
Enam hari kemudian, lebih tepatnya hari Minggu tanggal 22 November 2020. Hari ini Mo Lian akan pergi meninggalkan Sekte Dongfangzhi menuju perbatasan antara India dengan China yang terletak di Himalaya, di mana sering terjadi konflik tentang sengketa tanah.
Konflik yang terjadi sudah lebih dari 60 tahun. Bahkan tanggal 15 Juni 2020 juga terjadi pertikaian lagi, yang mengakibatkan beberapa tentara gugur dalam pertempuran.
Meski di sana sering terjadi pertikaian dan pertempuran antara dua negara, Mo Lian tidak merasa tertekan maupun takut. Karena sekarang ia tidak perlu mengkhawatirkan tentang senjata-senjata berat maupun nuklir, yang mana dulu itu adalah senjata yang sangat ditakutinya.
Sebelum berangkat, selama seminggu terakhir ini ia melatih semua orang untuk meningkatkan kekuatan. Kultivasi yang terendah dari semua orang adalah, Fase Fondasi tahap Menengah, dengan yang tertinggi adalah Wu Yengtu, Ranah Inti Emas tahap Awal.
Kultivasi Su Jingmei dan Mo Fefei sudah menembus Fase Lautan Ilahi tahap Menengah. Qin Zhang, Qin Tian dan Qin Nian menembus Ranah Inti Perak, serta Yun Ning yang menembus Fase Lautan Ilahi tahap Menengah.
***
Bandara Shuangliu Chengdu
Pada saat ini di Bandara Shuangliu Chengdu sudah ada Mo Lian yang berada di depan ruang tunggu. Mo Lian tidak sendirian, ia bersama dengan Su Jingmei dan Mo Fefei, serta lainnya yang mengantarnya ke bandara.
"Lian'er. Kau harus hati-hati di sana, jika sudah selesai, cepatlah kembali. Lalu jika tidak bisa menemukan ayahmu, pulanglah ..." Su Jingmei melingkarkan kedua tangannya di leher Mo Lian dengan air mata menjelaskan kesedihan dan ketidakinginan untuk berpisah.
"Ibu tenang saja, aku pasti akan berhati-hati," balas Mo Lian yang mengusap punggung Ibunya mencoba untuk menenangkannya.
Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat, kemudian digantikan oleh Mo Fefei yang memeluk erat Mo Lian.
Mo Fefei hanya terdiam tidak berkata-kata apa saat memeluk Mo Lian, namun ia menangis sejadi-jadinya dengan air mata yang membasahi pakaian yang dikenakan Mo Lian.
Mo Lian sendiri hanya diam dan membiarkannya, hal ini sudah sering terjadi dari mereka kecil. Saat Mo Fefei menangis, pastinya ialah yang menenangkan.
"Fefei, sudahlah. Aku tidak akan lama, aku akan kembali secepat mungkin jika enam bulan tidak menemukan Ayah," ucap Mo Lian sembari mengusap rambut Mo Fefei.
Mo Fefei terdiam, ia menggesekkan wajahnya di dada Mo Lian, kemudian melepaskan pelukannya, terlihat cetakan wajahnya yang berada di dada Mo Lian.
__ADS_1
Mata Mo Lian berkedut-kedut saat melihat pakaian yang dikenakannya telah basah dan mencetak dadanya yang bidang, ini memang terkesan keren. Tapi kembali lagi, basah ini bukan karena air ataupun keringat, melainkan air mata dan cairan hidung Mo Fefei.
"Lain kali gunakan kain ataupun tisu, jangan mengelap di pakaian orang lain. Mengerti?" Mo Lian menyentil pelan dahi Mo Fefei, kemudian ia masuk ke dalam ruang tunggu begitu saja tanpa menunggu balasan.
Mo Lian duduk di ruang tunggu untuk beberapa waktu sembari memainkan game di telepon genggamnya. Hingga pada akhirnya terdengar suara pemberitahuan yang entah dari mana.
"Perhatian, para penumpang pesawat XXX dengan nomor penerbangan XA925 tujuan Kota Lhasa dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12."
Mo Lian yang mendengar itu berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju pintu yang telah disebutkan sesuai dengan pengumuman keberangkatan. Ia memasuki kabin pesawat melalui pintu khusus pemegang tiket Businnes Class, yang merupakan kelas pertama di dalam pesawat itu.
Mo Lian berjalan menuju tempat duduk yang sesuai dengan tiket yang dipegangnya, kemudian ia menutup matanya setelah mengenakan sabuk pengaman. Ia juga tidak merasakan adanya keanehan maupun bahaya di pesawat ini, karena itulah ia memutuskan untuk tidur.
Satu jam kemudian. Mo Lian terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan dan langsung melihat waktu di jam tangannya. Sudah jatu jam berlalu, masih membutuhkan satu jam lebih lagi untuk sampai di Bandara Lhasa Gonggar.
