Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 125 : Hidup dan Mati


__ADS_3

Mo Lian duduk di luar arena dengan mata terpejam. Meski ia terlihat bersantai, tapi kesadarannya terus bergerak mencari tahu keanehan yang mungkin saja terjadi saat babak kedua nanti dimulai.


Benar saja apa yang dikhawatirkannya, empat orang yang sebelumnya menjaga di empat sisi untuk membuat pelindung mulai melakukan tindakan aneh. Mereka secara diam-diam memasang array, meski arraynya berbeda, tapi memiliki fungsi yang sama dan sangat mudah untuk dihancurkan.


Array itu sendiri berfungsi untuk terus mengalirkan energi spiritual pada orang yang berada di dalam lingkaran array tersembunyi, namun karena array sedikit diubah. Hanya orang yang memegang tanda khusus yang bisa menerima energi spiritual itu.


Mo Lian membuka matanya perlahan sembari menaikkan sudut bibirnya. "Ini sangat menarik, mereka sampai menggunakan cara itu untuk memastikan agar Istana Surgawi tetap memenangkan pertandingan di babak kedua," gumamnya.


Lima belas menit kemudian. Waktu istirahat sudah berakhir dan pertandingan akan dilakukan di babak kedua, yang mana diharuskan memenangkan pertandingan melawan murid dari Istana Surgawi.


Penatua Ye yang berada di atas menara bangkit dari tempat duduknya, ia melihat semua orang yang hadir dengan seringai lebar, kemudian berkata dengan suara yang menggema, "Peraturan di babak kedua sedikit mengalami perubahan. Sebelumnya dikatakan tidak ada aturan, tapi tidak menjelaskan boleh untuk membunuh. Setelah melakukan pembahasan singkat dengan orang-orang yang memiliki kedudukan di Kota Xing. Pertandingan pada babak ini diperbolehkan untuk membunuh."


Semua orang terdiam dengan mulut terbuka lebar. Mereka tahu jika memasuki Istana Surgawi sangatlah menyulitkan dan banyak sekali persaingan, tapi tidak menduga akan sampai menjadi seperti ini hanya untuk mencari murid yang benar-benar berkualitas.


"Bagi siapa saja yang tidak memiliki keberanian untuk mengikuti pertandingan babak kedua, dipersilakan untuk menyerah saat ini juga sebelum terlambat." Penatua Ye melanjutkan perkataannya seraya menatap tajam Mo Lian dan mengeluarkan aura membunuhnya.


Mo Lian yang merasakan aura itu hanya terkekeh kecil. Peraturan ini ditujukan padanya untuk menyerah dalam pertandingan. Tapi hanya membunuh beberapa murid setengah langkah Ranah Inti Perak dan Inti Perak tahap Awal sangat mudah baginya.


Pada saat itu juga, sekitar 20 peserta kecuali Mo Lian mulai mengangkat tangannya ke udara dan menyatakan bahwa mereka tidak lagi mengikuti pertandingan babak kedua. Sia-sia melaju ke babak selanjutnya, tapi jika ujung-ujungnya akan terbunuh.


"Lian Mo. Haruskah kita menyerah juga? Aku bisa mengikuti ujian yang akan diadakan sepuluh tahun lagi, jika aku mengikutinya sekarang, hanya kematianlah yang menanti," ucap Wei Yian Fei menatap khawatir Mo Lian.


Sepuluh tahun? Mo Lian menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa menunggu waktu selama itu, ini adalah kesempatan yang baik untuk memasuki Istana Surgawi dan menyelamatkan Ayahnya, lalu menghancurkannya dari dalam.


Dengan tangan menyentuh sandaran lengan, ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya.


"Jika kau ingin memasuki Istana Surgawi, ikutlah naik denganku ke atas arena. Mereka mengatakan jika boleh membuat tim dengan jumlah maksimal tiga orang." Mo Lian berjalan menaiki tangga batu menuju podium arena.


Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning menatap satu sama lain untuk beberapa saat. Kemudian keduanya menguatkan tekad masing-masing, lalu berjalan mengikuti langkah kaki Mo Lian yang naik ke atas podium arena.


Percakapan terjadi saat ketiga orang itu naik ke atas arena. Tatapan merendahkan juga tertuju pada mereka karena mencoba untuk tetap bertarung, meski hasilnya sudah bisa dipastikan sebelum mereka bertiga naik ke atas arena.

__ADS_1


Mo Lian tersenyum tipis mengabaikan tatapan semua orang. Ia menaikkan pandangannya pada menara yang di atas sana terdapat belasan murid mengenakan pakaian berwarna putih bersih dan pedang di punggung.


"Apakah kau yakin untuk mengikuti pertandingan babak kedua? Pada pertandingan ini, meski kau menyerah sekalipun, kau tidak bisa keluar dari arena kecuali telah terbunuh," ucap Penatua Ye yang suaranya menggema.


"Aku yakin." Mo Lian membalas tatapan mata Penatua Ye dan mengeluarkan aura membunuhnya.


Tubuh Penatua Ye sedikit bergetar saat melihat tatapan mata Mo Lian. Tidak lama kemudian, ia menggelengkan kepalanya dan kembali duduk di kursi yang berada di belakangnya.


Penatua Ye mengangkat tangannya ke udara memerintahkan salah satu dari murid Istana Surgawi yang berdiri di belakangnya untuk turun ke atas arena.


"Baik, Penatua." Pria muda berambut biru kehitaman menangkupkan kedua tangan. Pria itu mengenakan pakaian serba putih yang dilapisi oleh jubah berwarna biru, lalu di belakang punggungnya terdapat pedang tipis.


