
Asap tebal menghalangi pandangan semua orang saat Mo Lian kembali membentuk tubuhnya untuk yang terakhir kalinya. Mo Lian melepaskan energi spiritualnya ke sekitar untuk membuat dinding cahaya putih keemasan.
Cahaya itu untuk menghalangi pandangan orang yang berada di luar. Ia menekan tangannya di tanah menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya, ia mengalirkan kembali energi spiritualnya pada Cincin Ruang, dan mengeluarkan beberapa pakaian untuk dikenakannya.
Setelah lima menit berlalu, Mo Lian selesai mengenakan pakaian. Akhirnya ia menghilangkan kembali dinding cahaya yang menghalangi apa yang terlihat di dalam.
Mo Lian berjalan menghampiri Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning yang sudah selesai dalam memurnikan pil. "Karena kejadian tadi, pastinya akan ada orang yang datang kemari untuk mencari tahu. Kalian berdua sudah menembus tingkat Shen Hai, harusnya kalian bisa terbang sendiri."
Setelah mengucapkan hal itu, Mo Lian menekan kakinya dan bergerak kembali ke Kota Xing melalui jalan memutar agar identitasnya tetap terjaga, dan tidak menimbulkan kecurigaan saat memasuki Istana Surgawi.
Bagaimanapun sangat tidak masuk akal Ranah Inti Emas mengikuti acara penerimaan Istana Surgawi, jika pengujinya sendiri berada ditingkatan yang sama dengannya.
Puluhan menit kemudian. Mereka bertiga berhasil meninggalkan hamparan rumput yang dipagari oleh pegunungan batu, ketiganya mendarat di tengah-tengah hutan yang jaraknya dari Kota Xing hanya tinggal satu jam perjalanan.
Mo Lian yang berjalan di depan Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning berhenti. Masih dengan tatapan lurus ke depan, ia berkata tanpa menoleh, "Kalian berdua, memiliki masalah dengan Istana Surgawi?"
Keduanya tersentak kaget saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Lin Chen. Bahkan Wei Yian Fei yang sebelumnya selalu tenang, berubah menjadi sangat gugup dan keringat dingin mengalir membasahi wajahnya.
Mo Lian menggeleng pelan dan terkekeh kecil, ia kembali berjalan sembari berkata, "Kalian tidak perlu khawatir. Seharusnya kalian melihatnya sendiri bagaimana kekuatanku. Kesampingkan itu, masalah apa sebenarnya?"
Kedua bersaudari Wei terdiam dengan kepala tertunduk, terlihat air mata mulai menetes menjelaskan kesedihan, kemarahan, dan dendam.
"Mereka, membunuh Ibu kami! Ibu kami memiliki wajah yang sangat cantik, membuat Tuan Muda dari Istana Surgawi menginginkan Ibu meski sudah memiliki suami dan anak," jawab Wei Yian Ning sembari mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya kesal, sangat tidak cocok dengan wajahnya yang halus.
"Ibu kami menolak ..." Wei Yian Ning tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya.
Melihat itu, Wei Yian Fei menggantikan Adiknya untuk menjelaskan. "Ibu kami menolak, kemudian di bunuh tepat di depan kami bertiga. Ayah kami tidak tinggal diam, dia melawannya meski hasilnya sudah bisa dipastikan. Kemudian Ayah di penjara di Istana Surgawi, ini adalah tahun keempat belas," ujarnya pelan.
Mo Lian terdiam tak bersuara, ia sudah tahu apa kelanjutan dari cerita, dan niatan dua bersaudari Wei untuk memasuki Istana Surgawi adalah menghancurkan Istana Surgawi, sama sepertinya.
"Kalau kau?" tanya balik Wei Yian Fei seraya mengusap air matanya.
__ADS_1
Mo Lian tersenyum kecil, kemudian menjawab, "Kau akan mengetahuinya sendiri saat hari penerimaan."
Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning menganggukkan kepala secara bersamaan.
Mereka bertiga berjalan untuk beberapa puluh menit, kemudian dilanjutkan dengan terbang menuju arah barat dari Kota Xing.
Karena mereka menggunakan jalan yang memutar, tentunya akan memakan waktu yang lebih lambat untuk sampai, terlebih lagi kecepatan saat ini mengikuti kecepatan seorang Kultivator Fase Lautan Ilahi tahap Menengah.
Lima puluh menit kemudian. Mereka sudah tiba di depan gerbang barat Kota Xing, tanpa berlama-lama lagi, mereka bertiga berjalan masuk ke kota setelah membayar biaya masuk.
Mo Lian terdiam tak bergerak dari tempatnya berdiri sesaat setelah masuk melewati gerbang kota, ia lupa jika tempatnya menginap berada di bagian selatan, yang mana membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana.
"Ada apa?" tanya Wei Yian Fei yang berdiri di sebelah kanan Mo Lian.
"Aku lupa mengembalikan kunci kamar," jawab Mo Lian yang tersenyum canggung.