Untuk mengisi waktu luangnya, ia kembali menutup matanya untuk tidur. Namun baru saja memejamkan mata, tiba-tiba ia mendengar teriakan nyaring di kabin Economy Class.
"Apa yang terjadi? Apakah ada keributan di belakang sana? Aku sudah memeriksanya dan tidak ada hal-hal berbahaya." Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, dan pergi menuju Economy Class untuk melihat apa yang terjadi.
"Katakan pada Captain untuk mengganti pendaratan! Jika tidak, wanita ini akan mati!" Pria paruh baya berambut hitam pendek dengan jaket kulit itu berteriak.
Bibir Mo Lian berkedut-kedut saat mendengar itu. Ganti pendaratan? Itu hanya akan memperlambat urusannya.
"Ada urusan apa yang membuatmu mengatakan seperti itu? Apakah ada urusan yang mendesak?" Mo Lian berjalan santai menghampiri pria paruh baya itu.
Pria paruh baya berbalik saat mendengar suara Mo Lian. Ia mengarahkan pisaunya pada Mo Lian. "Tidak usah banyak tanya! Katakan pada Captain untuk mendaratkan pesawat ini di tempat lain, jika tidak, bukan hanya wanita ini saja yang mati, tapi beberapa orang yang lain!"
Pada saat itu juga terdengar suara bisik daei berbagai tempat duduk, terlihat belasan pria paruh baya dengan beberapa wanita yang mengancam penumpang di sebelahnya. Mereka mengancam dengan senjata-senjata yang didapat dari pesawat, entah itu garpu maupun sumpit.
Ketika melihat hal itu, Mo Lian menghela napas lega, dengan begitu ini bukanlah urusan mendesak seperti ada hal penting di kota lain, ini adalah murni perampokan. Hanya saja dengan cara yang tidak terlalu baik karena tidak menggunakan senjata.
__ADS_1
"Berlutut!" Mo Lian menatap belasan orang itu dengan aura membunuh keluar darinya.
Seketika itu juga tubuh belasan orang itu bergetar hebat dan tersungkur tak bertenaga, mereka semua mencoba untuk bangkit, namun semakin mereka mencoba, semakin berat pula tubuh mereka.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat pramugari cantik yang terdiam tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Suruh beberapa orang untuk mengikat mereka, lalu laporkan hal ini pada pihak bandara untuk menyiapkan kepolisian saat pesawat ini mendarat."
Tubuh pramugari itu bergetar saat melihat tatapan mata Lin Chen. Ia menganggukkan kepala dan pergi ke bagian belakang pesawat, mencari apapun yang bisa digunakan untuk mengikat tubuh belasan orang itu.
Dua puluh menit kemudian, setelah belasan orang itu sudah terikat dan tak ada lagi masalah yang menimpa. Akhirnya Mo Lian kembali ke tempat duduknya yang berada di Business Class.
Tidak seperti sebelumnya, ia memutuskan untuk terjaga, siapa tahu kejadian yang sama akan terulang kembali, meski kemungkinannya sangat kecil, mengingat apa yang menimpa belasan orang itu.
Meski Mo Lian sudah menarik kembali aura membunuhnya, tapi keadaan belasan orang itu tidak menampilkan tanda-tanda akan membaik. Tubuh mereka masih bergetar hebat dengan tatapan mata ketakutan, dan keringat dingin yang mengalir deras.
Mo Lian sendiri tidak mempedulikannya, anggap saja itu sebagai hukuman karena mengganggu keadaan di pesawat. Seandainya saja pria paruh baya itu mengatakan ada hal penting seperti teman yang sakit atau apapun, ia tidak akan menghentikannya dan membiarkan Captain yang mengambil keputusan.
Tapi siapa yang menyangka, pria paruh baya itu malah mengisyaratkan dengan jelas bahwa mereka semua adalah perompak.
"Masih tersisa satu jam lagi untuk sampai di sana. Ketika sudah sampai, aku langsung menuju Pegunungan Himalaya, aku juga sudah membawa beberapa perlengkapan. Bahan makanan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan, pakaian dan sebagainya," gumam Mo Lian yang bersandar pada sandaran kursi.
Mo Lian sendiri tidak yakin bisa menemukan ayahnya dalam waktu yang singkat. Tapi jika ia tidak dapat menemukan keberadaan ayahnya dalam waktu enam bulan, maka ia akan kembali lagi ke Sekte Dongfangzhi untuk mempersiapkan kekacauan yang terjadi di Daratan Huaxia nantinya.
Kekacauan di mana sekte-sekte tersembunyi agar bergerak, termasuk klan yang berada di Amerika maupun negara Eropa. Pada saat itu, mungkin akan lebih dari satu juta orang akan mati terbunuh.
"Tapi sebelum itu, aku harus dapat menembus Ranah Inti Emas Sempurna!"
...
***
__ADS_1
*Bersambung...