Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 38 : Mo Lian Vs 5 Wu-Dan


__ADS_3

Semua orang terperangah dengan mulut terbuka lebar, mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Menantang Wu-Dan? Itu sama saja dengan mencari mati, mereka sangat menyayangkan sikap Mo Lian terhadap seorang Wu-Dan, tapi tidak sedikit pula dari mereka yang senang. Seperti Keluarga Su, Keluarga Mo, Keluarga Long, Keluarga Fang dan Keluarga Tang.


Wajah pria tua itu mengeras dengan aura kultivasi yang keluar dari dalam tubuhnya. Ia menggertakkan giginya kesal, kemudian ia melompat dari balkon lantai dua dan terbang melayang di atas arena.


"Kau hanya semut berani menantang Dewa?" Pria tua itu menatap tajam Mo Lian.


Keluarga Qin dan anggota keluarga Mo Lian hanya diam tak bereaksi sama sekali. Karena mereka semua sudah melihat kekuatan Mo Lian yang juga bisa terbang di langit, bahkan lebih tinggi.


Percakapan antara penonton kembali terdengar, mereka mengatakan bahwa Mo Lian hanya mencari kematian karena berani menantang seorang Dewa Huaxia, Ketua dari Pasukan Taring Naga.


Mo Lian mengorek telinganya ketika mendengar omong kosong dari semua orang. Dengan santainya ia melayang meninggalkan daratan, kemudian terbang saling berhadapan dengan pria tua.


"I- I- Ini. Bagaimana mungkin, dia juga seorang Wu-Dan. Wu-Dan diusianya yang masih sangat muda. Bakat yang mengerikan."


"Benar. Menurut kakekku, pria tua itu sudah berkultivasi selama lebih dari 200 tahun, barulah dia bisa menembus tingkat Wu-Dan."


Pria tua yang tidak diketahui mereka itu mengerutkan keningnya, ia tak berharap jika pemuda di depannya memiliki tingkatan yang sama dengannya. Namun ia masih tidak ingin mempercayai jika Mo Lian berada di tahap yang sama. Dengan seringai lebar, ia menghina Mo Lian. "Hanya Wu-Dan tahap Awal yang cacat. Kau tidak memiliki pengalaman, aku sudah hidup lebih dari 200 tahun, sudah banyak pertempuran yang kujalani."


Mo Lian hanya terdiam tak membalas perkataan dari pria tua itu. Baginya pertempuran di Bumi sangat tidak berarti, selama 1000 tahun ia sudah melalui jutaan pertempuran, ratusan gugus bintang sudah dihancurkannya. Miliaran jiwa manusia juga sudah dibunuhnya, itu semua hanya karena satu alasan, mereka mengganggunya, bahkan ia pernah membunuh orang hanya karena orang itu menjatuhkan makanannya.


Setelah cukup lama menatap satu sama lain, keduanya menghilang di udara kosong dari pandangan semua orang. Kemudian embusan angin kencang menyebar luar dengan dentuman keras ketika keduanya saling beradu pukulan.


Dentuman itu sangat keras hingga membuat semua orang tersungkur seraya menutupi kedua telinganya. Hanya Pejuang diatas tingkat Wu-Zong saja yang dapat menahan dentuman itu.


Mo Lian membuka tangan kanannya yang terkepal untuk menangkap pukulan dari pria tua yang dikatakan sebagai Dewa Huaxia.


Pria tua itu tersentak, ia tak berharap jika Mo Lian dapat mengubah gerak tangannya yang sebelumnya saling beradu pukulan dengannya. Ia mencoba untuk pergi menjauh, namun sebanyak apapun ia mencoba, ia tidak bisa melarikan diri. Bagaimanapun kekuatan mereka berdua berbeda satu tingkatan.


Pria itu itu mengayunkan tangan kirinya untuk menyerang perut bagian kiri Mo Lian.


Tentu saja Mo Lian tidak tinggal diam, sebelum pukulan itu mengenai tubuhnya. Dengan kecepatan kilat ia memutar tubuhnya dan membanting pria tua itu ke podium arena.


Wush! Boom!


Podium arena yang terbuat dari beton hancur berkeping-keping menjadi potongan batu yang terbang ke segala arah, bersamaan dengan debu yang menutupi pandangan. Melihat itu, Mo Lian hanya berdiam diri tak menangkap bebatuan yang terbang ke kursi penonton. Untuk keluarganya? Mereka sudah menjauh terlebih dahulu sebelum pertarungan dimulai.


