Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 277 : Janji dengan Mo Qian


__ADS_3

Mo Lian melangkah masuk dan terus berjalan ke lantai teratas mengikuti arahan dari Hong Xi Jiang yang memintanya untuk naik ke atas. Hingga ia sampai di depan pintu kembar yang terbuat dari kayu secang dengan ukiran bunga.


"Saya masuk." Mo Lian mendorong pintu kembar itu dengan kedua tangan.


Terlihat ada seorang pria tua yang duduk bersila di atas bantal biru. Pria itu memiliki rambut panjang, alis yang cukup panjang sampai ke bawah mata, janggut juga panjang sampai dada, mengenakan pakaian serba putih yang berlapis-lapis.


Bahkan meski tidak pernah melihatnya secara langsung, Mo Lian tahu jika pria tua itu adalah Leluhur Hong, Hong Xi Jiang.


Kemudian di sebelah kiri Hong Xi Jiang ada wanita muda yang duduk dengan kaki dilipat di atas bantal biru. Berambut biru malam, mata biru tua berkilauan, bibir merah merona, mengenakan pakaian hijau muda dan memakai sanggul untuk menghias rambutnya.


Kekuatan wanita itu adalah Heavenly Immortal tahap Menengah, dan ia tidak mengetahui siapa wanita itu.


Mo Lian berlutut dengan kedua lututnya yang menyentuh lantai dan menangkupkan kedua tangan. "Salam, Mo Lian datang memberi hormat pada Leluhur Hong, Master Hong dan ..." Ia tidak tahu harus memanggilnya apa.


Seraya tersenyum hangat menatap Mo Lian, wanita itu berucap, "Kau bisa memanggilku Ibu."


"Eh!?" Mo Lian memiringkan kepalanya dan tanpa sadar mengeluarkan suara. "Ah! Maaf." Ia menangkupkan kedua tangannya saat menyadari tindakannya yang tidak sopan.


Wanita itu tertawa kecil dengan senyum yang sangat indah.


Hong Xi Jiang berdehem, lalu menatap Mo Lian. "Aku pernah berbicara dengan ayahmu saat dia masih sekecil ini." Ia mengangkat tangannya sejajar dengan kepala, yang artinya sepinggang saat berdiri.


Mo Lian menganggukkan kepalanya karena sudah mengetahuinya dari cerita Ayahnya sendiri.


Hong Xi Jiang terdiam sejenak seraya menoleh ke kiri depan melihat Hong Xi Ning yang duduk dengan kepala tertunduk. Kemudian kembali menatap Mo Lian. "Saat itu, aku mengatakan padanya, apabila kita bisa bertemu lagi. Aku akan menikahkan putriku dengan putranya, namun jika dia tidak memiliki putra melainkan putri, maka akan menjadi saudari."


Mo Lian masih diam dan mengangguk kecil, masih tidak mengerti apa yang dikatakan Hong Xi Jiang. Ia bisa dibilang sangat lambat jika masalah yang menyangkut dengan percintaan, meski ia sudah pernah berpacaran.


"Ah!" Akhirnya Mo Lian sadar jika ia telah dijodohkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum ia lahir di dunia. "Ap- Apakah Anda serius?"


Hong Xi Jiang menganggukkan kepalanya tegas tanpa ada keraguan sama sekali, serta wanita yang di sebelahnya juga mengangguk dan tersenyum.


Mo Lian terdiam, tapi kemudian ia menenangkan dirinya. "Saya sangat berterimakasih karena telah dijodohkan dengan wanita yang saya cintai. Tapi, aku sudah berjanji akan menghabisi Iblis di Alam Hanzi, aku tidak mau mengingkarinya ..."


"Bagaimanapun, yang dipegang dari pria adalah omongannya."

__ADS_1


Hong Xi Jiang tertegun, kemudian tersenyum ringan dan penampilannya berubah, terlihat seperti pria seumuran dengan Mo Lian. "Baiklah, kau memang memiliki kemampuan untuk ke sana, tapi aku harap kau menembus Heavenly Immortal dulu sebelum pergi."


Mo Lian menangkupkan kedua tangannya. "Terimakasih ..."


Hong Xi Ning berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju jendela yang tertutup rapat dan kemudian membukanya. "Besok lusa, aku akan mengumumkan pertunangan kalian berdua."


Walaupun ini sangat mengejutkan Mo Lian, ia berusaha untuk tetap tenang. "Master, apakah Anda tidak masalah dengan hal ini? Seorang Guru bertunangan dengan Muridnya sendiri." Ia menatap Hong Xi Ning.


Hong Xi Ning mendongak dan menoleh ke kiri. "Jika Ayahku berkeinginan demikian—"


"Aku ingin mendengar jawaban dari dalam hatimu, bukan karena Ayahmu." Mo Lian merasa sangat bersalah dan tidak terima jika Hong Xi Ning mau menikah dengannya hanya karena perjodohan, bukan karena hati.


Hong Xi Ning terdiam sejenak tidak menjawabnya, melainkan berdiri menghampiri Mo Lian, kemudian melemparkan dirinya sendiri ke arah Mo Lian.


