Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 456 : Bermain-main dan Membunuh


__ADS_3

Erlang Yang mengernyitkan dahi melihat Hong Xi Jiang yang mengabaikannya. Ini membuatnya sangat marah dan terhina karena semut dari Alam Manusia mengabaikan Dewa Abadi seperti dirinya. "Aku berbicara denganmu!"


Hong Xi Jiang menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung. Dia menatap Erlang Yang. "Aku ingin bertanya, apakah kau yakin ingin melawanku?"


Pembuluh darah muncul di dahi dan leher Erlang Yang, dia sudah muak dengan manusia dari Alam Manusia. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia mengayunkan tombak dengan seperti trisula, tapi bukan trisula.


Hong Xi Jiang masih diam. Biasanya, dia akan membunuhnya langsung, tapi melihat betapa percaya dirinya Erlang Yang, dia ingin bermain-main sebentar.


Meski dia tidak pernah bermain-main saat melawan musuhnya, tapi tidak ada salahnya melakukannya sesekali.


Hong Xi Jiang melesat dengan cepat saat tubuhnya diselimuti energi putih seperti nyala api. Kemudian dia berhenti seraya merentangkan kedua tangannya, kemudian mengatupkannya.


Bang!


Dentuman keras datang dari atas, seperti Surga sedang marah dan memberikan hukuman untuk setiap makhluk dari segala alam. Tangan putih datang dari kekosongan di samping serangan Erlang Yang, tangan-tangan itu menangkap serangan dan menghancurkannya seperti kaca.


Hong Xi Jiang menghilang tanpa meninggalkan aura yang tertinggal dan tiba di depan Erlang Yang. Tangan kanannya seperti terbakar oleh api putih, dia menyerang ke arah dada Erlang Yang.


Erlang Yang sedikit terkejut dengan kedatangan Hong Xi Jiang tiba-tiba, tapi dia tidak panik karena percaya diri dengan kekuatannya sendiri. Dia menyilangkan Tombak Dewa di depannya untuk menghalau serangan.


Serangan sederhana dari Hong Xi Jiang dan pertahanan Erlang Yang membuat ledakan seperti Supernova. Itu mengundang apa pun di sekitarnya, bintang-bintang yang sebelumnya telah dibentuk kembali, sekarang hancur tanpa menyisakan apa pun kecuali Bumi yang masih bertahan.


Erlang Yang mengibaskan Tombak Dewa secara menyilang, dari bawah kiri ke kanan atas berniat melukai Hong Xi Jiang. Dari pandangannya, dia berhasil menebasnya menjadi dua bagian, tapi dia tidak senang dan berbalik seraya membuat gerakan menusuk menggunakan Tombak Dewa.


Tapi seperti sebelumnya, yang diserang Erlang Yang hanya bayangan yang ditinggalkan Hong Xi Jiang saat menghindari serangan dengan gerakan melebihi kecepatan Erlang Yang.


Hong Xi Jiang muncul kembali di belakang Erlang Yang, dia menyerangnya dengan telapak tangan. Kemudian sebelum Erlang Yang bisa merespon, dia sudah berpindah dan menyerang di tempat lain.


Erlang Yang mencengkeram erat Tombak Dewa. "Aku tahu kau cepat, tapi seranganmu tidak melukaiku sama sekali. Apakah hanya ini yang dimiliki Kaisar Manusia?"


Dengan ledakan yang membosankan, aura Erlang Yang meledak. Aura itu memperlihatkan ilusi mata besar yang terbentuk dari celah ruang di atasnya, mata itu berwarna putih dengan emas di tengah-tengahnya. Mata itu seperti mampu melihat apa pun, bahkan keburukan orang bisa dilihatnya.


Mata ketiga di dahi Erlang Yang juga terbuka, mata itu seperti bisa menembus apa pun dan dia bisa menangkap pergerakan Hong Xi Jiang. Di matanya, kecepatan Hong Xi Jiang seperti siput.


Erlang Yang menyeringai. Dia menyerang Hong Xi Jiang dengan gerakan menusuk. "Mati!"