Mo Lian menundukkan kepalanya memandangi arena yang telah hancur. Tiba-tiba debu yang menghalangi pandangan terbelah dua, memperlihatkan pria tua yang tampak berantakan, pria tua itu melesat ke udara dengan tinju yang diselimuti energi kuat bercahaya hijau siap menyerang Mo Lian.


Mo Lian menegakkan tubuhnya menghindari serangan itu. Kemudian menyentuh dada pria tua itu, seketika itu juga ledakan energi spiritual keluar dari punggung pria tua yang membuatnya mundur puluhan meter ke belakang.


Pria tua itu menggertakkan giginya, ia menatap tajam Mo Lian. "Tidak ku sangka kau sampai membuatku mengeluarkan serangan ini," ucapnya seraya menarik pedang yang berada di punggungnya.


Pria tua itu mengangkat pedangnya di depan wajahnya dengan jari telunjuk dan tengah dari tangan kanan diangkat. Ia mengalirkan energi spiritual ke dalam pedang, kemudian membuat gerakan tusukkan ke arah Mo Lian. "Teknik Pedang, Auman Naga!"

__ADS_1


Pedang memancarkan cahaya berwarna hijau terang, kemudian cahaya itu terfokus pada satu titik yang membentuk siluet naga berwarna hijau dan melesat tajam ke arah Mo Lian.


"Hahaha! Mati kau!" Pria tua itu berteriak lantang dengan seringai lebar. Ia percaya jika Mo Lian tidak akan selamat dari serangan itu, bahkan jika Mo Lian seorang Wu-Dan.


Orang-orang yang sudah keluar dari tempat diadakannya Pertandingan Beladiri membuka matanya lebar ketika melihat naga itu. Mereka tidak menyangka dapat menyaksikan pertandingan antara dua Dewa hidup. Mereka juga sudah berpikiran jika Mo Lian tidak akan selamat, Su Jingmei dan Mo Fefei juga sudah membalikkan tubuhnya karena tidak tahan melihat apa yang akan terjadi nanti.


Mo Lian hanya diam tak bergeming ketika melihat naga yang mengarah padanya. Namun saat jarak antara keduanya hanya tersisa setengah meter, dengan santainya ia menampar kepala naga itu.


Boom!


Naga hijau berubah arah menghantam daratan membuat getaran hebat bagaikan gempa bumi dalam radius satu mil. Kediaman yang digunakan untuk Pertandingan Beladiri juga sudah rata dengan tanah.


"Apakah hanya segini saja?" Mo Lian menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor karena debu. "Aku bahkan bisa mengalahkan mu hanya dengan beberapa pukulan," lanjutnya seraya meregangkan tangannya.


Mendengar itu, wajah pria tua mengeras dengan urat-urat terlihat di lehernya. Ia sangat kesal, ini adalah pertama kalinya ia dipermalukan di depan umum, terlebih lagi oleh seorang pemuda yang bahkan belum lulus sekolah.


Pria tua itu kembali mengangkat pedangnya ke udara. Kemudian ia mengayunkannya tanpa harus menunggu energi spiritual terisi sepenuhnya. "Mati kau baji—"


Clang! Krak!


Tiba-tiba di depan pria tua itu sudah muncul seorang pemuda yang tak lain ialah Mo Lian. Di tangan Mo Lian terdapat pedang yang terbuat dari energi spiritual, pedang spiritualnya berbenturan dengan pedang pria tua, yang membuat pedang milik Ketua dari Pasukan Taring Naga itu patah menjadi dua bagian.


Karena pedangnya patah, pedang yang merupakan senjata spiritual, yang mana berhubungan dengan jiwa pemilik. Akibatnya pria tua itu terbatuk-batuk dengan seteguk darah segar keluar dari dalam mulutnya.


"Mo Lian. Ketua Sekte Dongfangzhi," jawab Mo Lian masih dengan pedang spiritual di tangan kanannya.


Perkataan Mo Lian ini sangat pelan. Namun entah mengapa bisa didengar di telinga semua orang. Ketua Sekte Dongfangzhi? Begitu muda!


Pria tua itu mengerutkan keningnya, ia menolehkan kepalanya ke segala arah menatap rekan-rekannya. "Apakah kalian semua hanya diam? Kita kalahkan bocah ini. Kemudian kita ambil teknik-tekniknya!"


Keempat orang yang terbang tidak jauh dari pertarungan memandang satu sama lain, kemudian mereka berempat menganggukkan kepalanya. Seketika keempat orang itu melesat cepat dan mengepung Mo Lian dari segala arah.


