Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 151 : Ruang Harta


__ADS_3

Mo Lian berenang perlahan mendekati istana yang memiliki bangunan seperti tempat Dewa dalam Mitologi Yunani itu tanpa mengendurkan kewaspadaannya, bahkan ia juga selalu meningkat kesadaran untuk mengamati sedikit pergerakan di sekitar, serta menambah ketahanan pelindung.


Berada belasan mil di bawah permukaan air laut sangatlah beresiko tinggi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, dan untuk pergi meninggalkan tempat ini juga cukup menyusahkan.


Setelah tiba di depan istana, Mo Lian menginjakkan kakinya kembali di permukaan pasir. Ia mendongak mengamati patung-patung yang berada di depannya dengan saksama, mencari tahu apakah ada harta yang tersembunyi maupun bahaya di dalamnya.


"Tidak ada yang berbahaya dari patung-patung ini ..." Mo Lian menundukkan kepalanya kembali. Kemudian ia menoleh mengamati keadaan sekitarnya. "Tapi, perasaan tidak nyaman yang ku rasakan saat baru masuk ke Segitiga Bermuda tidak menghilang ..."


Mo Lian mengerutkan keningnya dengan mengigit bibirnya untuk sesaat, mengungkapkan perasaan cemas terhadap sekitar. "Semoga saja tidak terjadi apa-apa ..."


Mo Lian mempersiapkan dirinya, kemudian berjalan menaiki tangga batu yang berada beberapa meter di depannya. Ketika ia baru menginjakkan satu kaki pada anak tangga, ia merasakan ada yang menatap ke arahnya. Dengan cepat ia mendongak, dan tiba-tiba perasaan itu menghilang.


Sepertinya, empat patung yang ku amati tadi bisa bergerak. Mereka akan bergerak jika aku tidak menatap mereka, yang artinya aku hanya bisa menyerang saat mereka berada di belakangku.


Mo Lian kembali menunduk secara perlahan sembari melangkah naik, dan pada saat itu juga apa yang dirasakannya ternyata benar. Ia merasakan ada yang menatapnya kembali, dan kali ini dengan suara getaran batu.


Mo Lian mempercepat langkah kakinya dengan kepala tertunduk, yang membuat empat patung itu semakin menoleh menatap padanya dengan keinginan membunuh. Namun patung-patung itu tidak membuat gerakan lain, atau bisa dikatakan belum waktunya.


Hingga saat tinggal tersisa beberapa meter lagi sebelum ia memasuki istana, patung-patung itu mulai memperlihatkan ketertarikan pada Mo Lian. Ketertarikan di sini bukanlah hanya mengamati, melainkan mulai mengangkat senjata di tangan masing-masing, dan mempersiapkan serangan.


Mo Lian menaikan sudut bibirnya saat merasakan suara gesekan, yang menandakan bahwa patung-patung itu mulai melompat dari tempatnya. Gerakan patung itu cukup cepat, namun tidak cukup cepat untuk membuatnya menyerang sekarang.


Ia menunggu di saat patung-patung itu hanya tersisa belasan inchi darinya, agar patung itu tidak dapat kembali pada pilar kecil di mana mereka berdiri sebelumnya.


Pada saat patung-patung itu sudah masuk dalam jarak yang telah dipikirkan, Mo Lian melepaskan energi spiritualnya membuat serangan menggunakan air yang berada di sekitar. Energi spiritual berfluktuasi dengan cepat di belakangnya, menciptakan pusaran air yang sangat deras nan tajam.


Pusaran air itu menyedot empat patung yang tepat berada di belakangnya, dan menggulung mereka di dalam pusaran yang kian lama semakin bertambah tajam seperti sayatan pedang.


Boom!


Ledakan besar terjadi tepat di atas kepalanya saat empat patung itu hancur, menciptakan sebuah api yang terbakar untuk sesaat, kemudian berubah menjadi gelembung udara yang menyebar, dan menghilang dengan perlahan.