Hong Xi Jiang membuka matanya lebar-lebar, kemudian dia menghindari serangan dari Tombak Dewa. Tapi sayang, bahunya masih terkena serangan dan terluka. Dia menggigit bibirnya, meringis menahan sakit dan panas di tempatnya terluka.


Melihat Hong Xi Jiang yang terluka, kepercayaan diri Erlang Yang meningkat.

__ADS_1


Shang Jian mengamatinya dari belakang. Dia tersenyum tipis, dia sedang mencari kesempatan untuk membunuh mereka berdua dan mengambil semua kontribusinya sendiri Dia melihat sekitar, tatapannya tertuju pada Wang Yue Fei. "Sangat cantik."


Erlang Yang terbang lebih tinggi di atas Hong Xi Jiang dan memandangnya rendah seperti melihat semut. Aura yang menyelimutinya meledak, ilusi Dewa Perang muncul di atasnya sedang membawa Tombak Dewa yang sama dengan memakai zirah emas.


"Kaisar Manusia, aku mengatakannya sekali lagi. Menyerahlah, aku bisa memberimu kematian yang tidak menyakitkan." Erlang Yang mengangkat Tombak Dewa, membuat Wilayah Timur mengalami perubahan total. Aura emas menyebar, menekan semua makhluk hidup di Wilayah Timur.


Shang Jian mengabaikan perubahan Erlang Yang. Dia melesat seperti kilatan cahaya dan datang di depan Wang Yue Fei, dia mengulurkan tangannya hendak mencengkeram leher Wang Yue Fei.


"Apakah kau sebegitu inginnya mencari kematian?"


Suara Wang Yue Fei yang merdu dan halus, membuat siapa saja yang mendengarnya terlena. Ketika suara itu jatuh, semua hal di Wilayah Timur berhenti bergerak, bahkan waktu pun membeku.


Domain yang dibentuk Erlang Yang langsung pecah tanpa adanya perlawanan.


Shang Jian yang sudah di depan Wang Yue Fei, tidak bisa bergerak sedikit pun. Bahkan detak jantungnya berhenti, napasnya tersendat, dan hanya bola matanya yang bisa bergerak, atau dibiarkan bisa bergerak.


Ilusi di atas Erlang Yang hancur, beserta mata yang muncul dari celah.


"Sayang, aku baru bermain-main. Tapi kau langsung mematahkannya begitu saja? Bukankah itu seperti menghentikanku untuk bersenang-senang?"


Erlang Yang tercengang melihat Hong Xi Jiang yang baik-baik saja. Luka yang diterima juga telah sembuh tanpa adanya bekas sekalipun. Harusnya itu tidak mungkin, karena di Alam Selestial, siapa pun yang terkena serangannya, akan mengalami sakit berkepanjangan.


Hong Xi Jiang melihat Shang Jian, dia melambaikannya tangannya seperti memanggil.


Hong Xi Jiang melihat keduanya yang berada di depannya. Dia mengangkat tangannya, kemudian menjentikkan jarinya.


Tiba-tiba, waktu yang awalnya berhenti, kembali berjalan dengan normal, membuat Erlang Yang dan Shang Jian bisa bergerak lagi.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Shang Jian menendang punggung Erlang Yang dan langsung berbalik melarikan diri.


Erlang Yang tidak menyadari serangan itu dan dia tidak menyangka Shang Jian akan menggunakannya sebagai perisai daging. Dia tidak bisa menerima ini, tapi tidak bisa berbuat apa-apa di bawah tatapan Hong Xi Jiang yang mengunci pergerakannya.


Harusnya dia tahu, dia tidak bisa mengikuti Shang Jian hanya karena rayuan itu. Harusnya dia mengikuti saran Kaisar Giok untuk tidak datang ke Wilayah Timur, apalagi mencari masalah dengan Kaisar Manusia.


Hong Xi Jiang mencengkeram leher Erlang Yang. "Apakah kau tidak mendengar dari Bocah Giok untuk tidak datang menemuiku? Harusnya, Bocah Giok itu terluka, itu didapatnya karena memaksa melihat Alam Manusia dari atas sana."


