
Mo Lian, Wu Yengtu, Xu Xumei, Xu Fulian dan Jia Yaoyu melayang di tengah-tengah ruangan dalam gua. Kelimanya menatap tajam mengarah pada ular yang masih mencoba untuk bangkit kembali.
Karena serangan Mo Lian tidak menimbulkan efek, maka mereka semua masih menunggu mencari peluang. Mereka berencana menyerang dari dalam, pada saat ular itu membuka mulutnya.
Ssshh!
Ular kembali mendesis, ular itu kembali mengibaskan ekornya yang panjang pada mereka. Sama seperti sebelumnya, dengan sigap Mo Lian mengeluarkan siluet telapak tangan yang sangat besar.
Bang!
Dentuman keras kembali terjadi di dalam gua, membuat bebatuan di langit-langit maupun dinding gua berjatuhan, air di danau juga bergetar dan melemparkan air ke udara.
Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian mengendalikan dua siluet telapak tangan. Ia menarik ekor ular itu dan membantingnya keras ke dinding gua lainnya. Dentuman keras kembali terdengar, saat ular mengenai dinding, tercipta lubang besar yang memperlihatkan ruangan lainnya, di dalam ruangan itu terdapat rempah maupun herbal seperti ruangan sebelumnya.
"Matanya!"
Wu Yengtu memfokuskan energi spiritual di tangan kanannya, api yang sebelumnya berukuran kecil berubah menjadi tombak panjang. Ia menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya, kemudian mengayunkannya dengan kekuatan penuh mengarah pada mata ular.
Wush!
Tombak api melesat tajam, kian waktu tombak itu semakin membesar membakar oksigen di sekitarnya. Kemudian menancap pada mata kiri ular itu, membuat ular mendesis keras dan menggeliat di tanah mencoba menjauh. Tapi sangat disayangkan, ular itu tidak bisa pergi kemanapun, karena ekor dan bagian tubuh yang berada tepat di bawah kepalanya tertahan oleh tangan besar Mo Lian.
Wu Yengtu memposisikan tangan kanan berada di atas telapak tangan kiri, jari telunjuk dan tengah dari tangan kanan menghadap ke udara. "Terbakar!"
Suhu tombak api yang menancap di mata ular itu semakin tinggi, dan mulai menyebar membakar seluruh bola matanya.
Xu Xumei, Xu Fulian, dan Jia Yaoyu juga tidak tinggal diam. Mereka bertiga mengeluarkan serangan terkuat mereka masing-masing, entah itu pedang besar, ratusan pedang, dan anak panah.
Ketiga serangan itu mengenai mata kanan, maupun memasuki mulut ular yang sedang terbuka.
__ADS_1
Mo Lian mengendalikan kedua telapak tangan yang terbuat dari energi spiritual itu dengan energi jiwa dan kesadarannya. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara dengan jari telunjuk dan tengah menghadap langit-langit gua. "Teknik Pedang 1000 Mil, Gerakan Kelima. Pedang Pemusnah!"
Seketika di langit-langit gua tercipta fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat. Tidak lama kemudian terlihat pedang besar yang memiliki panjang 50 meter, dengan kultivasinya yang sekarang, Mo Lian hanya mampu membuatnya sebesar ini. Namun jika sudah berada pada Ranah Heavenly Immortal, ia bisa membuat pedang yang besarnya sanggup membelah Matahari.
"Bisakah kau jangan banyak bergerak!" Mo Lian menatap tajam ular itu dengan nafsu membunuh, kemudian mengayunkan tangannya ke bawah mengarah pada ular.
Pedang besar yang melayang itu sedikit bergetar seperti menanggapi panggilan Mo Lian. Kemudian melesat tajam mengarah pada ekor ular dan menembusnya.
Boom!
Getaran hebat terjadi di dalam gua. Kali ini bukan lagi kerikil-kerikil kecil yang berjatuhan, melainkan stalaktit.
"Lian! Kenapa tidak kau serang kepalanya?" tanya Xu Xumei sedikit berteriak.
"Maaf Nenek. Di bagian kepalanya ada benda yang berharga, jika menyerangnya, maka hanya akan menghancurkannya," jawab Mo Lian tanpa menoleh.
Mereka semua kembali terdiam dengan mulut sedikit terbuka, meski mereka sudah berusia lebih dari 700 tahun dan memiliki pengalaman kultivasi yang sangat lama. Tapi pengetahuan mereka kalah jauh dari Mo Lian, mereka mulai penasaran dengan identitas asli yang dimiliki Mo Lian. Bagaimanapun ini adalah hal baru bagi mereka, bahkan mereka yakin jika Ketua dari Organisasi Dunia Hitam tidak memiliki pengetahuan seperti Mo Lian.
"Ah!" Xu Xumei sedikit tersentak, ia mengepalkan tangan kanannya di depan dada, ia menatap lembut wajah Mo Lian. "Baik, Lian."
