
Mo Lian menolehkan kepalanya ke kanan, ke arah timur di mana Pulau Taiwan berada. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan memurnikan dua harta yang baru saja di dapatnya, tapi ia tahu betul jika sekarang harus melalukan hal penting, menghancurkan Organisasi Dunia Hitam secara total.
"Lian. Apakah semua ini sudah selesai?" Xu Xumei datang menghampiri Mo Lian dengan tatapan khawatir.
"Seharusnya Nenek sudah mengetahuinya, Organisasi Dunia Hitam berada di seberang. Kita harus menghancurkannya sampai ke akar-akarnya," jawab Mo Lian sembari menunjuk ke Pulau Taiwan.
Xu Xumei terdiam sejenak sembari melihat keadaan yang lain, terlihat hampir semua orang sudah kelelahan karena terlalu lama berdiam di udara, apalagi tadi bertarung cukup sengon melawan semua orang. "Apakah kita harus berangkat sekarang?" tanyanya kembali dengan ekspresi khawatir.
Mo Lian mengangguk kecil, kemudian menjawab dengan tegas, "Tentu. Kita tidak tahu apa yang direncanakan mereka, orang-orang yang kita lawan belum semuanya. Apalagi masih ada Keluarga Tang, jika kita tidak menghilangkannya secara total, itu hanya akan menambah masalah ke depannya."
"Panggil sebagian orang-orang yang berada di pelabuhan, suruh mereka membawa beberapa kapal," lanjut Mo Lian menolehkan kepalanya menatap Ong Hei Yun.
Ong Hei Yun mengangguk kecil, ia merogoh kantung bajunya mengambil telepon genggam, dan kemudian melalukan panggilan telepon dengan orang yang berada di pelabuhan.
Sementara itu. Mo Lian langsung melesat menuju Pulau Taiwan dengan kecepatan maksimalnya. Ia hanya membutuhkan waktu waktu kurang dari satu menit untuk sampai di sana yang mana berjarak 51 mil.
Ketika hampir tiba di pelabuhan, ia memperlambat gerakannya dan memilih jalan memutar untuk tidak menarik perhatian orang-orang yang berada di pinggir pantai.
Mo Lian mendarat di sekitar pantai yang sepi tanpa ada pengunjung maupun yang jauh dari jangkauan kamera pengawas. Kemudian tanpa berlama-lama, tanpa menunggu kedatangan yang lain, ia pergi menuju daerah perkotaan yang cukup ramai melalui pepohonan maupun jalan sempit.
Puluhan menit kemudian setelah tiba di Pulau Taiwan. Mo Lian sudah berada di daerah perkotaan yang cukup padat dengan penduduk, meski di sini banyak orang, tidak ada keraguan dalam bertindak. Kekuatannya yang sekarang sudah cukup untuk bertarung secara membabi buta di depan umum, ia bisa menahan serangan nuklir yang sangat kuat atau apapun.
Mo Lian berjalan di jalanan kota seperti penduduk pada umumnya, tanpa menimbulkan kecurigaan, pakaian yang dikenakannya juga sudah kering saat di perjalanan tadi. Ia terus berjalan hingga pada akhirnya sudah sampai di depan perusahaan yang dimaksud.
Gedung tinggi berlantai 50, memiliki lahan parkir yang sangat luas. Hanya saja terlihat sangat sepi tanpa ada satupun orang, bahkan tidak ada suara yang berasal dari gedung itu.
Mo Lian melangkahkan kakinya dengan mata terpejam sembari mengecek apakah memang tidak ada satupun orang di dalam. Ketika ia membuka matanya perlahan, raut wajahnya tetap datar tanpa ada perubahan. Meski begitu, di dalam hatinya ia merasa sangat marah dan ingin menghancurkan seluruhnya.
Tiba-tiba, saat Mo Lian masih menatap gedung di depannya dengan tangan terkepal. Handphone yang berada di celananya berdering, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana mengambil handphone.
__ADS_1
"Untungnya aku melapisi handphone ku dengan plastik." Mo Lian melepaskan pelindung yang membungkus handphone-nya.
"Halo. Master berada di mana?" Terdengar suara Qin Nian dari balik telepon.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitarnya. Ia sendiri tidak tahu berada di mana. "Aku akan mengirimkan lokasinya."
"Baik, Master."
Mo Lian menutup panggilan telepon, kemudian ia mengirimkan lokasi tempat ia berdiri sekarang melalui GPS.
Untuk menunggu kedatangan Qin Nian dan yang lain, Mo Lian memutuskan untuk memasuki paksa gedung dengan cara menghancurkan dindingnya setelah berhasil memindah jangkauan kamera pengawas. Ia berkeliling di lantai dasar, dan kembali mengedarkan kesadarannya lagi.
"Tidak ada benda-benda berharga, di lantai bawah tanah juga hanya ada tumpukan sampai. Sekarang, yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana caranya aku membunuh orang-orang dari Organisasi Dunia Hitam."
Mo Lian terdiam dengan kepala tertunduk dan tangan menyentuh dagu. Beberapa menit kemudian, ia berhasil menemukan cara untuk membunuh semua orang yang berkaitan dengan Organisasi Dunia Hitam.