__ADS_1


Mo Lian berbalik saat mendengar benda jatuh yang bersahutan, terlihat sebuah mutiara yang seukuran ibu jari berwarna biru muda, mutiara itu berasal dari empat patung yang hendak menyerangnya tadi.


"Setelah empat patung itu hancur, sebagian perasaan tidak nyaman ini sudah menghilang. Tapi saat aku melihat ke dalam istana, aku merasa di dalam sana ada sesuatu yang cukup berbahaya, namun bukan berasal dari makhluk hidup." Mo Lian berjongkok mengambil keempat mutiara yang berada di atas lantai, kemudian berbalik kembali melihat ke dalam istana.


Mo Lian berdiri dari posisi berjongkok, dan berjalan memasuki pintu istana yang tanpa penutup, dengan pilar-pilar di sebelah kiri dan kanan.


Aura yang dirasakannya berubah seketika itu juga saat ia masuk, aura di dalam istana menjadi lebih berat dengan samar-samar terlihat aura hitam yang tersebar di perairan. Aura itu keluar dari sela-sela lantai yang berada di sekitarnya.


Di dalam sini terlihat meja-meja yang terbuat dari batu, meja yang digunakan untuk menaruh karya seni seperti guci ataupun kepala patung, namun tidak ada apapun yang berada di atasnya, ini seperti mengatakan bahwa tempat ini sudah pernah dijelajahi.


"Tidak ada benda berharga di sini, aku hanya menemukan empat mutiara yang mengandung energi murni dari patung penjaga di luar."


Mo Lian menunduk melihat aura hitam yang keluar dari sela-sela ubin. "Aura hitam ini mengandung keinginan membunuh. Dari melihatnya saja, tanpa harus menyebarkan kesadaran, aku menduga di dalam sana terjadi pembunuhan yang memakan banyak korban."


Mo Lian kembali berjalan lurus ke depan, mengikuti lorong-lorong ruang yang berada di dalam istana seraya mencari tempat untuk menuju ke bagian bawah ruangan. Ia bisa saja menghancurkan ubin di bawahnya tadi, namun itu bisa mengubah tatanan di dalam istana, yang memungkinkan dapat terjadi bencana.


Bencana itu sendiri beragam, seperti bangkitnya suatu monster, ataupun perubahan Segitiga Bermuda yang bisa saja semakin meluas.


Pintu kayu itu memiliki warna cokelat tua, seperti kayu jati, namun juga terlihat bukan.


Mo Lian mengangkat tangannya menyentuh pintu dengan telapak tangan, ia merasakan akan ada sesuatu yang berbahaya jika ia membuka pintu ini dengan paksa.


"Begitu, mekanisme pelebur harta. Barang siapa yang membuka pintu ini secara paksa, apapun yang berada di dalamnya akan menghilang, kecuali aura membunuh ataupun hal berbahaya." Mo Lian membuka matanya perlahan, wajahnya datar tanpa ekspresi.


Masih dengan tangan menyentuh pintu kayu, ia mengalirkan energi spiritualnya secara perlahan, sesuai dengan jumlah yang dapat ditanggung oleh pintu kayu. Perlahan, samar-samar mulai terlihat sebuah pola aneh berwarna biru, yang sesuai dengan warna energinya.


Mo Lian terus mengalirkan energi spiritualnya pada pintu kayu, hingga warna pola aneh yang dipenuhi dengan gambar segitiga maupun lingkaran itu benar-benar terlihat jelas. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada kedua bola matanya, mencari tahu titik lemah dalam pola.


Mo Lian mengamati ribuan pola yang berada di permukaan pintu untuk beberapa detik, kemudian memfokuskan energi spiritual pada ratusan titik lemah dari ribuan pola itu. Seperti ia menambahkan aliran energi spiritual pada pertemuan antara tiga lingkaran, maupun dua segitiga, serta lainnya.


