Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 98 : Berangkat ke Kota Quanzhou


__ADS_3

Setelah perjalanan yang panjang, yang mana memakan waktu lebih dari tiga jam lamanya. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bandara Changle Fuzhou, salah satu bandara internasional yang ada di Provinsi Fujian. Saat berada di dalam pesawat tadi, kelompok dua belas orang itu merasa sedikit menyesal, mereka baru ingat jika Bandara Wuyishan maupun Gaoqi Xiamen adalah bandara terdekat dari tempat yang akan dituju nanti.


Tapi mau dikata apa, mereka sudah berada setengah jalan.


Ketika mereka sudah tiba di bandara, mereka langsung pergi menuju terminal, di sana sudah menunggu empat mobil mewah yang merupakan milik Keluarga Qin dan Yun yang sebelumnya datang lebih awal lewat darat beberapa hari lalu, yang kebetulan saat itu mereka sudah menunggu di bandara lain.


Tanpa berlama-lama lagi mereka semua masuk ke dalam mobil yang berbeda, kemudian mobil itu berjalan menuju hotel terdekat dari bandara untuk beristirahat sejenak, sebelum keesokan harinya berangkat menuju Kota Quanzhou, yang merupakan kota pelabuhan terbesar di dunia.


Sama seperti sebelumnya, Mo Lian menaiki mobil yang berbeda dengan Qin Nian maupun Yun Ning, itu karena ia tidak ingin terjadi masalah saat berada di dalam mobil. Untuk masalahnya sendiri sudah bisa ditebak, masalah antara kedua wanita yang sangat merepotkan.


Memang sangat wajar bagi orang yang kuat memiliki lebih dari satu pasangan. Tapi untuk saat ini Mo Lian tidak memikirkan ke arah sana, bahkan ia juga tidak terlalu memikirkan lagi masalah tentang Galaxy Pusat, saat ini di pikirannya hanya ada keluarganya yang tersisa, dengan ayahnya yang telah lama menghilang.


Tapi meski mengatakan tidak memikirkan masalah Galaxy Pusat. Namun tetap saja Mo Lian terus mengejar kekuatan, ini dimaksudkan agar bisa melindungi keluarganya saat tiba-tiba saja orang-orang dari Galaxy Pusat datang ke Bumi dan membawa orang lain seperti dulu.


Dahulu, orang-orang dari Galaxy Pusat yang datang kemari bukan hanya membawanya saja, melainkan membawa sepuluh orang. Namun hanya Mo Lian saja yang mampu bertahan hidup.


Mo Lian harus bersyukur karena mendapatkan Master yang baik hati. Berbeda dengan kesembilan orang lainnya, mereka terbunuh oleh murid dari sekte mereka, maupun ditingkatkan kekuatannya kemudian dibunuh oleh gurunya sendiri untuk diambil basis kultivasinya.


Ketika mengingat ini, entah mengapa tubuh Mo Lian bergidik ngeri. Takutnya saat Masternya dan yang lain datang ke Bumi, orang-orang terdekatnya akan diambil oleh kesembilan orang gila lain.


Saat Mo Lian memberanikan dirinya untuk bertanya pada Masternya tentang kesembilan orang lain. Masternya menjawab jika kesembilan orang yang datang ke Bumi bukan berasal dari sekte yang sama, ataupun dengan sengaja datang bersama.


"Sepertinya aku harus bersiap-siap, bagaimanapun hanya tersisa satu setengah tahun lagi. Tapi tidak ada yang tahu jika dunia telah berubah, pada kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah mengetahui tentang Organisasi Dunia Hitam. Maka bisa saja Master dan yang lain datang lebih awal, ataupun lebih lambat." Mo Lian bergumam pelan dengan pandangan melihat ke luar jendela.


Mo Lian menggeleng pelan, ia bersandar di kursi mobil dengan mata terpejam. Hingga tak lama kemudian ia tertidur di bahu Xu Xumei yang duduk di sampingnya.


Xu Xumei yang melihat Mo Lian tertidur hanya bisa terdiam dan tersenyum lembut sembari membelai rambut Mo Lian, terkadang ia juga memainkan wajahnya.


Puluhan menit kemudian, empat mobil yang mereka kendarai sudah tiba di halaman depan sebuah hotel yang memiliki lantai dengan jumlah tiga puluh lima.


