
Mo Lian turun dari ketinggian langit menghampiri mayat Ye Fu Tian yang berada di atas lumpur. Ia menolehkan kepalanya mengamati jari-jari Ye Fu Tian mencari keberadaan Cincin Ruang, kemudian mengambilnya saat melihat bahwa Cincin Ruang itu bukan dikenakan di jari, melainkan dililit di pergelangan tangan dengan rantai kecil.
Lalu ia beranjak pergi menuju Istana Surgawi yang beberapa bangunan masih dapat bertahan, dan ribuan bangunan lainnya dalam radius 700 mil, sudah rata dengan tanah.
Mo Lian yakin jika apa yang ada di dalam bangunan yang masih berdiri dengan kokoh memiliki harta yang berlimpah dan berharga. Bagaimanapun suatu harta pastinya akan disimpan di tempat yang aman dan kuat.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Ayahnya yang masih melayang di langit. "Ayah, tolong ambilkan Cincin Ruang milik semua orang, barang-barang mereka cukup berguna bagi kita, bagaimanapun perusahaan membutuhkan rempah dan herbal-herbal yang berkualitas."
Mo Qian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan kemudian pergi berkeliling mencari Cincin Ruang yang tersebar.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada beberapa bangunan yang masih berdiri kokoh, ia menekan kakinya di tanah dan melesat tajam menuju salah satu bangunan terbesar terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian. Mo Lian sudah sampai di depan bangunan besar bergaya China klasik, namun berwarna putih, sangat berbeda sekali dengan warna yang digunakan pada umumnya.
Tanpa berlama-lama lagi, ia berjalan memasuki bangunan itu tanpa mengendurkan kewaspadaannya. Meski seluruh orang di Istana Surgawi sudah terbunuh, tapi tidak menutup kemungkinan besar akan ada bahaya lain, seperti datangnya organisasi ataupun keluarga besar yang berkaitan dengan murid Istana Surgawi.
Di dalam bangunan ini masih terjaga dengan baik meski di luarnya sudah tidak tertolong lagi karena tsunami besar yang terjadi tadi. Di dalam bangunan banyak sekali hiasan guci-guci, meski tidak terlalu berharga bagi Mo Lian, tapi ia tetap menyimpannya, paling tidak bisa dijual kembali di pelelangan.
"Aku menduga satu guci bisa ditawar dengan harga satu juta Yuan untuk yang terendah, dan yang tertinggi mungkin senilai seratus juta Yuan. Itu jika seorang Pejuang yang menawar. Bagaimanapun barang-barang ini hanya berarti di mata seorang Pejuang, apabila kolektor biasa, ini seperti guci biasa, apalagi tidak ada catatan dalam sejarah."
Mo Lian terus berjalan masuk ke dalam bangunan mengikuti aura yang dirasakannya. Hingga sepuluh menit berlalu, ia sudah tiba di depan pintu kembar yang tingginya lebih dari 20 meter, ia merasa jika di balik pintu ini terdapat harta yang berlimpah.
"Pintu ini dipasang array, jika bukan orang yang membawa tanda khusus membukanya secara paksa, maka seluruh harta benda yang berada di balik pintu ini akan musnah," ucap Mo Lian yang menyentuh pintu dengan telapak tangannya.
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada lingkaran array di depannya secara perlahan untuk mematahkan array itu. Mematahkan array mengharuskannya untuk mengetahui dulu seluruh pola yang ada, kemudian mengubah susunan array tanpa merusak pola yang lain.
Tidak sampai satu menit semenjak Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya dengan mata terpejam. Tiba-tiba pintu kembar yang disentuhnya mulai terbuka secara perlahan, memperlihatkan tumpukan harta yang sangat berharga jika dibandingkan dengan Bumi.
Tumpukan rempah maupun herbal dengan tinggi hampir mencapai 100 meter, Tael Emas, senjata maupun artefak juga ada di sana, termasuk Cincin Ruang lain yang ukurannya sedikit lebih besar ketimbang miliknya.
__ADS_1
Meski ia sudah sering melihat harta yang lebih banyak dan berkualitas daripada yang berada di depannya. Tapi tetap saja Mo Lian tidak bisa menyembunyikan ekspresi senang di wajahnya karena dapat menemukan harta seperti ini di Bumi.
"Rempah maupun herbal sebanyak ini cukup untuk membuat Pil Pingyuan kualitas Tinggi untuk beberapa puluh tahun ke depan."
Mo Lian mengarahkan tangannya pada tumpukan harta dan kemudian memasukkan seluruh harta yang berada di depannya ke dalam Cincin Ruang. Ia membutuhkan lebih dari 20 Cincin Ruang dengan kapasitas yang sama untuk mengosongkan seluruh harta.
Cincin Ruang yang dimiliki Mo Lian kali ini lebih dari 1000, dan ditambah dengan yang dicari oleh Ayahnya nanti, entah berapa jumlah yang dimilikinya.
Meski Cincin Ruang yang didapatnya nanti kualitas terendah, ia akan tetap menyimpannya untuk dijual kembali.