Hanya dalam waktu tidak sampai satu menit, Mo Lian sudah berhasil menandai ratusan titik lemah dari ribuan pertemuan pola. Pintu kayu itu mengeluarkan cahaya biru dengan asap yang berubah menjadi gelembung udara, dan kembali meredup setelah bersinar selama puluhan detik.

__ADS_1


Perlahan, pintu kayu itu terbuka ke arah dalam. Ketika pintu itu terbuka sepenuhnya, keinginan untuk membunuh yang kuat menghantam wajah Mo Lian, aura ini didapat setelah membunuh ratusan juta orang, namun tidak membuatnya takut ataupun bimbang.


Mo Lian berjalan memasuki pintu itu, dengan bola cahaya yang berada di tengah kanannya. Terlihat di dalam ruangan itu dipenuhi oleh kerangka-kerangka tulang yang tidak lengkap, dengan tumpukan emas dari zaman kuno dengan artefak-artefak yang tidak digunakan oleh seorang Kultivator, namun ia bisa merasakan kandungan energi di dalamnya.


Walaupun artefak itu tidak bisa digunakan oleh Kultivator seperti dirinya, ia masih bisa menggunakan cara lain untuk memanfaatkan energi di dalam artefak, dan meningkatkan kekuatannya serta Ibu maupun Adiknya.


"Kerangka-kerangka ini berusia lebih dari sepuluh ribu tahun, mereka mati karena digunakan sebagai bahan percobaan. Akibatnya energi kematian di sini sangat padat, dengan jiwa-jiwa liar yang dipenuhi akan dendam."


Mo Lian mengeluarkan ratusan Cincin Ruang, dan kemudian menyimpan semua harta benda yang berada di dalam ruang ini.


Saat ia menyimpan semua harta benda, ia diserang oleh jiwa-jiwa liar yang mencoba mengambil alih tubuhnya. Tapi dengan mudahnya ia dapat menghindari serangan itu tanpa memakai banyak tenaga.


Mo Lian membuat segel tangan dengan kecepatan pelan. "Jiwa liar nan hitam menyimpan dendam, jiwa putih mengandung kasih sayang. Alam Roh dan Manusia terpisah oleh lapisan energi tak kasat mata, biarkan ingatan masa lalu terlupakan, dan menatap masa depan di kehidupan selanjutnya." Ia memutar tangannya membentuk pola Yin Yang.


Dari gerakan tangan Mo Lian, ia menciptakan dua pusaran cahaya berwarna biru muda dengan putih yang memiliki daya hisap kuat. Pusaran cahaya itu berbaris dengan jarak belasan inchi.


Pusaran cahaya biru itu menghisap jiwa liar yang berwarna hitam, menghilangkan dendam pada jiwa itu dan mengubahnya menjadi jiwa putih, yang lalu kembali terhisap oleh pusaran cahaya putih. Setelah terhisap oleh cahaya putih, jiwa-jiwa itu akan pergi ke Sungai Kuning untuk bereinkarnasi.


Mo Lian menurunkan kedua tangannya perlahan setelah membantu jiwa-jiwa itu untuk bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya. Sepertiga dari energi spiritualnya terkuras ketika ia menggunakan teknik itu, dan membuatnya memilih beristirahat di luar ruangan untuk sesaat.


"Perasaan tidak nyaman sudah menghilang, dan dari membantu jiwa-jiwa itu untuk bereinkarnasi juga membantuku dalam meningkatkan kekuatan jiwa ..."


"Artefak-artefak yang ku dapat akan ku serap energi di dalamnya, dan sebagian akan kugunakan sebagai hiasan. Seperti mahkota Kaisar Yunani."


Mo Lian duduk dan bersandar pada dinding setelah ia mengunci ruangan di sebelahnya. "Aku tidak mendapatkan bahan untuk menyempurnakan pedang patah, tapi biarlah. Aku ingin beristirahat sejenak, sudah lama aku tidak berjalan-jalan di kota. Tidak baik selalu berlatih." Ia menggigit bibir bawahnya, mengungkapkan rasa lelah karena terus bertarung.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2