Pria muda itu melompat dari tempatnya berdiri, dan mendarat di atas arena dengan jarak sekitar lima puluhan meter dari Mo Lian.


Mo Lian mengerutkan keningnya menatap orang di depannya. "Apakah kau hanya sendiri saja? Kami bertiga, bukankah itu tidak adil?"


Pria muda itu menaikkan sudut bibirnya seraya mendengus dingin menjelaskan ketidaktahuan Mo Lian dan penghinaan. "Meski kau berada ditingkat Shen Hai tahap Akhir, sama sepertiku. Tapi aku memiliki kekuatan diatasmu."


"Hah..." Mo Lian menghembuskan napas panjang dengan rasa dingin. Ia menatap tajam lurus ke depan tanpa menoleh, dan berkata pelan, "Kalian berdua cobalah untuk menyerangnya, agar kalian juga mendapatkan kontribusi dalam pertandingan ini, lalu sisanya, biarkan aku yang mengakhiri."


Pria paruh baya yang merupakan Wakil Penatua Ye mengangkat tangannya ke udara. "Pertandingan babak kedua! Dimulai!"


Murid dari Istana Surgawi menarik pedang dari sarungnya, kemudian melesat ke arah Mo Lian dengan kecepatan tinggi, yang kecepatannya tidak wajar untuk tingkatan kultivasinya.


Meski kecepatan pemuda itu diatas rata-rata, bagi Mo Lian sangatlah lambat. Mo Lian menginjakkan kakinya pada lantai arena, membuat arena bergetar dan menerbangkan lantai yang terbuat dari batu tebal.


Duarr!


Ledakan yang tidak terlalu besar tercipta saat batu yang diterbangkan oleh Mo Lian mengenai ayunan pedang pemuda yang tidak mengenalkan diri.


Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning tidak tinggal diam, keduanya berpencar ke dua sisi mengapit murid Istana Surgawi. Keduanya membuat segel tangan dengan kecepatan yang sama. "Teknik Api! Harimau Api!"

__ADS_1


Siluet harimau keluar di antara kedua tangan keduanya. Siluet harimau api itu kian membesar seiring berjalannya waktu, dan meledak keras saat menghantam target, membuat asap tebal yang menghalangi pandangan semua orang.


Tidak lama kemudian, angin berembus kencang menerbangkan asap tebal yang menghalangi, terlihat pemuda yang terkena serangan masih berdiri dengan gagah tanpa mendapatkan luka sedikitpun. Di sekitar pemuda itu samar-samar terlihat pelindung berwarna putih yang terbuat dari energi spiritual, namun bukan energi spiritual milik pemuda itu.


Pemuda itu mengangkat pedangnya ke udara. "Kerjasama kalian sudah sangat baik, tapi kalian terlalu lemah. Kalian harusnya merasa senang karena bisa mati di tanganku, Fan Liang Chen!" teriaknya yang mengayunkan pedang.


Mo Lian terkekeh kecil saat melihat serangan pedang berwarna orange itu. Ia mengangkat kaki kanannya yang sudah dialiri oleh energi spiritual, kemudian menghentakkan kakinya di atas arena.


Podium arena bergetar kembali saat Mo Lian menginjakkan kakinya, bahkan sampai membuat retakan besar yang menyebar luas berbentuk sepeti jaring laba-laba, dan menghancurkan lingkaran array yang sudah disiapkan.


Pada saat itu juga, serangan yang mengarah padanya bukan bertambah besar dan kuat, melainkan mengecil dan melemah.


Hanya dengan kibasan lengan bajunya, serangan yang mengarah pada Mo Lian hancur menjadi kepingan cahaya berwarna orange, yang kemudian menghilang.


Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian menekan kakinya di lantai dan melesat sangat cepat seperti orang yang bisa berpindah tempat. Ketika ia muncul, ia sudah berada tepat di depan Fan Liang Chen, lalu ia menghilang lagi dan tiba di belakang lawannya.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada tangan kanannya menciptakan sebuah pedang berwarna biru transparan, dengan kecepatan kilat, ia mengayunkan pedangnya menebas batang leher Fan Liang Chen.


Setelah Mo Lian menebas batang leher Fan Liang Chen, terdengar suara benda jatuh di atas arena, membuat semua orang yang melihatnya membelalakkan mata dengan mulut terbuka lebar.


Benda jatuh yang dimaksud itu adalah kepala Fan Liang Chen yang telah terpisah dari tubuhnya. Raut wajah Fan Liang Chen seperti orang yang tidak siap untuk menerima takdir, matanya terbuka lebar hampir keluar dengan mulut yang terbuka.


Penatua Ye membanting kedua tangannya di atas meja yang berada di depannya dengan keras, membuat meja kayu di depannya hancur berkeping-keping menjadi potongan kayu kecil. "Sialan! Beraninya dia membunuh murid dari Istana Surgawi!"


Mo Lian tersenyum tipis seraya mengalihkan pandangannya pada Penatua Ye. "Apakah aku sudah bisa memasuki Istana Surgawi?"


Penatua Ye menggertakkan giginya kesal sembari mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. "Jika kau bisa mengalahkan seluruh murid yang ku bawa, kau akan bisa memasuki Istana Surgawi sebagai Murid Dalam. Lalu jika kau berhasil mengalahkan Wakilku, kau akan menjadi Murid Batin. Apakah kau berani menerimanya?" tanyanya yang melepaskan aura membunuhnya.


Mo Lian tertawa terbahak-bahak menarik perhatian semua orang, ia menatap tajam Penatua Ye dan menjawabnya tegas, "Tentu!


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2