
Entah pagi atau siang hingga mentari menembus sela-sela gorden yang menjadi penutup jendela kaca yang lebar itu. Beberapa kali bi Molly memanggil dua manusia yang
berada di dalam kamar itu untuk sarapan hingga makan siang tapi tidak ada
sahutan dari mereka.
Felic yang samar-samar mendengarkan ketukan, mencoba menggerakkan badannya yang
terasa begitu remuk.
“Euhgggg …!” felic merasakan tubuhnya di tindih oleh sesuatu yang besar, matanya
perlahan mulai terbuka, betapa terkejutnya saat ia mendapati tubuh dokter Frans
menindih tepat di samping tubuhnya dengan lengan yang melingkar di perutnya.
“Aaaaaa …!” Felic langsung membekap mulutnya sendiri sebelum membuat makluk di
sampingnya itu terbangun, ia baru ingat potongan-potongan kejadian semalam.
“jadi kami sudah …..!” Felic mendorong tubuh dokter Frans hingga sedikit menyisakan
jarak dia antara mereka, beberapa kali ia membuka selimutnya dan menutupnya kembali, ia mulai malu mengingat kejadian semalam.
“Aku sudah tidak perawan lagi dong …!”
“Aaaaa …., malunya ….!” Gerakannya yang terlalu cepat membuat pria di sampingnya
terbangun juga akhirnya.
“Apa sih Fe, berisik amet?” gumam dokter Frans dengan suara serak khas bangun tidur.
“Ups ….!” Felic segera menutup kembali mulutnya agar tidak membangunkan suaminya
itu, ia memilih diam, ia masih belum siap jika dokter Frans sampai melihatnya
dalam keadaan telanjang seperti itu.
Bagaimana ini …? Gue harus segera
ke kamar mandi, pakek apa ya ….!
Felic melihat hanya ada satu selimut yang menutupi tubuh polos mereka, ia tidak
mungkin menariknya untuk dirinya sendiri.
Ihhhh …., hororrr …..
Felic jadi bergidik ngeri sendiri, baru kali ini ia melakukan hal itu, selama
berpacaran dengan Rangga, tidak ada yang lebih dari sekedar berciuman, kalau di
hitung-hitung hanya satu kali mereka berciuman bibir, sebelum Rangga
berpamitan untuk belajar di luar negri.
Tangan Felic berusaha keras meraih kaos milik dokter Frans yang tergeletak tak jauh
dari tempatnya sekarang,
“Ehhh …, ehhh …., ehhhh …!” ia berusaha keras meraihnya membuat selimut yang menutupi
tubuh dokter Frans itu semakin terbuka.
“Fe …., jangan menggangguku, aku masih ngantuk!” gumam dokter Frans lagi tanpa
membuka matanya, tapi tangannya berhasil menarik selimutnya kembali membuat
Felic kehilangan keseimbangannya hingga ia terjatuh ke lantai dan kembali
menarik selimutnya. Kini tubuh dokter Frans pun ikut tertarik bersama selimut
itu, membuat tubuh dokter Frans terjatuh tepat di atas tubuh felic, dan
parahnya lagi bibir mereka kembali bertemu.
Dokter Frans yang terkejut segera membuka matanya, bibirnya melekat sempurna di atas
bibir felic. Dengan cepat dokter Frans turun dari atas tubuh felic dengan
selimut yang masih saling berebut.
“Aaaaaa ….!” Teriak mereka bersamaan membuat bi molly dan pasukannya yang tetap setia di depan pintu menjadi panik.
“Tuan …, nyonya …, anda tidak pa pa …!” tanya bi Molly sambil membuka pintu yang
memang tidak di kunci, bi Molly segera membalik tubuhnya setelah melihat apa
yang sedang terjadi dan memberi isyarat pada pasukannya untuk kembali keluar.
“Bibi …!” teriak Felic dan dokter Frans bersamaan, mereka benar-benar terkejut saat
bi Molly masuk.
“Maaf Tuan, saya akan keluar!” bi molly pun tak mau berbalik, ia segera berjalan
kembali menuju ke pintu dan segera menutupnya kembali.
“Fe …!”
“Frans …!”
__ADS_1
“hehhhhh …!” mereka menghela nafas bersamaan sambil membuang muka. Tak berapa lama mereka kembali berbalik.
“Berikan selimutnya untukku!”
“berikan selimutnya untukku!” lagi-lagi mereka berbicara bersamaan. Kali ini mereka
saling menajamkan matanya.
“Pakai bajumu dan biarkan selimutnya untukku!” ucap Felic lagi tidak mau kalah.
“Fe …,yang terbuka bukan cuma tubuh atas ku, tapi tubuh bawahku juga, kamu mau lihat
lagi pagi ini?”
“berarti pakai juga celana mu!”
“Tuh lihat celanaku di sana!” ucap dokter Frans sambil menunjuk celananya yang
berada cukup jauh dari mereka.
“Hehhh …, baiklah …, kita ambil bersama-sama!” ucap Felic sambil melilitkan unjung
selimut ke tubuhnya dan memberikan ujung yang lainnya untuk dokter Frans. Mereka
mulai berjalan menuju celana dokter Frans, sete;lah berhasil mengambilnya,
Felic segera menutup matanya membiarkan dokter Frans memakai kembali celana
kolornya.
“Sudah …! Buka matamu!” ucap dokter Frans saat ia sudah memakai celana kolornya.
“Bajumu, kenapa bajumu tidak di pakai?”
