Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 113 : 'Apakah Kau Mencoba Merampokku?'


__ADS_3

Mo Lian terdiam, ia menolehkan kepalanya berkali-kali melihat sekitar dengan tatapan bingung dan penuh tanya, seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa. "Aku memang berkata begitu, tapi, aku berada di mana sekarang?"


Mo Lian mengacak-ngacak rambutnya, ia menoleh ke arah yang menurutnya adalah arah utara mengingat arah yang dilalui oleh beberapa orang tadi, terlebih lagi ia tidak merasakan sinar matahari, yang mungkin saja terhalang oleh tebing.


Ia tidak terburu-buru untuk sampai di sana yang menurutnya ada sebuah kota, itu karena ia masih harus memikirkan alasan yang cocok untuk memasuki kota, serta bagaimana caranya untuk membayar masuk nanti. Menggunakan uang kertas? Sepertinya itu tidak mungkin.


Lalu dari apa yang dirasakannya tadi, orang-orang yang terbang dengan pedang adalah murid-murid dari sekte di sini, dengan basis kultivasi yang telah menembus Fase Lautan Ilahi tahap Menengah, dan mungkin saja ada beberapa kekuatan lain yang lebih tinggi hingga menembus Ranah Alam dan Manusia.


Mo Lian masih percaya diri bisa melawan Ranah Alam dan Manusia. Hanya saja, jika orang-orang di sini mengetahui fakta tentang dirinya yang berasal dari dunia sisi lain, mungkin saja orang-orang di dalam dimensi ini akan keluar dan menyerang ke sana.


Tidak mungkin ia bisa bertarung dengan tenang jika harus melindungi semua orang, meski pada dasarnya sendiri ia juga tidak terlalu peduli.


Tiga puluh menit kemudian, setelah berlari ke arah utara dengan kecepatan stabil seperti laju mobil pada umumnya, ia sudah meninggalkan hutan yang sangat lebat dan terlihat hamparan rumput yang sangat luas dengan jalan tanah yang dapat di lalui dua gerbong kereta. Jalan itu mengarah dari arah barat ke timur.


Mo Lian menolehkan kepalanya ke kanan, di sana terlihat sebuah kota yang jaraknya cukup jauh, mungkin sekitar empat mil darinya dengan tembok kota berwarna abu-abu kehitaman.


Tanpa berlama-lama lagi, ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan cara berlari seperti biasa. Hingga tiga menit kemudian, ia sudah sampai tepat di depan gerbang kota yang penuh dengan antrian. Gerbang kota sendiri terbagi menjadi dua bagian.


Gerbang pertama, adalah gerbang yang digunakan oleh bangsawan, murid sekte teratas, dan Kultivator dengan kekuatan diatas Fase Mendalam tahap Akhir.


Gerbang kedua, adalah gerbang yang digunakan oleh orang-orang biasa yang tidak memiliki status maupun kekuatan, termasuk orang-orang yang berada dibawah Fase Mendalam.


Melihat itu, Mo Lian benhenti sejenak untuk berpikir di manakah ia akan mengambil jalan. "Apakah di sebelah kiri diperuntukkan bagi siapa saja yang berada diatas Fase Lautan Ilahi? Tapi aku tidak bisa melewati gerbang itu, aku harus menahan diri agar memudahkanku untuk mencari informasi."


Mo Lian berjalan menuju antrean di kanan yang jumlahnya sekitar dua kali lipat dari antrian gerbang kiri. Memang memakan waktu, tapi ini lebih baik, namun yang menjadi masalah adalah, dengan apa ia harus membayar.


Empat puluh menit kemudian, Mo Lian sudah berada di antrian terdepan dan akhirnya gilirannya untuk memasuki kota.


"Dari mana kau berasal? Apakah kau baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu." Pria paruh baya mengenakan zirah besi menghentikan Mo Lian.


Mo Lian menyelipkan kedua tangannya pada lengan baju, ia menatap lembut penjaga gerbang itu. "Aku berasal dari Hutan Jinma."


Hutan Jinma adalah hutan di mana ia tiba, ia mendapatkan informasi itu dari beberapa orang yang sedang mengantre di gerbang sebelah. Dikatakan hutan itu sangat berbahaya bagi orang-orang biasa karena dipenuhi oleh hewan buas, bahkan terkadang ada monster Ranah Inti Perak.

__ADS_1


Penjaga gerbang itu mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Mo Lian. "Bagaimana bisa kau berasal dari sana? Di sana adalah hutan mematikan—"


"Aku sudah dari kecil tinggal di sana bersama Masterku, dia adalah Ahli Alkimia yang sangat luar biasa. Sangat mudah bagiku untuk dapat selamat dari hutan yang sudah ku anggap sebagai tempat tinggal." Mo Lian memotong perkataan penjaga gerbang di depannya dengan asalan yang sedikit masuk akal.


Penjaga gerbang itu kembali mengerutkan keningnya, ia masih tidak percaya jika ada Alkemis di hutan itu, terlebih lagi dengan pemuda di depannya. "Apakah kau seri—"


"Ini adalah buktinya." Mo Lian kembali memotong perkataan penjaga gerbang itu sembari mengeluarkan botol giok berisikan Pil Pembersih Tubuh.


Wajah penjaga gerbang itu mengeras dengan urat-urat lehernya terlihat, ia sangat kesal dengan Mo Lian yang terus memotong perkataannya. Tapi meski begitu, ia tetap membuka botol giok karena penasaran.