Ketika sudah tiba, Mo Lian masih tertidur pulas, bukan lagi bersandar di bahu Xu Xumei, melainkan di atas pahanya dengan nyenyak.


Xu Xumei membuka pintu mobil di samping kanannya, membiarkan udara segar memasuki mobil.


Saat pintu mobil terbuka, Qin Nian dan Yun Ning sudah berdiri di balik pintu. Keduanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka saat melihat Mo Lian yang tertidur pulas seperti anak kecil di paha Xu Xumei. Tentu saja ketika melihat itu, tangan Yun Ning tidak bisa diam, ia mengulurkan tangannya dan hendak mencubit pelan pipi Mo Lian.

__ADS_1


Namun belum sempat menyentuh pipi Mo Lian. Mata Mo Lian mengedip dan bangun dari tidurnya secara tiba-tiba, kemudian duduk dengan pandangan bingung. "Apakah sudah sampai?"


Xu Xumei mengangguk kecil dengan senyuman, kemudian menjawab, "Kita sudah sampai di hotel, sepertinya kau masih mengantuk, ayo masuk dan beristirahat."


Dengan anggukan kecil, Mo Lian berjalan keluar mobil dan memasuki bangunan hotel, ia berjalan digandeng oleh Xu Xumei dan Jia Youyu.


Mo Lian sendiri merasa kurang nyaman meski digandeng oleh kedua neneknya, bagaimanpun kedua wanita itu memiliki suami. Saat ia menoleh melihat Wu Yengtu dan Xu Fulian, keduanya malah tertawa terbahak-bahak sembari meneguk bir kaleng di tangan.


"Master. Kami sudah memesankan kamar di lantai teratas." Qin Zhang datang menghampiri Mo Lian dengan kedua tangan ditangkupkan.


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian membalas, "Terimakasih."


Semuanya naik ke lift yang berbeda dan naik ke lantai teratas. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di lantai teratas, lantai tiga puluh lima.


Mo Lian berjalan ke ruangannya yang termurah dan hanya memiliki satu kamar. Sebelumnya Qin Zhang meminta Mo Lian untuk tinggal di ruangan paling mahal dan nyaman, tapi Mo Lian menolaknya, ia tidak memerlukan ruangan yang luas, bagaimanapun ia untuk berkultivasi, dan bukannya tidur.


Setelah sampai di dalam ruangannya, Mo Lian mengunci pintu dan memastikan tidak ada tanda-tanda yang aneh di sekitarnya, bahkan ia juga mengecek melalui dinding kaca. Dirasa sudah aman, ia mengambil posisi duduk bersila, kemudian mengeluarkan Inti Spiritual yang didapatnya dari ular dalam gua Gunung Kunlun.


Mo Lian menatap Inti Spiritual yang dipegangnya dengan kedua tangan. "Aku hampir menembus Ranah Inti Perak tahap Akhir, tapi ini belum saatnya. Pada saat ini aku ingin meningkatkan kekuatan fisikku terlebih dahulu, energi spiritual ku setara dengan Inti Emas, namun untuk fisik dan jiwa, itu masih setara dengan Inti Perak tahap Akhir ..."


Ia terus memanfaatkan energi murni yang terkandung dalam Inti Spiritual di depannya selama berjam-jam, kulit-kulit di tubuhnya mulai mengelupas mengeluarkan darah segar dari pori-pori, dan membuat pakaian yang dikenakannya berubah warna. Tulang-tulang dalam tubuhnya mulai retak dan hancur perlahan menjadi serpihan kecil.


Meski menyakitkan, Mo Lian tetap menyerap energi murni untuk meningkatkan tulang, daging, serta kulitnya. Setelah ia mengeluarkan darah yang sangat banyak, serpihan tulangnya mulai menyatu kembali dengan pola-pola aneh mengelilingi, kulit-kulitnya yang sebelumnya menghilang kembali tubuh bersamaan dengan cahaya biru yang bersinar.


Jika saja ia sudah menembus Ranah Inti Emas, Mo Lian akan sangat berani menggunakan metode lain untuk meningkatkan kekuatan fisiknya, yaitu dengan meledakkan tubuhnya sendiri, kemudian dibiarkan untuk beregenerasi kembali.


