
Dengan wujudnya yang seperti ini, Mo Lian bisa menempuh Amerika dalam sekejap mata saja. Tapi ia tidak ingin melakukannya karena ingin membunuh mereka semua yang berada di Samudra Pasifik, ia tidak akan membiarkan pihak lawan dapat bernapas lega, ataupun kembali ke markas mereka.
Mo Lian yang sudah berada di Samudra Pasifik itu mengangkat jarinya perlahan, menciptakan gelombang tsunami yang sangat tinggi. Gelombang tsunami itu menggulung puluhan kapal asing di sana, dan kemudian gelombang itu melonjak naik ke langit, menciptakan pusaran air yang menggiling semuanya hingga tak bersisa.
"Aku akan menjadi sangat kejam jika ada yang mengacau ketenangan ku, dan setelah Deus-Techno menghilang dari Bumi, seharusnya tidak ada masalah lagi sampai tahun depan.
Mo Lian menurunkan pusaran air yang membentuk sebuah pilar tinggi itu, agar tidak menenggelamkan pulau-pulau di sekitar Daratan Huaxia.
Mo Lian mendongak menatap tajam Negara Amerika, membuat daratan di sana bergetar hebat bagaikan gempa bumi, yang merobohkan bangunan tinggi pencakar langit, meretakkan jalan-jalan, dan menyemburkan air dari dalam tanah dengan volume besar.
Ia kembali berpindah tempat dan berada tepat di Gedung Putih, tempat di mana Presiden Amerika berada. Namun sangat disayangkan, saat ia sudah datang, Presiden tidak ada di sana. "Melarikan diri menggunakan pesawat? Sangat bodoh, aku bahkan bisa menghancurkan Matahari."
Mo Lian menghilang dari tempatnya berdiri setelah menghancurkan Gedung Putih yang baru selesai dibangun. Kemudian muncul kembali di langit Greenland, di mana pesawat kepresidenan mengudara.
Mo Lian merasakan ada puluhan orang yang berada di dalam pesawat, dan tanpa pandang bulu, ia akan membunuh mereka semua tanpa terkecuali, bahkan jika itu adalah anak-anak. Ia membuka kedua tangannya, kemudian menepuknya, membuat pesawat itu hancur menjadi debu.
Setelah membunuh Presiden beserta mereka yang berada di dalamnya, Mo Lian kembali berpindah ke pusat Amerika. "Ini bukan salahku, kalian hanya bisa menyalahkan Presiden kalian dan Deus-Techno, yang merencanakan untuk menghancurkan semua negara di Bumi, mengambil alih kekuasaan dan menjadi Penguasa Bumi."
Dari ucapannya tidak ada satupun perkataan yang asal-asalan, semua itu adalah ingatan dari Xander Graha saat bertemu dengan Presiden.
Mo Lian kembali bergerak ke perbatasan antara Amerika dengan Canada. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, membuat daratan bergerak hebat, hingga menciptakan sebuah bukit yang cukup tinggi.
Tanah perbukitan itu terbelah menjadi empat bagian, memperlihat benteng besi yang sangat besar, dua kali Piramida dan memiliki bentuk yang sama, meski terbalik.
"Aku sudah mengetahui tentang dirimu, kau adalah orang yang membuat kekacauan di Amerika beberapa bulan lalu, dan menghilangkan Keluarga Rosth ..." Suara pria yang berat terdengar dari dalam benteng terbang yang sebelumnya tertanam.
"Aku tidak menyangka kau bisa membunuh Xander Graha, salah satu percobaan terbaikku."
Mo Lian menahan jari tengahnya dengan jari telunjuk, ia mengalirkan energi spiritualnya pada jari tengahnya. Kemudian menjentikkan jari pada udara kosong di depannya dengan kekuatan Jiwa Emas, mencoba mencari tahu kekuatan dari Benteng Deus-Techno.
Bang!
__ADS_1
Dentuman keras terjadi saat tekanan angin yang menghantam benteng terbang itu, menciptakan gelombang suara yang sangat keras, dan tiupan angin bagaikan pedang tajam.
Asap putih juga mengepul, menutupi pandangan dalan radius satu mil dari pusat ledakan. Dengan kibasan ringan Mo Lian, asap itu menghilang, memperlihatkan bagaimana keadaan benteng terbang itu, tidak ada dampak yang dihasilkan, bahkan goresan pun tidak ada.
"Hahaha! Meskipun kau kuat, tapi tidak ada satupun yang dapat merusak Benteng Deus-Techno!"
"Deus-Techno adalah Organisasi Dewa! Kami semua keturunan Dewa yang mengatur bumi dan langit! Kau hanya mencari kematian!"
Wush! Wush! Wush!
Ratusan energi biru melesat tajam ke arah Mo Lian, dengan kekuatan yang setara dengan Jiwa Emas tahap Menengah.
Mo Lian hanya diam tanpa bergerak sedikitpun, kemudian menghembuskan napas panjang, mengakibatkan badai besar yang menghilangkan ratusan serangan itu. Ia meletakkan tangan kanannya di depan dada, dengan jari telunjuk dan tengah yang menghadap ke langit malam.