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada ular yang mencoba bergerak namun tidak bisa. Ekor yang digunakan untuk menyerang sudah tertembus pedang dan tidak bisa bergerak. Ia kembali mengangkat tangannya, mengeluarkan serangan yang sama dan mengarahkannya pada bagian bawah kepala ular.
Darah merah segar mengalir deras dari tubuh ular, saking derasnya hanya dalam waktu beberapa detik saja juga tercipta sebuah sungai yang panjang. Agar tidak mengenai danau, Xu Fulian mendarat di sekitar danau dan menggali parit yang membelokkan arah darah segar.
Ssshh!
Ular kembali mendesis, kali isi suaranya terdengar lebih keras dan tampak ada rasa kekesalan. Aura membunuhnya dikeluarkan dan terus bergerak-gerak mencoba untuk melepaskan pedang yang menembus tubuhnya, tapi sebanyak apapun ia berusaha, itu tidak membuahkan hasil. Meski ular berada pada Ranah Inti Perak tahap Akhir, satu tingkat lebih tinggi dari Mo Lian, namun kekuatannya sendiri sangat jauh dibawah Mo Lian.
Ular membuka mulutnya, ia kembali memfokuskan energi spiritual pada satu titik. Energi spiritual itu semakin membesar seiring berjalan waktu, kemudian saat sudah dirasa cukup, ular menembakkan energi spiritual itu.
__ADS_1
Tentu saja Mo Lian tidak tinggal diam, sebelum energi spiritual ditembakkan. Dengan sigap ia memukulkan tinjunya yang diselimuti energi kuat bercahaya biru pada mulut ular, membuat energi spiritual itu melesat masuk ke dalam tubuh ular.
Kemudian ia kembali membuat siluet telapak tangan dan mencengkeram erat mulut ular agar tidak terbuka.
Boom!
Terdengar ledakan keras yang teredam dari dalam tubuh ular. Darah segar mulai merembes keluar dari celah-celah kecil sisik, napas ular yang sebelumnya kuat berangsur-angsur melemah dan tak dapat lagi bergerak, mata kanannya perlahan menutup dan terbunuh.
Semua orang yang melihat itu menghela napas lega. Tapi meski begitu, disisi lain mereka merasa tidak berguna, karena sebagian dari pertempuran ini hanya Mo Lian seorang yang bekerja, sedangkan mereka seperti anak kecil yang menonton.
Xu Xumei terbang menghampiri Mo Lian, ia menggenggam pergelangan tangan Mo Lian. "Lian. Mungkin ini terdengar kasar dan serakah, apakah kau bisa menjelaskannya sekarang dan bagaimana kau bisa memiliki kekuatan sebesar ini?"
Mo Lian menolehkan kepalanya, ia mengedarkan pandangannya melihat kesepuluh orang yang menatapnya dengan tatapan penuh akan pertanyaan. Ia mengangkat tangan kanannya, ia mengalirkan energi spiritual pada jari telunjuk. Terlihat 10 cahaya berwarna biru berputar-putar mengelilingi jari telunjuknya, cahaya-cahaya itu adalah pengetahuan tentang Kultivator Dao, dan hal-hal lainnya yang bisa diketahui oleh mereka semua.
Sedangkan tentang fakta bahwa dirinya terlahir kembali, Mo Lian merahasiakannya. Tapi tidak menutup kemungkinan besar ia akan memberitahukannya nanti, tentu saja hanya untuk ibu dan adiknya, beserta orang-orang yang dipercaya.
Mo Lian mengarahkan jarinya pada kesepuluh orang itu, kemudian 10 cahaya yang mengelilingi jarinya itu terbang memasuki dahi mereka semua.
Keringat dingin mengalir di wajah kesepuluh orang itu ketika cahaya biru itu memasuki dahi mereka. Berbagai pengetahuan lebih jelas tentang Kultivator Dao memasuki pikiran mereka, mereka semua seperti memasuki dunia lain yang gelap gulita dan perlahan terlihat cahaya kelap-kelip berbeda warna. Cahaya-cahaya itu adalah gugus bintang, lalu bintang-bintang yang ukurannya lebih besar dari Matahari itu meledak secara bergantian.
Masih dengan mata terpejam, mereka semua menggigit bibir bawah menahan rasa sakit. Tubuh mereka bergidik ketakutan seperti melihat monster mengerikan, di dalam pikiran mereka, mereka melihat seseorang yang memiliki ukuran tubuh sangat besar. Bahkan Matahari sangat besar itu seperti kelereng kecil di depannya. Tapi dari itu semua, orang yang bisa menghancurkan gugus bintang itu memiliki penampilan yang sama seperti Mo Lian.
Sepuluh menit berlalu. Ketika mereka membuka mata, masih terlihat ketakutan di mata mereka. Dengan tubuh bergetar, mereka semua menolehkan kepala menatap Mo Lian yang tersenyum lembut.
Xu Xumei menggigit bibir bawahnya, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Mo Lian. Ia mundur beberapa langkah dan masih menatap Mo Lian dengan pandangan sedikit takut. "Lia— Tidak! Tuan Mo, siapa sebenarnya Anda?"
...
***
__ADS_1
*Bersambung...