Wei Yian Fei menghembuskan napas panjang sembari memegangi keningnya. "Baiklah, kalau begitu ayo kita ke sana, aku juga menginap di sana. Meski cukup jauh untuk datang ke tempat penerimaan, tapi lebih baik daripada harus tidur di luar," ucapnya menatap Mo Lian, kemudian berjalan terlebih dahulu.
Mo Lian mengangguk kecil mengikuti kedua orang di depannya menuju penginapan yang berada di arah selatan Kota Xing.
***
Mo Lian keluar dari kamarnya pagi-pagi sekali, bahkan sebelum Matahari terbit, itu karena ia ingin datang lebih awal ke pusat Kota Xing, di mana diadakannya acara penerimaan Istana Surgawi.
Dalam dua hari ke belakang, penginapan di tempatnya menginap selalu dipenuhi oleh para pengunjung yang beristirahat sejenak sebelum berangkat ke hutan seberang. Dikatakan bahwa orang-orang itu pergi untuk mencari tahu tentang cahaya yang terpancar jauh di dalam hutan.
Banyak orang-orang yang mengatakan jika cahaya itu adalah cahaya yang dihasilkan dari harta bumi dan langit, yang biasanya terbentuk untuk waktu yang sangat lama.
Tapi seberapa jauhnya mereka menelusuri hutan, tidak ada yang menemukan kebenaran mengenai cahaya merah yang melonjak beberapa mil ke langit. Akibatnya, semua orang yang sebelumnya ramai-ramai pergi ke hutan, mulai kembali memasuki Kota Xing untuk mengikuti acara penerimaan.
"Jika di dalam kota diperbolehkan untuk bepergian melalui jalur udara, aku tidak perlu berangkat pagi-pagi sekali," ucap Mo Lian yang menguap.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi. Itu adalah peraturan tak tertulis, jika melanggarnya, akan dianggap sebagai kriminal," tutur Wei Yian Fei yang berdiri di sebelah kanan Mo Lian.
Ketiganya terus berjalan kaki mengarah ke pusat kota. Hingga satu jam kemudian, akhirnya mereka sudah sampai di pusat kota yang memiliki halaman sangat luas, halaman itu sepertinya adalah bangunan besar yang telah dihancurkan beberapa tahun lalu.
Di halaman luas itu terdapat arena yang terbuat dari bahan batu, memiliki tinggi satu meter dan seukuran dua kali lapangan sepakbola.
Lalu di sekitar podium arena, atau di bagian utara, terdapat sebuah menara setinggi 20 meter dengan belasan kursi di atasnya. Kursi-kursi itu sepertinya digunakan untuk para perwakilan dari Istana Surgawi, beserta Walikota dari Kota Xing.
Tiga jam kemudian. Akhirnya setelah penantian panjang dan melelahkan, berdesak-desakan dengan ratusan ribu orang lainnya. Menara yang berada di utara dari podium arena bergetar, kemudian siluet berbeda warna terlihat di atas menara dan duduk di belasan kursi kayu yang sudah disiapkan.
"Hari ini, Istana Surgawi akan mencari murid-murid hebat dari semua orang yang berasal dari Kota Xing dan sekitarnya, bukan hanya Kota Xing saja. Kota-kota lainnya juga melakukan hal yang sama." Pria paruh baya, berambut hitam panjang dengan jenggot hitam keputihan itu menjelaskan.
Dari pakaian yang dikenakan sangat mewah dan berkelas, pakaian yang tidak mungkin didapatkan dari Kota Xing, sepertinya pria paruh baya itu adalah salah satu dari Istana Surgawi.
"Penatua Ye yang akan menjadi penilai pada hari ini, dan saya sebagai Wakilnya, yang akan menjadi juri," lanjut pria paruh baya.
Pria paruh baya itu menolehkan kepalanya melihat sekitar, memandangi ratusan ribu orang yang berada di sekitar podium arena.
"Seleksi ini terbagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah membuat kalian semua bertarung di atas podium yang sama. Kami akan mengambil tiga puluh orang yang dapat bertahan di atas arena ..."
Pria paruh baya itu terdiam sejenak sembari mengamati semua orang, kemudian melanjutkan perkataannya, "Dan yang kedua, kalian harus bertarung melawan murid-murid Istana Surgawi yang kami bawa. Kalian diperbolehkan untuk membuat tim dengan maksimal tiga orang. Untuk peraturannya? Tidak ada peraturan."
Seketika itu juga, percakapan diantara semua orang terdengar. Jika mendengarkan lebih jelas mengenai peraturan di bagian kedua, tentunya itu diperbolehkan untuk membunuh orang, asalkan orang itu tidak keluar dari arena, maupun menyerah.
Mendengar penjelasan itu, Mo Lian menyeringai lebar. Dengan begitu, ia bebas membunuh murid dari Istana Surgawi tanpa harus mengkhawatirkan tentang peraturan Kota Xing.
Lalu, jika Penatua Ye menyerangnya, ia hanya perlu menyerang balik.
"Kalian yang memintanya, tentu saja aku harus mengabulkannya," gumam Mo Lian.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...