
Jarum perak? Kesepuluh orang itu terdiam dengan mulut terbuka, mereka tahu apa itu jarum perak. Itu adalah metode klasik yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan, namun mereka tidak pernah mendengar jika jarum perak bisa menyembuhkan Meridian yang tersumbat.
Tapi meski begitu, Kepala Desa tetap menganggukkan kepalanya dan pergi ke ruang belakang.
Tidak lama kemudian, pria tua itu kembali dengan membawa kotak kayu kecil di tangan kanannya. Ia duduk di tempatnya semula dan membuka kotak kayu memperlihatkan isinya. "Selanjutnya apa?"
Mo Lian tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan yang terbuka. Tiba-tiba, kotak kayu yang berisikan puluhan jarum perak itu bergetar di atas permukaan lantai, lalu melesat ke arah Mo Lian seperti menyahut panggilannya.
"Sungguh pengendalian energi jiwa yang luar biasa."
Energi jiwa, energi jiwa berbeda seperti energi spiritual. Jika energi spiritual digunakan untuk membuat array, formasi, talisman, dan bahan bakar untuk mengeluarkan serangan. Maka energi jiwa adalah energi dalam tubuh yang digunakan untuk menyuling pil, mengacaukan jiwa orang lain, dan menggerakkan benda sekitar tanpa menyentuh. Namun meski begitu, tetap saja harus ada aliran energi spiritual yang membantunya agar pengendaliannya lebih sempurna.
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Kepala Desa dan duduk di belakangnya. "Senior. Tolong lepaskan pakaian Anda."
Kepala Desa menganggukkan kepala dan melepaskan baju yang dikenakannya tanpa menunggu lama maupun bertanya.
Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian memegang delapan jarum di semua jarinya. Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, ia menatap punggung pria tua di depannya, dan kemudian menusukkan kedelapan jarum itu pada titik akupuntur setelah dilapisi dengan energi spiritual. Seperti tengah-tengah tulang belakang, pinggang, bahu, leher dan lainnya.
Tidak berhenti disitu saja, ia terus mengambil jarum lainnya di dalam kotak kayu dan kembali menusukkannya pada titik di mana Meridian tersumbat.
Ketika jarum terakhir sudah menancap, Mo Lian kembali mengalirkan energi spiritualnya untuk merangsang Meridian yang tersumbat. Puluhan jarum itu bergetar memancarkan cahaya berwarna biru, cahaya biru itu mulai bersinar terang menyilaukan mata. Perlahan, ketika cahaya meredup, energi spiritual pria tua itu mulai mengalir kembali.
Dengan energi spiritual di alirkan di kedua tangannya, Mo Lian mencabut semua jarum itu dalam satu tarikan napas. Ketika semua jarum terlepas, energi spiritual pria itu mengalir lebih halus dari sebelumnya, bahkan lebih halus dari sebelum ia mengalami cedera.
Bukan hanya itu saja, energi spiritual dalam tubuhnya bergejolak. Dari dalam tubuhnya keluar cahaya berwarna ungu, cahaya itu melonjak beberapa puluh meter ke langit-langit ruangan dan menembus atap bangunan.
Penampilannya berangsur-angsur membaik, rambut putihnya kembali menghitam dengan kerutan yang memudar di wajahnya. Napas lemahnya yang seperti hampir mati sudah mulai membaik, dan sangat kuat.
Pria tua itu membuka matanya, ia menatap kosong ke depan dengan mulut terbuka. "I- I- Ini. Aku menembus tingkat Wu-Sheng tahap Menengah." Ia berbalik menatap wajah Mo Lian. Kemudian menundukkan kepalanya sembari menangkupkan kedua tangannya. "Terimakasih."
Mo Lian hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
__ADS_1
Tanpa beristirahat, Mo Lian melanjutkan penyembuhannya. Sama seperti sebelumnya, ia meminta semua orang yang ada di sini untuk membuka pakaiannya, paling tidak hanya untuk area punggung.
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa hampir satu jam berlalu semenjak ia menyembuhkan Meridian semua orang tua di sini. Penampilan semua orang sudah mulai membaik, bahkan Mo Lian sampai pangling dengan orang-orang di depannya. Jika ia tidak melihatnya secara langsung, ia bisa saja beranggapan jika orang-orang di depannya adalah orang yang berbeda.
Tapi yang anehnya, orang-orang di depannya terlihat lebih muda dari orang yang dilawannya yang berasal dari Organisasi Dunia Hitam meski usianya sendiri lebih tua orang di depannya. Jika dihitung dari waktu kultivasi normal para Pejuang di Bumi, ia sangat yakin kesepuluh orang di depannya sudah berusia lebih dari 600 tahun.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Mo Lian menyimpulkan bahwa energi spiritual yang murni dan mengalir lancar tanpa adanya hambatan juga berpengaruh terhadap penampilan.
Kesampingkan dulu soal penampilan, setelah semua orang tua, atau sekarang dipanggil pemuda dan pemudi? Entahlah. Kultivasi mereka semua naik satu tingkat dari kultivasi awal mereka, Kepala Desa berada pada Ranah Inti Perak tahap Menengah, sama sepertinya. Istri Kepala Desa yang merupakan orang yang mengantarnya, berhasil menembus Ranah Inti Perak tahap Awal.
