
Su Jingmei sudah mempersiapkan mentalnya untuk menerima Kesengsaraan Petir, ia juga sudah mendengar cerita dari Mo Lian maupun Mo Qian saat menerima Kesengsaraan Petir Inti Emas, yang lebih mengerikan dari Inti Perak.
Ketika menembus Ranah Inti Perak, ia dan Mo Fefei berhasil menarik enam sambaran petir. Sehingga saat menembus Inti Emas ini nanti, setidaknya ia akan mendapatkan enam sambaran petir untuk yang terendah, dan bisa lebih.
Awan yang ditarik Su Jingmei sendiri menutupi langit biru dalam radius 250 mil, setengah dari Kesengsaraan Petir yang dapat ditarik Mo Lian saat menembus Inti Emas di Negeri Surgawi.
Dengan luas awan hitam seperti itu, tentunya dampak yang ditimbulkan untuk sekitar tidaklah kecil, karena itulah Mo Lian dan Mo Qian akan menjaga agar petir yang menyebar tidak keluar dari jangkauan.
Mo Lian menyilangkan kedua lengannya di depan dada, dengan kepala dimiringkan. "Apakah Ibu dapat menarik sembilan sambaran? Sebelumnya saat aku menembus Inti Emas, aku mendapatkan sepuluh sambaran."
Duarr!
Mo Lian sedikit kaget saat mendengar ledakan yang berasal dari tempat Su Jingmei berdiri. Terlihat kepingan cahaya berwarna emas mulai memasuki tubuh Su Jingmei melalui pori-pori kulit. Ini adalah petir yang sama seperti yang ditariknya, yang berarti bakat dalam kultivasi Su Jingmei sangat bagus karena bisa menarik Petir Emas, terlebih lagi jika membentuk naga.
Berbicara tentang bakar kultivasi yang ditarik berwarna petir emas, sebenarnya itu bisa ditingkatkan dengan teknik pelatihannya, serta kondisi tubuh.
Mo Lian merasa khawatir, meski semua latihan Su Jingmei dan Mo Fefei ia yang mengaturnya, sehingga sangat tinggi, ia juga memberikan barang berharga yang sangat berkualitas, termasuk herbal dan pil.
"Kekuatan fisik Ibu dan Fefei sangat berbeda, tapi aku masih sangat khawatir. Jika terlalu berbahaya, aku akan masuk ke sana, dan menggunakan tubuhku sebagai perantara untuk mengalirkan energi murni."
"Jika Ibu berlatih dengan rutin, mungkin membutuhkan waktu tiga ribu tahun untuk menembus Dao Immortal. Tapi itu terlalu lama, aku akan membantu keluargaku untuk dapat menembusnya di bawah dua ratus tahun."
Tiga ribu tahun menembus Dao Immortal termasuk cepat dan bisa dianggap jenius, bahkan ada yang membubuhkan 100 ribu tahun, hanya untuk menembus Jiwa Emas dalam menempuh jalan Kultivator Dao, namun berbeda dengan Kultivator Iblis yang lebih cepat, karena menggunakan hidup orang lain sebagai kekuatan.
Kembali lagi pada Su Jingmei. Petir pertama yang menyambarnya tidak menimbulkan dampak yang signifikan pada tubuhnya, pakaian yang dikenakannya juga tetap utuh.
Kilatan petir kembali berkumpul pada satu titik, yang membentuk petir dengan ukuran biasa, namun kekuatannya sangat luar biasa.
Petir kembali menyambar dengan kerasnya, mengenai Su Jingmei dan meledak menjadi kepingan cahaya emas yang terserap masuk ke dalam tubuhnya. Petir kedua juga tidak terlalu berdampak banyak pada tubuhnya yang kuat untuk menahan satu tingkat diatasnya.
Petir terus menyambar sampai sudah enam petir yang turun, dan dari itu semua tidak ada yang memberikan luka pada tubuh Su Jingmei, meski ada sedikit goresan di bagian wajahnya, tapi tidak terlalu parah dan bisa disembuhkan dalam hitungan detik.
__ADS_1
Setelah petir keenam menyambar, tidak ada tanda-tanda awan hitam akan menghilang, bahkan terlihat semakin luas dari sebelumnya, dan ini sangat berbahaya jika menghantam daratan. Kota Chengdu dan sekitarnya, bisa dipastikan akan menghilang.
Kilatan petir di bawah awan hitam semakin banyak dan berkumpul pada satu titik, yang mulai membentuk sebuah pedang tajam. Satu tingkat dibawah naga petir yang sangat kuat, namun meski begitu, ini sudah cukup untuk menghancurkan tubuh Su Jingmei.
Mo Lian yang melihat dari kejauhan mulai melangkah maju secara perlahan, ia akan pergi ke tengah-tengah sambaran untuk menanggungnya, jika pedang petir itu semakin besar.
Mo Lian merasa bersyukur karena Ibunya tidak memprovokasi surga seperti dirinya saat menerima Kesengsaraan Petir. Bagaimanapun memprovokasi surga akan menambah daya serang, dan kekuatan yang sangat menekan.
Su Jingmei yang menyadari Mo Lian melangkah akhirnya menolehkan kepalanya ke kiri, dan menggeleng pelan dengan senyuman.
Mo Lian mundur kembali ke tempatnya berdiri, membiarkan Su Jingmei menerima petir terakhir.