Waktu terus berjalan dengan proses yang berulang-ulang, hingga akhirnya bulan berada di posisi puncaknya, namun Mo Lian masih belum selesai. Di lantai tempat ia duduk, sudah basah akan darah yang mengalir, pakaiannya yang sebelumnya telah kering juga kembali basah. Ketika ia membuka matanya perlahan, malam sudah berganti pagi, ia menyerap Inti Spiritual hampir satu hari penuh.


Mo Lian menghirup napas dalam-dalam dari kedua lubang hidungnya, ia menahannya untuk beberapa detik, kemudian dihembuskannya perlahan dari mulutnya. Inti Spiritual yang berada di depannya sudah kehilangan energi murni dan berubah menjadi debu-debu halus.


"Hanya dengan kekuatan fisik, aku bisa mengalahkan Kultivator Ranah Inti Emas. Lalu jika ditambah dengan energi spiritual dan sedikit berusaha, aku sudah bisa mengalahkan setengah Alam dan Manusia."


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan dari balik pintu. Dengan tangan kiri menyentuh lantai dan tangan kanan bertumpu pada lututnya, ia menopang badannya untuk berdiri dari posisi awalnya. Ia berjalan menuju pintu keluar, dan membuka perlahan.

__ADS_1


Terlihat di depannya berdiri beberapa wanita, Xu Xumei, Jia Yaoyu, Gou Menghu, Qin Nian dan Yun Ning, serta beberapa pria lainnya.


"Ada apa?" Mo Lian menggaruk tengkuknya dengan malas.


"Lian. Apa yang terjadi?" tanya Xu Xumei dengan pandangan khawatir.


"Aku habis berlatih." Mo Lian menjawabnya dengan malas, ia ingin cepat-cepat masuk dan membersihkan tubuhnya.


Xu Xumei terdiam, ia masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Mo Lian. "Latihan apa yang sampai seperti ini?"


Mo Lian berbalik memasuki ruangan, kemudian menjawab, "Aku hanya meningkatkan kekuatan tubuhku. Itu harus mengalami puluhan pergantian kulit, dan tulang yang hancur puluhan kali."


Mendengar itu, semua orang terdiam. Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua masuk ke dalam ruangan di mana Mo Lian menginap, dan alangkah terkejutnya saat melihat darah di lantai yang masih tampak segar.


Xu Xumei menolehkan kepalanya meminta Gou Menghu untuk membersihkan lantai dengan elemen airnya.


Puluhan menit kemudian, Mo Lian yang sebelumnya telah pergi ke kamar mandi sudah selesai. Setelah proses yang menyakitkan, kulit wajahnya lebih halus dari sebelumnya, lemak-lemak tubuhnya menghilang dan digantikan dengan otot-otot yang tampak kuat.


Mo Lian berjalan ke ruang tengah di mana ia berlatih sebelumnya, di sana sudah bersih dan tak lagi terlihat noda darah.


"Apakah kita akan berangkat sekarang?" Mo Lian langsung bertanya pada intinya.


Qin Nian mengangguk kecil. "Benar, Master. Ong Hei Yun mengatakan jika Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia sudah tiba di Kota Quanzhou tadi malam, memang benar masih empat hari lagi, tapi sepertinya pihak mereka ingin datang terlebih dahulu untuk mengecek tempat di sana."


Mo Lian menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia, mereka datang ke Provinsi Fujian terlebih dahulu bukan karena untuk mengecek keadaan, melainkan untuk berlibur sejenak.


Mo Lian berdiri bertumpu pada kedua lututnya. "Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang," ucapnya kemudian pergi menuju pintu keluar, dan diikuti oleh lainnya.


Sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di lantai dasar dan memesan sarapan. Biasanya sarapan pagi akan diantarkan ke setiap ruangan orang yang menginap, namun karena terlalu merepotkan, atau karena mereka tidak ingin privasinya terganggu. Maka akhirnya mereka memesan untuk tidak mengantarkan sarapan ke ruangan.


Puluhan menit kemudian, setelah selesai menyantap semua makanan di atas meja. Mereka semua berangkat ke Kota Quanzhou, kali ini tidak melalui jalur udara, melainkan jalur darat.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2