"Akan aku perlihatkan kembali pada kalian semua. Apa itu yang dinamakan Dewa, dan aku hanya menggunakan satu dari sepuluh ribu kekuatanku!"
Energi biru memancar dari tubuh Mo Lian, yang membakar seperti api, menyinari langit gelap. Energi itu terus membesar hingga mencapai tinggi satu mil, dan memperlihatkan Mo Lian yang bertambah tinggi saat energi biru itu meredup.
Mo Lian memegangi puncak Benteng Deus-Techno dengan mudahnya, yang pada saat itu hendak melarikan diri. Kemudian membalik benteng itu ke arah yang berlawanan, menjatuhkan semua orang yang berada di dalamnya.
"Apakah ini yang dinamakan sebagai senjata Dewa?" Mo Lian menggoyang-goyangkan benteng itu seperti bartender yang sedang meracik minuman.
"Ba- Ba- Bajing**! Ku ... bunuh ... kau!"
Clang! Clang! Clang!
Terdengar suara benturan antara logam yang berasal dari tangan Mo Lian, yang mana sebenarnya itu adalah serangan logam besar yang mengenai telapak tangannya, namun semua senjata logam itu patah sesaat setelah keluar.
Mo Lian menjentikkan jarinya, merubah warna langit kembali seperti semula, dan pada saat itu juga banyak orang yang dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ia kembali menjelaskan maksud kedatangannya ke Amerika untuk membunuh Presiden Amerika yang bekerjasama dengan Dues-Techno.
"Akulah yang membunuhmu!" Mo Lian mencengkeram erat genggamannya, dan menghancurkan Benteng Dues-Techno dengan sangat mudah.
__ADS_1
Sepertinya saat aku kembali nanti, aku harus mengurung diri lagi untuk mengembalikan kekuatanku. Tapi tidak perlu memakan waktu lama, mungkin dua sampai empat minggu karena bantuan sumber daya.
Mo Lian melayang perlahan meninggalkan daratan Amerika. Ia sudah tidak ada keperluan lagi di sini, dan memutuskan untuk kembali ke Sekte Dongfangzhi.
"Semoga saja hal ini tidak terulang kembali, aku sudah membunuh banyak orang hari ini. Karena terlahir kembali, perasaanku mulai lembut, dan kekejamanku mulai luntur. Tapi setelah membunuh barusan, insting membunuhku kembali bangkit."
Mo Lian sengaja terbang dengan kecepatan biasa, yang membutuhkan waktu delapan jam untuk sampai ke Kota Chengdu. Namun setelah belasan menit terbang dengan kecepatan stabil, tiba-tiba ia sudah berpindah di langit Kota Chengdu, lebih tepatnya Sekte Dongfangzhi.
Semua murid yang berada di sana hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak lebar dan rahang yang hampir terjatuh. Apa yang mereka lihat sangat luar biasa, Patriak Sekte mereka benar-benar seorang Dewa. Terlebih lagi mata birunya seperti api yang membakar.
Mo Lian yang dalam keadaan seperti ini tidak membuang-buang kesempatan. Ia mengarahkan telapak tangannya pada Sekte Dongfangzhi, mengalirkan energi spiritual, dan menyembuhkan semua orang yang terluka parah, termasuk mempercepat regenerasi mereka.
Cahaya kembali terpancar dari dalam tubuhnya, yang kemudian mengecil secara perlahan, bersamaan dengan ukuran tubuhnya yang kembali normal.
Mo Lian turun perlahan dari ketinggian langit, dan mendarat di atas permukaan air danau. Ketika ia baru datang, Su Jingmei berlari kencang ke arahnya, dan memeluknya erat dengan isak tangis.
"Terimakasih ..."
Mo Lian mengerti maksud dari ucapan Su Jingmei, itu karena ia berhasil menyelamatkan Ayahnya, dan bersyukur karena ia kembali dengan selamat. "Ibu, aku akan membuat Ibu menembus Ranah Inti Emas tahap Awal, dan Ayah ke tahap Akhir." Ia membalas pelukan Ibunya.
Sebelum menghancurkan Benteng Deus-Techno, ia sempat memindahkan semua sumber daya yang berada di dalamnya. Apa yang berada di sana adalah cairan yang mampu mempercepat pertumbuhan tanaman, rempah maupun herbal berkualitas berusia ribuan tahun, dan di dalam sana terdapat pertanian tersendiri.
Dengan sumber daya yang ditemukannya, ia bisa melawan Hukum Langit dan membuat keduanya menyingkat kultivasi, yang kemudian berhasil menembus dalam sekali jalan. Saat di Galaxy Pusat dulu ia sering dimintai tolong untuk membantu menembus kemacetan dalam kultivasi, namun ia selalu menolak, meski diberikan kekayaan yang berlimpah.
"Baiklah ..." Suara Su Jingmei terdengar pelan karena membenamkan wajahnya di dada Mo Lian.
Mo Lian hanya diam selama belasan menit, sampai Ibunya melepaskan pelukannya. Kemudian saat itulah, ia kembali masuk ke dalam Aula Sekte untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan meditasinya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...