Erlang Yang masih berusaha lepas dari cengkeraman Hong Xi Jiang, sampai dia mendengar hal itu, dia tercengang dengan mata terbuka lebar. "Ma- Maksudmu ... Yang Mulia Kaisar Giok terluka ... karenamu?"


Hong Xi Jiang mengangguk. "Bocah Giok bahkan tidak berani denganku, tapi dia mengirim kalian yang lemah?"

__ADS_1


Erlang Yang gemetar karena takut, tapi dia masih tidak mengerti satu hal. "Mengapa ... kau tidak menyerang ... Alam Selestial ... jika kau memiliki kekuatan sebesar ini?"


Hong Xi Jiang tersenyum tipis, tapi dia tidak berniat untuk memberi tahunya. Dia mencengkeram lebih erat dari sebelumnya, tapi bukan hanya leher Erlang Yang yang tercekik, melainkan seluruh tubuhnya.


Erlang Yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya, darah mulai merembes dari segala tempat. Matanya terbelalak dengan ketakutan yang menggerogoti pikiran dan mentalnya, dia sangat takut.


Erlang Yang ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum bisa mengatakannya, dia meledak seperti balon yang meletus tanpa meninggalkan apa pun. Kecuali serpihan cahaya emas yang memasuki tubuh Hong Xi Jiang dan membuatnya mengalami peningkatan kekuatan.


...


Sementara itu, Shang Jian terus berpindah-pindah, dia membuka ruang tanpa henti dengan gilanya. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya, dia sangat takut mati. Dia turun ke Alam Manusia dengan percaya diri bisa membunuh Kaisar Manusia, tapi siapa yang menduga, pendamping Kaisar Manusia sudah sangat kuat, apalagi Kaisar Manusia itu sendiri.


Adapun mengorbankan Erlang Yang untuk menyelamatkan dirinya, dia tidak peduli, karena pada awalnya dia memang berniat ingin membunuh Erlang Yang dan mengambil semuanya.


Shang Jian menoleh ke belakang ketika merasakan kematian semakin mendekat dengannya. Dia membuka matanya lebar-lebar saat melihat sebuah bola energi berwarna oranye, emas, ungu. Itu terus berubah-ubah, dan masing-masingnya membawa aura yang kuat dari orang yang sama.


"Sial! Wanita gila ini bisa menyerang dari Wilayah Timur ke Utara."


Shang Jian membuka celah di depannya seraya menebas bola energi dengan dua tebasan pedang. Tanpa melihat hasilnya, dia langsung memasuki celah.


Tepat saat dia memasuki celah dan tiba di tempat lain, ruang di belakangnya meledak.


Dari ledakan itu menghasilkan energi kuat yang mengunci pergerakannya kembali, Shang Jian sangat panik. Tubuhnya gemetaran, air mata mulai mengalir dan celananya juga basah. Meski dia sangat kuat di Alam Selestial, tapi di bawah tekanan seperti ini dan kemungkinan besar akan terbunuh, tetap saja dia sangat takut.


Bola energi yang meledakkan ruang kembali terbentuk di depan Shang Jian. Itu berubah bentuk menjadi benang tipis yang melesat ke segala arah, membentuk jaring-jaring yang mengurung Shang Jian.


Benang-benang tipis yang mengurung Shang Jian, bergerak bersamaan dan mengikat tubuhnya sekuat-kuatnya sampai membuatnya terluka.


"Aaarrrgghh!" Shang Jian berteriak keras dengan rasa sakit saat suhu dingin datang dari benang, dan menusuk-nusuk tulangnya.


Benang itu terus mengencang sampai menembus dagingnya dan menggesek tulang-tulangnya.


Shang Jian bernapas terengah-engah saat kematian berada di depannya, wajahnya sudah banjir akan air mata. Dia mulai menyesali tindakannya yang datang ke Wilayah Timur untuk memprovokasi Kaisar Manusia.


Booom!


Shang Jian meledak saat benang yang melilitnya mengencang. Semuanya hilang, kecuali serpihan emas yang melintasi ruang dan waktu untuk kembali ke Wilayah Timur.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2