
—Wilayah Barat—
Profound Ark yang menyatu dengan ruang sekitar terus bergerak ke salah satu tempat tersembunyi, bahkan di sekitarnya sangat sepi dan tidak ada kilauan bintang seperti di tempat-tempat lain.
Banyak Medan Perang yang mereka lalui dan itu memiliki daya hisap kuat seperti lubang hitam, tapi untungnya tidak terlalu berpengaruh dalam perjalanan mereka.
Mo Lian yang sudah keluar dari Bintang Hijau, merasakan perubahan besar, kekuatannya seperti tidak tersegel lagi, tapi dia tetap tidak bisa menggunakannya. Bagaimanapun, Alam Semesta terlalu kecil untuk menanggung kekuatannya. Akhirnya, dia mengerti mengapa Hong Xi Jiang menahan kekuatannya hanya sampai batas Heavenly Immortal meski mampu menembus Dewa Surga.
Dengan kekuatan besar di Alam Semesta, tindakan seperti dibatasi. Kekuatan besar, tapi tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ada lawan yang setara, dan itu terasa sia-sia.
Tapi dia tahu ini hanya sementara, karena tidak lama lagi akan naik ke Alam Selestial untuk bertarung dengan Dewa Abadi.
...
Mo Lian duduk bersila di bagian depan, memandang kegelapan luas yang tak terhingga. "Apakah setelah menghancurkan Organisasi Penjarah Spiritual, kami harus mencari Alam Hanzi lain? Sebelumnya aku merasa ada gerbang yang menghubungkan Alam Hanzi di Wilayah Barat, apakah tempat itu berbeda dengan Alam Hanzi dari Galaksi Pusat?"
"Alam Hanzi termasuk korban dari Alam Selestial, tapi apakah mereka ingin bekerja sama dengan Ras Manusia untuk melawan Alam Selestial? Alam Selestial memiliki banyak Dewa Abadi, dan Ras Manusia hanya sedikit. Selain aku, hanya Yue Fu dan Yue Mu yang sudah mencapai tahap ini."
Mo Lian dalam suasana hati yang buruk, karena tidak ada lagi Dewa Abadi yang dikirimkan dari Alam Selestial. Padahal setelah keluar dari Bintang Hijau, dia sangat berharap ada yang turun dan melawannya, kemudian dia membunuhnya untuk menjadikan Dewa Abadi sebagai kekuatannya.
Mo Lian sudah mulai menyukai cara meningkatkan kekuatan seperti ini, dia seperti memakai cheat. Membunuh untuk meningkatkan kekuatan? Bukankah itu sangat kuat.
"Apakah membunuh adalah hal pertama yang Nan Ren pikirkan setelah keluar dari Bintang Hijau?" Hong Xi Ning melangkah menghampiri Mo Lian, dia berdiri di depan Mo Lian, membelakanginya, kemudian duduk di pangkuannya.
"Kau semakin agresif." Mo Lian memeluknya dari belakang dan menghirup wewangian yang datang dari leher Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning mengangkat tangan kirinya, memeluk kepala Mo Lian agar lebih mendekat ke lehernya. "Ning'er tidak ingin kalah dengan Yun Ning."
"Betulkah?" Mo Lian tersenyum tipis, dan menyelinapkan tangannya ke dalam pakaian Hong Xi Ning, memainkan dua gunung giok indah seputih salju yang ukurannya pas di tangannya.
Hong Xi Ning mengerang dan suaranya cukup keras, tapi untungnya Profound Ark memiliki fitur untuk menyamarkan keberadaannya. Tapi meski demikian, tetap menarik perhatian Qin Nian dan Yun Ning yang sedang beristirahat.
Keduanya berlari ke arah Mo Lian untuk bergabung.
"Sayang ..." Yun Ning memeluk Mo Lian dari belakang.
Qin Nian tidak mau kalah, dia melepas atasan Mo Lian.
Mo Lian yang awalnya ingin bermeditasi seorang diri untuk mencari tahu keberadaan Organisasi Penjarah Spiritual, akhirnya terganggu, dan dia tidak bisa tinggal diam lagi. Dia membawa ketiganya ke dalam ruangan, kemudian melakukannya.
***
Mo Lian memijat keningnya saat duduk bersila di bagian depan Profound Ark. "Sudah satu bulan kami meninggalkan Bintang Hijau, tapi sampai saat ini masih belum bertemu dengan Dewa Abadi. Apakah mereka tidak mengirimkannya lagi? Padahal aku sudah memaparkan keberadaanku, tapi sepertinya tidak ada balasan, bahkan Yue Fu yang menyebalkan seperti mengabaikannya."
