Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (6. Aku akan bertanggung jawab)


__ADS_3

Mereka sekarang saling berpelukan di bawah selimut tipis milik Zea dengan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.


"Ga, aku takut! Apa yang kita lakukan ini sudah keterlaluan!" Zea menyadari kesalahan yang sudah mereka lakukan saat ini.


"Aku akan bertanggung jawab, besok kita pergi ke penghulu, kita akan menikah!"


"Aku belum siap bertemu dengan orang tua kamu!" Zea menyadari siapa dirinya. Tidak mungkin dengan mudah orang tua akan menerimanya dengan statusnya yang tidak jelas, ia tidak punya keluarga dan berasal dari keluarga apa dia, pasti tidak mudah meluluhkan hati kedua orang tua Rangga.


"Kita menikah siri, yang penting halal bagi agama!" Rangga masih bersikukuh untuk menikah, ia juga tidak mau memiliki hubungan tanpa status seperti ini. Ini untuk pertama kalinya juga baginya tapi sepertinya dia tidak akan bisa jauh-jauh dari Zea.


"Mulai besok kamu tinggal di apartemen aku ya?"


"Nggak, aku di sini saja!"


"Kenapa?"


"Aku tetap mau kerja, kalau di apartemen kamu, pasti akan jauh! Lagi pula aku belum dapat restu dari orang tua kamu, lebih baik nanti saja saat kita sudah dapat restu!"


Itu pasti sulit ...., batin Rangga. Apalagi saat ini orang tuanya ada calon untuknya.


...***...


Di tempat lain terlihat mama Rangga begitu uring-uringan.


"Rangga nih apa-apaan sih!?"


"Sudah lah te, biarkan saja! Kayaknya Rangga nggak akan pulang, Miska pulang aja ya te!"


"Jangan dong, tunggu sampai makan malam, kalau kamu pulang duluan Tante harus ngomong apa sama mama kamu?"


"Tapi ini Miska nunggunya udah lama banget, te!"


"Tunggu bentar aja ya, bentar aja!"


Mama Rangga terus merayu Miska agar tidak segera pergi. sedangkan papa Rangga terlihat begitu santai, memang papa Rangga tidak mau terlalu mencampuri urusan putranya itu.


Dan akhirnya Miska menyerah juga, sampai jam sembilan malam, Rangga tidak juga kembali.


"Maafkan Tante ya, jangan kapok ke sini lagi ya!"


"Jangan khawatir Tante, Miska nggak pa pa kok, Miska pulang dulu ya te, om!"

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya!"


Miska pulang dengan membawa kecewa, ia yang berniat mengadu pada orang tua Rangga ternyata pria itu malah tidak kembali.


...***...


"Ga, kamu yakin nggak mau pulang?"


"Aku masih betah di sini lihatin wajah cantik kamu!" Rangga menyanggah dagunya dengan kedua tangannya menatap Zea yang sedang sibuk menyiapkan makan malam yang sudah sempat mereka masak tadi.


"Sudah jangan gombal, ini di makan!" Zea menyodorkan piring yang sudah berisi makanan sederhana yang di masak olehnya.


"Terimakasih ya!" Rangga tetap tidak mengindahkan makanannya dan masih sibuk memandangi Zea.


"Terimakasih tuh nanti pas sudah habis makanannya!"


"Bukan untuk ini!"


"Lalu?"


"Untuk jadikan aku yang pertama!"


Wajah Zea seketika bersemu merah jambu, ia segera duduk dan meminum air putih yang ada di depannya.


"Aku yang akan jadi suami kamu!"


"Yakin sekali!"


"Besok aku akan membawamu ke penghulu!"


Zea tidak bisa menyanggah ucapan Rangga lagi,


"Sudah ah di makan dulu!"


Apa yang mereka lakukan tadi memang yang pertama untuk mereka berdua. Rangga seperti telah menemukan kenyamanan pada wanita yang baru saja ia gagahi itu.


"Ini enak sekali!"


"Biasa aja!"


"Baru kali ini aku merasa benar-benar hidup!" Rangga benar-benar tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Zea. Wajahnya kalem, lembut dan keibuan, ia sudah bisa membayangkan jika suatu saat nanti Zea yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

__ADS_1


"Ga, malam ini pulang ya! Aku takut orang tua kamu nyariin!"


"Kamu ngusir?"


"Bukan begitu Ga, apa yang kita lakukan ini_!" Zea kemudian menundukkan kepalanya. Rangga tidak mau melihat kesedihan di wajah cantik Zea.


"Aku akan pulang!"


Zea kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum.


Akhirnya setelah makan malam, Rangga pun berpamitan untuk pulang.


"Besok bersiap-siaplah, aku sudah memasukkan nomor aku ke ponsel kamu!"


"Kapan?"


"Nggak penting, aku pulang dulu, jaga dirimu!" Rangga menarik tubuh Zea memeluknya sebentar dan mengecup kening Zea.


"Kunci rumah, jangan di buka kalau ada tamu malam-malam!"


"Iya!"


Rangga benar-benar berat meninggalkan Zea, tapi ia juga harus menyiapkan semuanya untuk besok.


Setelah Rangga pergi, Zea pun segera menutup kembali pintunya.


Ia tidak menyangka bisa melakukan hal yang benar-benar kebablasan seperti yang baru saja ia lakukan tadi.


"Ini salah, tapi kenapa aku tidak bisa menolak nya?"


Setelah merapikan kembali meja makannya, ia tidak sabar untuk memeriksa ponselnya, ia mencari nomor Rangga di sana dan ternyata ia menemukan nomor Rangga dengan, ' My husband'.


"Kapan nikahnya, sudah mau di panggil husband aja!" gumamnya pelan sambil terus tersenyum.


Nomor kontak yang ia simpan memang tidak banyak jadi dapat dengan mudah untuk menemukan satu nomor saja.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2