Mo Lian terus menunggu di depan gedung tinggi berlantai 50. Hingga dua puluh menit kemudian, di halaman parkir perusahaan sudah datang puluhan mobil. Mobil-mobil itu bukan mobil milik orang yang dikenalnya, tapi ia tahu jika di dalam mobil itu adalah orang-orang yang dibawanya.
Dari dalam mobil, keluar beberapa orang yang dikenalnya, dan yang lain adalah orang-orang yang datang bersama. Mereka semua tidak lagi menggunakan pakaian yang tertutupi noda darah, mereka melepaskan baju luarnya dan meninggalkan baju biasa yang dikenakan.
"Master. Bagaimana? Apakah Master sudah menyelesaikannya?" tanya Qin Nian yang berlari-lari kecil menghampiri Mo Lian.
Mo Lian menggeleng pelan, kemudian menjawab, "Tidak ada satupun dari mereka yang berada di sini. Sepertinya saat Tang Xuan pergi ke Selat Taiwan, orang-orang yang berada di sini sudah pergi."
"Lalu, bagaimana ..." Qin Nian tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Mo Lian yang mengangkat tangan.
"Pakaian yang terkena darah. Apakah kalian membawanya?" tanya Mo Lian sembari membuka tangannya menjelaskan meminta.
Qin Nian hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun saat melihat tatapan mata Mo Lian yang serius dan tergesa-gesa, akhirnya ia mengurungkannya dan berbalik menuju beberapa mobil untuk mengambil jubah yang berada di bagasi.
__ADS_1
Qin Nian berjalan menghampiri Mo Lian dengan membawa tumpukan jubah yang berada di atas kedua tangannya. "Ini Master," ucapnya menyerahkan jubah.
Mo Lian mengambil tumpukan jubah yang berada di atas tangan Qin Nian. Ia mengalihkan pandangannya pada Wu Yengtu, lebih tepatnya pada lengan bajunya yang tertutupi oleh darah Tang Xuan. Ia menyebarkan energi spiritualnya pada lengan baju Wu Yengtu dan mengambil darahnya.
Wu Yengtu sedikit tersentak saat merasakan energi spiritual Mo Lian membungkus lengannya. Tapi ia hanya tetap diam tidak berpindah dari tempatnya berdiri.
Bukan hanya dari yang berada di lengan baju Wu Yengtu. Mo Lian juga mengambil noda darah yang berada di jubah-jubah di depannya. Ketika ia melepaskan energi spiritualnya dan menarik noda darah, darah itu melayang di udara sejajar dengan tingginya.
Darah itu membentuk gumpalan kecil, untuk jumlahnya sendiri lebih dari 100 titik darah. Ini menandakan bahwa lebih dari 1000 orang yang bertarung dengannya di Selat Taiwan berasal dari 100 keluarga yang berbeda.
Mo Lian menutup matanya perlahan sembari mengalirkan energi spiritualnya pada 100 titik darah di depannya. Ketika ia membuka matanya, di sudut mata kanannya terpancar cahaya berwarna biru terang nan indah. Namun cahaya itu mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat, bahkan sampai menekan Wu Yengtu yang hampir menembus Ranah Inti Emas.
Mo Lian membuat segel tangan dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata. Kemudian di akhiri dengan tangan kiri mengarah ke tanah, dan tangan kanan berada tepat di depan matanya dengan jari telunjuk dan tengah mengarah ke langit. "Teknik Darah, Kutukan Darah Pembunuh!"
Tiba-tiba 100 titik darah di depannya memancarkan cahaya merah terang. Kemudian 100 titik darah yang sangat kecil itu terbagi lagi dengan jumlah yang berbeda, dan melesat jauh ke berbagai arah meninggalkan Pulau Taiwan.
Ini adalah teknik yang terbilang sangat tabu. Itu karena teknik ini sangat tidak manusiawi, teknik yang akan membunuh siapapun, tidak peduli tua atau muda, pria atau wanita asalkan orang itu masih memiliki garis darah yang sama.
Tapi, tidak peduli manusiawi ataupun tidak. Membunuh tetaplah membunuh, jika sekarang membicarakan tentang kemanusiaan, itu sudah terlambat, semua orang yang mengelilinginya saat ini juga sudah dianggap sebagai pembunuh.
Mo Lian menghela napas panjang. Dengan ini ia sudah membantai habis orang-orang yang berkaitan dengan Organisasi Dunia Hitam. Tapi di wajahnya tetap tidak memperlihatkan perubahan, ia tidak merasa senang meski sudah menyelesaikan masalahnya dengan Organisasi Dunia Hitam.
Bagaimanapun Organisasi Dunia Hitam hanyalah organisasi kecil yang bermarkas di China. Di Bumi ini masih banyak organisasi berbahaya lainnya.
"Ayo kembali. Semua orang yang berkaitan dengan Organisasi Dunia Hitam, sudah mati." Mo Lian berbalik, ia menekan kakinya di tanah, kemudian melesat tajam ke arah Kota Quanzhou meninggalkan semua orang.
Sesaat setelah Mo Lian pergi. Lebih dari 10 ribu orang di seluruh dunia, mati terbakar tanpa meninggalkan jejaknya.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...