Mo Lian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, sudah tidak ada lagi hal berharga di dalam Istana Surgawi. Ia juga sudah melepaskan kesadarannya untuk mengecek apakah masih ada yang tertinggal, tapi seberapapun ia berusaha mencari, tidak ada lagi hal berharga, bahkan untuk tanaman herbal berusia di bawah 10 tahun.
Ketika Mo Lian sudah berada di luar bangunan, ia sudah disambut oleh Ayahnya yang membawa kantung kulit dengan ukuran yang sangat besar, hampir menyamai kantung beras.
"Dari semua orang, hanya sekitar tiga puluh ribu Cincin Ruang saja yang didapat, yang lainnya sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi," ucap Mo Qian yang membuka kantung kulit dan memperlihatkan isi di dalamnya.
Mo Lian terdiam, itu adalah jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan total orang yang mereka bunuh. Dengan jumlah yang 30 ribu Cincin Ruang, itu tidak lebih dari satu persen pendapatan.
Mo Lian hanya berharap jika Cincin Ruang itu tidak hancur saat dalam perjalanan di dalam lorong waktu menuju ke Bumi.
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang buatannya sendiri, kemudian memasukkan kantung kulit yang dipegang Ayahnya. Biasanya Cincin Ruang tidak bisa dimasukkan ke dalam Cincin Ruang lain karena sama-sama memiliki fungsi yang sama, tapi berbeda jika pembuatnya menggunakan metode tertentu yang dapat mengubah hukum di dalamnya.
Mo Qian yang melihat itu hanya diam tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi wajahnya. Karena selama ini ia tidak mengetahui Cincin Ruang, ia tahu pun karena pengetahuan yang diberikan oleh Mo Lian padanya secara singkat.
"Ayah, apa yang harus kita lakukan terhadap dua bersaudari Wei yang menunggu di tebing sana?" tanya Mo Lian menunjukkan tangannya pada arah barat laut tempat di mana Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning menunggu.
Mo Qian terdiam sejenak dengan raut wajah rumit. Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan mempersiapkan diri. "Entahlah, Ayah sudah berjanji pada ayah mereka akan merawatnya. Tapi, bagaimana denganmu?"
Mo Lian terdiam dengan senyum masam terlihat di wajahnya. Saat ini di sekelilingnya sudah banyak wanita yang sangat menyusahkan dan selalu memeluknya tanpa tau tempat, meski ia sendiri adalah Guru mereka.
__ADS_1
"Entahlah, Ayah saja yang memutuskan hal itu. Yang lebih penting, kita beritahukan pada mereka jika orang bernama Wei itu sudah lama mati," jawab Mo Lian dengan malas dan kemudian pergi menuju tebing di arah barat laut.
Mo Qian menghembuskan napas panjang, kemudian terbang mengikuti Mo Lian. Janji yang dibuatnya hanyalah janji asal, karena pada saat itu sendiri ia tidak yakin bisa keluar dari penjara bawah tanah itu. Tapi karena sudah berjanji, terlebih lagi orang yang dijanjikan sudah lama mati, tentunya ia akan menepatinya agar membuat jiwa orang itu dapat beristirahat dengan tenang.
Sepuluh menit kemudian. Mo Lian sudah tiba di tebing, di mana Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning terus menunggu penuh harap mengenai kabar ayah mereka.
"Ba- Bagaimana, bagaimana ayahku? Apakah kau menemukannya?" Wei Yian Fei langsung berlari ke arah Mo Lian sesaat Mo Lian tiba.
Mo Lian hanya terdiam dengan kepala tertunduk, ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
Hingga akhirnya Mo Qian tiba di sebelah Mo Lian dan berkata, "Ayah kalian, Wei Yengtian mati satu tahun setelah dia dipenjara di lantai terbawah."
Deg!
Jantung Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning terasa berhenti saat mendengar jawaban itu. Tapi mereka mencoba untuk yakin bahwa pendengaran merekalah yang salah, mereka masih tidak mempercayai apa yang dikatakan Mo Qian.
Tapi sayangnya harapan mereka berhenti disitu karena Mo Qian menggeleng dan mengulangi lagi perkataannya, "Aku juga dipenjara di lantai terbawah, dia mati karena energi kehidupannya habis terserap, dengan kekuatannya yang dibawah Shen Hai, tentunya dia akan mati dengan cepat."
Wei Yian Fei menolehkan kepalanya menatap Mo Lian dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya. "Siapa dia? Mengapa dia berkata seperti itu?"
"Dia Ayahku, aku sudah menelusuri seluruh penjara bawah tanah, semua orang sudah mati. Tapi untungnya Ayahku sangat terlatih, dia memiliki masa hidup yang sangat tinggi. Dia juga berada ditingkat Jin Xin," jawab Mo Lian seraya melihat Ayahnya dari samping.
Mendengar hal itu, keduanya terduduk lemas di atas permukaan tanah dengan air mata yang terus mengalir deras.
Mo Lian dan Mo Qian menatap satu sama lain, kemudian menganggukkan kepala secara bersamaan. Keduanya berjalan menuju pohon besar yang masih tertanam kokoh dan bersandar di sana. Mereka akan membiarkan dua bersaudari Wei untuk melepaskan emosi, barulah saat sudah selesai, mereka akan menawarkan untuk kembali bersama ke Bumi.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...