Mo Lian menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia tertawa terbahak-bahak," Hahaha! Lucu sekali. Kalian semua mengatakan bahwa kalian seorang Dewa? Tapi kalian mengepung seorang pemuda yang bahkan belum lulus sekolah menengah atas," ucapnya menatap rendah Ketua Pasukan Taring Naga.


"Tertawalah selagi bisa. Sebentar lagi kau akan mati. Tapi sebelum itu, aku akan memberikanmu dua pilihan. Pertama, patahkan kaki dan tanganmu serta serahkan teknik-teknik sekte kalian, maka aku akan mengampuni mu karena telah mencelakai Kapten dari Pasukan Taring Naga ..."


"Kedua, tetaplah melawan dan berjuang. Maka kau akan mengalami rasa sakit yang sangat menyakitkan, sampai-sampai kau memohon untuk mati ketimbang harus hidup!"


Mo Lian mengerutkan keningnya, ia menghela napas panjang. "Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu karena kau berasal dari Pasukan Taring Naga yang menjaga negara. Tapi karena kau berniat membunuhku dan mengambil teknik, maka aku tidak perlu lagi berbelas kasih," balasnya menatap tajam pria tua.


"Dan untuk kalian berempat. Karena kalian juga bekerjasama dengannya, maka aku juga akan membunuh kalian!"


Kelima orang itu terdiam sejenak, kemudian gelak tawa bisa didengar dari kelima orang itu. Mereka berpikiran jika Mo Lian hanyalah bicara omong kosong, dengan cepat mereka semua mempersiapkan teknik-teknik untuk menyerang Mo Lian dan kemudian melemparkannya.

__ADS_1


Naga, pedang, energi spiritual, telapak tangan dan sebagainya.


Mo Lian yang mendapati serangan dari lima arah hanya diam tanpa menggerakkan jari-jarinya.


Boom!


Ledakan terjadi di tempat Mo Lian terbang karena benturan dari lima serangan. Kelima orang itu tertawa terbahak-bahak, mereka menyeringai lebar karena telah membunuh Mo Lian. Namun di satu sisi mereka juga merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan teknik-teknik dari Mo Lian.


Semua penonton yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak dan rahang yang hampir jatuh ke lantai. Su Jingmei dan Mo Fefei juga sudah mulai menangis, mereka tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Mo Lian.


Ketika suasana kembali hening, tiba-tiba di dalam kepulan asap terdengar suara pemuda yang mengejutkan semua orang.


"Apakah hanya segitu? Serangan dari lima orang yang mengatakan dirinya seorang Dewa?"


Asap tebal menghilang, memperlihatkan Mo Lian yang sedang mengangkat tangan kanannya ke udara, dengan jari telunjuk dan tengah menunjuk ke langit. "Teknik Pedang 1000 Mil, Gerakan Ketiga. Formasi 1000 Pedang!"


Seketika di sekitar Mo Lian tercipta fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat. Tidak lama kemudian terlihat pedang berwarna biru dengan jumlah yang banyak, pedang-pedang itu berada di atas langit, kiri, kanan, depan dan belakang mengepung kelima orang yang menyerangnya.


Sontak kelima orang tua itu tersentak kaget. Tubuh mereka sedikit bergetar saat merasakan aura kuat dari seribu pedang itu. "Tu- Tu- Tuan. To- Tolong tenang. Ka- Kami hanya bercanda,"


"Be- Bena—"


Mo Lian mengepalkan tangan kirinya yang terbuka. Seketika beberapa pedang melesat tajam menembus tubuh kelima orang tanpa terkecuali. Kelima orang itu jatuh menghantam tanah dengan keras.


Ketika mereka sudah berada di tanah dan tersungkur, mereka menengadahkan kepalanya melihat Mo Lian. "Le- Leluhur. Akan membalaskan dendam ini!" ucap salah seorang dari mereka.


"Benarka—" Mo Lian mengangkat tangan kanannya ke udara hendak kembali menyerang. Namun dihentikan saat mendengar suara nyaring yang cukup jauh darinya.


"Berhenti!"


Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Terlihat seorang pria paruh baya yang sangat dibencinya sedang menodongkan senjata api di kepala Ibunya. Ia menatap tajam ke arah pria itu. "Tang... Zhao!"


Jleb!


Hanya dengan tatapan matanya, di samping Tang Zhao muncul pedang biru transparan yang kemudian menembus kepala Tang Zhao saat itu juga. Kejadian ini sangat cepat, hingga membuat semua orang tidak dapat mencerna apa yang terjadi di depan mereka.


Setelah membunuh Tang Zhao dan orang-orangnya, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada kelima orang yang masih hidup di atas tanah.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2