Ketika botol giok dibuka, wajah penjaga gerbang itu berubah dengan mata terbelalak lebar. "I- I- Ini. Pi- Pil tingkat tiga."


"Apakah itu terlalu rendah?" tanya Mo Lian sembari memiringkan kepalanya.


Penjaga gerbang itu tersentak, ia mendongakkan kepalanya menatap Mo Lian dan menggeleng pelan. "Ti- Tidak. Ini merupakan pil tingkat tinggi, pil terbagi menjadi lima tingkatan, biasanya yang memiliki pil tingkat tiga adalah bangsawan maupun yang memiliki status."


Penjaga gerbang itu menatap Mo Lian dengan mata bersinar seperti sedang memohon.


Penjaga gerbang itu tersenyum saat mendengar perkataan itu. Ia merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan dua Tael Perak, dan mempersilakan Mo Lian untuk masuk.


Tentu saja Mo Lian menerimanya, meski ia merasa jika harga itu terlalu murah, tapi ia ke sini untuk bisa memasuki kota. Perihal biaya hidup, ia bisa memikirkannya nanti.


Ketika Mo Lian melewati gerbang, ia bisa melihat pemandangan yang berbeda dari daerah perkotaan modern. Di sini seperti di Jalan Jinli yang masih menjaga kesederhanaan dan ukiran-ukiran kuno.


Mo Lian menggeleng pelan, bukan saatnya mengamati struktur kota. Ia melangkahkan kakinya menuju suatu bangunan yang cukup tinggi dan mewah, dan di depannya terdapat plang nama bertuliskan 'Paviliun Alkimia'.


"Meski aku mengatakan tidak terlalu membutuhkan uang, tapi saat melihat hal ini. Entah mengapa alam bawah sadarku mengatakan untuk masuk ke dalam dan menjual beberapa pil."


Mo Lian menggaruk belakang kepalanya. "Mungkin ini karena kebiasaan ku dulu yang menumpuk beberapa ribu ton emas, dan beberapa harta lainnya."


Mo Lian menghela napas panjang, dan kemudian berjalan memasuki Paviliun Alkimia. Bisa dilihat jika di dalamnya terdapat belasan orang yang mengenakan pakaian tradisional China, dengan beberapa wanita muda yang mengenakan pakaian sama, yang sepertinya adalah pelayan di sini.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

__ADS_1


Mo Lian menolehkan kepalanya, terlihat wanita yang usianya sepantaran dengan Mo Fefei. Berambut hitam panjang terurai, mengenakan pakaian tradisional China berwarna merah muda dengan hiasan kain putih dan selendang putih yang melilit pinggangnya.


"Aku ingin menjual beberapa pil," jawab Mo Lian.


Pelayan itu terdiam sejenak dengan raut wajah rumit, ia mengamati tubuh Mo Lian dari atas ke bawah berkali-kali, kemudian membawanya menuju meja resepsionis.


Mo Lian berjalan mengikuti wanita pelayan itu, ia tidak mengetahui mengapa harus diperiksa seperti itu. Apakah karena aku terlalu tampan? Tidak, bukan itu.


"Ada yang bisa dibantu?" Wanita yang penampilannya tidak jauh berbeda bertanya. Wanita yang berdiri di balik meja resepsionis memiliki rambut cokelat, dan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.


Mo Lian merogoh lengan jubahnya seperti sedang mengambil sesuatu, kemudian mengeluarkan botol giok yang berisikan Pil Pembersih Tubuh dengan jumlah lebih dari 10 butir, dan meletakkannya di atas meja.


Wanita pelayan itu membuka botol giok, seketika itu juga tercium aroma harum yang menyebar ke seluruh ruangan. Wanita itu membelalakkan mata yang kurang cocok untuk wajah halusnya yang datar dan dingin.


Pil ini memang sama seperti yang diberikan Mo Lian pada penjaga gerbang, hanya saja pil ini hampir mencapai tingkat empat.


"I- Ini. Pil tingkat empat," ucap wanita resepsionis terbata-bata. Ia mendongak menatap Mo Lian. "Apakah Anda ingin menjual ini semua? Apakah Anda memiliki Token Alkemis?"


Token Alkemis? Mo Lian mengerutkan keningnya saat mendengar itu, ini adalah sesuatu yang baru didengarnya. Tapi dari pertanyaan dan tatapan mata, entah bagaimana ia bisa mengetahui artinya, sepertinya itu adalah tanda yang digunakan oleh Alkemis.


"Aku tidak memilikinya." Mo Lian menjawabnya dengan santai.


Wanita itu mengerutkan keningnya, kemudian membalas tanpa ada rasa hormat sedikitpun, "Jika kau tidak memilikinya, kau tidak bisa menjual pil ini, dan kami bisa saja menganggapnya sebagai kasus pencurian. Tentu saja kau akan dihukum dan pil ini akan kami sita."


Wajah Mo Lian mengeras dengan kerutan, ia baru tiba untuk beberapa jam dan berniat tetap tenang tanpa menunjukkan kekuatannya. Tapi jika ada yang ingin merampoknya, ia tidak akan segan-segan.


"Apakah kau mencoba merampokku?" Mo Lian menatap tajam wanita itu dengan aura kuat keluar darinya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2