Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 415 : Keberuntungan Mo Fefei


__ADS_3

Mo Lian sudah sampai di depan Paviliun Jari Keajaiban. Banyak yang datang ke sini, ada ratusan orang yang berpakaian rapi seperti dirinya, dan dilihat dari betapa seriusnya mereka, sepertinya mereka sama dengannya, mengambil tes untuk mendapatkan sertifikat.


Pada saat ini, ada yang mendatanginya. Seorang pemuda berambut hitam, mengenakan pakaian berwarna biru langit dengan aroma herbal yang keluar dari tubuhnya.


Mo Lian mengerutkan keningnya ketika melihat ada yang mendatanginya, tapi dia langsung mengabaikannya dan menunggu Paviliun Jari Keajaiban dibuka.


Menurut petugas keamanan di gerbang, Paviliun Jari Keajaiban dibuka setiap hari. Tapi anehnya sekarang belum dibuka, atau mungkin karena ada acara tes massal, sehingga harus melakukan persiapan. Dikatakan, tes biasanya harus menggelontorkan dana, dan yang yang telah diserahkan tidak akan dikembalikan, dan tes hari ini gratis!


"Aku belum pernah melihatmu di sini, apakah kau dari luar?"


Mo Lian menoleh ke kanan melihat pemuda yang mendatangi. Dia mengangguk kecil dan menjawab, "Iya, aku dari Kota Xuyi."


Kota Xuyi adalah kota kecil yang cukup jauh, itu kota dari mana konvoi Xing Yao berasal.


Mo Lian mengetahui tentang kota ini ketika menghapus ingatan Xing Yao, dan membaca sedikit informasi dari mana Xing Yao mengambil persediaan.


Pemuda bernama Gou Jian terdiam sejenak seperti mengingat di mana kota itu berada. Kemudian dia menganggukkan kepalanya setelah mengingatnya. "Di sana tidak ada Paviliun Jari Keajaiban, jadi sepertinya langkah yang tepat datang ke Kota Louhu. Tapi ..."


Gou Jian tidak mengatakannya, tapi tatapannya menjelaskan semuanya. Itu adalah tatapan menilai dan merendahkan, ini wajar karena Gou Jian berasal dari keluarga yang ahli dalam bidang ini, sehingga ketika melihat pemuda yang berasal dari kota kecil, dia menganggapnya rendah.


Mo Lian tahu tatapan mata Gou Jian karena dia sendiri sudah sering mendapatkan tatapan itu, tapi dia sudah kebal dan tidak peduli lagi.


Gou Jian kesal dan pembuluh darahnya terlihat di dahinya. Dia mendengus dingin dan berbalik saat berkata, "Semoga berhasil, orang desa."


Kata-kata yang diucapkan Gou Jian tidak keras, tapi karena nadanya terdengar menghina, itu menarik perhatian semua orang di sekitar dan diskusi mulai terdengar dengan topik diskusi adalah Mo Lian.


"Orang desa? Melihat dari penampilannya, dia terlihat seperti bangsawan, dan fisiknya tinggi seperti Pendekar. Tapi, dia terlihat sangat lemah, lihat kulitnya yang halus, tidak mungkin dia Pendekar, mungkin itu hanya perasaanku saja." Salah seorang mulai membuka obrolan.


"Ya! Kau benar, mungkin dia bangsawan dari kota kecil dan selalu dimanja, karena itulah penampilannya terlihat sangat baik. Untuk tingginya ... mungkin dia keturunan orang tinggi?"


"Tidak peduli dia bangsawan atau tidak, tapi karena Tuan Muda Gou mengatakannya orang desa, maka dia orang desa."


Mo Lian mengepalkan tangannya, lalu mengendurkan otot-otot tangannya seraya mengembuskan napas panjang. Dia mengatur napasnya berkali-kali untuk menenangkan emosi yang hampir bangkit.


Mo Lian menggelengkan kepalanya, dan menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. Bisa-bisanya dia tersulut emosi hanya karena ucapan seperti itu.


Pada saat ini, pintu kembar dengan ukiran tanaman terbuka. Tanpa ada perintah, semua orang langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu dan langsung diam.


Pria tua berambut putih, mengenakan pakaian putih dan memakai jubah oranye. Tubuhnya tidak bungkuk seperti yang diduga, itu benar-benar berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang pinggang.


Penatua Hang menoleh, memandangi semua peserta yang hadir. Meski tidak banyak, tapi dia tidak kecewa. "Semuanya, silakan masuk! Kami akan menjelaskan aturan dalam tes hari ini!"


Setelah mengatakan itu, Penatua Hang berbalik dan memasuki bangunan.


Mo Lian mendongak melihat Penatua Hang yang masuk, meski dia tidak bisa merasakan aura pihak lain karena kultivasinya telah disegel, tapi dia bisa menebak apa tingkat yang dicapai Penatua Hang apabila didasari dari sistem kekuatan Dunia Kultivator. Setidaknya, itu Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, hampir mencapai Inti Perak!