__ADS_1
Mo Lian tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Mungkin sebelumnya dia akan merasa bahwa ini adalah hal baik karena Alam Selestial tidak bergerak, tapi setelah dia membunuh Dewa Abadi dan Alam Selestial memilih untuk diam, ini membuatnya khawatir. Dia berpikir rencana apa yang sedang dipersiapkan, apakah peperangan akan pecah sebentar lagi atau masih lama.
Hal ini membuatnya pusing, di kehidupan sebelumnya, dia tidak merasa ada yang salah bahkan saat dia hendak naik ke Alam Selestial. Tapi di kehidupan ini, banyak hal aneh yang terjadi, banyak sekali hal-hal yang belum pernah dialaminya.
Terutama tentang Dewa Abadi yang turun. Jika memang perang akan pecah, mengapa di kehidupan sebelumnya sangat damai, tapi sekarang tidak. Mengapa harus sekarang?
"Apakah ini efek kupu-kupu? Aku terlahir kembali dan mendapatkan Pohon Yin Surgawi, mungkin ini adalah pemicu perang. Jika aku tidak memilikinya, mungkin semuanya berjalan seperti biasa, dan Alam Selestial tidak mengirimkan Dewa Abadi ke Alam Semesta." Hanya inilah yang bisa dipikirkan oleh Mo Lian.
Mo Lian menghela napas, dia menutup matanya lagi. Pedang biru muncul di belakang punggungnya, melayang dengan kokoh dan kuat, membawa kemegahan dari aura yang dilepaskan.
"Niat pedangku berasal dari perasaanku. Tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Sebaliknya, itu telah memberiku kekuatan tanpa akhir setiap saat. Meskipun Niat Pedang Tanpa Emosi murni cukup kuat, di ujung jalan ini, akan benar-benar kehilangan perasaan dan menjadi boneka yang dikendalikan oleh Niat Pedang. Ini bukan jalan yang harus diambil. Pada saat itu, tidak akan lagi bisa menjadi dirimu sendiri tidak peduli seberapa kuatnya dirimu."
Selama berada di Wilayah Selatan, Mo Lian sudah bertemu beberapa orang yang menguasai Niat Pedang, terutama di Wilayah Barat saat menghadapi Dewa Abadi.
Niat Pedang mereka sangat kuat, dan Mo Lian harus mengakui berada di atasnya, tapi mereka haus darah dan penuh dengan celah. Jika mereka tetap berada di Niat Pedang Tanpa Emosi, memang kuat, tapi tidak bisa menjadi diri sendiri, dan apabila ada sedikit emosi yang bangkit, Niat Pedang tidak lagi murni dan melemah.
Misalnya kultivator yang kehilangan keluarga dan orang yang dicintai, mengambil Niat Pedang Tanpa Emosi. Tapi setelah di tengah jalan dan tiba-tiba mendapati bahwa orang yang dicintai ternyata tidak mati, masih hidup dan bahkan sehat. Itu akan menjadi pukulan telak bagi emosi yang sudah dibuang.
Bukan hanya Niat Pedang melemah, tapi akan menimbulkan kerusakan pada tubuh dan bahkan jiwa.
Berbeda dengan Mo Lian. Niat Pedang memiliki banyak emosi: cinta, benci, marah, sedih, dendam dan lain sebagainya.
Mo Lian terus bermeditasi untuk memurnikan Niat Pedang. Bahkan meski sudah mencapai Satu Kesatuan Niat Pedang dengan Alam Semesta yang harusnya terkuat, dia masih belum puas. Ini hanya Alam Semesta, dia tidak tahu apakah saat di Alam Selestial nanti, Niat Pedang-nya bisa mempengaruhi Alam Selestial atau tidak.
***
Waktu terus bergulir dan tidak tahu sudah berapa lama berlalu karena di sini terasa sama, tidak ada pandangan tentang waktu.
Mo Lian yang masih bermeditasi, tiba-tiba membuka matanya. Pedang biru di belakang punggungnya dengan ukuran normal, tiba-tiba meledak dan ukurannya berubah.
Niat Pedang itu memenuhi Wilayah Barat bahkan sampai ke Wilayah Utara, Selatan dan Tengah. Kekuatan tajam membawa perasaan yang tidak dapat dijelaskan, banyak emosi yang terkandung di dalamnya, mempengaruhi perasaan semua orang yang merasakannya.
