
Kejadian di mana Mo Lian melemparkan salah seorang dari pria paruh baya sangatlah cepat, membuat semua yang berada di dalam ruangan tidak bisa mencerna apa yang terjadi barusan, dan baru tersadar saat Mo Lian berniat membunuh Lu Fan Gang.
Lu Fan Gang mundur beberapa langkah, sembari mendorong satu persatu pelayan yang berada tidak jauh darinya untuk menghalau Mo Lian.
Meski pelayan-pelayan itu adalah pegawai Hua Canting, yang artinya bawahan Murong Di, Mo Lian tetap akan menghajar mereka, karena merekalah orang-orang yang bisa membuat nama Hua Canting buruk.
Mo Lian menerjang beberapa pelayan itu. Ia menendang lutut salah seorang dari mereka, membuat orang itu berlutut dengan kedua lutut yang menyentuh lantai, kemudian ia menarik tangannya mengambil ancang-ancang, lalu memukulkan tinjunya pada wajah orang itu.
Pukulan Mo Lian sangatlah keras untuk ditanggung manusia biasa. Pelayan pria yang terkena pukulan Mo Lian terjatuh dan pelipis kanannya menghantam lantai, sesaat itu juga kehilangan kesadaran.
Saat masih menunduk melihat pria yang tergeletak di lantai, ia merentangkan tangan kirinya menyerong ke dan menangkap batang leher pelayan lain. Ia menarik kaki kanannya ke belakang, dan memutar tubuhnya seraya melemparkan pelayan yang berada di cengkeramannya.
Setelah melemparkan pelayan itu mengarah pada dinding, mengarah pada pria paruh baya buncit. Ia kembali berbalik seraya mengangkat tangan kirinya dengan cepat, menangkap pergelangan kaki pelayan lain yang mencoba menendang kepalanya.
Mo Lian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hingga menjatuhkan pelayan itu, kemudian ia mematahkan kaki serta menendang dadanya dengan menggunakan lutut kanan.
Mo Lian menolehkan kepalanya mengarah pada pintu keluar, membuat pintu kembar itu tertutup dengan kerasnya dan tidak bisa terbuka sama sekali, tidak peduli seberapa besar mereka berusaha.
"Fefei, bangun."
Mo Fefei yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur itu akhirnya membuka mata. Ia berdiri dari tempat duduknya sembari membanting kedua tangannya di atas meja. Ia menatap tajam Lu Fan Gang. "Aku tidak menyangka kau tidak berubah sama sekali, saat masih berada di satu sekolah yang sama, kau hampir melecehkan ku. Jika saja saat itu kakakku terlambat datang, mungkin lain lagi ceritanya."
Saat sekolah menengah pertama, Mo Lian dan Mo Fefei memang berada di satu sekolah yang sama, hanya saja Mo Lian sudah hampir lulus dan sering berada di perpustakaan.
Ketika Mo Lian mengingat kembali kejadian di sekolah menengah pertama, ia masih tidak bisa berkata-kata dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Lu Fan Gang. Bayangkan saja, seorang anak yang baru masuk sekolah menengah pertama, namun sudah memiliki ide untuk melecehkan, dan saat naik ke tingkat selanjutnya, sudah memiliki cara untuk menjual teman sekelasnya.
Lu Fan Gang terus melangkah mundur hingga sudah berada di sudut ruangan. "Bu- Bunuh dia! Aku akan memberi tiga juta Yuan bagi siapapun yang bisa membunuhnya!"
Tidak ada satupun orang yang bergerak, mereka semua hanya diam mematung dengan keringat dingin mengalir membasahi wajah mereka.
Mo Lian melangkahkan kakinya dengan aura membunuh yang keluar darinya, membuat semua orang kesulitan untuk bernapas, bahkan ada yang sudah tergeletak di lantai.
Ia menampar wajah pelayan yang menghalangi jalannya hingga terpental jauh dan menghantam salah satu meja yang kebetulan di sana kosong.
Lu Fan Gang terus mencoba mundur meski sudah berada di sudut ruangan. Wanita berambut cokelat tadi juga tidak bisa bergerak, ia mematung di tempat duduk dengan tubuh bergetar ketakutan, bersama puluhan pria paruh baya lainnya.
Mo Lian berjalan menghampiri Lu Fan Gang dan meraih kerah bajunya. Ia menarik tangan kanannya untuk mengambil ancang-ancang, kemudian mengayunkannya ke depan memukul wajah Lu Fan Gang. Namun saat pukulannya hendak mengenai, tiba-tiba ia berhenti.
