lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Ada apa nyonya? Apa ada sesuatu?"


"Masyaallah, yang sabar ya nyonya!"


“Kalau Nyonya Tania? Apa bi Molly mengenalnya?"


Bi Molly begitu terkejut mendengar nama itu, ia pernah mengenal wanita yang bernama Tania itu.


“Tania?” tanya bi Molly memastikan jika apa yang ia dengar itu benar. Ia tidak salah dengar.


“Iya …! Bibi mengenalnya?"


"Tidak nyonya, mungkin itu bukan orang yang sama!"


"Maksud bibi?"


"Memang pernah mengenal orang yang namanya Tania, tapi sepertinya bukan Tania yang nyonya maksud, itu sudah lama sekali!"


"Tapi bi ...., dia mengenal Frans!"


"Mengenal?"


"Iya bi ...., dia menyebut nama Frans kalau nggak salah waktu itu!"


"Mungkin bukan orang itu nyonya, sudah jangan di pikirkan nyonya! ya sudah nyonya kalau gitu saya pulang dulu ya …!”


Bi Molly lebih memilih menghindar dari pertanyaan Felic.

__ADS_1


***


di tempat lain nyonya Tania sedang menemani suaminya mengikuti berbagai rapat, karena jelas perusahaannya adalah perusahaan yang bergelut di bidang kosmetik sehingga tuan Bactiar butuh sekali pendapat istrinya.


Setelah meeting selesai tuan Bactiar mengajak istrinya itu untuk makan siang.


“mama mau makan siang di luar?” tanya tuan Bactiar.


"Mau dong pa!"


"Ya udah kita langsung berangkat aja mas!"


“baiklah pa ..!”


Mereka pun memilih makan siang di salah satu restaurant ternama di ibu kota. Mereka memesan beberapa makanan.


“Bagaimana kalau Tisya kita suruh ke sini, pa?” ucap nyonya Tania memberi saran.


“Itu ide bagus ma, telpon dia!”


Nyonya Tania pun mengambil ponselnya yang berada di dalam tas branded nya, ia mencari kontak nomor Tisya.


Setelah melakukan panggilan beberapa kali akhirnya terhubung juga.


"Hallo ma ...!"


"Hallo sayang ...., kamu di mana sayang?"


"Aku lagi sama mas Rizal mas!"


"Papa sama mama lagi makan siang, kamu nyusul ya!"


"Maaf ya ma ...., nggak bisa soalnya kami udah mau berangkat ke nikahan temen!"


"Ya udah nggak pa pa, happy weekend sayang!"


"Iya ma ..., bye! Sampai ketemu di rumah!"


Nyonya Tania menutup kembali telponnya.


"Gimana ma?"


"Tisya nggak bisa ma, dia mau ada acara katanya!"


"Ya udah lah kita makan berdua, itung-itung kencan, sudah lama juga kan nggak makan berdua kayak gini!"


Saat di tengah-tengah makan, nyonya Tania di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang beberapa hari ini telah membuatnya begitu kepikiran.


Dokter Frans datang dengan kedua sahabatnya. Tapi sepertinya dokter Frans tidak menyadari keberadaannya.


"Lihat apa sih ma, gitu banget?"


"Bukan apa-apa pa ....!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2