Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 157 : Hambatan Kecil


__ADS_3

Setelah belasan menit berlalu, akhirnya Mo Fefei sudah mulai terbiasa dengan mobil barunya, dan kemudian mempercepat laju mobil menuju tempat yang diarahkan.


Saat mengemudi di jalan, tentunya mobil yang dikendarai keduanya menjadi daya tarik pejalan kaki, maupun pemilik mobil lain yang berada di sebelah.


Belasan lainnya kembali berlalu, mereka sudah sampai ke jalanan sepi yang di samping jalan terdapat pepohonan rindang maupun tebing-tebing kecil. Hingga tidak lama kemudian, di sebelah kiri jalan terdapat tebing tinggi dan kanannya adalah jurang terjal.


"Kakak. Apakah jalannya benar ke arah sini?"


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian menjawab, "Benar. Kita hampir sampai, dengan kecepatan seperti ini, kemungkinan akan membutuhkan waktu lima belas menit lagi." Ia tidak melihat map pada layar handphone, melainkan dengan aura yang dirasakannya.


Mo Fefei mengangguk dan terus mengemudikan mobilnya mengikuti arah jalan yang entah membawanya ke mana. Ia juga memperlambat laju mobil karena di sebelah kanan adalah jurang dalam. Dan meski ia bisa terbang, ataupun tidak mengalami luka-luka sedikitpun jikalau terjatuh, tapi ia tetap tidak ingin jatuh ke sana.


Sekitar mereka sangat sepi tanpa adanya mobil lain yang berlalu lalang. Namun saat mobil terus melaju, keduanya dapat melihat ratusan orang dengan puluhan mobil mewah sedang terparkir di lahan luas di kiri jalan, serta dua mobil di tengah jalan berbaris rapi seperti hendak melakukan balapan.


Mo Fefei menurunkan kecepatan mobil secara perlahan, kemudian berhenti di kiri jalan. "Kakak, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya khawatir.


"Lewati saja." Mo Lian tidak habis pikir akan ada yang menyelenggarakan balapan liar di pagi hari seperti ini dan tidak didatangi oleh kepolisian.


Hanya ada satu kesimpulan, pihak kepolisian juga turut andil dalam balapan liar ini, bisa saja salah satu dari orang yang berada di sana adalah anak petinggi Kepolisian Hanzhong.


Mobil kembali berjalan dengan Mo Fefei yang menginjak pedal gas. Kecepatan kali ini lebih lambat dari sebelumnya, berharap agar tidak menimbulkan keributan saat mereka berdua melewati rombongan balapan liar itu, seperti halnya diajak untuk mengikuti balapan.


Bagaimanapun jika ada mobil serupa yang datang ke tempat komunitas balap, itu bisa dianggap sebagai tantangan terhadap komunitas itu.


Benar saja apa yang dikhawatirkan Mo Fefei, puluhan meter di depan mereka sudah berdiri pria maupun wanita yang menghalangi jalan dengan senyum yang tidak dapat dijelaskan maksudnya.


Akhirnya, mau tidak mau Mo Fefei harus menghentikan mobil.


Salah dari mereka yang merupakan wanita itu datang menghampiri. Wanita berambut ungu, berpakaian hitam tanpa lengan dan memperlihatkan pusar, serta celana jeans pendek nan ketat, dengan stoking hitam melapisi kaki jenjangnya.


"Adik kecil, apakah kau kemari untuk mengikuti balapan?" Wanita itu berdiri di sebelah kiri dari Mo Fefei dan meletakkan lengannya di pintu.


Mo Lian menghembuskan napas panjang, ia sangat malas untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Ia menolehkan kepalanya menatap tajam wanita itu. "Bisakah kau menyingkir? Adikku baru belajar mobil, dia tidak bisa mengemudikan mobilnya dengan cepat."


Wanita itu mendongak menatap Mo Lian. "Oh? Maaf, tapi jika kalian ingin melewati jalan ini, kalian harus mengikuti pertandingan, atau kalian bisa menyerahkan mobil ini."


"Bisa kau katakan lagi?"


Bam!


Terdengar suara benturan keras di bagian kap mobil, terlihat pria berambut biru mengenakan pakaian hitam dengan jaket jeans. Anting di telinga kiri dan tindik di bibir bawahnya. "Kau memiliki mobil yang bagus! Mobil ini dihargai tiga puluh juta Yuan. Serahkan padaku, maka aku akan membiarkan kalian lewat."