Pedang petir di langit mulai bergetar, kemudian melesat kencang dengan kecepatan yang luar biasa mengarah pada Su Jingmei dan menelannya di dalam pedang. Pedang itu tidak meledak dan terus jatuh mengenai array yang melindungi Sekte Dongfangzhi, menciptakan gelombang angin yang sangat kencang dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Mo Lian membuat segel tangan, kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit. Daratan di sekitar Sekte Dongfangzhi mulai bergetar hebat dan terbelah dua, memperlihatkan pilar kayu setinggi dari enam tempat yang berbeda, dengan pola-pola berwarna biru.
Enam pilar kayu itu menciptakan dinding array menghalangi gelombang angin maupun kilatan petir untuk tidak menyebar lebih jauh.
Dengan panik, Mo Lian memecahkan Pil Pengolah Jiwa, dan membiarkannya terbang menyelimuti Inti Jiwa itu. Perlahan, Inti Jiwa mulai membaik, dengan retakan yang semakin tipis dan menghilang secara total.
Mo Lian membawa Inti Jiwa itu untuk turun ke belakang halaman tanpa menyentuhnya, bersama dengan Mo Qian yang mengikutinya di belakang.
Ia yang sudah mendarat langsung mengalirkan energi jiwa serta energi spiritualnya, untuk mempe cepat regenerasi Su Jingmei yang kehilangan tubuhnya.
Energi spiritual mulai berfluktuasi di sekitar Inti Jiwa, yang perlahan mulai membentuk tulang dari kekosongan udara, kemudian otot yang melilit tulang dan lain sebagainya. Hingga sepuluh menit berlalu, akhirnya tubuh Su Jingmei sudah benar-benar terbentuk kembali.
Rambut berwarna cokelat kehitaman, alis tebal nan indah, mata yang selaras dengan sorot mata lembut, wajah halus bagaikan sutra namun kuat bagaikan baja.
Tubuh bagian bawahnya tertutupi oleh energi spiritual berwarna biru, yang memang Mo Lian gunakan untuk menutupi tubuh Ibunya yang tidak dilapisi dengan benang bahkan sehelai
Mo Qian memberikan jubah hitam pada Su Jingmei untuk menutupi tubuhnya yang polos.
__ADS_1
"Ibu, selamat karena sudah berhasil menembus Ranah Inti Emas."
Su Jingmei tersenyum lembut dengan tatapan hangat melihat Mo Lian. "Terimakasih, jika bukan karenamu, Ibu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menembus Inti Emas, dan mungkin tidak akan sadar setelah menembus Inti Emas, karena Inti Jiwa Ibu tadi rusak." Ia mengusap puncak kepala Mo Lian.
Mo Lian mengangguk kecil dengan senyum tipis sebagai respon dari ucapan itu.
Mo Qian yang berada di sebelah kiri Su Jingmei mengangkat tangan kanannya, dan menepuk pundak kanan Mo Lian. "Lian, bukankah ini sudah waktunya untukmu mengatakan yang sebenarnya? Ayah merasa kau sangat berbeda dari pemuda di usia yang sama. Ini seperti kau sudah menjalani hidup yang panjang, menerima rasa sakit dan kecewa, terlebih, seperti orang yang pernah kehilangan nyawa seseorang yang sangat berharga."
Su Jingmei mendekati Mo Lian dan menyentuh kedua pipinya. "Ibu tidak akan memaksa, dan mungkin kau bertanya bagaimana kami bisa mengetahuinya. Asal kau tahu, kami berdua adalah orangtuamu, sangat mudah mengetahui ada yang berbeda, meski itu coba kau sembunyikan."
"Bahkan, Adikmu juga mengatakan hal yang sama. Kau seperti menyimpan rindu, kesedihan, marah, dendam, kesepian, takut kehilangan lagi," lanjut Su Jingmei yang mengulangi kata-kata Mo Fefei.
Mo Lian mengigit bibir bawahnya, air mata mulai mengalir dari sudut matanya dan membasahi pipinya. Ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya yang selama ini telah dipendamnya, akhirnya, hari yang telah ditunggu-tunggu telah tiba. Ia akan menceritakan bagaimana kehidupan pahit yang pernah dilaluinya seorang diri.
Su Jingmei menarik tengkuk Mo Lian secara perlahan, dan memeluknya erat. "Sepertinya kau benar-benar menyimpan semua beban yang selama ini kau tahan." Ia menepuk-nepuk punggung Mo Lian.
Jika orang lain melihat Mo Lian yang sekarang, mereka akan benar-benar terkejut dan tidak pernah bisa melupakan kejadian ini. Mo Lian yang dianggap sebagai Dewa Bumi, menangis dengan air mata yang mengalir deras.
Mo Qian dan Su Jingmei yang melihat Mo Lian seperti ini juga semakin sadar tentang beban pikiran maupun kejadian menyakitkan yang pernah dirasakan Mo Lian.
Belasan menit kemudian, Mo Lian sudah kembali tenang, dan membasahi wajah maupun rambutnya dengan air agar tidak terlalu terlihat seperti orang yang habis menangis.
"Baiklah, aku akan mengirimkan ingatanku pada kalian, tapi nanti saat Fefei sudah kembali dari sekolah."
Mo Qian dan Su Jingmei mengangguk kecil, menyetujui untuk menunggu Mo Fefei kembali.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1