Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 467 : Leluhur Dewa Agung


__ADS_3

Mo Lian menarik napas dalam-dalam. Dia menggenggam tangannya, membuat genggaman Dewa Kematian pada Sabit Darah menjadi lebih erat sampai mengeluarkan suara derak logam.


Whooooosh!


Cahaya oranye bergegas sangat cepat sehingga menimbulkan suara lolongan udara seperti serigala.


Mo Lian mengangkat tangannya untuk menghalau serangan, tapi sebelum sempat dia membuat penghalang, Pagoda Sembilan Lantai ungu mengelilingi tubuhnya, membuatnya seolah-olah berada di dalamnya.


Pagoda Sembilan Lantai bergetar seperti tidak mampu menahannya. Benar saja, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya retak dan meledak menjadi serpihan cahaya.


Qin Nian yang berada di dalam Pelican, berlutut memegangi dadanya saat memuntahkan seteguk darah dari dalam mulutnya. Dia menderita luka dalam karena Pagoda Sembilan Lantai yang hancur, dan itu menyerang Inti Jiwa-nya.


Mo Lian membuka matanya lebar-lebar saat melihat Pagoda Sembilan Lantai yang hancur. Dia tidak pernah meminta istri-istrinya untuk membantu, tapi dia tetap tidak bisa melarangnya, karena semakin dilarang, mereka hanya akan semakin terpuruk.


Padahal, dia tidak pernah menganggap mereka sebagai beban. Dia tidak perlu membawa mereka bertarung bersama, mereka hanya perlu menunggu di belakang dan menghibur dirinya setelah bertarung. Tapi, dia tidak bisa mengatakan itu...


Mo Lian menggunakan Kesadaran Ilahi-nya untuk memulihkan luka dalam Qin Nian.


"Aku akan memisahkan musuh-musuh kuat, kalian bisa bertarung bersama untuk melawan yang lain." Walaupun Mo Lian tidak menginginkan mereka bertarung bersama, tapi itu akan membuat mereka merasa hanya menjadi beban dan sedih.


Jadi dalam pertarungan ini, Mo Lian harus berhati-hati terhadap sekitar dan tidak boleh terlalu bermain-main, dia tidak ingin hal yang sama terulang kembali.


Mo Lian meningkatkan kekuatan yang ditinggalkannya untuk menjaga istri-istrinya, kekuatan yang sebelumnya dia tinggalkan adalah kekuatan sebelum masuk ke Dunia Rahasia.


Setelah membuat pencegahan agar istri-istrinya tidak terluka, Mo Lian bergegas pergi menuju arah serangan tadi datang.


Mo Lian mengayunkan tangannya yang terkepal erat. Dewa Kematian mengayunkan Sabit Darah, membelah nyala api yang menghalangi dua belah pihak.


Mo Lian mengulurkan tangan kirinya ke depan, membuat celah terbuka di belakang Dewa Bumi ke bawah. Kemudian dia mengibaskan tangannya ke belakang, menghisap semua orang yang sudah ditandai dan mengirimkannya jauh dari area pertarungannya ke tempat Hong Xi Ning berada.


Ketika api yang menyala padam, Mo Lian sudah melihat ratusan orang yang dipimpin oleh pria paruh baya berambut hitam pendek, alis tajam seperti pedang, rambut-rambut halus di wajahnya dan ada sedikit kerutan di bawah mata.


Pria itu memakai pakaian megah, memperlihatkan kewibawaannya seperti Panglima Perang. Dia adalah Ketua dari Dewa Pembebasan Kehidupan.


"Apakah itu kau?" Mo Lian mengarahkan Sabit Darah ke arah Ketua.


Ketua atau Yi Yangzhu mengabaikan pertanyaan Mo Lian dan melihat Dewa Kematian dengan ketertarikan yang tidak bisa dijelaskan. Dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang hitam dan berdarah. "Aku akan membedah tubuhmu."


Yi Yangzhu melesat tanpa membuat suara dan tiba di depan Mo Lian. Dia mengulurkan tangan untuk mencengkeramnya...


Tapi, Mo Lian bergerak lebih cepat dari Yi Yangzhu dan bisa menangkapnya tepat waktu. Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan Yi Yangzhu, lalu memutarnya sampai terdengar suara tulang patah.


Yi Yangzhu mengeram saat sikunya menekuk ke arah yang berlawanan sampai tulangnya keluar.


Mo Lian menarik tangan kirinya seraya memukul dada Yi Yangzhu.


Bang!


Yi Yangzhu terhempas dengan darah menyembur dari dalam mulutnya. Tangan kanannya putus sampai batas bahu, dadanya berlubang tapi Inti Jiwa-nya masih bertahan. Namun bukan berarti dia baik-baik saja, sebelum sempat dia bernapas, Mo Lian kembali datang.