Sedangkan untuk lainnya, semuanya berada pada Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, dan sebagian hampir menembus Ranah Inti Perak.
Semua orang berdiri dari tempat duduknya, mereka semua menatap wajah Mo Lian. "Terimakasih."
Mo Lian juga tidak tinggal diam, ia berdiri dari tempat duduknya. "Tidak perlu berterimakasih, Senior."
"Senior. Untuk yang Anda katakan sebelumnya, kejadian janggal apa yang ada di Gunung Kunlun?" Mo Lian mencoba menyinggung tentang perkataan Kepala Desa sebelumnya, berharap mendapatkan informasi maupun izin untuk menaikinya.
"Apakah aku boleh meminta izin untuk naik ke atas?" Mo Lian kembali bertanya.
Kepala Desa terdiam sejenak, ia menghela napas panjang dan kemudian menjawab, "Itu—"
"Ara. Anak muda, dengan kekuatanmu yang seperti itu. Sepertinya tidak ada masalah, kami bisa mengizinkanmu naik, hanya saja kami semua harus ikut. Terlebih lagi aku juga harus mencari tempat untuk menerima sambaran petir." Istri dari Kepala Desa memotong ucapan suaminya, terdengar suara yang merdu keluar dari mulutnya. Cara berbicaranya juga berubah, menjadi lebih lembut seperti anak muda.
"Ide bagus. Aku juga ingin melihat kekuatan Pejuang masa kini," ucap yang lain menimpali.
Kepala Desa menghela napas panjang, ia menggelengkan kepalanya pelan tak habis pikir dengan istri maupun rekan-rekannya. Tapi dari dalam lubuk hatinya, ia juga ingin mencoba kekuatannya yang sudah lama tidak digunakan.
Mo Lian tersenyum, ia menganggukkan kepalanya. "Baik. Kalau begitu, apakah bisa saat ini juga?"
Mereka semua terdiam dengan mulut sedikit terbuka. "Kenapa terburu-buru?" tanya Kepala Desa.
__ADS_1
Dengan tersenyum canggung, Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sisi lain sembari menggaruk pipi kanannya. "Haha, itu karena. Ibuku bisa marah-marah kalau aku pulang terlambat, aku sudah berjanji padanya akan pulang paling lambat tiga hari."
Semua orang terdiam, mereka tidak berharap pemuda yang sangat kuat di depan mereka akan sangat menghargai orangtua dan takut tidak dapat menepati janji. Mereka semua menganggukkan kepala, menatap Mo Lian dengan lembut dan rasa kagum, karena pada zaman dulu, banyak anak-anak muda yang sudah memiliki kekuatan namun melupakan orangtua mereka. Bahkan ada yang dengan beraninya membunuh orang terdekat hanya untuk bisa mendapatkan sebuah warisan.
Istri dari Kepala Desa itu berdiri, kemudian menerjang Mo Lian dan memeluknya, ia menggesekkan wajahnya di kepala Mo Lian. "Manisnya. Hei hei, apakah kau mau menjadi cucuku? Aku sudah bermimpi untuk waktu yang lama bisa memiliki seorang cucu, tapi ..." ucapnya terhenti dan tertunduk seperti tidak ingin mengingat masa lalu.
Bukan hanya ia saja, semua orang yang hadir juga tertunduk lesu dan menghela napas berat.
Mo Lian yang melihat itu bisa menebak apa yang terjadi, ia berpikiran jika lima pasang orang di depannya sudah memiliki anak. Namun anak-anak mereka mati terbunuh, entah saat berperang melawan Organisasi Dunia Hitam, atau sebelumnya.
Mo Lian menghela napas panjang, ia tersenyum lembut menatap wanita yang masih memeluknya. "Baiklah. Tapi, aku belum mengetahui nama kalian semua."
"Ah!" Wanita itu tersentak, ia tersenyum bahagia saat mendengar perkataan Mo Lian. "Ehem! Namaku Xu Xumei, dia adalah suamiku sekaligus Kepala Desa di sini, Wu Yengtu. Dia adalah adikku, Xu Fulian, istrinya Jia Yaoyu ..."
Xu Xumei terus mengenalkan semua orang yang ada di sini. Mo Lian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, dengan ini ia mengetahui jika hampir semua orang di sini saling berhubungan.
Xu Xumei berdiri seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang dipenuhi oleh debu ruangan. "Karena sesi perkenalannya sudah selesai, ayo kita naik ke atas Gunung Kunlun. Nenek akan memperlihatkan kekuatannya pada cucuku yang manis," ucapnya penuh semangat dan menepuk dadanya untuk beberapa kali.
"Ayo cepat." Xu Xumei menarik tangan Mo Lian dan berlari menuju pintu keluar.
Semua orang yang melihat itu hanya bisa terdiam dan tersenyum lembut, sudah sangat lama semenjak mereka bisa melihat senyum Xu Xumei.
"Baiklah, ayo kita ikuti mereka." Wu Yengtu berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar.
Kedelapan orang lainnya menganggukkan kepala, kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Wu Yengtu.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1