Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 159 : Mo Fefei Membunuh Hewan Buas


__ADS_3

Titanoboa yang melawan beruang itu menolehkan kepalanya menatap Mo Lian dan Mo Fefei yang berada di perbukitan hijau.


Mo Lian menatap balas ular itu dengan kilatan cahaya di sudut mata kanannya, membuat ular besar itu terperanjat siaga, dan kemudian berbalik memasuki kedalaman hutan lebih jauh lagi, meninggalkan beruang seorang diri.


"Fefei kecil. Aku akan memberikanmu pilihan, kau ambil ular itu, atau beruang." Mo Lian menunjuk pada ular dan beruang secara bergantian.


"Eh?!" Mo Fefei menolehkan kepalanya dengan cepat menatap Mo Lian. "Haruskah?"


Mo Lian hanya diam dengan ekspresi tegas di wajahnya. Tidak ada lagi tawar-menawar, ia ingin jika Mo Fefei membunuh salah satu dari hewan buas itu, untuk menguatkan tekad dan mental.


Mo Fefei menggigit bibir bawahnya dan kembali mengalihkan perhatiannya pada beruang bertangan empat. "Baiklah, aku akan mengambil beruang itu." Ia tahu betul bagaimana sifat Kakaknya. Ada kala penyayang dan suka bercanda, ada juga sangat serius dan tidak segan untuk memarahinya.


"Kalau begitu ..." Mo Lian menekan tangan kanannya pada lututnya, ia menopang badannya untuk berdiri. "Aku yang akan melawan ular itu." Ia mengangkat tangan kirinya mengarahkan pada ular.


Jauh di depan Mo Lian, energi spiritual berfluktuasi di langit biru dengan sayatan angin bagaikan pedang bergerak tak beraturan. Dari energi spiritual itu berubah menjadi tangan dengan ukuran yang sangat besar, sanggup meratakan gunung tinggi.


"Mati!" Mo Lian mengayunkan tangannya mengarah pada ular.


Tangan besar berwarna biru di langit itu bergetar dan melesat tajam mengarah pada ular yang terus bergerak lebih dalam, menjauhi jangkauan serang dari siluet tangan biru itu.


Boom!


Telapak tangan yang sangat besar itu menghantam daratan, menghancurkan setengah tubuh ular yang sangat besar itu, namun tidak sampai membunuhnya langsung.


Mo Lian kembali mengangkat tangannya ke udara, menciptakan serangan lain. "Teknik Pedang Seribu Mil, Gerakan Kelima. Pedang Pemusnah!"


Seketika itu di langit biru tercipta fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat. Tidak lama kemudian terlihat pedang biru yang memiliki panjang 300 meter. Mo Lian mengayunkan tangannya, membuat pedang itu sedikit bergetar, seperti menanggapi panggilannya, yang kemudian melesat tajam.


Boom!


Getaran hebat terjadi lagi di hutan rimbun saat pedang itu menembus kepala ular dan membunuhnya seketika itu juga. Gelombang angin menyebar luas saat pedang itu jatuh, menerbangkan dedaunan maupun pohonnya sekalipun.


Mo Fefei yang berdiri di sebelah Mo Lian hanya bisa terdiam dengan mata terbuka lebar. Meski ia sudah pernah melihat bagaimana langit Kota Chengdu berubah, namun ini adalah kali pertamanya melihat kekuatan Mo Lian. Bagaimanapun saat Keluarga Rosth menyerang, ia sedang berada di sekolah.


Mo Lian menoleh menatap Mo Fefei. "Dengan kekuatanmu yang sekarang, harusnya kau bisa melakukannya. Kau sudah bisa menahan tembakan peluru, serta serangan RPG. Yang kurang hanyalah mental dan penguasaan energi spiritual." Ia mengarahkan telapak tangannya pada beruang, menghentikan gerakannya.


Mo Fefei menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan untuk mempersiapkan diri. Ia menekan kakinya di tanah dan melompat, tinggi ke langit hutan.

__ADS_1


Melihat Mo Fefei yang sudah berada di sana, akhirnya Mo Lian menurunkan tangannya perlahan, melepaskan beruang dari dalam genggaman tangannya.


Seketika itu juga, beruang mengayunkan dua cakarnya mengarah pada Mo Fefei yang terbang di langit.


Dari cakaran beruang itu menciptakan siluet bulan sabit yang samar-samar terlihat.


Mo Fefei yang melihat itu tersentak, dengan cepat ia menyilangkan kedua tangannya di depan kepalanya untuk menahan serangan itu.


"Alirkan energi spiritualmu ke udara kosong di depanmu, anggap saja udara itu bagian dari tubuhmu. Fokuskan diri untuk membentuk perisai." Suara Mo Lian menggema di langit.


Mo Fefei menutup matanya dan mengikuti arahan dari Mo Lian. Perlahan, samar-samar dari dalam tubuhnya keluar energi spiritual berwarna biru tua yang mulai membentuk dinding pelindung sesuai dengan warna.


Bang!


Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar saat enam siluet bulan sabit menghantam dinding pelindung buatan Mo Fefei. Meski berhasil menahan serangan, namun tidak seluruhnya, terlihat pakaian yang dikenakan Mo Fefei mulai koyak dan memperlihatkan kulit putih bagaikan sutra.


Mo Lian tersenyum tipis saat melihat bagaimana Mo Fefei berhasil membuat dinding pelindung, meski tidak terlalu besar dan hanya bisa melindungi sedikit tubuhnya saja. "Jika saja Fefei tidak malas berlatih dan mengeluh, mungkin dia sudah bisa membuat pelindung dengan tinggi puluhan meter."