Mo Lian tiba di atas Yi Yangzhu yang sudah kembali ke barisannya. Dia mengangkat kedua tangan yang terkatup; ilusi Dewa Kematian dan Dewa Semesta muncul bersama.


Dewa Semesta melepaskan pukulan dengan tangan kanan; Dewa Kematian dengan tangan kirinya.


Dua energi yang berbeda bertabrakan dan terlihat tidak akan menyatu, tapi nyatanya membuat masing-masing bersaing dan semakin kuat aura yang dilepaskan.


Yi Yangzhu mengangkat kedua tangannya setelah berhasil menumbuhkannya lagi. "Penghalang!"

__ADS_1


Dewa Surga yang bersamanya mengangkat tangan bersamaan, mereka melepaskan energi yang berbeda-beda dan menyatukannya ke penghalang yang diciptakan Yi Yangzhu.


Penghalang berwarna oranye itu menebal dan meluas sampai mampu menutupi Bintang Shang. Samar-samar di permukaannya terlihat mantra-mantra aneh yang membawa aura tidak nyaman, sampai mantra-mantra itu aktif dan membentuk tangan-tangan kecil dengan jumlah ratusan juta.


Mo Lian mengungkapkan perasan jijik ketika melihat tangan-tangan kecil yang bermunculan di permukaan penghalang.


Booom!


Pukulan dari Dewa Semesta dan Dewa Kematian langsung menghancurkan penghalang yang diciptakan Yi Yangzhu tanpa ada perlawanan sedikit pun.


Yi Yangzhu kembali terhempas dengan darah menyembur dari dalam mulutnya. Wajahnya pucat, tulang-tulang di tubuhnya hancur berkeping-keping dan auranya melemah.


Sementara itu, Hong Xi Ning melawan ratusan Dewa Bumi bersamaan. Dia tidak menggunakan pedang seperti masa mudanya dulu, dia memilih duduk bersila dengan Guzheng di pangkuannya.


Zheng! _.Guzheng dipetik, mengeluarkan nada tinggi yang berdentang.


Tebasan berbentuk bulan sabit melesat dari Guzheng. Bukan hanya tebasan, tapi gelombang suara yang menyakitkan menyebar, menganggu keseimbangan musuh-musuhnya.


Hong Xi Ning memetik Guzheng lebih cepat yang menghasilkan suara menusuk telinga sampai menghancurkan Inti Jiwa. Kemudian dia mendorong senar sekuat tenaga seraya mengibaskan tangannya.


Bang!


Dengan Hong Xi Ning sebagai pusatnya, Guzheng mengirimkan ribuan tebasan tak beraturan ke segala arah. Nada yang dimainkannya tergesa-gesa, dan itu berdampak pada serangannya. Ini seperti Dewa Perang yang tidak mengerti apa-apa selain membunuh dan membunuh!


Serangan Hong Xi Ning sangat ganas, kekuatannya yang setara dengan Dewa Surga tahap Menengah itu membawanya di atas angin dan mudah untuk membunuh Dewa Bumi.


...


Qin Nian dan Yun Ning sama-sama berada di dalam kepungan, tapi musuhnya tidak terlalu kuat seperti lawan yang dihadapi Hong Xi Ning. Musuh yang harus mereka hadapi adalah Dewa Hitam ke bawah, tapi untuk mereka berdua yang belum menembus Dewa Merah, tentu ini adalah tantangan tersendiri.


Qin Nian mengeluarkan Pagoda Sembilan Lantai dan membuka lantai dasar. Dia mengatupkan kedua tangannya. "Menyatu!"


Kemudian Qin Nian merentangkan kedua tangannya. "Menyebar!"


Ratusan ribu pedang menyebar ke setiap titik yang sudah dilihatnya, itu mengelilingi semua musuh di dalam formasi pedang. Ketika Qin Nian mengangkat tangan kanannya di depan dada dengan jari telunjuk dan tengah menghadap ke atas, semua pedang itu terbang sesuai arah masing-masing.


Ada yang terbang secara menyilang, diagonal, vertikal, horizontal atupun berputar.


Teriakan-teriakan terdengar saat semua pedang menebas tanpa membiarkan seorang pun meninggalkan tempatnya. Potongan-potongan tubuh melayang di luar angkasa ketika semua musuh ditebas, tapi masih ada yang selamat dari serangan.


Qin Nian tidak berniat mengejarnya dan membiarkannya dibunuh oleh Hong Xi Ning. Walaupun dia bisa melakukannya, dia harus menggunakan Busur Api Pernoa, dan itu buruk untuk Yun Ning yang memiliki Elemen Es.


...


Yun Ning tersenyum tipis saat mengangkat tangan kanannya perlahan. Dia menahan semua serangan jarak jauh, dan apabila ada yang menahannya untuk bertarung dengan tangan kosong, dia akan mundur untuk menghindarinya.


Yun Ning mengakui bahwa dia buruk dengan pertarungan jarak dekat, karena itulah dia tidak ingin mengambil risiko.