Mo Lian menghela napas, Niat Pedang di belakangnya langsung menyusut dan menghilang. Perasaan aneh yang mempengaruhi emosi semua orang, menghilang.
Mo Lian berdiri memandang kegelapan angkasa di depannya. Dia melepaskan Kesadaran Ilahi-nya, kemudian langsung menangkap keberadaan Ras Mekanik.
Profound Ark memancarkan cahaya biru, kemudian langsung menghilang di tempat. Ketika muncul kembali, itu sudah berada di depan kapal angkasa yang terbuat dari logam dengan ukuran seperti bintang.
"Tidak disangka menemukan Ras Mekanik lebih mudah dari Organisasi Penjarah Spiritual."
Kapal angkasa mengeluarkan suara dengungan kuat. Kemudian ada gerbang berbentuk lingkaran yang muncul di depannya, dengan pusaran cahaya biru muda di tengah-tengahnya.
Mo Lian mengangkat sebelah alisnya saat melihat Ras Mekanik yang ingin melarikan diri. Dia cukup takjub dengan keefektifan Ras Mekanik dalam memindai keadaan sekitar. Dia datang ke sini tanpa ada fluktuasi spasial, tapi sepertinya Ras Mekanik bisa mengetahui kedatangannya.
__ADS_1
Mo Lian mengangkat tangannya, mengulurkannya ke depan mengarahkannya pada kapal angkasa. "Aku sudah jauh-jauh datang ke sini, bukankah tidak sopan bagi kalian pergi begitu saja? Bagaimana jika kita duduk bersama dan minum teh? Ah! Kalian adalah mesin, tidak bisa minum teh."
Tidak ada balasan dari dalam kapal, tapi kapal itu tidak bisa bergerak, bahkan pusaran cahaya di depannya langsung rusak.
Setelah beberapa saat, akhirnya ada balasan dari dalam kapal. Suaranya seperti manusia, tapi masih tidak bisa menghilangkan getaran mesinnya.
"Siapa kau? Untuk apa kau mencari kami?"
Mo Lian tersenyum, tapi dia tidak langsung maju ke intinya. "Bukankah harusnya kalian membiarkan kami masuk? Sangat sulit berbicara seperti ini, tidak ada oksigen, aku kesulitan bernapas."
"Apakah kau kira kami bodoh?"
Mo Lian terdiam sejenak, kemudian kembali berkata, "Apa hubunganmu dengan Wu Gouyu?"
Tidak ada balasan yang datang dari dalam, tapi tiba-tiba banyak sinar cahaya yang berkumpul di sekitar kapal perang, membawa energi kuat yang dikompres.
Whooooosh!
Tembakan laser dalam jumlah ratusan melesat ke arah Profound Ark.
Mo Lian mengangkat tangannya sampai batas dada, kemudian menurunkannya perlahan.
Tembakan laser itu langsung berhenti bergerak, kemudian memudar perlahan dan menghilang.
Mo Lian melihat kapal angkasa, tatapannya menembus ribuan lapis logam tebal dan sampai di ruang kendali di mana ada ratusan robot di dalamnya.
Dengan melambaikan tangannya, Mo Lian menghilangkan Profound Ark dan berpindah ke dalam ruang kendali bersama dengan istri-istrinya.
Kedatangan tiba-tiba Mo Lian ini tidak pernah diharapkan Alex, Ketua dari Ras Mekanik. Dia berbalik menatap tajam Mo Lian, mengangkat tangannya. Telapak tangannya memancarkan cahaya biru, mengumpulkan energi berbentuk bola petir yang siap ditembakkan.
Mo Lian tidak memperlihatkan perubahan emosi. Jika Ras Mekanik hanyalah kumpulan data, mungkin dia akan sedikit kesulitan kecuali menghancurkannya langsung. Tapi Ras Mekanik membangkitkan kesadaran seperti jiwa, sehingga dia bisa dengan mudah menekannya.
Mo Lian menatap semua robot di sini, dan melepaskan Kekuatan Jiwa.
Tiba-tiba, mereka semua terjatuh, membentur lantai dan menimbulkan suara benturan logam yang membosankan.
Melihat ini, Mo Lian mengangguk kecil, tapi masih belum memperlihatkan perubahan ekspresi.
Dia melangkah ke pusat kendali, mencoba mencari tahu data-data yang tersimpan di sana. Tapi ... pada akhirnya ... dia tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...