Hanya saja, sepertinya aura di dalam tubuhnya bukan energi spiritual yang biasa digunakan oleh para kultivator.


Mo Lian semakin penasaran dengan sistem kultivasi di sini dan ingin sekali mempelajarinya. Walaupun mungkin tidak berdampak pada peningkatan kekuatannya, tapi tidak ada yang salah mempelajarinya karena dia sudah di sini, dan kebetulan memutuskan untuk tinggal di sini sampai waktu yang tidak ditentukan.

__ADS_1


Mo Lian menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini hanya perlu fokus pada masalah tes hari ini, dan setelah membuka toko untuk waktu yang cukup lama dan memiliki waktu, dia akan belajar mengenai sistem kultivasi di Bintang Hijau.


Kemudian setelah fondasinya di Bintang Hijau sangat kokoh, dia akan berkelana untuk mencari tahu tentang catatan yang didapat Hong Xi Ning. Mungkin saja, dia bisa mendapatkannya di sini.


Gou Jian melihat sekitar dan pandangannya berhenti pada Mo Lian yang terus menggelengkan kepala, terlihat seperti orang yang sedang panik. Melihat itu, dia tersenyum penuh penghinaan dan berkata, "Jangan terlalu berharap, kau akan tersingkir di tes awal."


Gou Jian meninggalkan Mo Lian setelah mengatakan itu.


Mo Lian mengerutkan keningnya, dia mulai sedikit kesal karena baru datang dan sudah ditargetkan. Tapi dia menahannya lagi setelah mengingat kembali niatan awalnya kemari. Jika ini saja tidak bisa ditahannya, bagaimana dia bisa mendapatkan pencerahan.


Mo Lian mengembuskan napas panjang, kemudian mengambil langkah memasuki bangunan. Dia mengikuti semua peserta yang dibawa ke ruangan tertentu di lantai dasar, ruangan itu cukup luas dan mampu menampung tiga kali peserta.


Banyak meja-meja yang berada di dalam ruangan, dengan pengawas yang berdiri di beberapa titik.


Penatua Hang berdiri di bagian depan ruangan. "Kalian semua duduk!"


Semua orang duduk di tempat yang sudah disediakan, dan Mo Lian kembali bertemu dengan Gou Jian.


Mo Lian merasa sangat menyebalkan untuk terus bertemu dengan Gou Jian, dan berharap tidak akan bertemu lagi di masa depan. Jika selalu mendengar ocehannya, dia tidak tahu apakah dia akan tahan meski sudah berniat.


Penatua Hang membuka mulutnya dan kembali berkata, "Tes hari ini dibagi menjadi tiga bagian. Tes pengetahuan dasar tentang bahan-bahan herbal yang bisa digunakan untuk memulihkan luka. Tes kedua adalah buat ramuan khusus. Ketiga, kalian akan tahu pada waktunya."


Ketika mendengar itu, banyak yang mengeluh karena tidak bisa mendapatkan informasi tentang tes ketiga.


Mo Lian yang mendengarnya, sedikit kaget. Awalnya dia mengira tes itu akan sulit, tapi ternyata, terlalu mudah! Tapi, ekspresi Mo Lian disalahartikan sebagai ketakutan dan ketidakberdayaan terhadap tes yang akan dimulai.


***


Seorang wanita muda sedang berada di dalam gua yang lembab dan gelap. Wanita itu mengangkat tangannya, dan menciptakan bola berwarna ungu untuk menerangi gelapnya gua.


"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam, tapi sepertinya ada hal baik. Kakak pernah mengatakan bahwa ada banyak peninggalan kuno di mana-mana, bahkan di dalam sumur. Aku penasaran apakah itu benar, dan Kakak bilang aku harus berhati-hati."


Wanita itu melepaskan Kesadaran Ilahi-nya untuk mengetahui keadaan di dalam gua secara rinci.


"Aku sangat merindukan Xiao Mei, bagaimana dia sendirian di sana menjaga Paviliun Xiao Fei. Aku ingin kembali ke Kota Zhan, tapi semua orang sudah kembali ke Bumi ... Huh!"


Ya! Wanita itu adalah Mo Fefei yang telah meninggalkan Bumi lebih dari satu tahun, saat ini dia sedang menjelajahi tempat-tempat berbahaya yang jarang didatangi oleh orang lain, tapi dikatakan menyimpan banyak harta.


Kekuatan Mo Fefei hampir menembus Dewa Pemula, dan di Wilayah Timur ini yang terkuat hanyalah Dao Immortal tahap Akhir. Tidak termasuk orang-orang yang berada di Bumi.


Dengan kekuatannya yang sekarang, bersaing dengan sesama kultivator hanya membuang-buang waktu. Adapun membunuh binatang buas, dia hanya melakukannya sesekali karena bosan ataupun kehabisan makanan.


Kemudian, Mo Fefei memang berniat untuk mencari pasangan hidup, mengingat usianya yang sudah sangat dewasa untuk ukuran di Bumi. Tapi, setelah bertemu beberapa orang, mereka semua hanya tertarik pada barang-barang yang dibawanya, dan karena itu Mo Fefei menampar mereka semua sampai mati.


