
Masih berada di lantai teratas dari Can Qi Meiliafei dan bersantai bersama, melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu. Terutama untuk Mo Fefei yang selalu merangkul lengan kiri Mo Lian, bahkan meski sedang makan bersama.
Hong Xi Ning meletakkan kedua sumpit di atas mangkuk yang masih penuh dengan nasi. "Sewa orang untuk menyebarkan rumor, jika aku terluka dan harus mengurung diri. Bahkan Dao Immortal juga bisa mengalahkanku."
Semua orang terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan. Terluka? Tidak mungkin!
Hong Xi Ning tersenyum tipis, melanjutkan perkataannya yang tertunda. "Ini untuk memancing pengkhianat dan Kultivator Iblis yang ingin menyerang. Heavenly Immortal, bahkan meski terluka sangat parah, masih memiliki kekuatan untuk meledakkan beberapa galaksi."
Rencana ini memang bagus, tapi Mo Lian merasa belum waktunya. Mo Lian menangkupkan kedua tangannya, kemudian mengutarakan pendapatnya, "Mohon maaf Master. Bukannya bermaksud untuk meragukan keputusan atau kemampuan Anda. Hanya saja, bukankah ini terlalu awal?"
Mang Xian Guo terdiam dan melirik ke arah Hong Xi Ning. Ia takut jika Adik Juniornya akan terluka karena mengomentari keputusan Masternya.
"Alasannya?"
Mang Xian Guo kembali terkejut saat mendengar Hong Xi Ning yang memberikan kesempatan tanpa menampar wajah Mo Lian. "Bagaimana Master tidak marah denganmu?" Ia mengirimkan transmisi suara pada Mo Lian.
Mo Lian menoleh ke kiri depan menatap Mang Xian Guo di sebelah Hong Xi Ning. "Mungkin karena aku membiarkan Master melihat ingatanku?"
"Itu ..." Mang Xian Guo tidak lagi melanjutkan perkataannya. Membiarkan orang lain melihat ingatan sama saja seperti memberikan hidup untuk orang itu.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya lagi pada Hong Xi Ning. "Karena merepotkan. Jika rumor itu tersebar sekarang, maka akan ada yang menyerang Master. Tidak satu atau dua kali, tapi berkali-kali ..."
"Dengan berkurangnya kekuatan Organisasi Utama lain, mereka membutuhkan banyak waktu untuk mengembalikannya. Bagaimana jika, kita tunggu beberapa waktu lagi, sampai Penatua Jia mengambil tindakan mencurigakan. Barulah kita menyebarkannya."
"Dengan demikian, kita bisa menyelesaikannya dengan sekali jalan." Mo Lian tersenyum ringan.
Hong Xi Ning memang bisa menghancurkan mereka semua dengan jentikkan jari, tapi tidak pernah ingin bertindak terlebih dahulu, seperti tidak memiliki ketertarikan akan hal tersebut. Namun jika benar-benar ada yang menyentuh orang-orangnya, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi apa akhir dari orang itu.
Mendengar penjelasan itu, Hong Xi Ning menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menunggu sampai setengah tahun lagi. Jika tidak ada tindakan, aku akan turun tangan langsung."
Mo Lian, Mang Xian Guo dan Xia Xinxin berdiri saat mendengar perkataan yang tidak pernah diharapkan dari Hong Xi Ning. "Master."
Kekhawatiran terlihat jelas di wajah ketiganya, jika Hong Xi Ning bertindak. Entah jadi apa Bintang Utama ini.
__ADS_1
Hong Xi Ning mengerutkan keningnya melihat ketiga muridnya, kemudian mengembuskan napas dengan senyum indah yang terukir. "Baiklah, tapi aku akan meminta kalian semua untuk bertindak, apabila hari itu tiba."
Ketiga Murid itu menghela napas lega dan kembali duduk. Mereka tidak masalah jika Hong Xi Ning mengamuk, tapi setidaknya jangan di Bintang Utama, melainkan Alam Neraka atau Hanzi.
Acara makan bersama kembali dilanjutkan, hingga hari mulai petang, Hong Xi Ning dan dua murid lainnya pergi kembali ke Sekte Zhongjian. Namun tidak dengan Mo Lian yang tetap tinggal, hal ini adalah saran Hong Xi Ning sendiri, karena masih belum ingin mengumumkan berita tentang Murid Ketiga.
Untuk mereka yang sudah mengetahuinya, Hong Xi Ning bisa menghapus ingatan mereka semua dengan mudah, hanya dalam sekejap mata saja sudah berhasil.
Setelah ketiga orang itu meninggalkan tempat, yang lain masih melanjutkan acara dengan membahas tentang apa saja yang dilakukan Mo Lian selama ini, dan ia juga memberikan hadiah yang sudah dibelinya untuk Mo Fefei dari Bintang Tianjin.
Mo Fefei sangat senang ketika mendapatkan hadiah itu, meski tidak tahu dengan jelas bagaimana cara menggunakannya.
***
Keesokan Harinya
Kota Zhan masih tenang-tenang saja dan identitas Mo Lian yang merupakan Murid Ketiga Hong Xi Ning benar-benar tidak terdengar di kota, seperti kejadian hari sebelumnya tidak pernah terjadi sama sekali. Bahkan mengenai kedatangan Hong Xi Ning ke Can Qi Meiliafei juga tidak terdengar.