"Di mana-mana selalu ada orang bodoh." Mo Lian menggulung lengan bajunya dan turun dari mobil setelah melepaskan sabuk pengaman.


Mo Lian berjalan menghampiri pemuda yang memukul kap mobil, mobil yang dihadiahkan pada Adiknya. Belum sampai satu jam dikendarai, dan sekarang sudah ada yang berani merusak mobilnya.


Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Apakah kau ingin bertarung denganku? Aku adalah petinju terkenal di Kota Hanz—"

__ADS_1


Mo Lian memukulkan tinju kirinya ke perut pemuda itu, kemudian menghajar di bagian dagu.


Pemuda itu terjatuh ke belakang saat terkena pukulan Mo Lian dan tergeletak di jalanan.


Mo Lian yang melihat itu tidak tinggal diam, ia sedikit berjongkok dan menghajar wajah pemuda itu dengan kekuatan manusia normal. Ia menghajarnya secara membagi buta tanpa memedulikan tatapan mata dari ratusan orang yang berlari ke arahnya.


Saat ia berdiri, ia menatap pemuda yang lemas tak berdaya, wajah pemuda itu tidak dapat dikenali lagi. Darah mengalir di sudut mata, beberapa gigi terlepas, wajahnya bengkak dengan darah yang mengalir keluar dari pori-pori kulit.


"Cukup! Jika kau menghajarnya lagi, adikmu akan mati!"


Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah teriakan, terlihat jika wanita sebelumnya menjepit leher Mo Fefei dengan lengan, serta mengancam menggunakan pisau di tangan kiri.


"Fefei, hajar dia." Suara Mo Lian terdengar datar, namun memiliki keinginan membunuh yang kuat di dalamnya.


"Tapi—" Mo Fefei yang hendak menolak itu terdiam saat ucapannya disergah oleh Mo Lian.


"Cukup! Lambat laun kau harus bisa membunuh. Sekarang aku ingin kau menguatkan mentalmu, hajar dia."


Wanita yang mengancam Mo Fefei mengerutkan keningnya. "Kau lihat, Kakakmu menyuruhmu untuk mati. Dia sudah membuang—"


Plak!


Mo Fefei menampar wajah wanita itu, meski ia disandera dan wanita itu berada di belakangnya. Ia berdiri dan kemudian melompat keluar dari mobil, menghampiri wanita yang terlempar beberapa meter darinya.


Mo Fefei juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mo Lian, tapi tidak sampai membunuhnya, karena ia belum siap untuk membunuh.


"Beraninya kau!" Pemuda lain menyerang Mo Lian dengan tendangan melompat ke arah depan.


Mo Lian mundur satu langkah menghindari serangan, kemudian mengibaskan tangannya menangkap pergelangan kaki pemuda itu, lalu melemparkannya dengan keras ke jalan.


"Aakk!" Pemuda berambut hitam itu tersedak saat punggungnya menghantam jalan dengan keras, rasa sakit menjalar hingga ke bagian dadanya.


"Fefei, sudah cukup," ucap pelan Mo Lian yang sedari tadi mengamati Mo Fefei.


Pukulan Mo Fefei terhenti saat hampir mengenai wajah wanita yang mengancamnya tadi, wajahnya sudah tidak bisa lagi dikenali, gigi bagian depan juga sudah terlepas.


Mo Fefei berdiri dari posisi berjongkok. Darah merah menetes di kepalan tangan kanannya, itu adalah darah yang berasal dari wanita tadi yang namanya sendiri tidak diketahui.


"Kau sudah melakukan hal yang kelewatan. Kau melukai tiga orangku. Patahkan kaki dan tanganmu, kemudian berlutut lalu mencium kakiku. Maka aku akan mengampuni mu!"


Mo Lian menghembus napas panjang sembari menyentuh dahinya sendiri. Ia tidak habis pikir dengan Kota Hanzhong, sangat berbeda dengan desa di perbatasan. Ia menoleh ke kanan, terlihat pemuda lain berambut silver mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Di tangan pemuda itu terdapat senjata api ringan, namun cukup digunakan untuk membunuh.


Di belakang pemuda itu juga terlihat banyak sekali orang, entah pria maupun wanita, yang masing-masing dari mereka memiliki senjata. Pisau pendek, pipa besi, dan pistol.