"Kakak! Serahkan padaku!"
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Mo Fefei yang berada jauh di kiri belakangnya. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada Lu Fan Gang. "Baiklah, tangkap." Ia melempar Lu Fan Gang pada Mo Fefei.
__ADS_1
Mo Fefei mengibaskan tangannya dengan cepat, menangkap Lu Fan Gang yang terbang ke arahnya. Ketika ia sudah menangkap, ia membanting pria yang hampir melecehkannya dulu itu ke lantai.
Srak!
Terdengar suara robekan pada gaun Mo Fefei yang berada di bagian bawah. Robekan itu disengaja oleh Mo Fefei agar memudahkannya untuk menetaskan, dan akhirnya memperlihatkan paha mulusnya.
Puluhan pria paruh baya mengalihkan perhatian mereka pada paha Mo Fefei, dan sesekali menjilati bibir mereka.
Mo Lian mencengkeram jari-jarinya yang terkepal saat melihat itu. Hanya dalan waktu seperkian, ia menghilang dari tempatnya berdiri, dan muncul kembali tepat di depan pintu keluar.
"Aarrgghh!" Suara teriakan yang sangat menyakitkan terdengar keras dan bersahutan. Suara itu berasal dari puluhan pria paruh baya yang tangan maupun kaki mereka patah, terbalik, ataupun bertekuk ke arah yang tidak seharusnya.
Sementara itu. Mo Fefei memukul wajah Lu Fan Gang dengan keras tanpa menahan diri, namun tetap mencoba agar tidak sampai membunuhnya.
"Sialan! Ini pembalasanku karena kau memukul Kakakku dengan pipa besi!" Mo Fefei terus memukul wajah Lu Fan Gang, terkadang juga mematahkan tulang rusuknya.
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada semua orang yang tidak sadarkan diri karena terkena obat. Ia melepaskan energi spiritualnya, membungkus tubuh mereka semua dan membangunkannya.
Perlahan, satu persatu dari mereka mulai sadar. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat keadaan di sekitar yang sangat berantakan, terutama Mo Fefei yang menghajar Lu Fan Gang seperti karung pasir.
"Lu Fan Gang memasukkan obat tidur dan perangsang ke dalam minuman kalian, kemudian dia berniat menjual para wanita pada pria tua semacam mereka," ucap Mo Lian yang menatap tajam Lu Fan Gang, kemudian menunjuk puluhan pria paruh baya.
Mo Lian menyeringai dingin, ia berbalik melihat pria paruh baya yang mencoba untuk bangkit. "Katakan yang sebenarnya, atau kau akan mati!"
Pria paruh baya berpakaian hitam rapi, kepala botak bagian atasnya, perut buncit yang sampai tidak bisa lagi disembunyikan. Pria paruh baya itu meringis menahan rasa sakitnya, kemudian menunjuk jari telunjuknya pada Mo Lian. "Ka- Kau! Beraninya kau mematahkan kakiku, apa kau tidak tahu? Perusahan Lianjin adalah perusahaanku yang bekerjasama dengan Perusahaan Meiliafei di Kota Chengdu!"
Mo Lian menyelipkan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Ia mengangkat kaki kanannya dan menendang kepala pria paruh baya itu. "Kerjasama antara Perusahaan Meiliafei dengan Perusahaan Lianjin dibatalkan." Ia mengeluarkan handphone miliknya.
Mo Lian menuliskan pesan pada Ibunya untuk memberhentikan kerjasama dengan pria paruh baya yang sangat kurang ajar di depannya ini.
"Hahaha! Kau kira kau siapa?! Apakah kau pikir kau adalah anak pemilik dari Perusahaan Meiliafei? Asal kau tahu, CEO Perusahaan Meiliafei adalah wanita yang sangat cantik, aku ingin sekali menidu—"
Mo Lian menendang wajah pria paruh baya itu hingga melepaskan seluruh giginya. Ia berjongkok, kemudian mencengkeram kepala pria paruh baya itu. Ia mengangkat tangannya, menatap tajam pria yang ingin melecehkan Ibunya. "Baji****! Aku sudah menahan diri untuk tidak membunuh orang hari ini, namun kau malah membuat amarahku mening—"
Nada dering telepon terdengar dari saku jas pria paruh baya. Perlahan, pria paruh baya itu mengulurkan tangannya dan mengambil handphone, terlihat nomor kantor milik Perusahaan Meiliafei.