Mo Lian berkultivasi jauh di dalam tanah kota, sana menggabungkan diri dengan tanah agar meningkatkan kekuatan Element Tanah. Jika ia memiliki satu elemen, ia tidak perlu melakukannya dengan cara ini.
Mo Lian membuka matanya perlahan dan menaikkan sudut bibirnya. Ia memiliki tugas sebagai Pedang Sekte yang ditunjuk langsung oleh Hong Xi Ning.
Mungkin di sekte lain, arti kata 'Pedang' terdengar seperti pesuruh yang harus mengorbankan nyawa tanpa mengharapkan imbalan. Tapi, di Sekte Zhongjian, Pedang Sekte adalah orang kepercayaan dari Patriak atau Matriak.
Mo Lian mengetahui hal ini setelah ia menembus Heavenly Immortal, dan pada saat itu ia mendapatkan gelar Pedang Sekte, itu pun membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mendapatkan kepercayaan dari Master Hong Xi Ning.
Menghabisi pengacau yang mengacau, itulah tugas Pedang Sekte, dan kebetulan itu semua adalah hal yang paling disukainya. Membunuh? tentu saja itu sangat menyenangkan!
Sampai saat itu juga, Mo Lian harus merahasiakan identitasnya, atau setidak menunggu satu bulan sebelum akhirnya benar-benar diumumkan pada dunia, bahwa ia adalah Murid Ketiga.
Mo Lian sendiri tidak masalah, asalkan masih bisa berhubungan dengan Hong Xi Ning. Bahkan, ia merasa hubungan mereka lebih dekat ketimbang di kehidupan sebelumnya.
"Kekuatanku setara dengan Dao Immortal tahap Akhir. Memang kuat dan mendominasi, tapi untuk menguasai Alam Hanzi, itu masih jauh dari cukup."
__ADS_1
Mo Lian menutup matanya kembali dan mulai menyerap esensi dari Element Tanah yang jauh di bawahnya. Element Tanah juga berhubungan dengan Element Logam, sehingga saat ia berkultivasi di bawah tanah ini, ia bisa meningkatkan kekuatan dari dua elemen sekaligus.
***
7 Hari Kemudian
Setelah Mo Lian berkultivasi selama satu minggu penuh, akhirnya ia kembali membuka matanya setelah merasa cukup. Ia yang duduk di ruangan kecil di dalam tanah itu mulai hancur seperti pasir, yang kemudian menyatu dengan tanah sekitar.
Mo Lian kembali ke Can Qi Meiliafei untuk melihat keadaan Ayah dan Ibu. Untuk Wu Yengtu dan yang lainnya, ia akan menundanya untuk sementara waktu. Sampai saat ini juga Desa Kunlun masih tidak mengetahui berita tentang kedatangannya ke Bintang Utama.
"Ibu ..." Mo Lian langsung datang berkunjung ke lantai atas yang berbeda dengan ruang tempo lalu.
"Ada apa?" Su Jingmei mendongak menatap Mo Lian.
Su Jingmei sedang duduk di sofa panjang, mengurus semua dokumen penghasilan selama satu bulan.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar, mencari keberadaan Mo Qian. "Di mana Ayah?"
Su Jingmei fokus pada dokumen di depannya, dan mengurus dokumen menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi yang dibawa Mo Lian, entah dari Bumi atau Bintang Tianjin. "Ayah pergi ke timur kota, mengurus Tentara Bayaran yang dia bangun."
Tentara Bayaran? Mo Lian tidak mengetahui akan hal itu, dan anehnya mengapa Hong Xi Ning mengizinkan ada organisasi seperti itu di Kota Zhan.
"Matriak sendiri yang menyarankan Ayahmu untuk membangunnya." Su Jingmei langsung menjawabnya tanpa menunggu Mo Lian bertanya.
Mo Lian tertegun, kemudian tersenyum tipis dengan menganggukkan kepala. "Jika begitu, maka tidak masalah ..." Ia juga percaya Tentara Bayaran yang didirikan Ayahnya tidak mengambil misi membunuh, kecuali memang pantas untuk dibunuh.
Ia berjalan menghampiri Su Jingmei dan duduk di sofa yang sama, kemudian menggunakan paha Ibunya sebagai bantal untuknya tidur. Ia ingin bersama dengan Ibunya, sebelum akhirnya harus menjalankan tugas dari Masternya.
Mungkin akan ada yang bertanya padanya mengapa memilih setia pada Hong Xi Ning ketimbang meninggalkan dan berkhianat. Alasannya sangat sederhana sekali, karena Hong Xi Ning adalah orang yang telah mengubah hidupnya. Ia selalu diajarkan oleh Ibunya untuk tidak melupakan kebaikan orang lain, bahkan sampai mati.
Mo Lian menutup matanya menikmati usapan lembut dari tangan Ibunya, kemudian ia tertidur dan melepaskan semua beban. Sudah lama ia tidak benar-benar tertidur, karena selama ini harus terjaga dan berhati-hati dengan gerakan sekecil apa pun.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...