“Lihat nih punggungku sakit karena ulahmu, aku harus memberinya salep dulu!” ucap
dokter Frans sambil menujukkan punggungnya yang penuh luka akibat ulah kuku-kuku
tajam Felic.
“Itu beneran karena kukuku?”
“Menurutmu? Dasar singa betina!”
“Jangan mengatai ku ya!”
Felic mengambil semua selimut besar itu dan melilitkan sempurna ke seluruh tubuhnya
yang terlihat kini hanya kepalanya saja, ia sedikit kesusahan untuk berjalan
bukan Cuma karena selimut itu tapi juga karena tubuh bagian bawahnya terasa
perih dan nyeri. Felic pun memilih kembali duduk di atas tempat tidur sebelum
untuk berjalan, dengan sedikit menahan sakit ia kembali duduk.
Kenapa dia terlihat baik-baik saja,
sedangkan aku …,seperti cacing kehilangan airnya gini, tepar …., badanku
terasa remuk gini ya ….
Felic hanya bisa mengeluh dalam hati sambil mengamati dokter Frans yang tampak
menggerak-gerakkan tubuhnya dengan bebas, seperti sedang oleh raga pagi saja.
Ahhhhh ….., pengen tidur lagi aja ……
Keluhnya hendak merebahkan tubuhnya lagi ke atas tempat tidur, tapi matanya segera
membulat sempurna saat ia melihat ada noda darah di atas tempat tidur.
Itu darah apa? Jangan-jangan aku
datang bulan, lalu gimana dong …., tapi sekarang tidak terjadi apa-apa ….
Felic dengan cepat menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur, berusaha keras
menutupi darah itu agar tidak terlihat oleh dokter frans, dokter Frans yang
heran melihat felic kembali naik ke tempat tidur segera menghampirinya.
“kenapa Fe …, kamu sakit ya?” tanya dokter Frans sambil ikut naik ke kamar mandi.
“Nggak pa pa, Cuma nggak enak saja buat bangun!”
“jangan di pikirkan, itu memang biasa di alami sama wanita kalau pertama nglakuin itu!”
“ya udah kamu mandi dulu aja!”
“Baiklah …, aku mandi dulu ya!”
“Iya sana cepetan!”
Dokter Frans pun segera meninggalkan Felic ke kamar mandi, selama dokter Frans berada di kamar mandi Felic begitu panik, ia
ingin segera mengganti sepreinya tapi ia belum tahu di mana tempat seprei yang
baru, ia juga kesusahan intuk bangun, di tengah usahanya yang begitu sulit
dokter Frans sudah lebih dulu keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang
__ADS_1
melilit di pinggangnya, begitu seksi apalagi rambutnya yang basah membuatnya
semakin menarik saja.
“Fe ada apa?” tanya dokter Frans karena melihat seprei yang lebih berantakan dari
pada sebelumnya, seprei berwarna putih itu tampak sebagian terlepas dari
tempatnya.
“Tidak pa pa, tadi aku cuma mau menggantinya saja!”
“Nggak usah repot-repot, nanti biar bi Molly saja yang menggantinya dengan yang baru!”
“Pakai dulu pakaianmu!” ucap Felic, ia tidak mau tergoda untuk kedua kalinya. Tubuhnya
masih begitu sakit.
“Baiklah …, tunggu sebentar!” dokter Frans kembali masuk ke ruang ganti, lima menit
kemudian sudah kembali keluar dengan pakaian santainya.
“Fe …, kamu beneran nggak mau mandi?”
“Iya bentar, boleh aku minta sesuatu?”
“Apa?”
“Beri aku seprai baru!”
“Kenapa?”
“Bukan apa-apa!”
“Nanti saja, kamu mandi dulu lalu kita sarapan, eh bukan , maksudnya makan siang!”
“Makan siang?”
“Iya …, lihat jamnya sekarang sudah jam, sebelas!”
Aku nggak kerja lagi dong .....?
Bagaimana aku bisa ke kamar mandi
kalau kayak gini …., jalan saja susah ….
Melihat tatapan penuh ragu dari felic membuat dokter Frans mengerti sekarang, dokter
Frans pun kembali mendekat,
“Sini aku bantu!” ucapnya tanpa menunggu jawaban dari Felic, tubuh Felic sudah
melayang saja di udara, dokter Frans membawa tubuh felic ke kamar mandi dan
menurunkannya ke dalam bathup.
“Buka selimutmu!” ucap dokter Frans sebelum mengisi bathup itu dengan air.
“Nggak mau, malu tahu!”
“Nanti selimutnya ikut basah!”
“Biarin!”
“keras kepala benget sih!”
Walaupun terus menggerutu, akhirnya dokter Frans mengisi bathup itu dengan air juga, ia
sengaja mencampurkan air hangat di luar bathup sebelum memasukkannya agar Felic
tidak kepanasan.
“Gimana, sudah pas, atau masih kepanasan?”
“Sudah pas!”
“Ya udah, mandilah kalau sudah selesai, panggil aku lagi, ok!’
“Iya!”
Dokter Frans pun meninggalkan Felic sendiri di dalam kamar mandi, sebelum langkah
dokter Frans mencapai pintu, Felic kembali memanggilnya.
“Frans!”
“Emmm?”
“Makasih ya!”
Dokter Frans hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja meninggalkan Felic, sambil
menunggu Felic mandi, dokter Frans meminta bibi Molly untuk membersihkan
kamarnya dan juga membawakan makan siang untuk mereka.
Bersambung dulu ya
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️❤️