"Bagaimana bisa kalian semua memiliki senjata api?" Sangat aneh baginya jika orang yang bukan bagian dari penjagaan, kepolisian maupun tentara memiliki senjata api. Kecuali orang itu tergabung di Organisasi Dunia Bawah.


Organisasi yang mengatur keuangan, penjualan sembunyi-sembunyi. Seperti memperdagangkan wanita, obat-obatan terlarang. Serta bertarung antar organisasi dan mempertaruhkan daerah kekuasaan.

__ADS_1


"Heh!" Pemuda berambut perak itu mendengus dingin. "Apakah kau takut? Berlutut atau mati. Bahkan jikapun kau mati, tidak akan ada pemberitaan media!"


"Begitu ..." Mo Lian akhirnya mengerti, pemuda di depannya berasal dari Keluarga Pemerintah di Kota Chengdu.


"Waktu habis!"


Dorr! Dorr! Dorr!


Puluhan peluru ditembakkan dari pistol ke arah Mo Lian m


Mo Lian yang melihat itu hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Namun saat hanya tersisa belasan inchi darinya, ia mengayunkan tangannya ke sana kemari, menangkap puluhan peluru itu. Kemudian mencengkeram erat tangannya, menghancurkan semua peluru yang ditangkapnya.


Mo Lian membuka perlahan tangannya yang terkepal, terlihat pasir halus yang jatuh dari telapak tangannya. Pasir itu adalah peluru-peluru yang diremukannya.


Semua orang terperangah dengan mata terbuka lebar, serta rahang yang hampir terjatuh.


"Sekarang giliranku." Dengan sedikit gerakan, ia menghilang di udara kosong di hadapan semua orang, dan muncul kembali tepat di depan pemuda berambut perak.


Mo Lian mengayunkan tinjunya pada lutut pemuda itu, membuat lututnya tertekuk ke arah yang berlawanan. Kemudian ia mengambil pistol di tangan pemuda itu, dan menembakkannya pada paha kiri lawannya.


"Aarrgghh!" teriakan keras terdengar dari mulut pemuda yang sudah tergeletak di jalan.


Mo Lian masih tidak berhenti meski sudah mencelakai pemuda itu, ia menembakkan peluru dari pistol ke bahu, pergelangan tangan, paha, betis semua orang tanpa terkecuali, bahkan jika mereka adalah wanita.


Meski dikatakan semua, namun ia hanya bisa menembak sepuluh kali dengan pistol, dan sisanya menggunakan energi spiritual.


Mo Lian membakar pistol di tangannya, kemudian berbalik menghampiri mobil. Baru saja ia melangkah, ia kembali berhenti saat ada yang menangkap pergelangan kakinya.


"Ka- Kau! Be- Beraninya! Ap- Apakah kau tidak tahu ... kami semua, berasal dari keluarga-keluarga besar di Provinsi Shaanxi."


Mo Lian menundukkan kepalanya menatap pemuda berambut perak. Ia memundurkan kaki kanannya, melepaskan pergelangan kakinya dari genggaman pemuda itu, kemudian menendangnya keras pada bagian perut.


"Aku tidak peduli," ucapnya acuh tak acuh sembari berjalan menghampiri Mo Fefei yang sudah berada di dalam mobil. "Harusnya kau mengerti, mobil kalian hanya berharga dua sampai empat juta Yuan. Perbedaan mobil kita berbeda jauh, jika kalian menganggap diri kalian berasal dari keluarga besar hanya dari kekayaan ..."


"Maka keluargaku adalah Penguasa dari Bumi!"


Setelah Mo Lian memasuki mobil, mobil kembali bergerak menuju tempat yang dituju tadi.


Mo Lian mengibaskan tangan kanannya mengarah pada puluhan mobil yang menghalangi jalan. Tiba-tiba angin bertiup kencang dari tebing tinggi yang berada di kiri jalan, dan menghantam puluhan mobil, melemparkannya ke dalam jurang.


"Kakak. Mengapa Kakak tidak membunuh mereka?" tanya Mo Fefei sembari kembali menginjak pedal gas.


"Aku sedang tidak ingin membunuh saja hari ini." Meski berkata demikian, namun saat menyerang mereka tadi, secara diam-diam ia menandai mereka semua dengan energi spiritualnya, dan bisa membunuhnya kapan saja tanpa memperdulikan jarak.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2