Jadi, dia mulai menunda niatnya untuk mencari suami dan memilih untuk berkelana seorang diri.


"Huh... Setelah penjelajahan ini selesai, aku akan kembali ke Galaksi Pusat." Awalnya Mo Fefei ingin pergi ke Wilayah Selatan, tapi dia tahu bahwa dia hanya akan menjadi beban. Bahkan jika dia tidak menjadi beban, pastinya tidak akan diperbolehkan.


Mo Fefei tentunya sangat menurut, dan dia hanya akan berkeliaran di Wilayah Timur dan Tengah. Bahkan jika dia memiliki keberanian untuk menyusul, dia tidak akan melakukannya.

__ADS_1


Mo Fefei menyipitkan matanya saat terus memasuki gua dan melihat pantulan cahaya yang merupakan api di tangannya. Sepertinya di sana ada cermin besar, tapi dia tidak yakin apakah benar-benar cermin.


"Di sini sangat dingin." Mo Fefei menggosok bahu kanannya dengan tangan kiri, lalu memeluk tubuhnya sendiri.


Mo Fefei sedikit takut, tapi dia mengingat bahwa dia dilindungi oleh Dewa Semesta, dia kembali percaya diri dan terus melangkah masuk. Dia bahkan mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai.


Sampai akhirnya Mo Fefei tiba lebih dekat, dia sudah berada di ruangan besar. Ini seluas lapangan sepak bola, langit-langitnya sangat tinggi seperti gedung pencakar langit.


Mo Fefei mengamati sekitarnya, tidak menemukan hal yang spesial, sampai dia kembali melihat ke depan, dan menemukan bahwa ada tugu batu berwarna biru malam berkilau. "Batu yang bisa memantulkan cahaya? Ini sangat cantik, aku akan mengambilnya."


Mo Fefei mengangkat tangan kanannya, mengarahkan Cincin Ruang untuk menyimpan tugu batu.


Tugu batu itu bergetar hebat, tapi tidak bisa memasuki Cincin Ruang. Ini membuat Mo Fefei terdiam, kemudian mengerahkan lebih banyak Kekuatan Jiwa untuk menyimpan tugu. Dia sendiri tidak percaya bagaimana Cincin Ruang buatan Mo Lian tidak mampu menyimpannya, tapi karena dia tahu bahwa zaman dulu memiliki banyak orang kuat, dia langsung berpikir bahwa pemilik tugu batu lebih kuat dari Mo Lian.


Karena terus mengerahkan Kekuatan Jiwa-nya, samar-samar aura berwarna biru murni menyelimutinya, dan itu bukanlah energi yang dimilikinya.


Mo Fefei terkejut ketika merasakan energi yang hangat dan membuatnya merasa sangat nyaman. "Kakak?"


Setelah energi itu muncul, tugu batu di depannya langsung menghilang.


Mo Fefei kembali terkejut, tapi pulih dengan cepat dan kembali berbalik untuk pergi. Bagaimanapun, dia tidak menemukan hal yang spesial kecuali tugu batu yang cantik.


Dia bisa mencari pemahat terkenal, dan memintanya untuk memahat patungnya sendiri.


Membayangkan patungnya yang cantik, Mo Fefei tertawa bahagia.


Tepat saat Mo Fefei ingin berbalik pergi, kilauan emas muncul dari sudut matanya, itu membuatnya sedikit menyipit karena silau. Ketika dia melihat ke arah mana kilauan emas itu berasal, dia menemukan buku berwarna emas tanpa kotoran, buku itu berada di tanah yang awalnya ditindih oleh tugu batu.


Mo Fefei penasaran, dia berjongkok dan mengambilnya. "Catatan Kaisar Manusia?"


Mo Fefei melihat buku emas yang dipegangnya, itu setebal ibu jari. Dia membuka lembaran buku dengan cepat untuk memahami isinya, tapi terkejut karena tidak mengerti sama sekali. Ia mengulanginya lagi, membaca perlahan seperti anak kecil yang baru belajar membaca.


Tapi...


"Waaaa! Sialan! Aku tidak peduli!" Mo Fefei sangat kesal karena tidak memahami sedikit pun isi dari buku.


Mo Fefei mengangkat tangannya, kemudian mengayunkannya secara vertikal ke bawah ingin melemparkan buku dan menginjaknya. Namun sebelum buku itu dilemparkan, tangannya bergenre, dia kembali melihat sampul buku, lalu melemparkannya ke dalam Cincin Ruang.


"Ini barang bagus, meski aku tidak mengerti, sayang jika dibuang, lebih baik menyimpannya."


Mo Fefei berbalik, lalu keluar dari gua dengan riangnya. Dia bahagia bukan karena buku, tapi karena tugu batu.


Jika Mo Lian ada di sini, Mo Lian pastinya akan memukul kepala Mo Fefei karena lebih mementingkan tugu batu kosong daripada buku “Catatan Kaisar Manusia” yang saat ini dicari-cari Mo Lian.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2