Dia melambaikan tangannya membuat tiupan angin dingin yang mendorong semua orang untuk menjauh darinya.


Serpihan es seperti debu menyentuh kulit setiap orang dari Dewa Pembebasan Kehidupan, kemudian Yun Ning mengepalkan tangannya.


Freeze!


Dewa Hitam ke bawah langsung membeku seperti patung es ketika serpihan es itu meledak. Bahkan ruang kosong sampai ikut membeku dan membuka celah ruang.


Yun Ning mengepalkan tangannya, membuat ledakan lain kembali terdengar. Patung-patung es meledak, menimbulkan badai es yang menghalangi pandangan setiap orang. Badai es itu adalah tubuh dari Dewa Pembebasan Kehidupan yang meledak saat berubah menjadi patung es.

__ADS_1


Yun Ning tersenyum tipis dan merasa bangga karena bisa melawan Dewa Merah tahap Akhir tanpa kesulitan.


***


Mo Lian menghilangkan Dewa Semesta dan Dewa Kematian. Dia bergegas menghampiri Yi Yangzhu yang sudah sekarat dan hanya menunggu kematiannya saja.


"Lindungi Ketua! Demi kebebasan!"


"""Demi kebebasan!"""


Mo Lian benar-benar tidak tahu metode apa yang digunakan Yi Yangzhu sampai membuat anggotanya seperti orang gila. Bahkan mereka tidak peduli dengan hidup sendiri dan bertindak sebagai perisai daging. Berbeda dengan yang mereka kirim ke Wilayah Selatan, yang berada di sini tidak menyayangi hidup mereka sendiri.


Mo Lian melesat turun seraya mengarahkan telapak tangannya ke bawah. Aura kuat mengunci Dewa Surga yang bergegas ke arahnya, seolah ada tangan yang menggenggamnya erat.


Kemudian Mo Lian mengepalkan tangannya.


Booom!


Ratusan Dewa Surga yang bertahan itu langsung terbunuh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Ini sangat disayangkan saat dia membunuhnya seperti ini, karena semua ini adalah nutrisi penting bagi Pohon Yin Surgawi.


"Mati!" Mo Lian mengulurkan tangannya untuk menangkap Yi Yangzhu.


Whooooosh! Bang!


Kilatan cahaya kuning-emas melesat ke arah tangan Mo Lian, menimbulkan dentuman ketika tangannya sedikit terlempar dan mati rasa. Tapi dia tetap bergerak menggunakan tangan kirinya, dia mengeluarkan akar pohon yang bergerak lebih cepat dari serangan berikutnya.


"Keugh!" Yi Yangzhu memuntahkan darah saat merasakan sakit di dadanya. Dia menunduk perlahan, melihat akar pohon yang menembus dadanya.


Akar pohon itu berdetak seperti memiliki kehidupan, lalu samar-samar terlihat ada pembuluh darah yang muncul di permukaan kulitnya.


"Aaarrrgghh!" Yi Yangzhu tidak bisa menahan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya.


"Berhenti!"


Mo Lian menggertakkan giginya, kemudian dia menendang Yi Yangzhu seraya melompat mundur dari tempatnya berada.


Booom! Duarr!


Tempat di mana dia berdiri sebelumnya meledak secara tiba-tiba dengan api besar dan kilatan petir emas mengelilinginya.


"Beraninya..." Dari dalam api, terdengar suara marah dengan gigi yang bergemeletuk, diiringi angin kencang yang menghempaskan nyala api.


Mo Lian melihat lelaki tua yang sedang menggendong Yi Yangzhu yang kering kerontang seperti mayat yang sudah mati lama. Lelaki tua itu nampak segar, hanya ada sedikit kerutan dan memakai pakaian hitam.


"Apakah kau orang yang mengalahkan Kaisar Tanpa Mahkota dari Wilayah Selatan?"


Pria tua yang sering dipanggil “Leluhur Dewa Agung” oleh anggota Dewa Pembebasan Kehidupan itu tertegun. Dia memicingkan matanya. "Apakah aku mengenalmu?"


Mo Lian menatap tajam Leluhur Dewa Agung dengan kebencian. "Menantu dari Kaisar Tanpa Mahkota, Mo Lian."


Dewa Pembebasan Kehidupan hanya tersisa Leluhur Dewa Agung, dan dia tidak perlu lagu menyembunyikan identitasnya.


Leluhur Dewa Agung tersentak. Amarah yang ditekannya meledak lebih kuat, dia sangat membenci Kaisar Tanpa Mahkota yang mengacaukannya dulu, dia ingin sekali membunuhnya, tapi terlambat karena sudah meninggalkan Wilayah Selatan.


Sekarang, karena ada menantunya di sini, Leluhur Dewa Agung berniat untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi dan membunuhnya. Bahkan jika harus mengelilingi Alam Semesta, dia akan terus mengejarnya!


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2