Mo Lian menangkap Hong Xi Ning dalam pelukannya, tepat di depan Hong Xi Jiang dan Wang Yue Fei.


Hong Xi Ning mendongak menatap wajah Mo Lian. "Apakah aku harus menjelaskannya? Saat aku bertemu denganmu, aku sudah merasa sangat akrab, dan ketika melihat ingatanmu, aku sering tersenyum sendiri atau menangis ..."


Hong Xi Ning menyandarkan kepalanya di dada Mo Lian. "Mungkin di kehidupan ini kita baru mengenal, tapi di kehidupan sebelumnya hampir seribu tahun. Kau selalu ada, selalu membantuku ..."


"Menikah? Harusnya aku yang bertanya. Kau masih sangat muda, apakah kau tidak keberatan menikahi wanita tua sepertiku?"


"Usia hanyalah angka." Mo Lian menunduk menatap wajah Hong Xi Ning, dan langsung mengecup lembut keningnya.


Hong Xi Jiang memegangi kepala Mo Lian dan Hong Xi Ning, kemudian memisahkan keduanya. "Aku senang kalian berdua saling mencintai, tapi kalian harus tahu sopan santun. Aku masih berada di sini dan kalian berdua belum menikah, bahkan bertunangan saja belum. Jangan melakukan tindakan vulgar."


Mo Lian tersenyum canggung dan merasa bersalah serta malu secara bersamaan. Perasannya selama 1000 tahun telah dibalas, tentunya membuatnya sangat senang dan bahagia.


Hong Xi Jiang menoleh ke kanan menatap Mo Lian. "Besok aku akan mengumumkan bahwa kalian berdua akan bertunangan. Sekarang, kau bisa kembali."


Mo Lian menangkupkan kedua tangannya. "Baik, Yue Fu." Kemudian ia memiringkan kepalanya menatap Wang Yue Fei. "Aku pergi dulu, Yue Mu."


"Bocah kurang ajar, kau belum menikah. Jangan panggil aku Ayah Mertua!" Hong Xi Jiang berteriak seraya menendang Mo Lian.


Mo Lian yang ditendang itu berubah menjadi asap halus, yang kemudian menghilang sembari meninggalkan suara, "Ning'er, aku pulang dulu."

__ADS_1


Hong Xi Jiang menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan seraya mengepalkan tangannya erat. "Bocah tengik."


***


Can Qi Meiliafei


Mo Lian kembali di ruang kerja Ibunya dan di sana ada Mo Fefei yang membantu pekerjaan. Ada juga Ayahnya yang memeriksa dokumen lain, yang sepertinya itu adalah dokumen tentara bayaran yang ia buat.


Masih memeriksa dokumen di atas meja, Mo Qian berucap, "Apakah kau sudah bertemu Pak Tua Hong?"


"Sudah." Mo Lian menganggukkan kepalanya seraya berjalan menghampiri sofa.


Kemudian Mo Lian menceritakan apa yang dikatakan oleh Hong Xi Jiang di Sekte Zhongjian, semuanya tanpa melebih-lebihkan atau menguranginya.


Mo Qian hanya menganggukkan kepalanya seperti sudah menduga hal ini. Berbeda dengan Su Jingmei dan Mo Fefei, terlebih lagi Mo Fefei yang terlihat sangat sedih dan bahagia secara bersamaan.


"Apakah Kakak akan menikah?" Air mata Mo Fefei terbendung di kelopak matanya.


Mo Lian juga merasa tidak nyaman untuk meninggalkan Adiknya yang sudah ia rawat selama belasan tahun ini. "Apakah Fefei tidak menyetujuinya?" tanyanya sambil mengusap air mata Mo Fefei yang mulai menetes.


"Bukan itu." Mo Fefei menggelengkan kepalanya. "Fefei senang Kakak akan menikah, hanya saja sedikit sedih karena Fefei masih ingin bermanja-manja dengan Kakak."


Mo Lian terdiam tanpa berucap sama sekali dan memilih untuk memeluk Mo Fefei, hingga membuat Adiknya tertidur pulas di dalam pelukannya, bahkan bajunya juga basah, bukan karena air mata, melainkan air ludahnya.


"Lian'er ..." Su Jingmei menepuk pundak kiri Mo Lian. "Aku senang kau bisa menikahi orang yang kau cintai, tapi bagaimana dengan Qin Nian dan Yun Ning?"


Mo Lian menoleh sekilas dan menundukkan kepalanya untuk waktu yang cukup lama. Ia tidak bisa memikirkan harus melakukan apa untuk Qin Nian dan Yun Ning, tapi karena ia cukup dekat dengan keduanya sampai membuat mereka berdua memiliki perasaan padanya, bisa dibilang ia harus membalasnya.


"Aku tidak tahu, aku akan berkonsultasi dengan Leluhur Hong, Bibi Wang dan Ning'er."


Su Jingmei mengembuskan napas panjang seraya mengusap puncak kepala Mo Lian. "Keputusan ada di tanganmu, dan Ibu akan mendukung apa pun keputusanmu."


Mo Lian hanya mengangguk dan diam, tidak membalas ucapan Ibunya, seraya terus memeluk erat Mo Fefei yang ada di pangkuannya.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2