Senyum cerah dan bahagia terlihat di wajah pria paruh baya. Ia menerima panggilan itu dan menekan loudspeaker agar semua orang di sini dapat mendengar suara panggilan, serta menyombongkan diri jika ia bekerjasama dengan Perusahaan Meiliafei.
"Tanpa berbasa-basi lagi, Perusahaan Meiliafei akan memutuskan kerjasama dengan Perusahaan Lianjin. Alasan? Harusnya kau menyadarinya, salah seorang yang berada di sana adalah putriku, dan kalian semua melecehkannya? Hanya kematian saja yang menanti kalian. Lian'er, Ibu—"
Suara Su Jingmei terhenti, dan digantikan dengan suara pria dari balik telepon.
__ADS_1
"Lian'er, bawa orang yang melecehkan Fefei—"
"Ayah, pemilik Perusahaan Lianjin mengatakan ingin tidur bersama dengan Ibu."
Semua orang tersentak saat mendengar Mo Lian yang memanggil orang di balik telepon dengan sebutan 'Ayah'.
Tidak ada balasan dari balik telepon untuk beberapa saat, hingga tak lama kemudian, terdengar suara yang membuat semua orang ketakutan.
"Bawa orang itu ke tempatku! Aku ingin melihat siapa yang dengan beraninya ingin tidur bersama istriku! Dan untuk yang melecehkan adikmu, bahkan meski itu hanya sebatas ucapan, potong lidahnya!"
"Kirimkan helikopter untuk membawanya, agar tidak terlalu menarik perhatian saat berada di jalan nanti." Akan sangat merepotkan jika di perjalan nanti ia diberhentikan oleh polisi lalulintas.
"Tentu. Perusahaan Lianjin hanyalah perusahan kecil, bahkan Keluarga Rosth yang menguasai Amerika saja hancur di tanga—"
Mo Lian menghancurkan handphone itu. Ia masih tidak terbiasa dengan sifat Ayahnya yang satu ini, jika terlalu marah atau bersemangat, Ayahnya sering berbicara sesuatu yang harusnya tidak perlu dibicarakan.
Mo Lian melonggarkan cengkeraman. Ia berdiri dengan kepala tertunduk menatap tajam pria paruh baya itu. Dengan kekuatan jiwanya, ia membuat semua orang membuka mulutnya dengan paksa, kemudian ia memotong lidah mereka semua.
Mo Lian berbalik, menatap semua orang yang hanya duduk diam di tiga meja bundar. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menatap matanya, apalagi dengan identitasnya yang telah terungkap.
Perusahaan Meiliafei sudah berada di puncak perusahaan China. Banyak yang mencoba bekerjasama, banyak yang akan melakukan apapun hanya untuk bisa bertemu dengan Ibunya. Satu ucapan Su Jingmei, bisa mengubah tingkatan perusahaan dalam jajaran 100 Perusahaan Huaxia terbaik.
Terlebih, di balik Perusahaan Meiliafei ada Pasukan Taring Naga maupun Pasukan Mata Setan yang melindungi. Tidak! Yang lebih tepat adalah, kedua organisasi itu meminta Mo Qian untuk melatih dua organisasi besar itu, dan untuk balasannya, dua organisasi itu harus bekerja untuk Perusahaan Meiliafei.
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada Lu Fan Gang yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Wajahnya mengeluarkan darah segar, entah itu dari mata, hidung, mulut, telinga, serta dari luka-luka lain. "Fefei, sudah cukup."
Mo Fefei menghentikan pukulan yang hendak mengenai batang leher Lu Fan Gang. "Baik, Kakak." Ia berdiri dan berjalan mengambil tas kecilnya di atas meja.
Mo Lian berjalan menghampiri Lu Fan Gang, kemudian membawanya dengan cara menggeret dan berpegangan pada rambut. Ia juga tidak lupa membawa pria paruh baya dari Perusahaan Lianjin.
Mo Lian menendang pintu kembar yang berada di depannya hingga terdengar dentuman keras, serta angin kencang yang menghancurkan lampu gantung di tengah-tengah bangunan.
Dalam perjalanan menuju lantai dasar, Mo Lian terus berjalan dengan normal tanpa mengubah ekspresi wajahnya ataupun menyembunyikan perbuatannya. Namun jika ada yang mengambil gambarnya, ia akan meledakkan kamera orang itu. Bukan karena ia tidak ingin diketahui, tapi karena di sebelahnya ada Mo Fefei.
"Apa yang akan dilakukan Ayah nanti? Mungkin akan memotong tangan dan kaki, serta mengulitimu!" Ia melirik pada pria paruh baya yang dibawanya di tangan kanan.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1