Untuk Ranah Inti Perak, dinding pelindung yang bisa dibuat bisa setinggi 500 meter. Namun berbeda dengan Mo Lian, ia bisa melindungi seluruh wilayah Sekte Dongfangzhi tanpa bisa ditembus oleh Ranah Inti Emas. Dan sekarang, bahkan Alam dan Manusia pun tidak bisa menembus pelindungnya.


Pusaran cahaya itu mengeluarkan pedang dengan ukuran normal dan berjumlah lebih dari 100 pedang. Kemudian ia menyentuhkan kedua telapak tangannya, dan membukanya kembali dengan tangan kanan di arahkan ke depan.


Segel tangan adalah syarat atau langkah awal untuk menciptakan sebuah serangan, apabila orang itu masih belum terbiasa mengatur energi spiritualnya, atau serangan yang dilancarkan terlalu berat. Jika sudah terbiasa, maka bisa dengan mudah mengeluarkan serangan, seperti halnya mengangkat tangan ataupun menjentikkan jari.


Ratusan pedang itu melesat mengikuti arahan dari Mo Fefei, menyerang beruang hitam yang juga melesakkan serangannya.


Enam siluet bulan sabit yang samar-samar berhadapan dengan ratusan pedang biru. Karena perbedaan kekuatan keduanya yang cukup besar, tentunya ratusan pedang itu terus melesat cepat meski terhalangi oleh sayatan angin.


Ratusan pedang itu menancap maupun menyayat sekujur tubuh beruang. Memotong keempat lengan beruang itu dengan rapi. Terlihat darah segar menyembur keluar dari daging yang terpotong, menghujani rerumputan di bawahnya.


Tidak berhenti disitu saja, Mo Fefei kembali menggerakkan tangannya, mengendalikan sebagian pedang yang tidak mengenai sasaran.


Pedang yang tidak mengenai sasaran itu berbalik dan melesat bagaikan kilat mengarah pada kepala beruang. Beruang yang tidak memiliki tangan sangat mudah untuk dilawan, karena tidak bisa melepaskan serangan.


Terlebih lagi beruang itu hanyalah Fase Lautan Ilahi, berbeda dengan Mo Fefei yang Ranah Inti Perak.


Jleb! Jleb! Jleb!

__ADS_1


Belasan pedang menancap, menembus kepala beruang yang tidak bisa melakukan apapun itu. Perlahan, kesadaran beruang itu menghilang dan tidak seimbang, kemudian jatuh, menghantam tanah.


Daratan sedikit bergetar dengan angin yang berhembus ke segala arah, menyebabkan guncangan yang merobohkan pepohonan.


Mo Fefei yang melayang di langit membuka mulutnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak pernah berharap akan dapat membunuh hewan besar seperti ini, bahkan tadi saat pergi, ia juga menghajar seorang wanita yang lebih tua darinya tanpa ampun. Mematahkan gigi, tulang rusuk, merobek bibir dan membuat mata wanita itu bengkak hingga mengeluarkan darah.


Mo Fefei menolehkan kepalanya melihat Mo Lian yang tersenyum di perbukitan. "Kakak, aku berhasil!" Ia melambaikan kedua tangannya.


Mo Lian tersenyum hangat saat melihat Mo Fefei yang bersemangat seperti itu. Dengan begini, trauma adiknya dapat disembuhkan lebih cepat, tanpa harus bertemu orang yang nantinya berada di acara reuni.


Mo Fefei terbang menuju perbukitan, kemudian mendarat dengan kaki kanan menyentuh tanah terlebih dahulu tepat di depan Mo Lian. "Bagaimana? Bukankah aku hebat?!" ucapnya sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Mo Lian mengangkat tangannya dan mengusap lembut puncak kepala Mo Lian. "Iya-iya, kau sangat hebat. Tapi, pastikan selalu waspada, agar pakaianmu tidak rusak seperti ini," balasnya sembari menunjuk bagian dada Mo Fefei.


Mo Fefei menundukkan kepalanya melihat pakaian yang dikenakannya, baju yang dikenakannya penuh dengan koyakan dan memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna biru.


Ia mendongak menatap Mo Lian dengan mata nanar meminta tolong. "Kakak, bagaimana ini? Aku tidak membawa pakaian lain."


Mo Lian tersenyum tipis, ia mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang dan mengeluarkan pakaian beladiri China kuno yang dibelinya dari Negeri Surgawi. Pakaian ini berwarna biru muda, dengan selendang berwarna putih serta kain putih yang digunakan sebagai sabuk.


Hiasan lain juga tidak lupa dibelinya, hiasan kepala yang biasanya digunakan oleh para wanita. Pada saat di Negeri Surgawi, ia membeli banyak pakaian wanita yang memiliki ukuran tubuh Ibu serta Adiknya.


"Pakai ini di sana." Mo Lian menyerahkan pakaian di tangan kanannya, sembari menunjuk pada lahan kosong yang tidak jauh darinya.


Getaran kecil terjadi di lahan kosong yang ditunjuknya. Perlahan, tembok yang terbuat dari tanah mulai muncul dan menciptakan ruangan kecil yang muat untuk tiga sampai lima orang di dalamnya.


Mo Fefei menerima pakaian yang berada di tangan Mo Lian dengan senyum cerah terukir di wajahnya. "Terimakasih, Kakak!" Ia berlari kecil menuju ruangan yang baru dibuat Mo Lian.


"Karena dia sudah bisa bertarung seperti tadi, mungkin aku akan diam saja saat di acara nanti, dan membiarkannya untuk mengurus sendiri masalahnya."


...


***


*Bersambung...


Maaf kemarin tidak update😵

__ADS_1


__ADS_2